
Melihat Flora yang sudah di selamatkan Bima, Sena menghela nafas lega, dia merasa bukan teman yang baik kalau saja tadi dia menghalangi Penny membawa Flora, pasti Flora tidak akan mengalamai kejadian seperti itu.
“Untung tadi gue ketemu Kak Bima.” Gumam Sena, dia langsung pergi meninggalkan gudang, liat saja dia tidak akan mengampuni Penny.
Sena berjalan kembali ke kelasnya, “Guys gue mau ngomong, kumpul sini!” Ucap Sena sambil melambaikan tangannya memanggil teman-teman yang masih berada di dalam kelas.
Biasanya saat pulang sekolah, ada beberapa teman sekelas yang masih setia di kelas, ada Davin, Giovan, Haikal, Arda, Zaidan, yang sibuk main game, Ada juga Jeno yang sedang menonton Film dengan Aji, ada Reyhan yang sedang tidur, ada juga Bila dan Sila yang sedang menunggu jemputan.
“Ada apa?” Tanya Aji menghampiri Sena.
“Tunggu yang lain kumpul dulu.” Ucap Sena.
Setelah semua teman-temannya berkumpul, “Gue mau ngasih pelajaran ke Pentol korek, siapa mau ikut?” Tanya Sena serius.
“Pentol korek cari masalah lagi?” Tanya Bila dengan ekspresi kesal.
Sena mengangguk, “Iya, tadi si Peentol Korek ngunci Bunga di gudang belakang sekolah” Ucap Sena yang langsung membuat teman-temannya geram.
“Kan udah gue bilang, seharusnya dari kemarin kita labrak tuk Pentol korek.” Ucap Bila kesal.
“Gak bisa di biarin tuh anak, makin lama makin ngelunjak.” Ucap Davin yang tak kalah kesal.
“Terus kita mau ngapain?” Tanya Arda.
“Gue mau bales dia, sok hebat banget tuh pentol korek berani-beraninya dia ganggu temen kita.” Ucap Sena menggebu-gebu.
“Setuju gue.” Kata Haikal sambil mengangguk.
“Penny massih di sekolah?” Tanya Jeno.
Sena menggeleng, dia tadi melihat Penny sudah pulang dengan teman-teman gengnya.
“Gimana kalau kita omongin lagi besok biar semuanya kumpul, sekalian kita omongin rencana untuk balas Penny.” Ucap Aji memberi ide.
Semua mengangguk setuju, walaupun belum lama mereka bertemu dan berteman, mereka sangat merasakan kekeluargaan di kelas ini oleh karena itu jika ada yang berani mengusik salah satu anggota kelas X IPA 1, pasti akan mendapatkan balasan.
“Tapi Bunga jangan sampai tahu, dia udah cukup terpukul karena hal ini.” Ucap Sena memperingati teman sekelasnya.
“Oke besok kita omongin sama temen kelas yang lain kecuali Flora, sekarang mending kita pulang aja bentar lagi kelas mau di kunci.” Ucap Jeno.
“Mau pulang bareng nggak Sen?” tanya Arda
Sena menatapnya tajam, “Siapa anda?” Tanya Sena dengan nada mengejek, Sena masih belum memaafkan Arda.
“Nggak usah marah dong, kan gue udah minta maaf.” Ucap Arda sambil menarik-narik tangan Sena, tetapi tangan Arda di tepis kasar oleh Sena, dia mau jual mahal dulu.
“Pulang sama siapa?” Tanya Aji kepada Sena.
“Di jemput abang gue, duluan ya guys.” Ucap Sena dan berlari ke gerbang, dia takut abangnya menunggu terlalu lama.
Tetapi setelah dua puluh menit Sena menunggu, ternyata Bang Satya belum datang juga mana semua teman-temannya sudah pada pulang kini Sena sendirian di depan gerbang SMA Dharma Bakti.
Sena mulai gelisah dia yakin Bang Satya tidak akan lupa menjemputnya, Bang Satya adalah tipe orang yang selalu selalu menepati janjinya apalagi kepada Sena oleh karena itu dia mulai khawatir, 'apa Bang Satya baik-baik saja?' Itu pertanyan yang sedang di pikirkan Sena.
Sena mencoba menelpon Bang Satya, sampai deringnya berhenti belum di angkat juga, “Ini Bang Satya mana sih” Ucap Sena sambil mencoba menelpon Bang Satya lagi.
Personal Chat- Mas Brian
Sena :
Mas Brian sama Bang Satya nggak?
Mas Brian :
Loh bukannya jemput kamu ya dek.
Sena :
Dia belum jemput aku Mas.
Mas Brian :
Ah masa sih, udah daritadi kok dia berangkatnya.
Melihat Chat dari Mas Brian membuat Sena makin takut, “Waduh kok jadi parno begini gue.” Gumam Sena.
Mas Brian :
Mau Mas jemput dek? Tapi selesai Mas buang air besar ya.
Sena :
Nggak usahlah Mas, kalau nunggu Mas selesai keburu lumutan aku.
Asal kalian tahu, Mas Brian ini kalau sedang buang hajat itu lamanya minta ampun, bisa berjam-jam dia tidak keluar dari kamar mandi.
Mas Brian :
Lah terus kamu mau pulang sama siapa? Yang lain pada sibuk nggak bisa jemput kamu, Reza juga masih main.
Sena :
Aku nunggu Bang Satya aja Mas, mungkin dia bentar lagi dateng.
Sena membalas chat Mas Brian dan duduk, dia sudah mulai pegal karena berdiri terus, biarlah dia di anggap aneh karena duduk di depan gerbang, tiba-tiba ada notifikasi chat masuk dari Bang Satya.
Personal Chat-Bang Satya
Bang Satya :
Dek, abang nggak bisa jemput kamu, abang lagi dirumah sakit.
Sena :
Makin takut dia melihat chat dari Bang Satya, ‘Ini kenapa bales chatnya lama banget sih, nggak tahu apa kalau aku udah khawatir banget’ gerutu Sena dalam hati.
Bang Satya :
Abang baik-baik aja, tadi ada mba-mba Jatuh dari motor, abang bantu bawa dia kerumah sakit.
Melihat jawaban dari Bang Satya membuat Sena tenang.
Sena :
Ya udah nggak papa Bang, Sena bisa pulang naik angkot kok.
Bang Satya :
Maaf ya dek, kamu jangan naik angkot kamukan nggak pernah naik angkot.
Bang Satya :
Naik taxi kalau nggak ojek online aja, nanti uangnya abang ganti.
Sena :
Siap bang, nanti kalau mau pulang beliin aku donat sama susu ya! Kalau bisa nasi padang sekalian Bang.
Bang Satya :
Iya abang beliin.
Setelah melihat chat dari Bang Satya, Sena langsung memesan ojek online lalu menunggu sambil bermain cacing, lalu ada suara motor yang berhenti di samping Sena.
“Suka banget sih lu jadi pengemis” Ucap Sian, melihat kalau orang yang berbicara adalaah Sian, Sena langsung berpaling dan melanjutkan bermain cacing.
Melihat di abaikan oleh Sena, Sian turun dari motornya dan menarik tas Sena, “Naik!” Suruh Sian kepada Sena.
Sena mencoba mengabaikan Sian tetapi Sian makin gencar menarik-narik tasnya.
Sena menghela nafas kasar “Bisa nggak sih jangan ganggu gue?!” Ucap Sena sambil melototi Sian.
“Naik.” Ucap Sian lagi yang masih setia menarik-narik tas Sena.
“Nggak mau, gue udah mesen ojek online.” Ucap Sena sampil mencoba melepaskan tasnya yang di tarik Sian.
“Maaf.”
“Nggak denger, coba ulangin lagi.”
“Maaf.”
“Masih nggak denger lu ngomong apa.”
“Lu budek ya?”
Sena langsung melototi Sian, sebenarnya dia dengar apa yang di ucapkan Sian tetapi rasanya masih kurang apalagi yang dilakukan Sian itu sangat menyakiti hatinya, Sena jadi teringat dengan jajan kesukaanya yang
dilindas mobil Sian, untung Sian kesekolah tidak membawa mobil Benz nya kalau dia bawa Sena ingin sekali mengempeskan ban kurang ajar itu.
“Gue minta maaf.” Ucap Sian dengan nada yang lebih besar, mendengarnya Sena tersenyum tipis tetapi langsung bersikap biasa kembali.
“Minta maaf untuk apa ya?” Tanya Sena.
“Maaf karena gue udah kasar kemarin.” Ucap Sian.
“Tapi kalau gue nggak mau maafin gimana?” Tanya Sena.
“Ya udah kalau lu nggak mau maafin.” Ucap Sian dengan santai.
Malihat jawaban dari Sian membuat emosi Sena tersulut, dia langsung berdiri dan menendang kaki Sian, “Nggak ada usahanya sih lu, seharusnya usaha dong biar gue maafin.” Ucap Sena.
Sian memegang kakinya yang di tendang Sena, “Ya kalau lu nggak mau maafin ya udah, lagian lu mau gue usaha kayak mana sih.” Ucap Sian jengkel.
“Bujuk gue kek, Sena maafin gue ya biar lu nggak marah lagi gue traktir makan deh” Ucap Sena mencoba menirukan suara Sian.
Mendengar itu Sian tekekeh, “Ngode neng?” Tanya Sian.
“Ya udah naik.” Ucap Sian lagi.
Sena menatapnya bingung, “Naik?” tanya Sena.
“Katanya mau di traktir makan, cepet naik” Ucap Sian lagi.
Tetapi sebelum Sena , menjawab ada tukang ojek online datang, “Permisi, Mba Sena ya?” Tanya tukang ojek itu ke Sena yang di jawab anggukan.
Saat Sena mau menghampiri ojek online yang dia pesan Sian terlebih dulu menghampiri ojek online tersebut, Sian berbicara dengan ojek online itu dan mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberi ke ojek online itu.
“Pulang sama gue aja, tapi kita cari makan dulu.”Ucap Sian yang langsung membaut Sena murungkan niatnya untuk bertanya kenapa ojek onlinenya pergi.
Sian melepaskan jaket yang ada di badannya dan memberikannya kepada Sena.
“Buat apa, Kan nggak dingin?” Tanya Sena bingung.
Sian tidak menjawab tetapi matanya menatap ke atas paha Sena yang menggukanan rok sekolah pendek, Sena yang paham langsung menggunakan jaket itu untuk menutupi pahanya.
"Gue nggak pake helm, nggak papa?"
"Iya nggak papa, mau makan apa?"
“Mau makan Bakso, mie ayam, soto ayam, nasi goreng, bubur ayam, sama pizza, tapi mau nasi padang juga.” Ucap Sena kepada Sian.
“Kita makan bakso aja dulu yang lainnya besok lagi.” Ucap Sian yang membuat Sena tersenyum cerah, ntah kenapa saat ini Sian sungguh terlihat keren di mata Sena.
To be continue…