Teenteens

Teenteens
15. Sena Kenapa?



Berbeda dengan Flora yang sudah menemukan jalan ninjanya, bagi Sena yang hanya ingin menjalani hari-harinya dengan biasa, dia berharap hari-harinya di sekolah bisa di lalui dengan mudah tanpa adanya halangan, apalagi dengan keputusan Sena yang ingin ikut Bang satya, banyak orang yang berpikir pasti Sena ingin bebas dari orang tua dan bermain sesuka hati tapi nyatanya mereka salah, tinggal dengan Bang Satya bahkan lebih sulit karena Bang Satya benar-benar menjaganya daripada dengan kedua orang tuanya yang santai dan membiarkan anak-anaknya mengambil jalan apapun yang dia mau, lalu kenapa sena nekat ingin tinggal dengan abangnya?.


“Bang, kok gak tidur? Mimpi buruk lagi ya?” Tanya Sena yang ingin menangis melihat Bang Satya terlihat menyedihkan.


“Enggak kok  abang cuma kebangun karena haus ini, habis minum, kamu sendiri kenapa belum tidur?” Tanya Abang Satya dengan senyum tapi itu membuat Sena semakin sedih, dia tahu Bang Satya berbohong.


“Abang udah berhenti minum obat tidur kan? Jangan minum obat tidur lagi ya bang, Bang Satya kan udah janji” ucap Sena meningatkan Bang Satya.


“Iya abang udah gak minum obat tidur lagi, ini lagi usaha biar gak minum itu lagi.” Ucap Bang Satya mencoba menangkan Sena.


“Mau adek buatin susu bang?” Tanya Sena.


“Gak usah mending kamu tidur aja sudah malam, abang juga mau tidur lagi kok.” Ucap bang Satya sambil mengusap kepala Sena dan pergi masuk ke kamarnya.


Sena sedih melihat punggung Bang Satya yang manjauh darinya, dia tahu abangnya sedang berpura-pura kuat didepannya, dia sedih melihat abang yang paling disayangainya hancur dan putus asa seperti itu, dan inilah yang membuatnya nekat ikut tinggal dengan abangnya dia takut abangnya akan melakukan itu lagi.


…………


Di kelas X IPA 1 yang selalu terlihat ramai dan sangat berisik tapi ada yang berbeda, ya yang berbeda adalah si biang kerok atau si cerewet Sena yang hanya diam.


“Kenapa Lu?” Tanya Flora yang aneh melihat sahabatnya ini.


“Aah? Enggak papa kok” Ucap Sena yang makin membuat Flora khawatir.


“WOY SENA AYOK KONSER LAGI!” teriak ajakan Haikal kepada Sena yang sudah memegang sapu sebagai mic, tapi anehnya Sena yang selalu mengiyakan ajakan itu dengan semangat kini hanya mengelengkan kepalanya.


“Kenapa Sen? Sakit?” Tanya Arda ke Sena.


“Enggak, gue baik-baik aja." Ucap Sena pelan.


Sena yang hari ini terlihat lemas, lesu, dan tidak ada semangat hidupnya  membuat satu kelas heran, mereka merasa aneh dengan Sena bahkan Reyhan yang paling benci dengan keberisikan Sena merasa lebih baik Sena kembali bersik dan mengganggunya tidur daripada diam seperti ini.


Apalagi saat jam pelajaran berlangsung Sena yang biasanya paling sering menyauti guru dan berisik bersama Felix, Thara, Haikal, Davin, kini tidak ikut dan hanya diam mendengarkan penjelasan guru.


“Eeh Flo, sini geh.” Panggil Dinda kepada Flora.


“Ada apa?” Tanya Flora.


“Sena kenapa Bung?” tanya Davin, dia rindu adu mulut dengan Sena.


“Gak tau gue, tadi gue tanya di bilang nggak papa.” Ucap Flora.


“Dasar cewek bilangnya nggak papa padahal ada apa-apa.” Ucap Felix.


“Dia nggak cerita apa –apa sama lu?” Tanya Sila dan Flora yang menjawab dengan gelengan.


“Apa jangan-jangan dia kerasukan setan?” Tanya Reyhan yang tidak tahu kapan ikut berkumpul.


“Lah tumben lu gak tidur?” Tanya Haikal.


“Mana ada kerasukan setan, dia gak papa kok jadi kalian gak usah khawatir.” Ucap Reza kepada semua orang, mereka lupa bahwa Reza juga teman dekat Sena.


“Beneran?” tanya Flora, yang di jawab anggukan kepala Reza.


“Gue ke tempat Arsen dulu ya.” Ucap Reza yang langsung pergi menghampiri Sena.


Reza duduk di samping Sena dan hanya diam melihatnya, sudah beberapaa menit dia duduk akhirnya Reza membuka suara “Arsen, nanti pulang bareng gue ya, tadi Bang Satya bilang dia gak bisa jemput lu.” Ucap Reza.


“Iya.” Jawab Sena dengan singkat.


“Nanti ikut gue dulu ya, kita gak usah langsung pulang jalan-jalan aja dulu, nanti gue traktir makan sama nonton deh.” Ucap Reza kepadanya.


“Iya.” Jawab Sena lagi.


“Gue tahu apa yang lo pikirin Sen, tenang aja ada Kak Windu, Mas Brian, Bang Jeff, Mas Dimas yang jagain Bang Satya, lu nggak usah khawatir kita semua bakal jagain Bang Satya 24 jam kok jadi lu tenang aja oke.” Jelas Reza panjang lebar yang membuaat Sena menoleh ke arah Reza.


“Gue Cuma takut  Jaa, Bang Satya gak keliatan baik-baik aja, gue tahu udah beberapa hari dia gak tidur, apa gue izinin Bang Satya minum obat tidur lagi ya?” Tanya Sena kepada Reza.


“Gak, lu mau kejadian itu keulang lagi? Lagian ya Sen, Bang Satya itu lagi usaha lepas dari kecanduan minum obat tidur, seharusnya lu dukung dan bantu dia, bukannya goyah kayak begini.” Ucap Reza.


“Gue cuma sedih Eja, ngeliat Bang Satya kayak  begini, nyesel gue ninggalin Bang Satya , padahal cuma tiga tahun gue ninggalin Bang Satya tapi kenapa dia bisa sampe begini.” Ucap Sena dan menangis.


“Jangan ganggu Sena dulu, biarain dia tenang dulu, lagian ada Reza.” Ucap Jeno yang menghentikan Flora untuk pergi ke  arah Sena.


Flora melihat Sena yang sedang di peluk Reza, sepertinya Reza sedang benar-benar berusaha menenangkan Sena.


Seteleh cukup lama Sena yang menangis akhirnya dia berhenti menangis juga, “Makasih ya Eja, nanti gak usah jalan-jalan anter gue langsung kerumah aja, gue capek mau tidur.” Ucap Sena.


“Kalau gitu kerumah gue aja ya, Bunda lagi masak banyak, kemarin aja bunda buat kue sama es krim loh.” Ucap Reza.


“Hari ini enggak dulu Ja, gue mau langsung pulang.” Ucap Sena.


Reza menghela nafas sepertinya dia tidak akan bisa membujuk Sena tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Sena seperti ini, dia sudah berjanji ke Bang Satya untuk menjaganya.


“Gue ke belakang dulu ya Sen, lu mau ikut main nggak? si Davin ngajak main Ludo.” Ucap Reza dan tentu saja Sena menolaknya.


Reza berjalan kea rah belakang dan menghampiri Flora, “ Flo, gue bisa minta tolong nggak?” Tanya Reza.


“Minta tolong apa?” Tanya Flora.


“ Tolong jagain Arsen ya, kalo lu bisa main nanti pulang sekolah tolong temenin Arsen dirumah gue takut ntar dia kenapa-napa.” Ucap Reza.


“Iya, lu tenang aja, gue bisa kok.” Ucap Flora dan langsung menghampiri Sena.


“Sen, gue nanti pulang sekolah main kerumah lu ya, rumah gue lagi gak ada siapa-siapa jadi gue main kerumah lu aja ya.” Ucap Flora yang sebenarnya berbohong.


“Iya main aja Bung.” Ucap sena.


………..


Karena Flora main kerumah Sena, Reza tidak jadi mengantar Sena pulang, karena tidak mungkin kan mereka bonceng tiga nanti kasian juga si tuan muda.


“Ini beneran nggak mau di anterkan?” Tanya Reza lagi.


“Gk usah, kita pulang sendiri aja naik angkot.” Ucap Sena.


“Iya masalahnya lu tau gak jalan pulang kerumah? Nanti nyasar lagikan bahaya, mana lu ngajak anak orang.” Ucap Reza cemas.


“Gue inget kok jalan pulang kerumah, gue juga gak pikun-pikun amat, nanti kalo nyasar jugakan bisa pake Google Maps.” Ucap Sena, dan ini sudah membuat Reza yakin bahwa Sena sebenernya lupa jalan.


“Gak yakin gue.” Ucap Flora.


“Nanti gue anter ajalah, kasian gue ngeliat Reza frustasi, nanti Flora gue yang nganter nah Sena sama Reza.” Ucap Arda memberi jalan keluar.


Akhirnya dengan Arda yang memberi jalan keluar mereka langsung pulang menuju rumah Sena, dimana Reza dengan Sena yang ada di depan dan Arda dengan Flora yang mengikutinya dari belakang, gak mungkin kan kalau Arda sama Flora yang didepan kan mereka gak tau jalan yang tahu jalan juga Cuma Reza padahal Sena yang punya rumah.


“Gue langsung balik ya Sen.” Ucap Arda yang langsung pergi di ikuti Reza, mereka sebenarnya juga ingin main dulu kerumah Sena tapi Flora menyuruh mereka langsung pulang karena katanya 'mau ada urusan perempuan'.


Sena mengajak Flora masuk, “Santai aja Bung, anggep aja rumah gue.” Ucap Sena yang membuat Flora tersenyum, karena sepertinya mood Sena sudah kembali baik.


Flora hanya mengikuti Sena masuk ke kamarnya, dan duduk di atas kasur Sena, dia menunggu Sena selesai menaruh tasnya.


“Sen kalau ada apa-apa cerita ke gue ya, kita kan temen siapa tau gue bisa bantu lu.” Ucap Flora.


“ Ya ampun akhirnya di akuin juga gue sebagai temen lu, gue pikir cuma gue doang yang nganggep lu temen.” Ucap Sena yang membuat Flora memutar kedua matanya, mana mungkin dia tidak menganggap Sena sebagai temannya.


“Gue gak papa kok bung, Cuma gue lagi sedih aja, maakasih ya udah khawatirin gue.” Ucap Sena lagi.


“Gue gak maksa lu cerita sekarang kok Sen, Gue Cuma mau ngasih tau kalau lu itu gak sendiri, ada gue yang bisa lu datengin kapan aja.” Ucap Flora.


“Nanti, nanti pasti gue cerita ke lu Bung, tapi gak sekarang ya, lu bisakan tungguin gue sampe siap cerita?” Ucap Sena.


“Gue bakal terus nungguin sampai lu siap.” Ucap Flora yang di akhiri senyum dan itu membuat Sena merasa tenang.


“Makasih ya Bung, jangan bosen jadi temen gue.” Ucap Sena dengan berlinang air mata.


“Apaan sih alay banget lu, gue laper nih ada makan gk dirumah lu, masa tamu gak ditawarin makan." Ucap Flora mencoba mencairkan suasana dia tidak mau temannya itu menangis lagi.


“Gak ada kalau mau kita beli aja, eeh tapi lebih baik kalau lu aja yang masak Bung, lumayan menghemat duit untuk di tabung buat nikahan gue sama kak Wira." Ucap Sena yang membuat Flora malas, sepertinya Sena sudah kembali lagi menjadi dirinya yang ceria, ah mungkin yang benar adalah berisik.


To be continue…