Teenteens

Teenteens
17. Mencari Dosa



Hari ini Sena sebenarnya malas untuk kesekolah, dia malu karena kemarin menangis di kelas, kemarin juga bisa-bisanya mata Sena bocor dan mengeluarkan air mata yang banyak, mau di taruh dimana mukanya nanti dikelas, pasti nanti Davin akan meledeknya.


“Dek kamu berangkat bareng Juna aja ya, abang lagi buru-buru, ada kerjaan penting” Ucap Bang Satya sambil memakan sarapan.


“Nggak mau ah kalau sama Juna Bang, mending aku berangkat sendiri” ucap Sena, dia masih waras oke.


“Lah kenapa? Kamu mau sok-sokan berangkat sekolah sendiri yang ada malah gak sampai sekolah.” Ucap Bang Satya yang hafal sifat Sena.


“Ya tapi nggak sama Juna juga Bang, dia aja belum tentu jam segini udah bangun yang ada nanti aku telat lagi.” Ucap Sena mencari alasan.


“Udah bangun kok, tadi juga abang udah bilang langsung ke dia kalau kamu mau bareng.” Ucap Bang Satya yang membuat Sena tidak bisa membantah lagi.


“ARSEN Oooo ARSEN, MAIN YUK!” Teriak seseorang yang pasti kalian sudah tahu itu siapa, iya itu si gila Juna.


“Ihhh males aku tuh kalau sama dia Bang.” Ucap Sena dengan nada jengkel dan mengambil tasnya menghampiri Juna.


“Eeh manusia buaya, nggak usah teriak-teriak kenapa?” Ucap Sena kepada Juna.


“Yee dasar gak tahu terima kasih, masih mending gue mau berangkat bareng sama lu.” Ucap Juna.


“Jun abang nitip Sena ya, udah sana berangkat nanti telat loh.” Ucap Bang Satya yang ntah kapan ada disebelah Sena.


Mau tidak mau Sena langsung mengambil helm dari tangan Juna dan memakainya, dan naik ke atas motor Juna yang tingginya minta ampun, Juna ini tipe laki-laki yang suka bergaya dan membawa kendaraan seperti di sinetron- sinetron di TV, kalau Sena disuruh memilih dia pasti akan memilih di bonceng Reza dengan Honda Scoppynya atau yang biasa disebut ‘Tuan Muda’.


Dalam perjalanan Sena tidak henti-hentinya mencubit perut Juna karena membawa Motor seperti orang kesurupan. Ini yang membuat Sena malas dengan Juna, bisa-bisa dia mati muda lagi mana Sena belum sempet nikah.


“Wah gila banget lu.” Ucap Sena sambil memukul helm Juna dengan keras dan turun dari motornya.


“Sakit semua badan gue.” Ucapnya sambil melepas helmnya, Juna yakin paasti badannya biru-biru penuh dengan cubitan setan.


“Lu bawa motor udah kayak orang kesurupan, mikir dong pake otak lu itu bawa anak gadis yang cantik.” Ucap Sena sambil melepas helm daan memberi dengan kasar ke Juna.


“Iya-iya maaf, pulang mau bareng nggak Sen?” Tanya Juna.


“Ya enggaklah, masih mau hidup gue, nanti pulang gue bareng Reza aja, udah sono lu pergi.” Ucap Sena mengusir Juna.


“Memang kurang ajar lu itu, bukannya bilang terima kasih malah ngusir.” Ucap Juna dengan kesal.


Sena tidak menghiraukannya dan berjalan kearah kelas X IPA 1, dia tidak mau membuang tenaganya yang berharga hanya untuk berkelahi dengan buaya darat.


“SELAMAT PAGI, PENS-PENS SENA.” Teriak Sena dengan kencang.


“Udah normal lu?” Tanya Felix.


“Gue mah selalu normal Lix.” Ucap Sena.


“Nggak nangis lagi Sen?” Tanya Davin, sudah Sena duga teman-temannya pasti akan mengungkin kejadiaan kemarin memang bukan teman yang pengertian.


“Nangis buat apa?” Tanya Sena berusaha tidak peduli tapi seebenarnya dia sangat malu.


“Wuiiih ayang Sena udah happy lagi, nanti konser lah kita kan kemaren kita nggak bisa konser karena personil kita ada yang nangis.” Ucap Haikal mengejek Sena.


“Siapa yang nangis, mana ada gue nangis, orang kemaren cuma kelilipan terus keluar air mata gue karena pedih.” Ucap Sena mencoba mencari alasan.


“Suka-suka lu ajalah Sen.” Ucap Arda.


Sena menaruh tasnya dan berjalan ke rombongan perempuan yang sedang berkumpul .


“Ada gosip apalagi nih?” tanya Sena penasaran.


“Kemarin ada anak kelas X IPA 1 nangis di kelas Sen.” Ucap Dinda dan membuat yang lain tertawa.


“Ihh bisa nggak sih jangan ungkit kejadian kemarin?” Tanya Sena kesal.


“Eeh Bung, gimana kemarin?” Tanya Sena kepda Flora yang ada disampingnya dan membuat yang lain penasaran.


“Gak usah mulai deh.” Ucap Flora malas.


“Memang kemarin Flora kenapa? Nangis juga?” Tanya Lia yang terkenal paling polos di X IPA 1.


“Nggak kenapa-napa.” Ucap Flora ketus yang membuat rombongan ini sadar bahwa mereka  tidak bisa bertanya lebih jauh lagi.


Tetapi rombongan rumpi ini tentu tidak berhenti disitu, ada saja berita terbaru di sekolah yang Dessy bawa, di tambah jiwa-jiwa yang kepo ini merambatlah pembicaraan yang hanya menghasilkan dosa, tapi itu semua terhenti saat guru agama yang bernama Bu Siti masuk kedalam kelas semoga setelah ini mereka tobat ya.


“Kalian yang perempuan-perempuan jaga diri ya, jangan umbar-umbar aurat kalian kemana-mana! Pokoknya jangan sampai kayak kakak kelas kalian yang…… pokoknya jaga diri ajalah.” Ucap Bu Siti yang memancing kaum perempuan untuk melakukan ghibah kembali, dasar perempuan.


“Eeh Bung, lu tahu gak siapa yang lagi diomongin Bu Siti?” Tanya Sena ke Flora.


“Gak tahu coba lu tanya Dessy, pasti dia tahu.” Ucap Flora yang sebenarnya penasaran juga.


“Nanti deh gue tanya.” Ucap Sena dan kembali fokus pada ceramah Bu Siti yang sudah berakar banyak entah kemana.


Inilah jam pelajaran yang paling di sukai kelas X IPA 1, iya pelajaran agama karena gurunya yang asik dan sangat pengertian, Bu Siti ini kalau mengajar jarang ngasih tugas paling ngerjain tugas yang di bahas rame-rame sisanya dia habiskan untuk berceramah, tapi karena gaya ceramahnya yang tidak membuat bosan, apalagi di tambah dengan pertanyaan lucu dar Haikal, Zaidan, Davin, Arda, Felix, yang membuat kelas tertawa.


Tapi juga namanya Hidup pasti banyak rintangannya setelah Bu Siti keluar masuklah Pak Ahmad yang membawa kabar buruk.


“Hari ini kita ulangan ya, materinya yang kemarin, soalnya juga nggak susah-susah kok pasti kalian dapat seratus.” Ucap Pak Ahmad.


Tapi ketahuilah kawan, semua yang dikatakan Pak Ahmad itu bohong, soalnya susah dan yang pasti hanya orang hebat dan pintar yang bisa menjawab semuanya dengan benar.


“Jangan, nyontek ya usaha sendiri.” Ucap Pak Ahmad yang di ulang-ulang saat ada yang tengok-tengok.


“Ini soalnya mudah-mudah kok, masa kalian gak bisa.” Ucap Pak Ahmad lagi.


“Ya ini mudah bagi bapak, bagi kami mah sulit pak.” Ucap Zaidan.


“Ya udah kalo gak bisa ngasal aja, tapi nilainya harus gede.” Ucap Pak Ahmad yang membuat satu kelas kesal.


Setelah melewati jam pelajaran matematika yang lama hanya untuk mengerjakan soal-soal , akhirnya selesai juga dan membuat kelas bahagia.


“Nggak peduli gue sama nilai, yang penting selesai.” Ucap Davin yang di setujui Sena.


“Ya ampun Bunga, bisa nggak lu udahan dulu belajarnya, pala gue pusing nih liatnya” Ucap Sena melihat Flora yang masih mengerjakan soal yang tadi.


“Ini tadi belum sempet gue jawab tapi Pak Ahmad udah nyuruh kumpul.” Ucap Flora yang masih fokus menghitung.


“Udah lah, yuk kita lanjut ghibah lagi, Oooo iya Des tadi yang di omongin Bu Siti siapa sih?” Tanya Sena.


“Itu kayaknya anak kelas XII IPS 3 deh, yang kemarin keluar tiba-tiba, katanya sih hamil duluan.” Ucap Dessy yang membuat satu kelas berkumpul.


“Ah yang bener, itu kakak kelas yang jadi Pembina di kelompok cabe pas hiking bukan sih?” Tanya Bila.


“Iya yang itu, kak Nindy.” Ucap Dessy, yang memperjelas siapa orangnya dan tentu aja membuat perghibahan ini menjadi lebih panjang.


“Temen-temen, Bu Irena gak masuk hari ini, tapi dia ngasih tugas, tuganya di suruh merangkum Bab 2, di kumpul minggu depan.” Ucap Aji memberi tahu kabar bahagia sekaligus sedih, kenapa begitu? Bahagia karena gak belajar tapi sedih karena gak bisa ketemu Bu Irena.


Pengumuman dari Aji barusan memberi tanda bahwa perghibahan ini tidak boleh di hentikan dan harus di lanjutkan, mereka tidak peduli dengan tugas Bu Irena yang bisa di kerjakan dirumah nanti, bahkan Flora pun sudah ikut


berkumpul membentuk lingkaran.


“Terus cowoknya siapa?” tanya Sena yang memancing lainnya untuk melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi, sungguh mudah sekali mencari dosa itu.


To be continue…