Teenteens

Teenteens
18. Menghindari Dosa



Sehabis melakukan ghibah yang sangat sangat sangat menarik tentu saja Sena lapar. Dan lagi, dia menyeret Flora untuk mengajak nya makan.


"Ayo lah bung.. gue janji gue yang traktir bukan Kak Bima lagi deh.. yah yah?" Bujuk Sena.


"Ck. Lu tau sendiri Sen gue paling anti bau badan.. dan kantin itu surganya bau badan!" Tolak Flora.


Sena mencari akal untuk membuat Flora menerima ajakan nya untuk makan di kantin.


"Gue yang cariin bangku deh, lu tinggal duduk dan tunggu pesanan datang gimana?" Bujuk Sena.


Flora yang tidak tega mendengar raungan perut Sena akhirnya meng 'iya' kan ajakannya untuk ke kantin.


Sena dan Flora berjalan ke kantin hanya berdua, walaupun mereka selalu bergabung saat ghibah membentuk satu persatuan yang utuh untuk menceritakan masalah hidup orang lain, yang bertujuan untuk memperbaiki masa depan mereka supaya masalah itu tidak menimpa diri mereka. Sebenarnya itu tujuan mereka ghibah. Kalian jangan suuzon yaa.


"Hai Flora." Tegur seorang kakak.


"Hai." Ucap Flora sekenanya.


"Siapa Bung?" Bisik Sena, yang dibalas oleh Flora dengan mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak mengerti.


"Kok ganteng?" Bisik Sena lagi. Dan hal itu membuat Flora dengan spontan langsung mengalihkan tatapannya ke kakak itu.


"Nggak inget gue?" Tanya kakak itu.


"Saya punya ingatan jangka pendek." Ucap Flora nyeleneh.


"Gue Rangga. Anak sanggar kemaren, masa lupa?" Tanya laki- laki yang bernama Rangga tersebut.


"Kakak kemaren nggak perkenalan kan?" Tanya Flora balik.


Rangga menggaruk tengkuknya tanda perkataan Flora ada benarnya juga. Akhirnya dia mengenalkan diri dengan benar.


"Gue Rangga, kelas XI IPA 2, gue juga anak Solo Song." Jelas Rangga.


"Aah okay." Jawab Flora.


"Saya ke kantin dulu." Pamit Flora setelahnya.


Rangga hanya melongo melihat Flora yang hanya berlalu melewati nya yang susah payah mengajak kenalan melihat wajah Flora yang jika di deskripsikan cantik, judes, flat dan irit senyum. Merupakan keajaiban bagi dunia terlebih Bima jika melihat Flora tersenyum, terasa seperti pelangi pun melengkung diatas hatinya.


Flora dan Sena akhirnya sampai di kantin dan Flora langsung duduk di tempat yang sedikit lebih sepi dibandingkan tempat lainnya, dan dia kembali memakai ponsel nya untuk membaca novel digital kesayangannya. Flora tipe gadis yang sangat menyukai novel fantasi apalagi yang bertemakan mitologi Yunani.


Merasa ada sesuatu yang mengganjal, Flora menolehkan kepalanya ke kiri, dia merasa ada yang memperhatikan dia tapi bukan Bima. Karena sepertinya itu perempuan, Flora tidak bisa melihat dengan benar.


Flora menoleh ke tempat Sena berada, dan disana sangat ramai, Sena sampai tidak terlihat, padahal Sena mempunyai badan yang cukup tinggi untuk ukuran perempuan.


"Setidaknya gue gak lihat Bima hari ini." Gumam Flora.


"Hahahahahah! Iya bener Bro!" Tawa seseorang yang di dengar oleh Flora.


Flora menoleh dan mendapati Bima yang sedang tertawa tergelak karena guyonan kawannya. Flora yang panik langsung menutupi wajahnya dengan ponsel dan rambut.


"Bunga! Makanan sudah siap!" Teriak Sena.


Flora menepuk kepalanya, terasa percuma dia bersembunyi diam diam. Tapi sepertinya Bima memiliki masalah dengan pendengarannya sampai dia tidak mendengar teriakan Sena.


"Bisa nggak lu jangan teriak? Bima lewat tadi, kalau dia tau gue disini gimana coba? Apa dia gak bakalan kesini terus gangguin kita?" Tanya Flora.


"Koreksi, Bung. Gangguin lu lebih tepatnya. Karena buat gue Kak Bima itu ngebantu kebutuhan finansial kita disini tau ga?" Ucap Sena sambil memakan mie ayamnya.


"Sen lu nggak pesan minum?" Tanya Flora.


"Oh ya ampun, gue lupa karena terlalu laper. Sorry sorry. Lu mau minum apa?" Tanya Sena.


"Es teh anget." Sahut Flora asal.


"Okay!" Dengan semangay Sena berjalan ke ibu kantin dan menggunakan suara cempreng nya yang khas.


"IBUU ES TEH ANGETNYA DUA YAA!" Ucap Sena bahagia yang justru membuat seisi kantin tertawa termasuk Flora.


Ibu kantin yang paham maksud dari Sena pun segera membuatkan es teh dua gelas. Setelah menerima dua gelas teh tersebut, Sena berjalan ke arah Flora dengan ekspresi yang masih sama. Bingung.


"Bung, ada yang salah di muka gue?" Tanya Sena.


"Otak lu kali yang salah, mana ada es teh anget." Ujar Flora.


"Ih Bungaa!!! Sumpah gue kayak artis ya diketawain gitu, dikira mereka gue tukul apa?" Tanya Sena.


Flora dan Sena melanjutkan makannya dengan di selingi oleh beberapa beberapa obrolan ringan yang mereka lakukan.


"Lu belum masukin kontak lu ke hp gue." Ucap Flora sambil menyodorkan ponselnya untuk dimasukkan id dan nomor telfon Sena.


"Gue jadi lupa terus, padahal gue mau banyak minya tolong ajarin PR-PR dari sekolah." Ujar Sena.


"Ajarin atau kerjain?" Tanya Flora.


"Naah peka juga lu." Jawab Sena.


"Eh gue mau ke toilet sebentar ya, kebelet pipis gue." Pamit Sena yang langsung di angguki oleh Flora.


BYYYUURRR!!


Setelah Sena pergi, Flora terkejut ada seseorang yang menyiram seragam rapihnya dengan segelas Es teh milik Sena.


"LU YANG NAMANYA FLORA?!" Teriak gadis itu di depan wajah Flora.


Flora kesal. Tapi dia tidak ingin melawan karena tau banyak orang disini, dia memilih diam dan tetap mempertahankan ekspresi dingainnya yang sangat dia andalkan itu. Ditanya seperti itu juga Flora hanya diam. Sangat malas ternyata yang meneror nya semalam tidak lebih baik dari dirinya.


Bukan kakak kelas, yups mereka seangkatan, entah ada keberanian apa gadis itu menyiram Flora dengan es teh Sena.


"GUE UDAH PERINGATIN LU BUAT NGGAK DEKETIN BIMA!! LU YANG CARI PERKARA SAMA GUE!" Teriak gadis itu.


Jika sedang tidak menjaga imagenya, mungkin kali ini Flora akan terbahak- bahak melihat seberapa bodohnya tindakan gadis di depannya ini.


Flora mengangkat sebelah alisnya dengan seringai yang persis sama seperti Bu Retno.


"GUE TAU LU KEMAREN NGE DATE KAN SAMA BIMA? LU ITU CEWEK PENGGODA TAU GAK! KEGATELAN LU JADI CEWEK! GANJEN!" Ucap gadis itu dan Flora hanya membalasnya dengan memutar bola matanya malas.


"Gue kira siapa. Ternyata lumayan rendah." Gumam Flora dengan melihat kuku tangannya yang putih dan mulai memanjang.


"LU NGGAK USAH SOK KECANTIKAN!" Teriak gadis itu lagi.


"Nama?" Tanya Flora singkat.


"LU NGGAK USAH SOK MAU TAU NAM-"


"Na. Ma?" Tanya Flora yang tingkat kedinginannya sudah berminus- minus Celcius.


"Penny. Dan gue adalah PACAR BIMA!!" Teriak gadis yang bernama Penny dan mengaku pacar Bima.


BRAAKK!!


Flora menggebrak meja tempat makannya tadi untum melampiaskan kemarahannya, dan yang paling membuat Flora jengkel adalah Penny langsung diam setelah gebrakan nya itu. Namun Flora masih menahan diri untuk tidak membalas gadis ini, karena dia tau banyak yang menonton adegan ini.


"Diem?" Ucap Flora dengan senyum seringainya.


"KURANG AJAR!" Umpat Penny yang hendak menampar pipi Flora namun tangan itu berhenti saat Flora mengambil satu langkah di hadapannya dengan tangan yang mulai di silangkan di atas dada.


Ekspresi wajah Flora benar-benar bisa mempengaruhi niat gadis itu untuk menampar Flora. Flora melihat kedua orang di belakang Penny yang sama modelnya seperti Bos nya ini. Baju yang di crop, rok yang ketat dan rambut yang diwarnai. Bahkan Flora yang perempuan saja melihatnya jijik. Flora ingin membalas, tapi dia masih tahan dan tidak ingin membuat reputasi nya rusak meladeni anal seperti dia.


Saat Flora ingin berbalik sepasang tangan memakaikannya jaket untuk menutupi bagian yang bisa memperlihatkan bagian dalam baju seragam tersebut yang basah karena es teh Sena.


Yups! Seperti dugaan kalian, itu adalah Bima. Flora terkejut dan mendongak menatap Bima yang malah menatap Penny dengan tatapan yang dingin dan sangat marah.


"Jangan. Ganggu. Flora."


To Be Continue...