
Beda tempat, beda lagi cerita. Di hutan tempat jurit malam Sena memiliki suasana yang berbeda, ya disini penuh keluhan Sena yang tidak takut kepada seniornya.
"Aduh kak masih lama gak? Capek nih saya, mana saya ngantuk banget gara-gara gak tidur siang.” Keluh Sena kepada senior yang bernama Sian, percuma sepertinya Flora mengkhawatirkan Sena.
“Mending kamu diam aja, berisik banget dari tadi.” Ucap Sian jengkel kepada Sena.
“Ihhh takut kakak seniornya galak, masa gue di marahin.” Ucap Sena dengan nada yang dibuat-buat sambil mengadu kepada Arda dan Jeno yang ada di depannya.
“Hahahahah, marahin aja dia kak, sekalian lem mulutnya capek saya dengernya.” Kata Arda yang langsung mendapatkan pukulan dari Sena.
“Udah-udah diam! Kita sudah sampai, Rita tolong jelasin misinya ke meraka.” Ucap Perwira yang menghentikan Sena untuk membalas perkataan Arda.
“Misi apaan lagi Ya Tuhan, mau misi nyelamatin monyet di hutan?” Tanya Sena jengkel.
Menghiraukan Sena, Rita menjelaskan misi untuk kelompok ini.
“Misi kalian adalah mencari pita merah yang tersebar di sekitar hutan, nanti di hutan ada tali rapiah berwarna merah kalian di larang melewatinya, itu batas pencarian. Kalian yang gagal akan mendapatkan hukuman berat! Kalian akan saya panggil satu persatu untuk maju kedepan melaksanakan misi kalian.”
Sebelum kak Rita memanggil nama yang akan maju Sena kembali mengeluh “Ya ampun kak, kurang kerjaan banget sih pake nyari pita merah, nanti saya beliin deh gak usah kayak orang miskin.” Ucap Sena yang memancing emosi Rita.
“HEH KAMU INI GAK SOPAN BANGET YA! KAMU MAJU PERTAMA.” Teriak Kak Rita sambil menunjuk Sena.
“Sabar Rita, sabar.” Kata Perwira mencoba menenangkan Rita.
“Emang gak sopan anak itu, gue juga jengkel.” Ucap Sian yang ikut memanaskan suasana.
“Ya udah dong kak gak usah maarah-marah ini saya maju pertama nih, rela saya tapi nanti kalau saya hilang jangan lupa cari saya ya.” Ucap Sena yang langsung berjalan memasuki Hutan.
"Ya Allah semoga hilang tuh anak!" Seru Sian dengan keras. Sengaja, supaya Sena mendengar.
"Sian.. udah jangan gitu." Ucap Perwira.
Melihat Sena yang sudah pergi kini para senior yang di pancing emosinya oleh sena mulai melanjutkan memanggil nama yang lain.
“Pita merah, oooo pita merah dimana kamu? Gak usah pake sembunyi capek gue nyarinya.” Ucap Sena sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
“Pitaaa merah, aduh sok jual mahal dari tadi gue cari ketemu-ketemu, awas aja abis pulang dari sini gue beli pita merah sepabrik-pabriknya, sekalian buat ikat mulut Sian sama Rita.” Kata Sena karena jengkel tidak menemukan pita merah dan juga karena jengkel dengan senior yang memarahinya tadi.
Tiba-tiba ada pocong yang penampilannya tidak jelas mencoba mengagetkan Sena.
“WAAAA, GUE POCONG.” ucap pocong itu di depan muka Sena.
“Lah? Iye gue tau lu pocong, udah sana minggir gue mau nyari pita merah.” Ucap Sena sambil mengusir pocong yang ada di depannya.
“Heh Arsen kaget napa, masa gitu doang reaksinya sebagai pocong tercoreng nih harga diri gue.” Ucap pocong itu kepada Sena.
“Ya lu pocong gak ada tampang seremnya Jun masa iya gue takut, orang tampilan lu aja kayak badut.” Kata Sena kepada pocong itu yang sebenarnya adalah Juna.
“Cih, ya udah deh gue mau nyari mangsa yang lain, lo mah gak asik.” Ucap Juna sambil berjalan pergi, aneh kan? Bagaimana Sena mau takut dengan setan gadungan itu, kan pocong jalannya lompat-lompat nah dia jalan biasa.
“EHH JUNA! Bantuin gue nyari pita merah dulu, nanti gue bantuin lu nakut-nakutin orang.” Ucap Sena yang mencoba bernegosiasi dengan Juna.
“Gak butuh gue bantuan lu.” Ucap Juna yang mencoba pergi jauh dari sena, bisa bahaya nanti tapi sebelum sempat pergi Sena sudah memegang kain putih kostum pocongnya Juna.
“Aah Juna, gue tau lo itu pasti tau dimana pita merahnya disembunyiin, tolongin gue dong, gak usah pelit jadi orang nanti kuburannya sempit tahu.” Ucap sena sambil membujuk Juna, tapi Juna tetap berusaha pergi dari Sena.
“Juna, nanti gue kasih nomer cewek-cewek cantik deh, lu taukan temen gue banyak.” Mendenger tawaran Sena yang ini tentu saja Juna tergiur, dasar pocong buaya.
“Okeh, di samping pohon itu ada pita merah, tapi jangan lupa ya janji lu.” Ucap Juna sambil menunjuk ke pohon mangga.
“Nah gitu dong kan enak, lo tunggu bentar ya gue mau ikutan nakut-nakutin orang.” Ucap Sena dengan semangat dan mengambil pita merah yang di maksud Juna.
“Nah itu ada calon korban kita, nanti lu yang pura-pura jadi kuntilanak ya, gue nanti yang tiba-tiba nongol di depan dia.” Ucap Juna yang langsung siap-siap.
“Hiiii hiii hiiii hiiiii, hahahhahahah, Hiihiiiiiihi” suara Sena yang mencoba menakut-nakuti targetnya yang sebenarnya itu adalah Arda.
Sepertinya Arda tidak takut hantu, dia tetap berjalan dan berhenti di depan semak-semak, melihat rencana pertama yang gagal Sena dan Juna melanjutkan rencana kedua.
“Akhirnya, gue dapet pitanya.” Ucap Arda sambil memegang pita merah di tangannya, dan tiba-tiba Juna berdiri di hadapan Arda.
“HUWAAAA GUE POCONG!” Ucap Juna yang membuat Sena mengelus dada, padahal tadi dia sudah member tahu Juna untuk tidak melakukan itu.
“Misi cong saya mau lewat.” Ucap Arda dengan santai.
“Arda!” Panggil Sena ke Arda sambil keluar dari tempat persembunyian.
“Loh Sena, lu temenan sama pocong ini?” Tanya Arda sambil menunjuk Juna.
“Memang gak ada harga dirinya gue di depan kalian.” Ucap Juna dengan kesal.
“Yeee itu sih memang benar.” Sahut Sena, yang langsung mendapat pelototan tajam dari Juna.
“Lu udah dapet pitanya Sen?” Tanya Arda ke Sena.
“Udah dong masa iya belum, lu mau ikut kita nakut-nakutin orang gak?” Ajak sena ke Arda, sungguh ajakan yang sesat.
“Boleh, kasian gue sama kak juna.” Kata Arda yang membuat Juna mendengus kesal.
Sekarang mereka bertiga, mereka mencoba mencari mangsa lain dan memperbaiki rencana yang tadi, takut gagal lagi.
Mereka melihat seorang gadis yang sedang menengok ke kanan dan ke kiri, sepertinya gadis itu sedang mencari pita merah, tanpa babibu tiga serangkai ini langsung melancarkan aksinya.
Dimulai dari Sena “Tolooong , tolooong saya, tolongg hiks hiks hiks tolong saya.” Kata Sena sambil pura-pura menangis, gadis itu mencoba mencari sumber suara tetapi saat menoba mendekat ke arah Sena yang bersembunyi di balik pohon.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, HAYOH KAMU HAHAHAHAHA” teriak sena yang di kahirnya tertawa yang seram.
Gadis itu langsung terdiam mematung, saat gadis itu mau berbalik lari ada tangan Arda yang memegang tangannya yang membuat gadis itu berteriak “AAAAAAAAA IBUUUUUUU.” Teriak gadis itu.
Dan yang terakhir Juna yang muncul tiba-tiba sebagai penutup, melihat juna yang sedang menjelma menjadi pocong gadis itu langsung pingsan.
“Lah ***** pingsan.” Kata Juna yang panik.
“Nat, bangun Nat, Natha bangun hey!” Kata Arda yang tidak kalah panik sambil mengguncang tubuh Natha.
“Lah Natha pingsan?” Tanya Sena yang keluar dari tempat persembunyian.
“Lu sih Sen pake ngasih rencana kayak begini, kalo dia mati gimana, sekarang kita harus ngapain?” Ucap Arda yang mencoba menyalahkan Sena.
“Kok nyalahin gue? salah kalian juga lah ****.” Ucap Sena tak mau kalah.
“Udah-udah nggak usah berantem, mending kita angkat dia terus kita bawa ke tempat awal.” Ucap Juna yang langsung melepaskan kostumnya dan menggendong Natha, sungguh jantan Juna kali ini
Setelah sampai ke tempat awal kumpul, banyak senior dan teman-teman yang panik melihat Natha, apalagi wajah Natha yang sangat pucat dan tubuhnya yang dingin.
“Ini kenapa bisa sampai begini?” Tanya Perwira kepada tiga orang yang ada di depannya.
Tentu saja ketiga orang ini tidak ada yang menjawab, sepertinya malam mini Sena, Juna dan Arda akan terkena masalah.
To Be Continue..