Teenteens

Teenteens
10. Di Traktir



Teeeeeett Teeettt...!!!


Lonceng bel istirahat berbunyi, jelas kedua gadis yang saling menempel seperti perangko—Tidak, tidak, maksudnya Sena yang menempel terus kepada Flora tengah merengek untuk mengajak Flora ke kantin, karena perutnya sudah sangat lapar.


“Ayoolah bunga, gue laper banget nih, tadi gue cuma sarapan semangkuk sereal.” Bujuk Sena kepada Flora.


“Lah, memangnya lu kalo sarapan makan apa? Nasi padang? Jangan gila deh!” Balas Flora yang sangat malas meladeni Sena.


“Y-ya nggak lah.. Udah ah! Pokoknya ayuk!” Ajak Sena.


Flora yang memilih mengalah akhirnya ikut dengan Sena ke kantin, setidaknya Flora bisa lebih mengeksplor jajanan Kantin.


“Bung, lu nggak ada perkembangan gitu sama Kak Bima?” Tanya Sena nyeleneh.


“Nggak lah, gue justru rada.. risih di dekati begitu.” Jawab Flora.


“Lu aneh sumpah, Kak Bima itu salah satu cowok yang banyak disukai cewek-cewek gatel di sekolah ini!!” Sahut Sena.


“Termasuk lu kan?” Ujar Flora yang membuat Sena bungkam.


“Yeeuuu kagak lah!” Elaknya.


Ketika mereka sampai di kantin, mereka hanya melihat lautan manusia dengan berbagai macam bau badan yang hmmmm sangat semerbak, terlebih lagi Sena mengajak Flora yang risih untuk menyusup ke kerumunan yang sangat wangi.


“Sen, gue cari bangku aja deh ya, gue pesen siomay sama es teh aja.” Ujar Flora.


Flora langsung meninggalkan kerumunan dan langsung mencari bangku kosong, Flora sudah tidak tahan lagi walaupun hanya menunggu jawaban Sena untuk kalimatnya.


“Buset, mereka nggak pernah mandi apa? Ya Tuhan wanginya...” Monolog Flora sambil merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan karena orang-orang.


Mata Flora memindai area kantin, dan yang tersisa hanyalah bangku yang berada di pojok kantin. Flora menghela nafasnya lagi.


“Kenapa kantin selebar ini, masih aja terasa sempit.” Kesalnya.


Dengan berat hati akhirnya Flora berjalan dengan berulang kali mengatakan permisi, dan pada akhirnya, bukannya Flora yang mendapat bangkunya justru Bima, Sian, Juna dan kawan-kawan yang menempati bangku itu terlebih dulu.


“Ayolah... Kenapa lu lagi?” Tanya Flora dengan bola matanya yang memutar malas.


“Kenapa? Lu kangen gue? Lagian, gue sama temen-temen gue duluan yang disini so, lu mau nggak mau cari bangku lain.” Ucap Juna kepada Flora.


“Jun, biarin Flora duduk disini kek.” Ucap Bima.


“Haduh Bima gawat sukanya sama dedek gemesh.” Sahut Sian.


“HALO!!! CEWEK CANTIK DATENG NIH GUYS BAWA MAKAN- BUNGA! BALIK KANAN! CARI TEMPAT LAIN!!” Histeris Sena saat datang dan menyadari ada Juna dan Sian disana.


“Eh eh eh.. ada dedek Arsen.. sini dek sini dek.” Ucap Juna dengan genit.


“Kagak! Gue Junatrophobya!” Tolak Sena.


“Biang kerok dataang.. biang kerok datang..” Celetuk Sian.


“Hey! Lu nggak ngehargai jasa gue waktu di gunung?” Tanya Sena mengungkit tentang insiden jambu biji. Sena merasa sangat berjasa sudah memberikan jambu biji untuk Sian


“Kalian berdua duduk sini aja, abaikan kedua orang ini.” Ucap Bima dengan senyum.


“Kak. Stop it. Cringe sumpah.” Ujar Flora ketus.


“BAAARUUU KUSADAAARIII... CINTAKU BERRTEPUK SEBELAAHH TANGANN..” Ketiga orang disamping mereka sekarang malah bernyanyi.


“Guys! Udahan konsernya kek, gue pegel nih.” Rengek Sena dengan menunjukkan nampan berisi banyak makanan di tangannya.


Akhirnya Sena dan Flora mengalah dan duduk bersama ketiga orang yang mereka cap menjengkelkan.


“Ya ampun Sena, sebanyak ini kamu makan?” Ucap Sian terheran-heran dengan porsi makan Sena yang sagat banyak.


Bagaimana tidak? Tidak cukup dengan sepiring siomay seperti Flora, yang Sena pesan adalah mie ayam, bakso, dan masih ada sepiring gorengan yang masih terhitung.


Dengan senyum yang mengembang. Juna dengan beraninya mengambil satu gorengan dari piring Sena. Dan sejenak, Sena terlihat seperti Flora yang sedang melotot.


“Nanti lu pulang bareng siapa?” Tanya Bima kepada Flora.


Flora yang tidak sadar hanya fokus ke 2 hal. Siomaynya dan Handphone nya. Orang-orang yang disekitarnya hanya menepuk dahi dan menahan tertawa.


“Apa?” Tanya Flora polos.


“Flo, nanti lu balik sama siapa dedek gemessh..” Ucap Sian yang gemas dengan kebodohan Flora.


“Ooh lu ngomong nggak ada objeknya sih, ya gue kira lu ngomong sama kak Juna.” Jelas Flora.


“Ya gila aja gue mau nganterin Juna!” Keluh Bima.


“Lah bukannya kakak memang gila?” Tanya Sena.


“Untuk pertama kalinya gue setuju sama Arsen.” Ucap Juna.


“Bentar lagi masuk, lebih baik kita ke kelas. Yuk cabut!” Ajak Sian kepada kedua temannya.


“Akhirnya pergi juga.” Ucap Flora dan Sena berbarengan.


Flora mengambil garpunya dan dengan diam menusuk bakso milik Sena. Sena yang menyadari itu merasa bimbang, mau melotot, Flora lebih seram. Tetapi Sena tetap tidak ikhlas. Sangat confuse.


Tidak lama setelah itu, Flora dan Sena memutuskan untuk cepat-cepat menyelesaikan makannya dan kembali ke kelas.


“Ayo Bung, gue juga udah beres.” Ucap Sena.


“Ya ampun Flora, lu baik banget deh mau traktir gue.” Ujar Sena.


Flora memutuskan untuk mentraktir Sena. Hitung-hitung salam perkenalan untuk Sena dari Flora.


“Bu, tadi temen saya pesen-” Ucapan Flora terpotong oleh ibu kantin.


“Neng Sena ya?” Tanya ibu kantin.


“Bukan bu, saya Flora.” Jawab Flora.


“Eeh malah Neng Flora.” Sahut ibu kantin.


“Ada apa bu?” Tanya Flora.


“Anu neng, tadi makanan neng udah dibayar sama Bima.” Jelas ibu kantin tersebut.


“Apa?!” Kagetnya.


“Ada apa Bunga?” Tanya Sena yang hadir.


“K-kita dibayarin Bima.” Ucap Flora.


“IYA?! YEEYY BAGUS DONG! YA AMPUNNN SENANGNYAA MAKAN GRATISSS!!” Ucap Sena Senang.


Sena dan Flora memutuskan untuk pulang ke kelas. Pertanyaan yang selalu ada di kepala Flora adalah, bagaimana cara dia berterimakasih kepada Bima? Secara, Flora memiliki gengsi yang tinggi dari segala sisi.


“Udah, nggak usah dipikirin Bung, lu makan gratis bukannya seneng malah bingung. Aneh lu!” Ucap Sena.


Flora memilih diam dan tidak menanggapi itu. Dia memilih untuk duduk di bangkunya, dan kembali bermain


ponsel.


“ADA GURU ADA GURU!!” Teriak Haikal yang berlari dari pintu kelas menuju bangkunya.


Mereka memulai kegiatan belajar di hari pertama mereka dengan senang hati, apalagi Sena. Tapi, tidak untuk Flora yang masih merasa tidak enak. Pelajaran masih terus berlanjut sampai bel pulang sekolah tidak terasa berbunyi.


“Sena, lu pulang sama siapa?” Tanya Flora.


“Oh.. gue bareng Reza, mau kerumahnya dulu soalnya abang gue di situ.” Jawab Flora.


“Oke, gue duluan yaa!” Ucap Sena sambil melambaikan tangan.


Sendirian. Flora melangkahkan kakinya dari kelas pojok paling ujung sampai ke depan gerbang. Flora beberapa kali mengecek ponselnya, dan sialnya papahnya masih belum memberikan kabar kepadanya.


Flora kembali menunggu di depan halte dekat gerbang sekolahnya. Hari semakin mendung tapi papahnya masih saja belum membalas pesannya. Saat Flora hendak menelfon papahnya, sebuah motor datang dengan pengemudi berhelm rapat sekali. Flora yang tidak mengenal orang itu sedikit memundurkan tubuhnya.


“Mau ikut nggak?” Ajak Bima sambil membuka kaca helm nya.


Flora menghela nafasnya, syukurlah Bima, bagaimana jika itu adalah orang jahat yang ingin memutilasi Flora.


“Gue nggak akan culik lu..” Bujuk Bima.


Flora akhirnya mengalah dan mulai menaiki motor Bima.


“Rumah lu dimana?” Tanya Bima.


“Perumahan Mawar nomor 18.” Jawab Flora.


“Hmmm lumayan juga.” Jawab Bima.


Bima akhirnya memutuskan untuk menjalankan kuda bermesinnya. Flora berfikir ini adalah saat yang tepat untuk mengucapkan terimakasih karena sudah membayar biaya makan Sena dan dirinya.


“Kak..” Panggil Flora.


“Iya sama sama.” Jawab Bima seolah tau apa yang ingin Flora sampaikan.


“Idih, emang gue mau bilang apaan?” Tanya Flora dengan senyum yang mulai terulas tippis.


“Makasih ya, lu udah mau bayarin gue tadi di kantin.” Ucap Bima menebak apa yang ada di pikiran Flora.


“Peramal ya lu?” Tanya Flora.


“Bukan, gue Bima.” Jawab Bima yang dibalas helaan nafas oleh Flora.


“Mau hujan, gue ngebut ya.” Ujar Bima.


Sebelum menjawab perkataan Bima, Bima sudah menancapkan gasnya dan membuat Flora terkejut hingga memegang erat bahu Bima yang berada dihadapannya.


“BIMA!” Histeris Flora yang terkejut hingga melupakan ‘Kak’ yang  biasanya dia gunakan.


Meski begitu, Bima merasa senang dan Flora sampai dengan selamat. Flora segera turun dari motor Bima dan mengucapkan terimakasih.


“Makasih ya kak.” Ucap Flora.


“Nggak perlu, Bima aja. Gue boleh minta id lu?” Tanya Bima sambil menjulurkan ponselnya.


Flora langsung mengetikkan nomor telfon dan id chatnya untuk Bima.


“Gue masuk ya.” Ucap Flora yang tidak menunggu jawaban Bima, langsung saja beralih memasuki rumahnya.


“Mampir Bim? Nggak perlu Flo udah sore.” Monolog Bima sendiri.


To Be Continue...