
Pagi menyambut mereka. Setelah malam yang terasa panjang yang membuat Flora dan Sena mendapatkan masalah. Ah tidak, lebih tepatnya Sena, Ardan, dan sang ketua Juna.
“Bung, semalem lu nangis ya?” Tanya Sena.
“N-nggak, justru kalo lu tau lu bakal teriak histeris.” Flora menjawab dengan seringaian misterius di bibirnya.
Saat ini mereka baru selesai mandi, dan Sena yang tengah sibuk menyisir rambutnya memutuskan untuk menghentikan rasa penasarannya. Flora yang melihat itu hanya terkekeh.
“Sebentar ya.” Ucap Flora mengambil sebuah jaket.
“Lah? Itu jaket siapa?” Tanya Sena.
Flora tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum dan berpaling. Sena yang semakin penasaran segera mengikuti kemana sahabatnya itu pergi. Dan betapa terkejutnya Sena ketika Flora yang kerap dia panggil Bunga itu mendekati kakak kelas yang sudah masuk kedalam List calon jodoh Sena.
“Thanks kak.” Ujar Flora.
“Iya, gue belum tau nama lu btw.” Jawab Bima dengan senyum manisnya yang membuat gigi rapihnya terlihat.
“Flora, X IPA 1. Kak, saya pamit ya, temen saya nungguin.” Jawab Flora singkat.
“Okay, santai aja sama gue. Gak perlu saya-sayaan.” Jelas Bima yang diangguki oleh Flora.
Saat Flora memutar badannya, Sena sudah menatapnya dengan penuh menuntut untuk dijelaskan, apa yang terjadi kepada Flora malam tadi. Flora yang melihat itu segera mengambil langkah seribu untuk pergi ke lapangan, persiapan senam pagi.
“BUNGAAA!!” Teriak Sena histeris.
Semua orang sudah berkumpul di Lapangan, namun hanya ada tiga orang yang tidak terlihat. Flora yang sejak tadi menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Sena tidak kunjung terlihat.
"Kemana sih ni anak." Ucap Flora mencari Sena.
“Semuanya perhatikan! Mereka adalah orang-orang yang tidak boleh ditiru ya.. Semoga kejadian semalam tidak terulang lagi!” Ucap Wira dengan tegas.
Flora yang mendengar itu segera mengarahkan matanya ke sumber suara, dan dia mendapati Sena, Arda dan Juna tengah berdiri di tengah lapangan. Flora yang seharusnya bertanya-tanya ada apa malah tertawa melihat Sena dihukum di tengah lapangan, seharusnya Flora tahu Sena senang sekali mencari masalah.
“Sebagai hukumannya, kalian harus memimpin senam pagi ini.” Ucap Wira yang setelahnya langsung meninggalkan mereka bertiga untuk mengambil barisan senam.
Dengan malu yang sangat besar Juna memimpin dengan posisi di paling tengah, lalu Arda dan Sena yang berdiri di sisi kanan dan kirinya. Mereka memperagakan senam dengan ogah-ogahan alias malas. Tentu saja, siapa yang semangat dihukum?
Flora yang memang malas melaksanakan senam pagi itupun sama ogah-ogahannya dengan Sena. Namun tatapan seseorang yang jauh di sampingnya mengganggu Flora. Yup, dia adalah Bima, yang masih enggan melepaskan matanya dari Flora. Setidaknya sebelum Flora meluncurkan tatapan tajam dan kepalan tangan kanannya, pertanda
sangat ingin meninju wajah tampannya itu.
Senam selesai. Ketiga manusia yang menerima hukuman tersebut dipersilahkan kembali ke barisannya.
“Setelah ini kalian persiapkan diri kalian, kalian akan kami ajak mendaki gunung. Jika ada yang sakit atau apapun itu jangan sungkan untuk bilang ke panitia ya, saya harap semuanya akan baik-baik saja. Kalian akan pergi bersama kelompok kalian, jangan lupa saling berbagi air minum.” Jelas Regaska panjang lebar.
“Sumpah ya, ada aja kegiatan gak berguna yang mereka adain buat gue, nggak paham apa kaki gue masih sakit gara-gara jatoh.” Keluh Flora yang didengar oleh Sena.
“Btw, lu kenape?” Tanya Flora kepada Sena.
“Itu.. gue, Juna, sama Arda nakut-nakutin Natha.. eh taunye pingsan.” Cerita Sena yang membuat sahabatnya tertawa renyah.
“Gila ya kalian? Aahahahahaha.. Pantesan gue liat tadi Kak Regaska sama Juna bawa masuk cewek satu ke mobil, ternyata itu Natha dan mereka ke rumah sakit.” Jawab Flora.
“Udeh ah! Ayok siap siap!” Ajak Sena.
Mereka semua mempersiapkan sedikit hal saja, karena memang dilarang untuk membawa banyak barang. Masing-masing dari mereka harus membawa satu botol air mineral yang harus cukup dari mendaki dan menuruni gunung.
Kelompok Jengkol mulai berkumpul, dan Jeno sebagai ketua mulai mengabsen anggotanya satu-satu.
“Oke lengkap ya? Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bilang ke saya atau ke panitia, jangan ada yang sampe terpisah jauh.” Ucap Jeno.
“Iya beb, aku juga gabisa jauh-jauh dari kamu..” Ucap Selvy dengan percaya diri.
“Eh lumut batu, diem deh!” Celetuk Sena.
“Hai adik-adik gemayy..” Ujar salah satu senior perempuan, yang ternyata adalah Melisa.
“Cogan datang!!!” Seru Bima yang ternyata ikut dengan Melisa.
“Lu ngapain ikutin gue sih? Bukannya seharusnya Regas yang sama gue?” Tanya Melisa.
“Oh tidak, gue yang bakal nemenin lu di kelompok jengkol. Okey! Jadi adek adek gemesku.. kite-kite ini adalah kakak pembimbing yang bakal nemenin kalian sepanjang jalan kenangan ini ya..” Jelas Bima yang dibalas dengan anggukan oleh kelompok jengkol.
“Tanpa nunggu kepekaan doi lagi, yuk kita langsung berangkat!” Ajak Melisa yang disetujui oleh semua orang yang disana.
Semua orang berjalan ke arah yang sudah ditentukan oleh tali-tali rafia yang menjadi satu-satunya petunjuk yang ada disana.
“Kak masih jauh apa? Bedak saya udah luntur nih.” Keluh Jessie.
“Murah sih, makanya luntur.” Ujar Sena, senang sekali Sena mencari keributan.
“Udeh gak usah mancing dah.” Balas Flora menengahi.
“Kalo gue jatoh kalian cowok-cowok mau nangkep gue nggak?” Tanya Selvy dengan mengedipkan matanya beberapa kali.
"Mereka mah maunya nangkep gue, iyakan?" Tanya Sena genit.
“Maap tidak sudi.” Celetuk Davin yang membuat semua orang tertawa.
“Flo, butuh minum?” Tawar Bima.
Semua orang yang mendengar ada sesuatu yang aneh menoleh kearah Bima dan Flora, seketika suara jangrik mendominasi dan meredam guyonan mereka.
“ECCIIIEEE CIIEEE KAK BIMA SAMA FLORAAA.” Seru anakk anak Jengkol dan Melisa membuat Flora memutar bola matanya.
“Nggak kak, gue bawa kok, makasih.” Jawab Flora.
“Ayo maju maju Bima maju.. Maju.. Bima majuuu majuu.” Melisa bernyanyi dengan lagu Halo-halo Bandungnya.
“Bro, masa Kak Bima disuruh maju-maju bro.” Bisik Arda dengan Davin.
“Iya broo wapaaraparaparaahh.. Maju-maju ngapain neh?” Celetuk Davin lagi.
“Heh! Ini nih, kalo lahirnya di downlad pake VPN.. emang beda.” Balas Sena.
Semua masih melanjutkan perjalanannya, sampai Jessie mengeluh untuk kesekian kalinya.
“Kak, berhenti dulu dong, Jessie mau istirahat nih.” Ucap Jessie.
“Okay kita istirahat.” Jawab Bima.
“Bung, lu masih punya minum kan? Gue minta dong, asli gue haus.” Ucap Sena dengan mengusap lehernya sedikit berpose.
“Sok seksi lu sok seksi!” Ucap Davin.
“Heey heey.. apakah kita sudah sangat berada di hutan belantara? Alaminya sungguh terasa karena ada monyet disini.” Jawab Sena dengan senyum manis walaupun mengejek Davin.
“EHEM!!! Mata mas.” Tegur Melisa yang terus-terusan memergoki Bima yang mencuri pandang ke Flora.
“Kak, lu naksir gue?” Celetuk Flora.
“Dih kepedean lu!” Jawab Bima.
“Sudah Jess? Kalian juga udah? Tracknya semakin terjal, saya harap kita bisa hati hati.” Jelas Melisa.
“Jarak kita jangan jauh jauh, untuk jaga-jaga, saya, Dodi dan Samuel bakal ada dibelakang.” Ucap Jeno.
“Fiks, kalian bukan cowok sejati.” Ucap Sena dengan mengangguk yakin.
“Ya Allah, sabarkan Baim Ya Allah.” Ucap Arda dan Davin bersamaan.
“Oke Jen.” Jawab anak anak Jengkol.
Mereka kembali memulai perjalanan mereka. Melisa benar, lintasan semakin jahat. Banyak batu-batuan licin yang berada di jalan mereka. Selvy dan Jessie bahkan berulang kali hampir terpeleset. Flora berusaha menyeimbangkan langkahnya, namun ikatan tali sepatu yang terlepas tanpa sepengetahuan siapapun membuat ia kehilangan kendali.
“FLORA!!” Teriak Anak-anak di kelompok Jengkol melihat Flora yang hampir terguling.
Iyaaa.. hampir, karena Bima dengan sigap merengkuh punggung Flora dan memegangi tangannya supaya ia tetap aman.
“Lu nggak papa?”
To Be Continue......