Teenteens

Teenteens
35. Pelarian?



Sena memandangi wajah Flora dengan serius, Flora yang sadar akan itu langsung menatap Sena.


“Kenapa?” Tanya Flora.


“Kita temen kan Bung?” Tanya Sena.


“Nggak jelas banget sih lu.” Ucap Flora.


“Parah banget lu padahal kemarin gue minta temenin lu nonton bilangnya nggak bisa karena sibuk, eh taunya main kerumah Bima.” Ucap Sena menumpahkan kekesalannya, sekarang Bima sudah memonopoli Flora, dan Sena tidak suka itu.


“Iya gue nggak bisa karena sibuk kerumah Bima.” Ucap Flora santai.


“Ish  jahat lu mah, udah ah gue mau nyari temen baru aja.” Ucap Sena kesal.


“Dari kemarin mau nyari temen baru, mana dapet nggak?” Tanya Flora dengan nada meledek.


Sena mencebikan bibirnya kesal, akhir-akhir ini dia kesal karena Flora mulai melupakannya dia terlalu sibuk dengan Bima.


Flora memandang Sena, “Mau ke kantin nggak?” Tanya Flora.


Sena masih diam tidak menjawab  dia sedang ngambek ceritanya, “Gue traktir.” Ucap Flora lagi.


“Beneran nih?” Tanya Sena yang tergoda.


Flora mengangguk setelah itu Sena langsung menarik tangan Flora ke kantin dengan semangat, dia bahkan lupa kalau tadi dia sedang kesal, memang makanan adalah senjata paling ampuh untuk membujuk Sena.


Sampai di kantin Sena merasa kesal lagi karena ada Bima yang duduk satu meja dengannya, walaupun sebenarnya Flora cukup cuek dengan kehadiran Bima entah kenapa Sena yang merasa terganggu.


“Mau makan apa Flo?” Tanya Bima ke Flora dengan senyum manis.


“Gue nggak di tanya, memang nggak terlihat gue disini.” Ucap Sena kesal.


“Dasar jomblo sukanya iri aja.” Ucap Bima.


“Mana ada gue nggak iri ya.” Ucap Sena mencoba membela diri.


Setelah adu mulut yang cukup lama akhirnya Flora turun tangan dia terlalu malas untuk menyaksikan perdebatan Bima dan Sena yang tidak berakhir-berakhir.


Karena Flora sudah marah akhirnya Bima mengalah dan pergi memesan makanan, dia kesal dengan Sena yang memesan tidak kira-kira.


“Eh Bung gue pergi dulu ya, di panggil Pak Ahmad nih.” Ucap Sena.


“Terus makanannya?” Tanya Flora.


“Kalau nggak lama gue bakal balik lagi kesini, tapi kalau gue lama makan aja, tapi kalau bisa sih bungkusin buat gue, udah ya gue pergi dulu.” Ucap Sena lalu pergi berlari ke arah kantor.


Flora yang melihat itu hanya menghela nafas, masalahnya makanan yang di pesan sena itu banyak Mie ayam, Bakso, Nasi uduk, gorengan, dan Es teh manis dua, bagaimana mungkin dia menghabiskannya dengan Bima.


“Loh Sena mana?” Tanya Bima yang di ikuti Sian dan Juna di belakangnya.


“Di panggil Pak Ahmad.” Jawab Flora.


“Nggak tahu diri udah mesen banyak di tinggal lagi.” Ucap Sian.


“Makanan Sena biar gue aja yang makan, tapi yang bayar lu ya Bim.” Ucap Juna.


“Kok gue? Minta bayarin Sian aja sana kan Sena pacarnya Sian” Ucap Bima kesal.


“Gue nggak jadian ya sama Sena.” Ucap Sian.


“Terus apa? Nggak perlu repot-repot kasih harapan palsu ke Sena kak.” Ucap Flora yang langsung membuat Sian kicep.


“Udah Bima aja yang bayar, lagian lu itu pacaran sama Flora belum ngasih pajak jadian.” Ucap Juna santai.


…………


Di Kantor ada Sena, Reza, Mila yang sedang di ceramahi Pak Ahmad.


“Iya Pak kami belajar, kok bapak nggak percayaan banget sih jadi orang.” Ucap Sena sambil memegang perutnya, dia sungguh kelaparan.


“Iya kan saya cuma mengingatkan, apalagi kamu Sena, sekarang saya biarkan kalian santai dulu tapi nanti saat kelas 11 kalian wajib mengikuti bimbingan.” Kata Pak Ahmad yang membuat Sena mau menangis.


Sena, Reza, Mila, hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan malas saat Pak Ahmad berbicara lagi.


“Kalian kalau ada yang mau di tanya bisa ke kantor atau kerumah saya jangan diem-diem aja, saya udah ngasih beberapa soal olimpiade tahun sebelumnya ke Mila, kalian bisa minta sama dia.”


“Udah kan Pak?” Tanya Sena penuh harap.


Saat Pak Ahmad mau berbicara lagi, “Pak saya itu belum makan loh, tadi saya udah mesen banyak di kantin eh malah di panggil bapak.” Ucap Sena sedih.


“Hmm ya udah kalian boleh pergi sana, tapi jangan lupa belajar ya.” Ucap Pak Ahmad.


Sena langsung berlari menuju kantin lagi, Para guru yang melihat kelakuan Sena hanya bisa menggelengkan kepala.


Saat sampai di kantin Sena langsung duduk di tengah-tengah Flora dan Bima, “Mana makanan punya gue?” Tanya Sena saat melihat banyak mangkok yang sudah kosong.


“Lu ngapain sih, minggir sana ganggu gue aja lu.” Ucap Bima kesal tapi tidak di pedulikan Sena.


“Mana makanan punya gue?” Tanya Sena lagi.


“Gue pergi dulu ya ayang beb gue nelpon, bye Arsen.” Ucap Juna dan langsung kabur, setelah melihat Juna pergi jauh Sena yakin kalau Juna yang memakan makanannya.


“Gue laper, laper, laper, laper, laper, laper, laper huaaaaaaaaaaa” Ucap Sena.


“Mesen lagi aja ya, gue pesenin nih.” Ucap Flora, tetapi saat Flora berdiri terdengar suara bel.


Teeeeet Teeeet


Sena yang mendengar bel makin ingin menitikan air matanya, kasian cacing peliharaannya yang sudah menangis minta amunisi.


“Udah lah yuk ke kelas Bung.” Ajak Sena kepada Flora dengan lemas dan berjalan meendahului Flora.


“Gue ke kelas dulu ya kak.” Ucap Flora yang di angguki Bima dan Sian.


“Lu duluan aja Bim, gue ada urusan.” Ucap Sian.


Bima yang mendengar itu langsung mengangguk dan pergi meninggalkan Sian.


…………….


“Kenapa Sena, kok mukanya butek amat?” Tanya Davin ke Flora.


“Nggak makan siang, makanya begitu.” Jawab Flora.


Davin yang mendengar itu langsung menghampiri Sena, “Nggak makan siang juga nggak bakal buat lu mati kali.” Ucap Davin kepada Sena.


“Pergi nggak? Pergi atau lu yang gue makan!” Usir Sena.


Setelah mendengar itu Davin pergi, Sena kalau kelaparan suka bahaya bisa-bisa dia beneran di makan lagi.


“Oy Reza, temen lu lagi sekarat tuh.” Ucap Davin kepada Reza.


“Hah?” Tanya Reza bingung.


“Kelaperan dia, heran cuma nggak makan siang kayak nggak makan seminggu.” Ucap Davin dan duduk di kursinya.


Reza mengangguk mengerti, perutnya Sena itu sama persis dengan perut Mas Brian, Harus di isi setiap Jam kalau tidak akan mengeluh kesakitan.


Reza mengambil roti milik Felix untuk Sena, tapi saat mau memberikannya Sena sudah tidak ada di tempat duduknya.


“Arsen mana?” Tanya Reza.


“Tuh lagi pacaran sama Kak Sian.” Jawab Haikal menunjuk Sena yang ada di depan pintu kelas dengan kak Sian.


Setelah melihat Sena yang memegang palstik putih bening, Reza mengurungkan niatnya untuk memberi roti dan kembali ke tempat duduknya.


“Ngapain manggil-manggil?” Tanya Sena judes.


“Nih makan, gue ke kelas ya.” Ucap Sian dan pergi.


Sena yang melihat plastik putih bening yang di isi banyak roti dan makanan ringan bingung, dia bingung dengan sikap Kak Sian yang menurutnya sangat aneh.


‘Nggak mungkin kan dia suka sama gue diakan suka sama pacarnya Juna, apa jangan-jangan dia mau jadiin gue pelarian ya? Secara gue kan cantik’ Ucap Sena dalam hati menduga-duga kelakuan Sian.


Setelah itu dia masuk ke kelas dan duduk di samping Flora, “Mau nggak?” Tanya Sena.


“Enggak.” Jawab Flora.


Mendengar jawaban Flora Sena langsung membuka roti dari Sian dan memakannya, kalau boleh jujur makanan ini hanya sebagai cemilan untuk Sena dan tidak bisa menghilangkan lapar di perut Sena tapi namanya di kasih nggak jadi dia tidak komplain mumpung gratis juga kan?


“Bung, menurut lu Kak Sian gimana?” Tanya Sena.


“Ya nggak gimana-gimana, lu suka dia?” Tanya Flora balik


“Ya enggak lah, udah jangan ganggu gue makan.” Ucap Sena mencoba mengalihkan topik.


'Apa gue beneran jadi pelarian ya?' Tanya Sena dalam hati


To be continue…