
“Iss! Kesel banget gue! Ngapain kita disini sih sekarang?” Keluh Sena meratapi keadaan karena dia harus membersihkan toilet di sekolahnya akibat kelalayannya sendiri.
“Yaudah terima aja, kesalahan lu juga kan?” Ucap Flora menjawab keluhan Sena.
Sekarang mereka tengah memegang peralatan-peralatan untuk membersihkan toilet yang sangat bau, menurut Flora. Flora sangat tidak tahan bau yang menyengat, akhirnya dia berlari ke UKS untuk mengambil dua masker, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Sena.
“Nih, pake buruan! Nggak tahan gue baunya.” Ucap Flora yang segera masuk dan membersihkan toilet, sementara Sena mau tidak mau harus membantu Flora dengan sedikit demi sedikit menuangkan karbol didalam lantai toilet.
“Lu kok betah sih, Bung? Katanya bau.” Ucap Sena yang dengan takut-takut masuk ke kamar mandi.
“Biar cepet selesai dan gue nggak nyium bau lagi disini.” Jawab Flora yang dengan keyakinan penuh mulai membersihkan toilet.
“Loh? Sena? Flora? Kalian dihukum?” Tanya seseorang yang ternyata dia adalah Melisa.
“Iya nih kak, huuu huuuu.. Kebagiannya di toilet deh, nyebelin banget deh!” Balas Sena dengan berakting menangis.
“Yaudah, semangat-semangat! Biar nggak dimarahin tuh sama kakak OSISnya.” Ucap Melisa menyemangati dan masuk ke salah satu bilik toilet.
“Bung, gue denger lu kemaren ke rumah Kak Bima yah?” Tanya Sena Penuh Selidik.
“Hah? Tau dari mana lu?” Tanya Flora yang menoleh sejenak ke hadapan Sena.
“Yee, lu kayak nggak tau se update apa kelas kita sama gosip, langsung nyap-nyap mereka liat lu di bonceng Kak Bima ke rumahnya.” Jelas Sena.
“Iya kemarin.” Gumam Flora untuk menjawab Sena.
Akhirnya mereka selesai membersihkan toilet tepat sekali saat bel istirahat, mereka pun segera mengembalikan semua perlatan di gudang sekolah dan segera membeli minuman karena mereka sangat haus.
“Lu mau minum apa, Bung?” Tanya Sena.
“Gue mau air mineral aja.” Jawab Flora.
Dia duduk di salah satu meja yang berada di barisan terdekat dengan arah keluar area kantin yang membuatnya bisa bernafas sedikit lega karena tidak mencium bebauan-bebauan yang sangat membuat Flora mual.
Tidak lama setelah itu, Sena datang dengan membawa botol air mineral ditambah beberapa jajan milik Sena yang dia bawa. Flora mengambil makanan ringan yang Sena beli, Flora suka makanan-makanan ringan.
“Terus lu gimana? Udah jadian?” Tanya Sena.
“Uhukk uhukk!” Flora tersedak karena terkejut dengan pertanyaan Sena yang begitu mendadak, dan menjawabnya dengan gelengan.
“Yaah padahal gue udah relain Kak Bima buat lu.” Ujar Sena yang dibalasnya dengan alis yang naik hanya sebelah.
Flora kembali berfikir, apa yang akan dia lakukan jika dia berpacran dengan Bima, dia masih ragu dengan apa yang dia rasakan, Flora takut sakit, dia tidak mau menangis hanya karena cinta-cintaan.
“Hoy!” Kata Sena membangunkan Flora dari lamunannya.
“Ayo ke kelas.” Ajak Flora yang malah jalan terlebih dahulu dari Sena.
“Eh Bunga tungguin gue!” Ucap Sena yang lari menyusul Flora.
Mereka kembali ke kelas, melanjutkan pelajaran sampai sore hari dan bel pulang berbunyi, dan itu terdengar seperti lantunan surga bagi anak-anak X IPA 1.
“PULAAANNGGG!!!” Teriak Davin dengan bahagia.
“Ayuk keluar bareng, Bung!” Ajak Sena yang disetujui Flora, dan mereka keluar kelas bersama.
Di jalan, dia bertemu dengan Penny, Flora tidak memperdulikannya dan tetap berjalan, berpura-pura tidak melihat dan tetap mempertahankan ekspresi yang sama.
“Flora!” Panggil Penny.
Flora dan Sena menoleh, Sena sudah memasang ekspresi kesal kepada Penny mengingat dia pernah menyiram Flora.
“Mau apa lagi lu? Nggak puas-puas ya lu gangguin Flora? Dasar cabe gatel!” Ejek Sena.
“Sen..” Tegur Flora dengan memanggil namanya.
Penny berjalan mendekati Flora dan menarik tangan Flora. Flora tidak merasa takut, malah dia mengikuti kemana arah Penny membawanya pergi.
“Woy! Temen gue mau dibawa kemana!” Ucap Sena yang tidak didengar sama sekali oleh Penny.
Flora dan Penny berhenti di depan gudang sekolah, Flora menatap Penny bingung karena daerah ini paling gelap dari daerah-daerah di dalam sekolah lainnya.
“Mau apa?” Tanya Flora dingin.
“Setelah lu malu-maluin gue di depan tim basket lu pikir gue bakal diem? Gue bukan orang lemah yang nyerah gitu aja Flora! Hahahahaha!!” Tawa Penny jahat.
“Gue nggak yakin lu bisa ngapa-ngapain gue sendirian disini.”
Ucap Flora dengan mencoba untuk berani, karena semakin sore, hari semakin gelap.
“Sendiri lu bilang? Girls!!! Let’s start it!” Ucap Penny yang membuat Flora bingung.
Secara tiba-tiba, pintu gudang terbuka lebar, mata Flora ditutup dan tangan Flora diikat, dua gadis yang melakukan itu tentu saja kawan-kawan Penny yang setia menemani Penny.
“Lepasin gue!” Berontak Flora yang sempat membuat dua gadis yang menanganinya kewalahan karena tenaga Flora yang ternyata tidak bisa dianggap remeh.
Duagh!
Flora menendang perut Penny dengan matanya yang tertutup dan mengandalkan perkiraan yang tepat.
“Lepasin gue!” Ucap Flora dengan nada yang meninggi, sempat membuat mereka bertiga gentar.
“Gila nih cewek tendangannya, uhukk! Masukkin buruan!” Ucap Penny dan dengan cepat kedua kawan Penny mendorong Flora ke gudang dan Flora tersungkur.
“Good Bye!!” Ejek Penny dan kawan-kawannya yang segera mengunci pintu gudang dengan rapat, menahannya dengan meja, kursi, serta beberapa batu yang cukup besar mereka tumpuk.
“Sialan! Penny!!” Teriak Flora yang sama sekali tidak di gubris oleh Penny dan kawan kawannya.
Flora membuka ikatan matanya, dan melihat kondisi gudang yang cukup gelap membuatnya gemetar dan jantungnya berpacu jauh lebih cepat dari biasanya. Dia dengan cepat menggigit salah satu ujung tali sehingga tangannya lepas dari ikatan.
“TOLOOOONNGGG!!” Teriak Flora dengan menggebrak-gebrak pintu gudang.
“Hiks.. Tolong!!!!!!” Teriak Flora yang mulai menangis karena rasa takutnya dengan gelap.
“Senaa!!!! Senaa!!!!” Teriak Flora sekencangnya, namun tidak ada jawaban.
“BIMMAAAAA!!!!!!”
“Flora!”
Greebbb!
Flora langsung memeluk orang itu dengan cepat, dia tau Bima akan datang menolongnya seperti sekarang ini. Yups! Orang ini adalah Bima, yang dengan cepat datang menlong Flora dari rasa takutnya pada gelap.
“Hiks.. hiks..” Isak Flora yang berusaha dia tahan sekuat tenaga, namun Bima masih bisa mendengarnya.
“Gue disini, jangan khawatir.” Ucap Bima membalas pelukan Flora dan mengusap kepala Flora menenangkan.
“Ayo pulang.” Gumam Flora yang langsung diangguki oleh Bima.
Bima menggandeng tangan Flora untuk keluar dari gudang dan kembali menutup gudang, walau tidak serapat semula yang terpenting adalah dia harus mengantar Flora selamat sampai ke rumahnya, karena Flora masih saja menangis akibat takut.
“Hei.. it’s okay, ada gue. Nggak usah nangis lagi.” Ucap Bima menenangkan Flora dan menghapus jejak air matanya.
“G-gimana lu bisa tau?” Tanya Flora kepada Bima.
“Kan tadi lu teriak keras banget, Bima!! Gitu, hahahahaduh aduh iya ampun-ampun.” Tawa Bima yang mendapat cubitan kecil di lengannya.
“Sena yang kasih tau, kami ketemu di jalan, dia bilang lu dibawa Penny entah dimana, dan gue nggak sengaja liat Penny sama antek-anteknya lewat, langsung aja gue lari ke gudang.” Jelas Bima.
“Gue anter pulang yah?” Ucap Bima yang di angguki oleh Flora.
Bima membukakan pintu mobilnya membiarkan gadis yang dia sukai masuk terlebih dahulu, setelah itu dia memutari mobil untuk masuk dan duduk di kursi pengemudi.
“Ini ada air, minum dulu.” Ucap Bima mengulurkan air dari dashboard mobilnya. Flora pun menerima air itu dan meminumnya, setidaknya perasaannya tenang sekarang.
“Makasih.” Ucap Flora dengan gumaman.
“Gue selalu ada buat lu Flo, jangan sungkan untuk teriakkin nama gue waktu lu butuh. Seperti tadi.” Ucap Bima dengan senyum.
Flora diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa, antara dia senang dan ragu. Bima akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Flora.
“Flo, awalnya gue liat lu waktu kemah itu, bawaannya gue pengen deketin lu aja, gue nggak tau kenapa gue bisa begitu, ekspresi lu selalu dingin, tapi entah kenapa gue justru pengen lindungin lu, naluri laki-laki kali ya, Flo?” Celoteh Bima yang tidak dibalas oleh Flora.
“Flo?” Panggil Bima.
“Yeeh malah tidur ni anak.” Ucap Bima terkekeh.
15 menit kemudan akhirnya perjalanannya sampai tujuan.
“Sudah sam-” Ucapan Bima terpotong karena melihat Flora yang masih tidur sangat pulas.
Bima memutuskan untuk keluar mobil, membuka pintu Flora dan menggendong Flora dengan bridal style. Bima beberapa kali kesusahan memencet bel rumah Flora, untuk dia diberkati hidung yang tidak pesek sehingga dapat berguna disaat seperti ini.
“Loh Bima? Flora kenapa?” Tanya Mamah Flora.
“Ketiduran tante.” Jawab Bima.
“Ayo-ayo, kamar Flora disitu, kamu masuk aja.” Ucap Mamah Flora.
Bima pun melepas alas kakinya dan memasuki rumah Flora, sempat ada rasa canggung untuk memasuki kamar Flora, namun dia harus melakukannya. Bima akhirnya masuk kedalam kamar Flora yang bernuansa biru dan putih itu, wangi kamarnya sangat sama seperti wangi Flora, manis, seerti itulah pikiran Bima.
Bima meletakkan Flora dengan perlahan, membuka alas kaki Flora dan menyelimuti Flora. Bima segera beranjak
dari kamar Flora dan sudah mendapati keluarga Flora yang duduk di ruang tamu. Bima pun menjelaskan serinci mungkin supaya tidak ada salah paham dan meyakinkan orang tua Flora bahwa masalah ini tidak perlu dikhawatirkan, biarkan Bima yang mengurus.
To Be Coontinue..