Teenteens

Teenteens
38. Mencoba



Bima berjalan di waktu-waktu istirahat untuk menghampiri kelas kekasihnya. Yups! Dia berjalan menuju kelas X IPA 1 dengan membawa sebuah barang yang dibungkus oleh plastik. Di perjalanan, Bima berpapasan dengan Sian, orang yang menghindarinya tadi pagi. Orang itu membawa bingkisan juga, entah apa isinya. Sian berhenti saat menyadari dirinya berpapasan dengan Bima, dia terdiam lalu melemparkan bingkisannya itu kepada Bima, lalu beralih begitu saja.


“Woy!” Tegur Bima namun tidak dihiraukan oleh Sian dan masih saja berjalan kembali ke kelasnya.


“Kenapa sih itu orang?” Tanya Bima pada dirinya sendiri. Bima dengan rasa ingin tahunya yang super, dengan berani melihat isi plastik tersebut. Yups! Roti, makanan-makanan ringan dan beberapa susu kotak rasa stroberi.


Fakta yang Bima ketahui adalah: Pertama, Sian tidak mungkin memiliki nafsu makan se-ekstrim ini. Kedua, Sian bukan berasal dari kelas X IPA 1, tidak mungkin ada tujuan lain. Ketiga, Sian tidak mungkin meminum susu stroberi.


Bima pun meneruskan perjalanan dan berhenti di ambang pintu kelas tersebut. Bima melihat Sena yang  sedang berusaha fokus belajar, walaupun Bima bisa mendengar suara perutnya sedang meraung-raung tapi dia berusaha fokus. Flora yang menyadari kekasihnya datang pun menghampiri Bima.


“Ada apa?” Tanya Flora.


“Nih buat lu. Katanya minta coklat.” Ucap Bima menyerahkan bingkisan darinya yang berisikan coklat, dan beberapa makanan yang mengandung coklat.


“Oh, makasih.” Jawab Flora.


“Makasih sayang... gitu coba.” Goda Bima.


“Makasih sayang... gitu coba.” Beo Flora dengan ekspresi yang tidak berubah.


“Itu satu lagi buat siapa?” Tanya Flora yang melihat Bima masih memegang satu bingkisan lagi.


“Gue tadi ketemu Sian di jalan, dia kayak galau gitu, i don’t know, ada masalah sama Sena?” Tanya Bima balik.


“Nggak, anak itu dari tadi belajar, dapat tugas dari guru matematikanya. Kasihan gue liatnya.” Ucap Flora dengan prihatin.


“Lu sendiri nggak belajar kimia?” Tanya Bima menatap pacarnya yang sedang kesulitan mengupas bungkus coklat.


“Setiap hari gue lakuin. Lagi mau istirahat aja.” Jawab Flora.


“Yaudah ini kasihin ke Sena, biar sambil makan. Mungkin Sian takut ganggu dia, mukanya serius gitu, bantuin sana.” Ucap Bima mengusap kepala Flora.


“Biarin ngerjain sendiri, gue contekin mulu gimana mau menang dia nanti? Mungkin kalau dia nanya dan gue bisa jawab ya pasti gue bantuin.” Sahut Flora memakan coklatnya.


“Okay, gue balik dulu ya.” Ujar Bima dengan senyum dan sedikit mencubit hidung Flora.


Flora menatap punggung Bima yang menjauh, lalu menoleh ke arah Sena. Anak itu masih saja melihat bukunya dan sangat-sangat gigih untuk memecahkan dua soal yang cukup kompleks.


“Nih.” Ucap Flora memberikan bingkisan Sian kepada Sena.


“Waah, dalam rangka apa ini? Pajak jadian? Ah telat-telat lu kadaluarsa!” Ucap Sena menerima bingkisan tersebut lalu mengelurkan susu kotak stroberinya.


“Apaan sih lu? Kalau nggak mau nanti diambi Davin, hati-hati.” Ujar Flora duduk di samping Sena dan melanjutkan memakan coklatnya.


"Ih! Kagak-kagak!" Jawab Sena.


"Lagian ngapain juga kami ngasih pajak nggak jelas."


“Lah, ini bukan dari Bima?” Tanya Sena meminum susu tersebut.


“Kak Sian.”


“Uhukk uhuk!!” Sena tersedak setelah mendengar ucapan Flora dari mana makanan-makanan ini berasal. Sena segera mengecek ponselnya, dan tidak ada satupun notifikasi dari Sian.


“Mungkin karena kita nggak ke kantin makanya dia merasa aneh. Mungkin Kak Sian mulai kepincut sama lu Sen.” Ucap Flora.


“Nggak heran sih, secara gue kan cantik.”


Flora melanjutkan memakan coklat kesukaannya, entahlah dia hanya menyukai makanan manis, dan membenci makanan terlalu manis. Aneh memang. Tapi bagaimanapun dia tetap disukai oleh Bima.


Waktu terus berjalan sampai bel pulang berkumandang yang terdengar seperti lantunan bidadari surga, sangat membahagiakan. Flora segera merapihkan barang-barangnya dan berjalan ke arah parkiran. Dia melihat Bima yang sedang berbincang dengan Melisa, sepertinya mereka sedang membicarakan tugas mereka.


“Hai Flora.” Tegur Melisa ramah, dan Flora membalasnya dengan tersenyum.


“Iya.” Jawab Flora singkat dan segera memasuki mobil Bima.


“Duluan ya Mel.” Pamit Bima kepada kawan sekelasnya itu.


Bima memasuki mobilnya dan melajukan ke rumah Flora. Mereka melakukan obrolan ringan tentang apa yang terjadi hari ini, hal ini terasa sangat nyaman untuk sejoli ini. Apalagi Bima yang sangat bersyukur karena saat Flora hanya bersamanya, dia benar-benar terlihat seperti pacar, walaupun masih terasa dinginnya.


“Bim, buka mulut.” Ujar Flora. Bima yang masih menyetir pun bingung, namun masih saja menuruti Flora.


Flora menyuapkan coklat yang tadi Bima berikan kepada dirinya. “Belum makan yah?” Tanya Flora kepada Bima. “Kok tau?” Ujar Bima yang sambil mengunyah coklat tersebut.


“Feeling sih.” Ucap Flora.


“Udah sampe.” Kata Bima memberhentikan mobilnya.


Flora pun turun dengan ekspresi yang sedikit sedih, sedikit saja. Jika Bima tidak cermat melihat wajah Flora, hal itu tidak akan terlihat.


“Nggak mau mampir? Makan gitu?” Tanya Flora dengan melipat tangannya di pintu mobil yang kacanya terbuka hanya untuk menatap Bima sebelum berlalu pergi.


“Bunda masak sayang. Nanti siapa yang ngabisin kalau bukan anaknya yang paling ganteng?” Ujar Bima dengan kekeh.


“Iya deh, gue masuk ya.” Jawab Flora yang diangguki oleh Bima.


Setelah memastikan kekasihnya masuk ke rumahnya, Bima melajukan mobilnya kembali. Namun, kali ini bukan ke rumahnya melainkan ke rumah Juna. Semoga niatnya di respon baik oleh Juna, bagaimana pun Bima percaya Juna masih memiliki sisi sahabat yang baik.


“Jun.” Panggil Bima dari depan rumah Juna.


“Apaan?” Teriak Juna dari kamarya, di lantai dua yang mengintip keluar jendela.


“Bukain woy.” Ucap Bima kepada Juna. Juna pun turun dan membukakan pintu untuk Bima, dan tanpa disuruh lagi akhirnya Bima masuk dan merebahkan dirinya di sofa rumah itu lalu meraih remote control untuk menyalakan televisi.


“Mau ngomong apaan?” Tanya Juna to the point.


“Gue cuma, nggak nyaman dengan situasi kayak gini. Apa yang lu pikirin sih? Sian sahabat lu! Coba lah berpikir baik-baik baru sikat anak orang. Gue mau bicara baik-baik ya.” Ucap Bima menegakkan badannya. Terlihat Juna menundukkan kepalanya berfikir sesuatu.


“Gue mau ngambil gitar gue.” Ujar Bima yang memasuki kamar Juna tanpa permisi dan mengambi gitarnya.


“Pikirin siapa lu, Sian, dan pacar lu. Lu harus mikirin banyak pihak dalam mengambil keputusan. Jangan bodoh kayak gini.” Ucap Bima final dan langsung meninggalkan tempat itu.


Bima sampai di rumahnya dengan selamat sentosa. Saat memasuki rumah, Bima melihat bundanya yang sedang menunggunya di sofa sambil membaca majalah hari ini yang belum sempat bundanya baca.


“Aku pulaang..” Ucap Bima dan langsung mengecup pipi Bundanya.


“Udah pulang nak? Mandi terus makan yah, bunda udah masak.” Ucap Bunda Bima dengan senyum manis.


Bima pun segera mematuhi apa kata bundanya dan melakukan makan malam berdua, selalu berdua namun mereka merasa tercukupi dengan hal ini. Mereka bersyukur dan percaya bahwa dengan seperti ini pun bisa bahagia.


To Be Continue..