
TENG!! TEEENG TENG!
“HEY! KALIAN! BANGUN SEKARANG JUGA! KUMPUL DI LAPANGAN DALAM HITUNGAN KE 10!!” Teriak
Roselina sambil memukul panci di depan tenda kelompok jengkol putri.
Dengan nyawa yang masih belum terkumpul, mereka bangun dan segera berkumpul di lapangan tempat pementasan api unggun sebelumnya. Sena yang berpegang kepada tangan Flora, khawatir jatuh karena mata yang masih terpejam.
"BUKA MATA KALIAN! Kali ini keberanian kalian bakal benar-benar diuji.” Ujar seorang senior yang bernama Bima dengan wajah garangnya yang membuat seseorang gadis ada yang menangis.
“NGGAK PERLU SOK CENGENG! ORANG TUA KALIAN NGGAK ADA DISINI!” Seru kakak kelas perempuan yang bernama Rita.
Flora melepaskan tangannya di genggaman Sena untuk menyadarkan gadis itu.
“Eh? Apaan?” Tanya Sena.
“Bangun lu!” Ucap Flora.
“Sial! Ini masih jam.. 01.00 tengah malam ada apaan sih?” Ucap Sena sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
“ARSENA, ARDANAN, NATHA, SAMUEL, JENO, FARIS, DEON, DITA.... IKUT SAYA SEKARANG!” Seru salah satu senior ganteng yang bernama Sian, dan itu membuat Sena kesal karena teriakan seniornya yang membuat dia hampir jantungan. “Fiks, orang ini gue blacklist dari daftar calon jodoh gue.” Gumam Sena.
“DAVIN, SELVY, DODI, FLORA, AMEL, HANA, RATNA, FADIL, LISA…IKUT SAYA SEKARANG!” Ucap senior yang Flora ketahui namanya Salwa.
“Itu suara atau apaan dah? Cempreng banget kayak panci jatuh.” Gumam Selvy yang disetujui Flora.
Flora dan anggota lain yang disebutkan mulai mengikuti senior yang memanggil nama mereka, dengan berbaris satu persatu. Mereka dikumpulkan di sebuah tempat dengan lilin adalah satu-satunya sumber cahaya yang tersedia. Tubuh Flora semakin bergetar karena suasana yang gelap dan mencekam, karena Flora dapat melihat dengan jelas kuburan yang berada tepat di samping kirinya.
“Kalian akan mendapatkan misi, misi kalian adalah mencari pita biru yang tersebar di sekitar kuburan. Kalian yang gagal akan mendapatkan hukuman berat! Kalian akan saya panggil satu persatu untuk maju kedepan melaksanakan misi kalian.” Jelas Regaska kepada kelompok Flora.
Flora tidak henti-hentinya menunduk, melihat kekiri-kekanan, dan selalu merapalkan doa-doa. Rasa takutnya akan gelap semakin menyeruak.
“HEY! KAMU NGAPAIN NENGOK-NENGOK? MAU MAJU DULUAN.?” Seru Senior yang bernama Salwa sambil menunjuk kearah Flora.
Teriakan itu membuat Flora terkejut dan langsung mengatakan “N-Nggak kak.” dengan nada tergagap, "Huftt, untung gue gak punya riwayat jantung." Rutuk Flora dalam hati, dia benar-benar takut kali ini.
Saat satu persatu teman-temannya di panggil dan ditambah terdengar suara teriakan yang Flora
yakin itu adalah suara temannya, membuat Flora menjadi pucat pasi dan keringat dingin, Flora rasanya ingin menangis apalagi saat namanya di panggil.
“Selanjutnya Flora Orlin, Jalannya gak usah lelet bisa?” Kata Salwa dengan nada sinis, sungguh Flora sangat membenci Salwa.
Flora berjalan takut-takut, matanya memerah ingin menangis, Flora memandang sekeliling mencoba mencari pita biru yang di maksud seniornya tadi, “Mau nyari pita biru kemana lagi ya ampun, gelep begini.” Ucap Flora kesal, bagaiman tidak kesal pencahayaanya disini cuma lilin yang di taruh sembarangan di sekeliling kuburan.
Saat mencoba fokus mencari lilin terdengar suara khas kuntilanak yang membuat Flora terdiam seperti patung dan tiba –tiba ada suatu kain putih yang berada di hadapan Flora
“AAAAAAAAAAAAAAA! DIEM!!! TOLOONGG!!” Suara teriakan Flora dan langsung terjatuh ketanah.
Flora menangis sekencang-kencangnya sambil memanggil mamah dan papahnya “MAMA, PAPA!! Tolongin Flo, huaaaaaa, tolongin Flo disini gelap huaaaa. aahh mana hantunya jelek banget lagi, sialan lu!” Tangis Flora sambil memeluk lutut dan menunduk, siapa sangka kan Flora yang terkenal galak dan judes adalah seorang yang takut kepada gelap.
“Lah gue di bilang jelek, udah dong jangan nangis.” Kini terdengar suara setan yang membuat Flora makin menangis.
“MAMA SETANNYA BISA NGOMONG!!” Teriak Flora yang semakin erat memeluk lututnya.
“Buka mata lu, liat gue!” Seru kuntilanak itu pada Flora.
Flora memejamkan matanya makin takut, dia mencoba membuka matanya perlahan dan.....
“AAAAAAAAAAAAA!” Teriak Flora di depan muka kuntilanak itu dan memukul muka kuntilanak itu dengan keras, bagaimana Flora tidak kaget kuntinak di depannya mempunyai rambut yang panjang dengan muka yang di coret-coret menggunakan lumpur.
“Aduh sakit! Iya juga, gue yang salah. Udah tau takut masa gue suruh lihat. Ini gue, Bima!” Ucap kuntilanak itu sambil melepas wig yang ada di kepalanya.
“Maaf kak, aduh kakak gak papa?” Tanya Flora dengan gumaman dan masih sedikit bergetar.
“Iya gue gak papa, sekarang mending lu berdiri” ucap Bima sambil membantu Flora berdiri dan membersihkan baju Flora yang sangat kotor, iya bajunya Flora kotor sekali karena dia duduk di tanah yang berlumpur.
“Aduh kotor banget lagi celananya.” ucap Flora yang mencoba membersihkan celana bagian belakangnya yang penuh lumpur.
"Udah bersihinya nanti lagi, semua udah di suruh kumpul ke tempat awal, ayok!” Ajak Bima sambil menarik tangan Flora.
“Tapi saya belum dapet pitanya kak.” Kata Flora.
“Lo masih mau nyari pita dengan keadaan begini?” Tanya Bima ke pada Flora yang langsung di jawab gelengan kepala Flora.
"Sebenernya dari awal saya memang nggak mau kayak gini." Jawab Flora jujur. Setelah itu mereka berjalan dengan diam, dalam perjalanan Bima terus memegang tangan Flora.
“Udah sana gabung sama temen lu yang lain.” Suruh kak Bima saat sampai.
“Makasih kak.” Ucap Flora yang di balas anggukan kepala Bima.
"Udeh sono! lu nungguin apaan?" Tanya Bima.
"Tangan saya." Jelas Flora singkat.
Seketika Bima melepas tangannya, tanpa sadar Flora tertwa melihat reaksi Bima yang lucu. Sejenak, dia melupakan rasa takutnya kepada gelap.
Saat semua orang sudah berkumpul termasuk para senior yang bertugas menakut-nakuti mereka, kini terlihat banyak senior yang menjelma menjadi setan “Yang gak dapet pita biru pisahin diri” Suruh Kak Rega, yang membuat Flora langsung diam.
Tiba-tiba ada yang memegang pundak Flora “Ini pake jaketnya buat nutupin bagian belakang lu” Ucap Bima kepada Flora yang langsung mengambil jaketnya dari tangan Bima.
Setelah itu Bima langsung pergi ke tempat senior yang lain dan tentu saja mendapat ledekan dari teman-temanya.
“Cieee Bima pake ngasih jaket segala, kan aku jadi iri.” Ucap salah satu senior yang bernama Melisa.
“Apaan, gue cuma ngasih jaket karena baju dia kotor, gak usah bacot deh kalian.” Ucap Bima ke pada teman-temannya.
“Ayook yang gak dapet pita pisahin dirinya!” Seru kak Salwa yang mengingatkan masalah Flora.
Saat Flora mau berjalan ke arah teman-temanya yang tidak mendapatkan pita, dia tidak sengaja melihat Bima yang sepertinya melakukan bahasa isayarat kepadanya, Flora yang langsung mengerti memasukan tangannya ke saku jaket dan menemukan pita biru, melihat itu Flora langsung bernapas lega dan tersenyum ke arah Bima sebagai rasa terima kasih, Bima yang melihat senyum Flora merasakan perasaan aneh.
Karena pita biru dari Bima, Flora terbebas dari hukuman. "Thanks kak!" Ucap Flora tanpa suara.
“Kayaknya habis ini gue harus mandi lagi” Ucap Flora menghela nafas dan melihat keadaanya yang kacau, tiba-tiba dia memikirkan nasib Sena, “itu anak baik-baik ajakan?” Tanya Flora pada dirinya sendiri .
To Be Continue….