
Ada apa ini? Kenapa lagi dengan manusia satu ini, sepertinya ini karma untuk Sena karena beramain-main dengan Sian dan sekarang Sena terjebak dengan permainannya sendiri.
Sena mecoba melepaskan cekalan tangan dari Kak Sian namun tidak bisa, tentu saja karena perbedaan kekuatan, saat ini dia hanya pasrah mengikuti kemana Kak Sian akan membawanya.
Setelah menarik Sena cukup jauh akhirnya Sian berhenti di taman belakang sekolah.
“Udah main tarik-tarikannya?” Tanya Sena sinis.
Sian tidak menjawab dia menatap mata Sena dengan tajam.
Karena sepertinya ini akan lama Sena berjalan ke arah bangku taman dan duduk disana, dia sudah cukup leleh hari ini apalagi di tambah dengan sikap aneh Sian.
“Ngapain masih berdiri disitu? Nggak mau duduk?” Tanya Sena lagi.
Sian berjalan ke arah Sena dan duduk disampingnya, setelah itu suasana kembali hening mereka berdua seakan menikmati suasana mendung di siang hari ini.
“Jangan deket-deket lagi sama Reza, gue nggak suka.” Ucap Sian memecah keheningan.
Sena menoleh ke arah Sian dan menarik nafas lelah, “Nggak bisa, gue nggak bisa jauh-jauh dari Reza.” Ujar Sena.
Permintaan Sian itu adalah hal yang tidak mungkin Sena bisa lakukan, Keluarga Reza sudah di anggap Keluarga sendiri oleh Sena, dan rumah Reza adalah rumah ketiga bagi Sena, hari-harinya selama berpisah dari orang
tuanya dia habiskan bermain di rumah Reza jadi tidak mungkin sekali dia menjauhinya.
Mendengar jawaban Sena, Sian mengacak rambutnya frustasi, “Bisa nggak kali ini aja lu turutin permintaan gue?” Tanya Sian dengan pelan sambil menatap Sena.
Sena menjawab pertanyaan Sian hanya dengan gelengan kepala tanda tidak setuju.
“Gini ya kak, gue sama Reza itu bukan temen tapi udah kayak keluarga, Ayah sama Bundanya Reza udah gue anggep sebagai orang tua gue sendiri, Kakaknya Reza udah gue anggep sebagai jodoh gue, sedangkan Reza udah gue anggep sebagai adek ipar.” Jelas Sena panjang lebar.
Sian menatap tajam Sena, “Lu suka sama kakaknya Reza?” Tanya Sian.
Sena mengagguk semangat sebagai jawaban bahwa dia menyukai Kak Windu kakaknya Reza.
“Lu nggak suka sama gue kan kak?” Tanya Sena penuh selidik.
“Nggak!” Jawab Sian penuh keyakinan, yang sebenarnya adalah sebuah dusta besar. Sian menggigit pipi dalamnya, ada penyesalan kenapa malah kata 'tidak' yang muncul. Entahlah Sena sepertinya tidak menyadari.
“Kok gue nggak percaya ya? kalau lu suka sama gue bilang aja Kak.” Pancing Sena .
Sian tidak menjawab tapi Sena tahu jawabanya, jangan salahkan Sena yang terlalu peka dengan keadaan ini.
“Maaf nih Kak bukannya gue nolak ya, tapi gue itu gak mau jadiin lu pelarian, jujur ya lu itu tipe idaman gue sebelum gue sadar kalau Kak Windu itu ganteng.” Jelas Sena.
‘Windu, Windu keyboardis Labirin, jadi dia lawan gue sekarang.’ Ucap Sian dalam hati, jujur dia sendiri bingung kenapa dia bisa menyukai perempuan di depannya ini, Sena itu jauh dari tipe idamannya tapi kenapa dia bisa jatuh hati kepada perempuan nyeselin dan aneh seperti Sena, mungkin dia sudah gila.
“Lu jangan sakit hati ya kak, sebenernya lu itu tipe idaman gue banget kak, tampang lu ganteng, badan lu oke, otak lu pinter, punya mobil sama motor keren, punya banyak duit dan nggak pelit.” Ucap Sena mencoba menyenangkan Sian.
“Ngapain gue sakit hati? Kan udah gue bilang, gue itu nggak suka sama lu.” Kata Sian dengan percaya diri, tapi sebenarnya dalam hatinya dia senang mendengar ucapan Sena karena artinya dia hanya perlu membuat Sena
berpaling dari Kak Windunya itu.
Sena menatap Sian iba, dia sungguh kasihan dengan Sian yang di tolak Kinan dan kini harus di tolak lagi oleh dirinya.
‘Bisa-bisanya gue sia-sian cowok ganteng macam ini orang’ Ucap Sena dalam hati sambil menatap Sian, jika dia bukan perempuan baik-baik pasti dia sudah memacari Sian karena dia kaya dan tampan.
“Beneran nggak sakit hati? Terus kenapa lu nyuruh gue jauh-jauh dari Reza?” Tanya Sena memancing Sian agar mengakui bahwa dia
menyukainya.
“Karena gue peduli sama lu, gue itu cuma mau lu jaga diri aja, lu itu cewe nggak seharusnya kalau main ke kamar cowok nanti kalau lu di apa-apain gimana?” Jelas Sian.
“Udah kan? Gue ke kelas dulu ya Kak.” Ucap Sena dan berdiri dari bangku taman.
“Ooo iya Kak, lu itu orang baik pasti dapet cewe baik juga.” Ucap Sena dengan senyum manis, “Nanti gue pulang sama Reza jadi nggak usah nungguin gue Kak.” Lanjut Sena dan berjalan pergi meninggalkan Sian.
Sena memutuskan untuk menjauh dari Sian, dia tidak mau memperumit keadaan dan membuat Sian berpikir bahwa dia sengaja memberikan harapan palsu, tapi saat dia sudah yakin akan keputusaanya entah kenapa dia merasa mengambil keputusan yang salah, mungkin benar bahwa Sena sendiri tidak mengerti bagaimana perasaanya yang sebenarnya.
Setelah sampai di kelas Sena langsung duduk di samping Flora, “Tadi gimana?” Tanya Flora.
“Hah? Gimana apanya?”
“Tadi gimana lu sama Kak Sian?” Tanya Flora lagi dengan lebih jelas.
“Ya gitu, tapi Bung kayaknya gue bakal ngejauhin Kak Sian deh.” Ucap Sena.
Flora menatap Sena bingung, dia sungguh kasihan dengan nasib Sian yang bisa-bisanya menyukai orang plin-plan seperti Sena.
……………….
Di tempat lain Sian tidak langsung ke kelas melainkan pergi ke ruang bekas eskul yang kosong, ruangan itu adalah basecamp yang kedua tempat teman-temannya berkumpul.
Saat membuka pintu Sian langsung mengedarkan pandangannya mancari seseorang, setelah menemukan yang dia cari, Sian langsung menghampiri orang itu.
“Bangun.” Ucap Sian dingin sambil menendang Juna yang sedang tertidur di atas sofa.
“Apaan sih ganggu aja.” Ucap Juna kesal dan menatap Sian dengan permusuhan.
“Lu masih belum puas berantem sama gue lagi hah? Mau ngajak berantem lagi?” Tanya Juna sinis.
“Udah-udah nggak usah berantem lagi capek gue misahinnya,” Ucap Bima menenangkan Juna.
“Kalian berantem kok gue nggak tahu.” Ucap Dito dan yang lain sambil menatap ketiga orang yang ada di depannya.
“Bukan urusan lu.” Ucap Sian dingin kemudian menatap Juna lagi.
Karena ucapan Sian, mereka memilih diam dan tidak bertanya lebih jauh lagi karena saat Sian marah dia akan sangat menyeramkan.
“Ikut gue keluar.” Ucap Sian kepada Juna dan langsung pergi.
Juna memandang punggung Sian kesal, dia harus sabar menghadapi manusia satu ini karena disini dia yang salah.
“Cepet kelaur sana, ntar Sian ngamuk lagi.” Ucap Bima mendorong Juna, sebenarnya dia yakin alasan Sian mengajak Juna keluar bukan untuk berkelahi melainkan alasan lain.
Di luar Sian dan Juna duduk berdampingan, “Gue udah nggak masalah lu pacaran sama Kinan.” Ucap Sian.
Juna yang mendengar itu menoleh ke Sian, dia menatap Sian bahagia akhirnya setelah sekian lama Sian merestui hubungannya dengan Kinan juga.
“Gue suka sama Sena.” Jelas Sian yang membuat Juna kaget setengah mati dia mau bertanya bagaimana bisa Sian menyukai perempuan bar-bar macam Sena, tapi karena Sian masih dalam ekspresi serius dia mengurungkan niatnya.
“Gue mau minta tolong bantu gue jadian sama Sena.” Lanjut Sian lagi, dia sudah putuskan untu memperjuangkan orang aneh yang jauh dari tipe idamannya itu.
Juna langsung mengangguk angguk semangat, “Tenang pasti gue bantu, akhirnya ada cewek yang bisa buat lu berpaling dari Kinan.” Ucap Juna bahagia dan memeluk Sian.
“Lepas brengsek, geli gue nanti dikira maho lagi.” Ucap Sian mendorong Juna.
“Nggak mau, akhirnya kita baikan lagi cape gue marahan sama lu.” Curhat Juna kepada Sian.
Bima menatap Kedua temennya dari jauh, dia senang akhirnya mereka kembali akur lagi.
To be continue…