
“Hati-hati Pah.” Ucap Flora berpamitan dengan Papahnya.
“Kamu juga hati-hati ya, nak. Jangan pulang terlalu sore, telfon papah atau naik taksi aja, angkot sekarang bahaya.” Titah Papahnya yang diangguki oleh Flora.
Mobil Papah Flora melaju menuju kantornya dan meninggalkan Flora di sekolahnya. Flora merasakan firasat yang tidak enak hari ini, pagi tadi dia sangat malas bangun untuk siap-siap sekolah, walaupun akhirnya dia memaksakan ketidak inginannya untuk berangkat sekolah.
“Bunga!!” Teriak seseorang. Entahlah, Flora pagi ini berharap semoga inilah firasat buruknya. Bertemu Sena di pagi yang cerah.
“Bareng dong.” Ucap Sena.
Flora bersama Sena berjalan perlahan memasuki lingkungan sekolah. “Lu dianter abang lu?” Tanya Flora.
“Iya, kalau nggak bareng dia gue masih tidur, ini masih pagi! Gue bukan lu yang terbiasa berangkat pagi.” Ucap Sena lalu Flora terkekeh.
“Bima... kemarin.. nembak gue.” Ucap Flora sepelan mungkin, berharap Sena tidak mendengarnya.
“APA?! SUMPAH?! CIEE YANG UDAH JADIAN SAMA MMPPP!!” Ucapan Sena terpotong karena Flora dengan cepat menyumbat mulutnya menggunakan telapak tangannya.
“Suaralu astaga, pelan dikit kenapa si?” Ujar Flora kesal.
“Gue belum jadian sama Bima, gue masih butuh waktu untuk yakin sama diri gue sendiri.” Lanjut Flora yang sudah melepaskan tangannya dari mulut Sena.
“Iya sih, teman terbaik gue nggak boleh sakit hati! Kalau ada yang sakitin lu, bilang ke kami! Kami pasti bantu lu kok.” Ujar Sena merangkul Flora.
Flora dan Sena memasuki kelasnya, dia melihat ada sebuah hadiah terletak rapih dan cantik di atas meja Flora. Sena dan Flora terheran-heran, siapa yang rela datang pagi-pagi sekali untuk memberinya bekal?
“Ada suratnya tuh Flo.” Ucap Sena menunjuk surat yang ada di atas kotak bekal tersebut.
Flora membuka kotak makanan itu perlahan, betapa terkejutnya Flora, bukan makanan enak yang ada di dalam kotak makanan tersebut, melainkan belatung yang menggeliat-geliat dengan menjijikan.
“Hoeek! Oh My Gosh!” Ucap Sena yang mual melihat isi kotak tersebut.
Flora segera menutupnya dan membuka isi suratnya. Sena dan Flora semakin dibuat terkejut karena isi surat tersebut adalah beberapa foto Bima dan Penny yang hampir tidak berbusana terlihat seperti sangat dan saling menikmati keadaan saat foto itu berlangsung.
“Gila nih si pentol korek! Nggak bisa dibiarin! Bima brengsek juga ternyata!” Sungut Sena berapi-api.
Flora mengambil sepucuk surat yang entahlah siapa yang menulis itu, dan membacanya dengan seksama dan seteliti mungkin.
“Hai, Flora Orlin, cewek sok pinter, sok cantik! Jangan pikir gue deketin Kak Bima tanpa alasan ya, karena Kak Bima cuma milik gue! Gue sama Kak Bima udah pernah lewatin malam panas berdua. Lu mau tau rasanya? HAHAHAHA Better if you don’t know...”
Flora meremas hadiah di pagi harinya dengan mata marah dan hampir menangis, baru kemarin dia merasakan senang karena ada yang menyukainya dengan tulus. Ternyata itu hanya kebusukan dari Bima saja, hanya sandiwara yang ditulis oleh Bima dan Penny.
Flora segera berlari keluar kelas untuk mencari Bima dan menanyakan tentang maksud dari semua ini. Sementara Sena segera bergabung dengan Club balas dendam yang sempat tertunda itu.
“Guys! Kita belum terlambat untuk buat perhitungan.” Ucap Sena dengan seringai kecilnya.
Flora berlari ke dalam kelas Bima tanpa permisi dan melihat sekeliling tidak ada orang yang dia cari.
“Flora cari siapa?” Tanya Melisa yang memang sekelas dengan Bima.
“Bima.” Ucap Flora dingin, dan Melisa langsung paham dengan apa yang terjadi pun langsung membawa Flora keluar kelas.
“Ada masalah?” Tanya Melisa dengan perlahan.
Melisa mengambil lembaran yang ada di tangan Flora dan betapa terkejutnya Melisa dengan apa yang dia lihat.
“Tapi buktinya dia memang begitu kak! Mau bilang editan? Kakak lihat sendiri kualitas gambarnya cukup bagus untuk memamerkan dia saat itu sangat menikmati—ARGH!” Kesal Flora menendang tembok kelas Bima.
“Lebih baik kamu menunggu di parkiran atau di gerbang.” Ucap Melisa mengembalikan foto-foto tersebut.
Flora berlari kembali menuju ke tempat parkiran, dan disana dia melihat motor Bima dengan Bima diatasnya yang sedang membuka helm. Bima melihat Flora dengan kasar datang dan melemparkan foto-foto ke wajahnya.
“Brengsek! Pagi-pagi udah buat gue emosi ya! Kompak kalian!” Flora berucap dengan berapi-api.
“Flo, ini nggak seperti yang lu lihat, ini benar foto gue tapi—” Ucapan Bima terpotong.
“Jangan temui gue lagi! Dan jangan berharap gue bakal mau pacaran sama cowok kayak lu!” Ucap Flora Final dan meninggalkan Bima sendirian.
“Flora! Flo!” Teriak Bima yang sama sekali tidak digubris oleh Flora.
Bima meremas foto yang sudah memperburuk nama baiknya itu, melihat punggung Flora bergetar dari kejauhan dan berlari ke dalam kelasnya.
“Bung, lu nggak papa?” Tanya Sena perlahan.
“Gue.. nggak papa, gue pikir gue bakal menginap di rumah lu dulu Sen.” Ucap Flora yang diangguki oleh Sena. Sena mengusap punggung sahabatnya dan melihat kawan-kawannya yang bersimpati kepada Flora, sungguh tindakan Penny kali ini benar-benar kelewatan.
“Udah-udah, lu jangan pikirin hal itu dulu. Mending lu belajar aja deh ya, belajar, biar lupa sama Bima.” Bujuk Sena yang tidak dijawab oleh Flora.
Pelajaran hari itu tidak seceria hari biasanya karena kawan-kawan kelas pun terlihat tidak semangat. Sena yang selalu bersemangat setiap hari pun hari ini tidak enak ingin melontarkan lelucon-lelucon yang biasa dia gunakan bersama kawan-kawannya.
Keadaan terus murung seperti itu sampai bel pulang berbunyi. “Kita naik mobil Kak Sian ya?” Tawar Sena yang diangguki oleh Flora.
“Lu udah izin papah mamah lu?” Tanya Sena lagi, dan hanya diangguki lagi sebagai jawaban.
Flora dan Sena pun keluar kelas dan berpapasan dengan Bima. Flora memilih berpaling namun Bima dengan cepat menahan tangannya.
“Lepas!” Ucap Flora penuh penekanan dan menghempaskan cekalan Bima di tangannya.
“Flora, gue nggak pernah ngelakuin hal seburuk itu untuk merusak nama baik gue sendiri!” Jelas Bima membuat Flora dan Sena menghentikan langkahnya.
“Kalau gue gagal buktiin kebenarannya ke lu. Lu boleh benci gue seumur hidup lu. Tapi..” Ucap Bima menggantung.
Flora menoleh melihat keseriusan yang terdapat di wajah Bima. Di hatinya yang paling dalam sebenarnya dia menepis hal itu dan tidak percaya, lagi-lagi egonya menang.
“Tapi.. Tapi kalau gue bisa buktiin ke lu kebenarannya. Saat itu juga lu jadi pacar gue!” Tegas Bima di hadapan ramai orang.
Flora menarik tangan Sena, menulikan pendengarannya dan seolah Bima tidak mengatakan apapun. Sian sudah siap di samping mobilnya. Sian juga sudah mengetahui permasalahannya karena Sian termasuk kawan dekat Bima.
Mereka bertiga masuk kedalam mobil. Sian melajukan mobilnya menuju rumah Sena, Sena dan Sian yang duduk di depan pun dapat melihat wajah dingin Flora yang murung menangis menatap ke arah jendela.
“Kak, kita bawa makan aja kali ya?” Ajak Sena dengan berbisik. Dan gadis itu langsung mendapat ketukan dari Sian yang cukup keras di dahinya.
“Dia bukan lu.” Jawab Sian dengan berbisik juga.
Sena menghela nafas, walaupun Flora jarang berbicara, namun kali ini dia sangat berharap Flora kembali berbicara walaupun marah-marah kepada Sena sekarang.
To Be Continue..