
“Pagi-pagi gue udah liat drama, kapan gue kayak begitu.” Ucap Sena sambil melihat Drama yang di lakukan oleh Flora, Bima, dan si pentol korek Penny, dari tadi dia hanya menonton mereka dari jauh dan tidak ada niatan mendekat, karena Sena suka menonton perkelahian tetapi tidak suka terlibat di dalamnya.
Tetapi tidak sesuai harapan Sena “Yah gak asik, masa gak ada baku hantamnya.” Ucap Sena melihat Flora pergi menarik Bima.
Dia mau menghampiri Flora tetapi tidak jadi, dia akan memberikan kesempatan kepada Bima untuk melakukan pendekatan kepada Flora, kasian Bima yang belum ada kemajuan untuk hubungan yang lebih jauh.
“Eja sih pake nemenin Bunda kondangan, kan sekarang gue sendirian kayak anak hilang.” Ucap Sena kesal.
Dia kesal dengan Reza yang tidak menepati janjinya, harusnya dia pergi menonton basket dengan Reza, tapi tiba-tiba Bunda Reza minta untuk di temenin kondangan soalnya Kak Windu ada jadwal manggung di kampusnya yang berarti bersama Bang Satya, gara-gara itu Sena mau tidak mau berangkat bersama Juna dan kurang ajarnya Juna meninggalkannya sendirian.
“Juna juga jahat banget sih, masa gue ditinggalin sendirian, gak bertangguang jawab banget jadi laki.” Ucap Sena mendumal kesal.
Setelah lelah berkeliling Sena putuskan untuk mencari makan, Gak lama setelah mengantri di stan makanan Sena melihat Juna dengan seorang perempuan, “Hmmm pantes aja gue di tinggalin, nyari cewek ternyata.” Ucap Sena kesal, setelah ini dia berjanji akan memukuli Juna dan mengadukannya kepada ibunya Juna karena telah meninggalkannya.
“Arsena, antrianya udah maju.” Ucap seseorang yang membuat Sena kaget.
“Eh Ayam! Ngagetin aja lu tiang, untung gue nggak punya riwayat jantung.” Ucap Sena kepada lelaki yang ada di belakangnya.
“Ya lu ngapain bengong, udah maju tuh antrian.” Ucap laki-laki itu.
“Iya sabar, maju nih gue.” Ucap Sena.
“Eeh Giovan lu sama siapa?” Tanya Sena yang ingat bahwa dia harus mencari teman untuk menemainya.
“Sama Arda, Davin, Jeno, kenapa memang?” Ucap Giovan yang membuat Sena senang dan tersenyum manis ke arah Giovan.
Melihat senyum sena yang entah kenapa terlihat menyeramkan membuat Giovan merasakan pertanda buruk.
“Gue gabung ya? Gue nggak ada temen, masa lu tega biarin gue sendirian nanti kalo gue kenapa-napa gimana.” Ucap Sena dengan nada yang dibuat sedih.
Giovan menghela nafas. "Iya bareng.” Ucap Giovan terpaksa.
Mendengar jawaban Giovan, Sena tersenyum senang, dan fokus lagi mengantri makanan karena sekarang dia harus memberi makan cacing peliharaanya.
Tapi saat harus membayar makanan yang Sena pesan, dia kebingungan mencari dompet. “Jangan-jangan ketinggalan nih dompet gue.” Ucap Sena sambil mencari dompetnya.
Karena sepertinya tidak akan ketemu Sena menoleh kearah belakang dan mencoba tersenyum sangat manis ke Giovan. “Hehehe Giovan ganteng, tolong bayarin dong.” Ucap Sena tidak tahu malu.
Mendengar ucapan Sena, Giovan kembali menghela nafas. ‘Baru beberapa menit ketemu aja udah nyusahin.’ Ucap Giovan dalam hati, dan mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar makanan orang didepannya.
Melihat Giovan membayar makananya membaut Sena senang, dia tidak merasa bersalah atau tidak enak terhadap Giovan, toh untuk apa Sena merasa bersalah kan Giovan kaya, dia tidak akan jatuh miskin hanya untuk membayar kentang goreng, dan bakso bakarnya.
Setelah itu Sena menunggu Giovan membeli makanan. “Udah belinya?” Tanya Sena yang hanya di jawab anggukan malas Giovan.
Sena mengikuti Giovan dari belakang, dia sebenarnya mau berjalan di sampingnya tetapi berhubung Giovan yang mempunyai kaki panjang dan berjalan Cepat, mau tidak mau Sena hanya bisa mengekorinya dari belakang.
“Halo guys, loh bung lu disini juga? Kak Bima mana?” Tanya Sena.
“Disana.“ Ucap Flora sambil menunjuk ke arah Bima yang ada di tengah lapangan basket.
“Udah maen toh kak Bima.” Ucap Sena saat melihat Bima yang memakai pakaian basket. Oh tidak! Bima sungguh tampan pantas saja Pentol korek rela mengerjar-ngejarnya.
“Kita lawan SMA mana sih?, kok pemainnya ganteng-ganteng semua” Ucap Sena yang kemudian duduk di samping Flora.
“Gak tau.” Ucap Flora.
“SMA Garuda.” ucap Jeno yang ada di samping Flora.
“Gila ganteng-ganteng semua pemainnya, kaya model semua tampangnya.” Ucap Sena.
“Gak deh, masih kenyang gue.” Ucap Flora yang membuat Sena senang, maaf kawan pertanyaaan tadi itu hanya sekedar formalitas saja.
“Gue mau.” Ucap Davin yang langsung mengambil kentang gorengnya.
Sena langsung melototi tajam Davin, bisa-bisanya dia mencuri makanan untuk cacing Sena.
“Beli sendiri napa.” ucap Sena kesal.
“Beli sendiri napa?” Tanya Giovan mengulang kalimat Sena.
“Iyaaa, ini dibayarin sama Giovan yang baik hati dan tidak sombong.” Ucap Sena yang laangsung kembali fokus ke pertandiang.
Sena sama sekali tidak mengerti tentang basket, dia tidak mengerti sama sekali apa yang di bicarakan Komentator Basket, ingat Sena ikut Basket bukan karena dia bisa tapi karena anggota bakset ganteng-ganteng.
“Pusing gue liatnya, cuma bola kayak gitu direbutin cowok-cowok ganteng, kan lebih baik mereka ngerebutin gue, lebih bermanfaat.” Ucap Sena.
“Kurang kerjaan amat ngerebutin lu.” Sahut Arda.
“Gak ada manfaatnya sama sekali tuh.” Ucap Davin mengejek Sena.
“Udah lah gak ngerti lagi gue, mending kita jalan-jalan cari makan sama cowok yuk, Bung!” Ajak Sena.
“Lu aja sendiri.” Ucap Flora yang masih fokus ke pertandingan atau lebih tepatnya fokus memandangi Bima, Sena yang melihat Flora mendengeus kesal.
“Masih laper lu? Baru aja makan, cacingan ya lu?” Tanya Davin.
“Iye gue cacingan, tadi itukan cuma cemilan kalau makan ya harus makan nasi baru gue kenyang.” Ucap Sena yang membuat lainnya tidak percaya.
Masalahnya setelah Sena menghabiskan makananya tadi, dia ikut serta lagi menghabiskan makanan Giovan, Giovan yang hanya makan setengah saja merasa kenyang tetapi gadis itu masih kelaparan.
Sena tidak berhenti mengeluh, dia masih terus membujuk teman-temannya untuk mencari makan, dan membuat Flora, Giovan, Arda, Jeno, dan Davin kesal karena tidak bisa fokus menonton pertandingan basket.
“Issh kalau gue pingsan karena kelaparan kalian tanggung jawab ya.” Ucap Sena.
“Ya udah beli sendiri aja sana.” Ucap Arda mengusir Sena.
Sena mempoutkan bibirnya sok imut, “Gue gak bawa dompet.” Ucap Sena pelan yang membuat teman-temannya tertawa.
Pantas saja Sena benar-benar berusaha membujuk mereka untuk menemainya makan, ternyata untuk membayar makanannya.
“Gue laper, tapi dompet gue ketinggalan dirumah, tadi gue buru-buru berangkat kesini karena Juna cerewet, nanti aja gue gak tau pulang sama siapa, gak mungkin sama Flora, kan dia sama Bima, kalian ini gak ada yang pengertian sama gue.” Cerita Sena dengan nada sedih sambil mengelus perutnya untuk mencari simpati.
Melihat Sena yang sudah mulai drama, akhirnya Giovan mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya, “Cari makan sana.” Ucap Giovan yang membuat mata Sena langsung berbinar bahagia.
“Nanti pulangnya gue anter.” Ucap Arda, sebenarnya dia malas tapi karena dia anak yang baik dia akhirnya menawarkan Sena untuk pulang bersama, hitung-hitung untuk mencari amal.
Sena yang senang karena diberi uang oleh Giovan dan Arda juga mau mengantarnya pulang, langsung pergi mencari makanan.
“EEEEH KALIAN JANGAN KEMANA-MANA YA, DISITU AJA.” Teriak Sena dari jauh yang membuat teman-temannya kesal.
“Gimana kalau kita tinggalin aja.” Ucap davin mengusulkan ide yang sangat bagus.
“Yuk!” jawab Giovan.
“Gak boleh gitu, kasian Sena.” Ucap Jeno, memang yang paling baik disini.
To be continue…