
"Ayok Flo, Jen, tinggalin Sena!" Ajak kawan-kawan Flora.
"Eh jangan, nanti kalau tersesat gimana?" Ucap Jeno menahan kawan kawannya.
Flora tidak mendengarkan ajakan tersebut, justru Flora masih terfokus dengan Bima yang menggiring bola untuk mencetak angka. Tangan Flora sudah meremas kursi yang dia duduki dia sendiri tidak tahu kenapa dia sampai seperti ini.
"Udah Jen, lagian ada Flora yang masih nggak berkutik dari Kak Bima." Paksa Davin.
"Udah-udah kuy cabut aja!" Ajak Arda yang memutuskan untuk tidak ikut campur dalam kefokusan Flora.
Teman-temannya pun menuruti apa kata Arda, mereka tidak ingin mencari masalah, sobat. Dari pada melihat tatapan mata Flora yang seram lebih baik mereka meninggalkan Flora, toh dia bukan Sena yang akan tersesat saat ditinggal.
"Yaa! Bima dari SMA Darma Bhakti berhasil mencetak three poin. Dia memang pemain yang hebat dan dikagumi banyak wanita ya." Ucap seseorang yang Flora dengar suaranya berasal dari speaker.
Flora menghela nafas lega mendengar hal itu. Mata mereka bertemu, Bima tersenyum dengan manis, sedikit mengangkat tangan sekedar untuk melambai ke arah Flora.
"Aawwww!! Kak Bima lambai tangan ke gue! OMG!!" Ucap seseorang dengan girang. Flora yang telinganya sedang tajam-tajamnya menoleh dan menatap dengan tajam. Ternyata dia adalah Penny dan kawan-kawannya yang ikut girang.
"Cih, menjijikan." Gumam Flora.
"Eh, Bung! Mereka kemana?" Tanya Sena dengan banyak sekali makanan yang berada di pelukkannya.
"Nggak tau." Ucap Flora singkat yang masih memandang ke arah Bima.
"Oh! Ini gue beli tortila chips buat lu." Ucap Sena memberikan sebungkus makanan ringan ukuran besar.
Flora menerima pemberian Sena tersebut, namun dia tidak memakannya dan masih lebih memilih untuk menatap Bima yang sedang dikepung oleh lawannya.
"Bukannya itu curang?" Tanya Flora dengan bergumam.
"Two Points dicetak oleh SMA Garuda!" Ucap seseorang lagi dari speaker.
Flora menghela nafas, kali ini bukan helaan lega, tapi helaan gelisah. Flora melihat ke papan skor dan poin justru seri, waktu pun hanya tinggal 5 menit lagi. Flora langsung berdiri dan meninggalkan Sena yang masih sibuk menonton pertandingan-- tidak, maksudku dia tengah sibuk makan sambil menonton pertandingan.
"Bunga!! Bunga lu mau kemana? Bunga! Jangan tinggalin gue!!" Teriak Sena yang sudah tidak dipedulikan oleh Flora karena, terus berlari entah kemana.
Sementara di pertandingan, Bima yang paling menonjol permainannya dalam tim pun mulai dihalangi untuk mendapatkan bola. Lawannya terus terusan mengepung Bima dan itu juga membuat Bima kesal karena wasit hanya diam.
Setelah beberapa usaha akhirnya Bima berhasil keluar dari kepungan itu dan mendapatkan bola, tidak sengaja matanya melirik bangku tempat Flora duduk, dan dia terdiam, bertanya-tanya dimana gadis itu berada?
Duagh!
"Oouu!! Ternyata SMA Garuda merebut kembali bola dengan cara yang kasar ya, terlihat disana pemain Bima tersungkur karena siku yang mengenai wajahnya." Ucap pembawa acara pertandingan yang tersebar melalui speaker.
Karena terlalu fokus oleh bangku kosong Flora, lawannya entah dengan sengaja atau tidak menghantamkan sikunya ke wajah Bima untuk mendapatkan bola yang hampir saja ditembak untuk mencetak poin lagi. Bima terjatuh karena hantaman itu dan membuat geger para tim hore dari SMA Darma Bhakti.
"Woy! Maksudnya apa?" Teriak salah satu pemain.
"Curang!! Curang!! Curang!!" Teriak para penonton dengan kompak.
Sementara sang pelaku hanya bisa menyeringai dan kembali menggiring bola. Sayangnya, dia kembali mendapatkan balasan, tim SMA Darma Bhakti berhasil merebut bola tersebut dan kembali mencetak angka di detik detik terakhir. Hal itu membuat sorakan dari rekan-rekan yang menonton pertandingan tersebut, bahkan Sena yang sedang makan pun hampir tersedak karena sangat senang.
Pertandingan pun dimenangkan oleh tim SMA Darma Bhakti dengan skor yang hampir saja seri. Para tim melakukan selebrasi-selebrasi yang kerap mereka lakukan, namun berbeda dengan bima yang hanya bisa tersenyum lalu melihat bangku Flora yang masih saja kosong.
"Ayo, Bim! Lu harus istirahat." Ucap kawan timnya yang memapah Bima dengan perlahan lalu mengajaknya duduk di tempat istirahat.
"Kak Bima!! Ya ampun, kakak nggak papa?" Tanya Penny yang entah sejak kapan sudah berlari dan membawakan air isotonik untuk menambah energi. Bima diam tidak memperdulikan gadis centil itu dan hanya mencoba untuk mengeringkan keringatnya.
"Kak! Ini Penny bawa minuman untuk kakak, semoga kakak cepat segar lagi ya kak, aduh muka kakak yang ganteng jadi rusak deh.. tapi nggak papa kak, kakak masih tetap ganteng kok." Oceh Penny yang masih tidak ditanggapi oleh Bima.
"Cih!" Ejek Juna kepada Penny.
Bima mencari arah suara yang dia butuhkan sejak tadi, dan akhirnya dia melihat Flora yang sedang mengatur nafasnya, memegangi lututnya dengan sekantung plastik yang ada di tangan kanannya.
Seolah tidak pernah dipapah dan baik-baik saja, Bima bangun dari duduknya, menyingkirkan Penny yang berdiri didepannya dan berjalan ke arah Flora.
"Dari mana?"
"Bagaimana bisa?"
Ucap Bima dan Flora bersamaan, dan Bima justru terkekeh karena hal itu.
"Nggak lucu!" Ucap Flora.
Bima menggenggam tangan Flora dan menggandeng gadis itu untuk duduk karena dia juga kelelahan, mengabaikan kawan timnya dan Penny yang masih saja gatal terhadap Bima.
"Ini minum!" Ucap Flora mengulurkan air mineral untuk Bima.
"Kak Bima! Jangan minum itu, air murahan! Ini minum aja minuman dari Penny.. pasti Kak Bima merasa lebih baik." Ucap Penny yang masih saja menempel kepada Bima.
"Penny, gue nggak tahu kenapa lu semaniak ini sama gue, tapi tolong ya, gue risih dengan lu yang selalu gangguin Flora!" Ucap Bima
"Aku lebih baik dari dia kak!" Balas Penny dengan bersungut-sungut.
"Gue yang berhak dinilai diantara kalian siapa yang lebih baik." Ucap Bima final.
"Eh! Gue nggak sudi di bandingkan sama cabe-cabean kayak lu! Merasa cantik?" Ucap Flora maju satu langkah di depan Penny.
"Gue peringatin ya, gue satu persenpun nggak ada takut-takutnya sama lu! Bima bukan salep gatel yang bisa ngobatin kegatelan lu. Gue diam bukan karena gue takut. Malu hey!" Ucap Flora dengan menunjuk-nunjuk bahu Penny dengan telunjuknya.
"Lihat!" Lanjut Flora dengan mencengkram rahang Penny dan menolehkan wajah gadis itu ke orang-orang yang sedang mentertawakan Penny.
"Mereka tertawa bukan ke gue, tapi ke tingkah laku lu yang godain Bima. Lu mau Bima? Ambil! Bima nya mau sama lu?" Ucap Flora dengan sedikit menghempaskan cengkraman tangannya di pipi Penny.
Air mata Penny mulai menggenang, dengan rasa malu yang teramat sangat dia berlari meninggalkan lapangan dan mengajak teman-teman persekutuannya untuk pergi dari sana.
"Hmmm.. look how cool you are." Ucap Bima dengan merangkul bahu Flora.
"Ck! Jangan pede lu! Gue cuma males digangguin sama fans lu itu, nggak ada gunanya." Ucap Flora yang membuka plastik yang dia bawa tadi dan mengeluarkan kapas dan alkohol untuk mengobati luka Bima yang sedikit mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
Perlahan Flora mulai mengobati luka Bima yang menyebabkan beberapa ringisan keluar dari bibir Bima.
"Ah ah! Pelan-pelan Flora." Ucap Bima.
Flora justru semakin menekan luka di sudut bibirnya. "Ah! Flora!" Keluh Bima.
"Apa? Salah sendiri kemapa bisa sampe begini?" Ucap Flora dengan sinis.
"G-gue liat lu nggak ada di tempat duduk lu, jadi gue kira lu kemana, tiba-tiba gue kena hantam aja. AAH!" Cerita Bima yang diakhiri dengan rintihan sakitnya.
"Lebay! Gue cuma beli minum nih." Sahut Flora.
"Jangan galak-galak dong, nanti gue makin suka." Ujar Bima yang membuat Flora memutar bola matanya malas.
"Obatin sendiri!"
"Eh! Flora! Mau kemana?" Ucap Bima yang ditinggal oleh Flora.
To Be Continue..