Teenteens

Teenteens
31. Menghibur Flora



“Bung, mau makan nggak?” Tanya Sena kepada Flora yang sedang tidur di atas kasur Sena.


“Nggak gue capek, lu bisa diem nggak?” Ucap Flora dingin.


‘Ternyata kalau lagi patah hati Bunga serem juga ya.’ Ucap Sena dalam hati dan pergi keluar kamar, sepertinya dia harus membiarkan Flora sendiri dulu untuk menenangkan hatinya.


Sena bingung bagaimana cara menghibur hati temannya, memang Flora dan Bima belum punya hubungan serius seperti pacaran, tapi Sena yakin kalau sebenarnya temannya itu sudah menaruh hati kepada Bima.


Untuk Bima sebenarnya Sena juga belum yakin apakah dia jujur atau berbohong, karena kalau di lihat sepertinya Bima bukan orang yang seperti itu tapi untuk saat ini Sena lebih percaya pada bukti yang ada, kita lihat saja nanti pembelaan yang akan dilakukan Bima.


Kisah cinta Flora dan Bima terlalu banyak rintangan, Sena jadi merasa kasian dengan Flora, dia juga menjadi semakin pusing padahal ini bukan tentang dirinya.


“Haduh jadi laperkan gue, seharusnya sekarang jadwal gue makan soto ayam sama Kak Sian, tapi demi temen harus ikhlas.” Kata Sena sedih sambil membayangkan soto ayam.


“Coba gue tanya Kak Sian dulu deh dia kan temenya si Kak Bima.” Kata Sena sambil berjalan ke arah kulkas mengambil susu strawberry dan duduk di ruang tamu.


Personal Chat – Kak Sian


Sena :


Halo ahli kubur!


Kak Sian :


Gk jelas.


Sena :


Kak aku laper :(


Kak Sian :


Terus hubungannya sama gue apa?


Sena mengerucutkan bibirnya karena kesal, tidak peka sekali Kak Sian ini tapi udahlah basa-basinya sekarang kita kembali ke tujuan utama Sena.


Sena :


Dasar cowo, nggak pernah peka sama perasaan cewe


Kak Sian :


Oh


Sena :


Mau tanya nih, lu lagi sama Kak Bima nggak?


Kak Sian :


Iya, kenapa memang?


Sena :


Lu percaya nggak sih sama foto tadi?


Kak Sian :


Enggak lah, gue tau gimana Bima dia nggak mungkin ngelakuin hal itu walaupun dia suka nonton film plus plus tapi untuk yang beneran dia masih nggak berani.


Sena memandang handphonenya dengan jijik setelah membaca chat dari Kak Sian, “Semua laki sama aja.” Ucap Sena pelan.


Sena :


Tapikan Kak Bima juga bisa khilaf, siapa tahu dia memang ngelakuin itu sama pentol korek.


Kak Sian :


Percaya sama gue, walau tampang Bima sedikit mesum sama sedikit brandal sebenernya dia anaknya baik dan rajin ibadah.


Sena :


Nggak tahu lah pusing gue kak, jahat bener Kak Bima sampai buat Flora sedih.


Setelah mengirim pesan itu kepda Kak Sian, handphone Sena berdering karena telpon dari Kak Sian “Apan-apaan nih?” Ucap Sena.


Baru saja Sena mengangkat telpon itu dudah ada pertanyaan bertubi-tubi dari Kak Bima.


“Sen, Flora baik-baik aja kan? Dia nggak papa kan? Jawab dong gue khawatir!” Ucap Kak Bima.


“Satu-satu dong nanya nya, dia baik-baik aja kok.” Ucap Sena.


“Tolong gue jagain Flora ya Sen, urusan Penny biar gue yang urus.” Ucap Bima pelan, Sena jadi kasian dengan Kak Bima.


“Pasti gue jagain kok, tapi itu beneran bukan lu kan Kak?” Tanya Sena.


“Sumpah itu bukan gue.” Ucap Bima frustasi.


“Kalau gitu buktiin kak, jangan ngomong doang.” Kata Sena dengan serius.


“Gue pasti bisa buktiin kalau itu bukan gue, jadi sekali tolongin gue untuk jaga Flora ya, gue cuma takut Penny ngelakuin hal yang buruk ke Flora saat gue nggak sama dia.” Jelas Bima.


“Hmmm, tenang aja nggak bakal gue biarin pentol korek cari masalah lagi sama Bunga” Ucap Sena.


“Udah belum Bim?”


“Nih, makasih ya.”


“Halo, masih hidup kan lu?” Tanya Kak Sian.


“Ya masih lah.” Jawab Sena jengkel


Sena memandang kesal handphonenya lalu menaruhnya dengan kasar.


“Dasar, kok ada manusia kayak dia.” Ucap Sena.


Karena bosan Senapun menonton sinetron Indonesia atau mungkin lebih tepatnya menghujat tokoh protagonis yang menurut Sena sangat bodoh.


“Cih masih ada aja manusia yang nggak punya otak kayak begitu kalau itu gue, pasti udah gue cabik-cabik tuh pelakor.” Ucap Sena.


“Suaminya itu kayaknya buta deh, masa nyari simpenan yang jelek kayak gitu mending istrinya lah.”


“Udah lah buat nguras tenaga aja jadi makin laper kan gue.” Ucap Sena kesal lalu mematikan Tv nya.


“Assalamualaikum.”


Sena menoleh dan melihat siapa yang masuk dia tersenyum dan berlari ke arah plastik putih yang orang itu bawa, “Wah nasi padang, tau aja kalau aku belum makan.” Ucap Sena langsung mengambil plastik itu.


“Jawab salam dulu.” Ucap Mas Brian.


“Waalaikumsalam.” Ucap Sena.


“Itu bukannya makanan yang kamu pesen dek?” Tanya Bang Jeffry.


“Aku nggak pesen makan kok.” Ucap Sena.


“Jangan di buka kalau gitu, takutnya salah nganter.” Ucap Bang Stya yang membuat Sena sedih.


“Aku laper.” Kata Sena dengan muka sedihnya.


“Nanti abang pesenin makan.” Ucap Bang Satya yang membuat Sena kecewa karena harus menunggu lagi.


“Tumben kalian pada ngumpul disini?” Tanya Sena saat melihat kelima orang yang sedang tergeletak tidak berdaya di atar karpet depan TV.


“Nggak papa mau main aja, nih handphone kamu geter mulu.” Jawab Mas Dimas.


Sena mengambil handphonenya dan melihat ada banyak notifikasi masuk tapi yang paling membuat Sena penasaran adalah Chat dari Sian.


Personal Chat – Kak Sian.


Kak Sian :


Udah nyampe belum makananya?


Sena tersenyum senang, ‘Dasar bilangnya nggak peduli’ ucap Sena dalam hati.


Sena :


Udah dateng, makasih ya kak.


Sena :


Sering-sering begini kak, kan gue jadi seneng.


Balas Sena dan langsung membuka plastik nasi padangnya, dia sempat takjub karena ada banyak nasi padang yang Sian belikan untuknya.


“Ayok bang makan, ini ternyata buat adek.” Ajak Sena.


Kelima orang itu mau bertanya siapa yang memberi nasi padang sebanyak itu, tapi karena Sena sudah sibuk makan mereka mengurungkan niatnya dan ikut makan bersama Sena.


Biasanya kalau teman abangnya berkumpul pasti selalu ramai tidak pernah sepi, kalau sepi berati cuma dua alasannya, satu sedang tidur, dan kedua sedang makan, ini karena Kak Windu paling tidak suka kalau ada yang berbicara saat makan.


“Sena.” Panggil Flora yang membuat semua orang menoleh.


Sena lupa kalau Flora sedang main kerumahnya, “Sini Bung makan, untung masih ada satu bungkus lagi” Ucap Sena menyuruh Flora untuk duduk di sampingnya.


Flora berjalan dan duduk di samping Sena, dia tidak nyaman dengan tatapan kelima laki-laki yang ada diruangan ini.


Sena yang sadar langsung melotot tajam, “Ngapain ngeliat sampe kayak gitu?” Tanya Sena Sinis, dasar para laki-laki kurang belaian ada yang cantik dikit langsung diliatin.


Mereka tersadar dan melanjutkan makan, Flora juga langsung makan di samping Sena tetapi karena porsi makannya yang tidak sebanyak Sena, Flora kesusahan menghabiskan nasi padangnya.


“Nggak habis?” Tanya Sena yang di angguki Flora.


Sena mengambil nasi padang Flora dan memakannya, sayangkan kalau harus di buang ini di belinya pake uang bukan daun.


Kini Flora melihat satu-persatu orang yang ada di ruangan, dia merasa seperti pernah melihat orang-orang ini tapi dimananya dia lupa.


“Kenalin Bung, yang botak itu abang gue namanya Bang Satya, yang sedikit buncit itu Mas Brian, kalau yang matanya Sipit itu Bang Jeffry, yang senyumnya adem itu Kak Windu, nah yang terakhir Mas Dimas dia anaknya sok cool padahal sebenernya enggak, mereka temen-temen abang gue” Jelas Sena sambil menunjuk orang yang disebutkan.


“Saya Flora temennya Sena.” Ucap Flora.


“Mau jadi pacar Mas nggak dek?” Tanya Mas Brian.


“Jangan mau sama playboy macem dia dek, dia mah ceweknya banyak, mending sama abang aja.” Ucap Bang Jeffry.


“Flora nggak bakal mau sama om-om kayak kalian.” Ucap Sena.


Sena membereskan bungkus-bungkus nasi padang yang sudah tidak ada isinya dia membiarkan para teman-teman abangnya menggoda Flora, siapa tahu mereka ada yang jodoh Flora.


Flora menatap Sena meminta bantuan, dia sungguh risih, “Santai aja Bung, mereka nggak gigit kok.” Ucap Sena sambil tertawa.


Akhirnya mereka berhenti menggoda Flora setelah Bang Satya memarahinya dia tidak mau teman adiknya ini risih, tapi itu cuma sebentar karena Mas Brian dan Bang Jeffry kembali menggoda Flora sambil bercanda.


Tanpa sadar Flora tertawa mendengar lelucon yang di lakukan para laki-laki yang kurang belaian ini, Sena yang melihat itupun merasa senang.


‘Akhirnya ketawa juga kan.’ Ucap Sena dalam hati.


To be continue…