
Banyak masalah di haking tahun ini, ya di kelompok jengkol sendiri ada Flora yang hampir terguling, Jessie yang tiba-tiba pingsan, cukup membuat keributan di kelompok jengkol.
“Kayaknya kita harus berhenti dulu, kita tunggu kelompok lain dateng sekalian nunggu Jessie sadar, kalo gak sadar kita harus angkat jessie untuk ngelanjutin perjalanan.” Jelas Bima kepada kelompok jengkol.
“Kenapa kita gak turun aja kak, kenapa harus ngelanjutin perjalanan, saya nggak yakin yang lainnya kuat.” Ujar Jeno kepada Bima.
“Ini sudah setengah perjalanan, mau turun atau ngelanjutin perjalanan sama aja, tapi untuk turun kalian tahu sendiri jalannya lumayan terjal, kalau kita lanjut jalannya tidak sesusah tadi.” Jelas Bima lagi kepada kelompok jengkol agar mereka mengerti.
“Lah Sena? Anak itu gak ada?” Tanya Flora kepada Bima.
“Sena oh Sena, suka sekali mencari masalah.” Ucap Davin dengan kesal karena Sena yang hilang, perasaan tadi Sena masih mengoceh di depannya tapi saat Jessie yang tiba-tiba pingsan hilang juga Sena.
“Sena nanti kita cari sama-sama, itu anak pasti belum jauh.” Jelas Melisa sambil memberi minyak kayu putih ke hidung Jessie.
“Saya coba untuk menghubungi kelompok lain dulu untuk ngasih tahu keadaan kita dan siapa tau kelompok lain ada yang ketemu Sena.” Ucap kak Bima yang langsung menghubungi kelompok yang ada di depan menggunakan Walkie Talkie.
Setelah menunggu kelompok lain untuk membantu mereka akhirnya ada kelompok pete yang dibimbing oleh Juna, Perwira, dan Salwa, mereka mendapat 3 pembimbing karena anggota kelompoknya aada 12 orang.
“Ini beneran ada yang hilang.” Tanya Salwa langsung kepada kelompok jengkol.
“Iya kak, Sena hilang.” Kata jeno kepada senior yang ada di kelompok pete.
“Seharusnya saya tahu itu anak suka cari masalah, tau gitu dia berangkat sama saya aja daripada susah kayak begini.” Ucap Perwira.
“Udah tenang aja, gak usah panik kalian Sena baek-baek aja kok, ini bukan pertama kalinya Sena hilang dia udah sering hilang jadi dia udah terbiasa kok.” Ucap Juna yang menambah ke khawatiran semua orang.
“Sena sering hilang?” Tanya Flora, dia khawatir dengan temanya yang baru ditemuinya beberapa hari yang lalu itu.
“Iya sering hilang, itu anak kan buta arah, asal dia bawa handphone biasanya balik sendiri kok.” Jelas Juna yang makin membuat semua orang khawatir.
“Tapikan semua Handphone di kumpul kak.” Ucap Flora yang mencoba mengingatkan Juna, bahwa semua Handphone mereka di kumpul saat apel kemarin.
“Lah iya, disini juga mana ada sinyal, tapi tetep gak usah panik kita pasti bisa cari Sena.” Ucap Juna yang sebenarnya khawatir juga, bagaimana dia tidak khawatir Sena itu tetangganya dan orang tuanya menitipkan Sena padanya.
“Coba tanya kelompok yang lain Bim, udah ada yang nemu Sena belum?” Ucap Perwira kepada Bima.
“Udah gue tanya dari tadi Wir, tapi mereka belum ada yang nemu Sena.” Jelas Bima kepada Perwira.
“Kita lanjutin perjalanan aja dulu kasian Jessie, yang laki-laki gantian ya gendong Jessie, yang mau gendong duluan siapa?” Tanya Melisa.
“Saya aja kak.” Ucap Jeno, dia merasa tidak enak sebagai ketua kelompok.
"Nanti gantian aja sama gue Jen." Ucap Arda yang mau membantu Jeno.
“Eh Wir, ada kabar dari kelompok rambutan kalau anggotanya ada yang kesurupan.” Ucap Juna yang membuat Wira makin pusing, bagaimana dia tidak pusing sebagai Ketua OSIS MPLS tahun ini cukup banyak masalah.
“Ayok kita lanjutin perjalanan, bilang ke semua senior laki-laki kita akan buat tim gabungan untuk cari Sena, untuk yang pingsan dan kesurupan suruh kasih tau Senior yang jaga di posko untuk menyiapkan peralatan dan medis.” Titah Wira.
Di tempat lain, Sena sedang kebingungan iya dia bingung kenapa sekarang dia sendirian perasaan tadi semua anggota kelompoknya ada di belakangnya, kenapa sekarang gak ada.
“Apa gue jalan kecepetan ya?” Tanya Sena kepada dirinya sendiri.
“Ini yang lainnya lelet amat sih, ini kok tali rapiahnya gak keliatan lagi ya? Apa gue kesasar?" Tanya Sena lagi, akhirnya dia sadar karena telah membuat kesalahan lagi.
Akhirnya Sena putuskan untuk berjalan lagi tapi bukan mencari anggota kelompoknya tetapi mencari tali rapiah yang sebagai petunjuk jalan.
Sena mengikuti tali rapiah yang berfungsi sebagai penunjuk arah saat dalam perjalanan dia melihat pohon jambu batu yang banyak buahnya dan matang-matang “Eeh ada jambu, udah lama gue gak makan jambu, mending gue makan jambu dulu capek jalan dari tadi.” Ucap Sena yang langsung memanjat pohon jambu itu.
Saat sedang asik makan jambu di atas pohon “WOY! SENA! Sialan, capek-capek semua orang keliling nyariin ni anak, bisa-bisanya lo santai makan jambu disini.” Ucap senior yang bernama Sian, Sena tetap tak peduli dan melanjutkan makan dia masih sakit hati karena Sian tadi malam.
Sian langsung memberi tahu anggota kelompok yang lain bahwa dia telah menemukan si biang kerok Sena menggunakan Walkie Talkie.
“Udah cepet turun woy, semua orang panik nyariin lu.” Ucap Sian jengkel kepada Sena.
“Bentar masih makan nih gue, santai aja kenapa sih.” Kata Sena yang membuat Sian semakin emosi.
Tapi sebelum Sian melontarkan kalimat lagi kepada Sena, Sena memberi jambu biji kepadanya.
“Ini cepet makan, karena gue baik, gue kasih jambu yang paling gede.” Ucap Sena.
Sian melihat jambu batu yang ada di tangannya dan melihat Sena yang rakus memakan jambu batunya dia akhirnya tergoda dan ikut makan. akhirnya Sena makan jambu di atas pohon dan sian yang duduk di bawah pohon.
“Turun cepet, ntar lu jatuh.” Suruh Sian kepada Sena.
“Iya sabar, gue ngambil jambu dulu, biar nanti di jalan ada cemilan.” Ucap Sena yang membuat Sian memutar matanya, dia melihat Sena yang mengigit baju bagian bawahnya dan menaruh banyak jambu biji di bajunya, 'bener- bener gak ada malunya nih anak, mana ada cewek kayak dia' ucap Sian dalam hati.
Setelah merasa puas melihat hasil curiannya, iya curian kan Sena langsung ngambil-ngambil aja gak izin sama yang punya, dia langsung turun dari atas pohon.
“Yuk jalan lagi, lu bawa minum nggak? Haus nih gue.” Ucap Sena sambil menoleh kepada Sian.
“Nih minum.” Sambil memberikan botol minum kepada Sena.
“Lu bantuin gue bawa jambunya ya, nanti gue kasih.” Ucapnya lalu mengambil minum dan meminumnya, setelah itu dia memberi beberapa buah kepada Sian dan mengantongin jambu biji yang ada di bajunya, terlihat sudah baju Sena yang sangat kotor.
Mereka melanjutkan perjalan dan makan jambu batu hasil curian Sena, mereka berbincang-bincang sambil di selingi tawa. Ya Sena mencoba menghibur Sian agar tidak marah mulu kepadanya.
'*N*ih anak asik juga, tapi kelakukan sama sifatnya minus banget sih’ kata Sian dalam
hati sambil melihat Sena yang sedang makan jambu biji.
“Nanti kalo ada yang nanya lu nemuin gue dimana, bilang aja ya lu nemuin gue lagi nangis di bawah pohon jambu.” Ucap Sena kepada Sian.
“Lah bohong banget hahahahaha, lu nangis? Yang gue liat lu bahagia makan tuh jambu.” Ucap Sian kepada Sena.
“Ya biar ada dramanya lah, gak asik banget ntar, masa iya mau bilang lu nemuin gue lagi manjat pohon jambu, mau taruh dimana harga diri gue sebagai perempuan kalem.” Jelas Sena panjang lebar yang membuat Sian tertawa.
“Gue gak mau bohong ya.” Ucap Sian kepada Sena, tapi sebelum Sena membalas perkataan Sian.
“SENAAAA, lu kemana aja sih.” Kata Flora dengan nada galak, tanpa sadar ternyata mereka sudah sampai di posko terakhir.
“Hai Bung, apa kabar?” Ucap Sena, melihat santainya dan tidak merasa bersalah sama sekali, membuat Flora merasa percuma mengkhawatirkan Sena.
Kini semua orang menatap Sena dan Sian kesal, tapi lebih tepatnya hanya Sena, “kenapa pada ngeliatin gue semua, kalian khawatir ya gue hilang?” Tanya Sena yang membuat semua orang mau mengatakan ‘mending hilang lu terus gak balik lagi’, tapi sebelum mau mengatakan itu.
“Sena ikut saya sekarang.” Ucap Perwira dengan nada serius.
‘Kayaknya gue bakal di sidang lagi, nasib anak cantik miris amat sih’ kata Sena dalam hati dan mengikuti Wira dibelakangnya.
To Be Continue…