
“Bunda, Bima selesai, Bima harus ke rumah Sian.” Ujar Bima setelah makan lalu segera berdiri, mengambil jaket dan helm tidak lupa mengambil kunci motor kesayangannya.
Bundanya yang hanya sebatas mengetahui terdapat pertengkaran kecil diantara mereka hanya mengizinkan anaknya pergi dan berharap diantara mereka tidak terjadi apapun. Bima langsung melajukan motornya ke Rumah Sian dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ditambah jarak yang tidak terlalu jauh memudahkan Bima untuk sampai lebih cepat.
Mungkin keberuntunga kali ini terdapat pada Bima. Dia melihat Sian yang baru saja menaiki motornya hendak keluar dari pekarangan rumahnya. Bima segera mengambil kesempatan dengan berhenti tepat di depan motor Sian yang baru saja hendak menancapan gas pada kecepatan maksimal. Hal ini tentunya bahaya jika Sian tak tangkas mengambil rem, bisa-bisa Bima tertabrak oleh Sian.
“MAU MATI HAH?!” Sungut Sian kesal dengan tindakan Bima.
“Lu mau kemana?” Tanya Bima kembali yang membuat Sian menghela nafas menahan emosi.
“Bukan urusan lu.” Ucap Sian dingin.
“Lu jadi begini kenapa sih? Juna? Sena?” Ucap Bima telak membungkam Sian.
“Gue mau cari rumah Reza.” Jawab Sian dengan menatap mata Bima tajam.
“Mau apa? Mau ketemu Sena? Sena disana dirumah Reza?” Tebak Bima tepat. Lagi-lagi Sian terdiam memikirkan jawaban untuk Bima.
“Lu udah berubah jadi orang yang berbeda tau gak? Cuma gara-gara Kinan lu begini. Sadar!! Diri lu yang sebenarnya pergi ninggalin gue, Juna, dan.. Sena.” Ucap Bima membuat Sian menggeleng karena pening yang menyerang kepalanya. Sian pun melepas helmnya disusul dengan Bima.
“Lu suka kan sama Sena?” Tanya Bima yang justru di hadiahi pelototan oleh Sian.
“Nggak!” Jawabnya penuh keyakinan.
“Kalau nggak sekarang masuk ke rumah lu buatin gue jus.” Ujar Bima.
“Gue... nggak bisa.” Jawab Sian melirih.
“Kenapa? Nggak suka Sena kan? Udah.. saran gue biarin Reza sama Sena.” Ucap Bima, Bima melirik langit yang mulai gelap. “Waah suasananya enak buat.... tidur?” Lanjut Bima memancing Sian.
“Brengsek! Jangan asal bicara! Sena nggak—”
“Apa? Mau belain? Masih mau ngelak kalau naksir adek kelas?” Tantang Bima dengan alis yang menanjak sebelah.
“ARGH! IYA! Kenapa?” Ucap Sian mengakui.
“Bwahahahahahahaha!” Tawa Bima pecah melihat Sian yang seperti orang bodoh.
“Ketawa lu brengsek!” Umpat Sian.
“Sorry sorry.. hahahahaha. Gue sengaja datang kesini. Gue memang mau pancing lu buat ngaku. Tapi gue nggak tau Sena sekarang lagi di Rumah Reza dan situasi gue sangat mendukung.” Jelas Bima.
Sian yang menyerah memutar balikkan motornya dan masuk kembali kerumahnya, diikuti dengan Bima. Mereka naik ke atap rumah Sian seperti biasa, dan duduk di sofa yang memang sengaja disiapkan.
“Gue udah ceramah ke Juna, mungkin dia juga lagi mikir.” Ucap Bima meminum jus yang dibawakan oleh Sian.
“Baru tau gue dia punya otak.” Celetuk Sian seenaknya.
“Lu kenapa diem aja sih temen lu ngambil gebetan lu?” Tanya Bima kesal, pada akhirnya pertanyaan itu keluar setelah tersimpan dan belum terjawab.
“Kinan yang mau kan? Gue bukan siapa-siapa ngelarang dia.” Jawab Sian dengan mengambil posisi tidur di sofa yang lain.
“Gue nggak mau Sena jadi Kinan yang kedua. Sampe itu terjadi, gue nggak akan tinggal diam. Bukan karena Sena adalah temen cewek gue, tapi karena cowok pengecut ini yang temen gue.” Kata Bima yang langsung menghabiskan minumannya dan kembali turun untuk pulang.
..............
Flora melihat tangannya yang digenggam erat oleh Bima, dan dirinya tersenyum. Bima menatap Flora dengan aneh.
“Kalau lu senyum gitu sebenernya gue adem gitu Flo. Kok aneh juga ya?” Tanya Bima mengusap dagunya seolah berpikir keras.
“Oke nggak lagi.” Jawab Flora yang langsung menghilangkan senyum di bibirnya.
“Eh eh jangan dong.. matahari gue redup kalau begini.” Ucap Bima dengan cepat menangkup pipi Flora dan menarik pipi Flora berharap ada senyuman disana. Dan kekehan lah yang mereka dapatkan.
“Semalem gue telfon nggak angkat kemana?” Tanya Flora.
Saat ini sebenarnya mereka sedang berjalan dari parkiran menuju ke kelas Flora, namun modus Bima yang setinggi langit itu meminta Flora berjalan pelan dengan alasan menikmati embun dan udara pagi hari jakarta yang sangat-sangat tidak biasa untuk dinikmati karena harus menjumpai polusi.
Flora mengangguk paham, mereka terus melanjutkan jalan yang melambat itu. Beberapa orang awalnya menatap mereka aneh, jujur saja Flora juga merasa malu dengan begitu. Tapi berhubung mereka sudah sangat paham bagaimana Bima, jadi orang-orang yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya tidak paham lagi dengan Bima.
“Bim, kayaknya gue lebih cepet jalan sendiri deh.” Ujar Flora dengan helaan nafas di akhir.
“Hehehehe.” Cengir Bima yang sangat sangat gadanta untuk Flora.
“Loh? Kak Sian? Mukanya kayak nggak tidur gitu.” Ucap Flora melihat wajah Sian yang benar-benar tidak terlihat baik.
“Ppfftt hahahahaha...” Tawa Bima pecah.
“Ayo ke kelas lu.” Genggaman Bima semakin erat setelah dia mengucapkan kalimat ajakan itu, dia mengajak Flora berjalan lebih cepat dari biasanya dan akhirnya sampai di kelas X IPA 1.
“Gue tinggal ya.”
Cup.
Pamit Bima dengan kecupan ringan di akhir kalimatnya membuat Flora terpaku. Di kepalanya seolah-olah hanya ada
‘Apa yang terjadi?’
‘Apa yang salah dengan Bima?’
‘Apakah dia belum sarapan?’
‘Kenapa jantungnya berpacu lebih cepat?’
Setidaknya sebelum dia tersadar dengan teriakan Sena yang menggelegar di pagi hari.
“PAGI SEMUANYA! MISS UNIVERSE DATANG!!” Teriak Sena heboh.
Flora mengusap telinganya yang sakit. Dia mengabaikan Sena dan memilih untuk tetap duduk di mejanya lalu membuka handphone kesayangannya itu untuk membaca novel digital di sana.
Pelajaran di jam pertama sudah terlaksana dengan khidmat. Untuk pertama kalinya Flora mengantuk dalam pelajaran ini, sejarah wajib di pagi hari memang terasa seperti dongeng sebelum tidur. Sungguh matanya berat. Saat Flora menoleh ke arah kawan-kawannya mereka justru banyak yang sudah tumbang, Flora menghela nafasnya tidak mengerti lagi kenapa hanya dia, Aji, dan Jeno yang masih bertahan walaupun dengan sisa-sisa baterai pada mata.
“Pagi-pagi udah low-battery aja.” Gumam Flora yang didengar Sena.
“Manusia serajin lu aja ngerasa ngantuk apa kabar gue?” Keluh Sena.
Bel istrahat pertama pun berdering bagai nyanyian putri duyung. Sangat menyejukan hati dan seperti mengisyaratkan mereka untuk merdeka lagi.
“Akhirnya!!” Sorak Davin dari bagian belakang kelas, dan dia adalah orang pertama yang melarikan diri karena pantat yang sudah terasa sangat panas untuk tetap duduk.
“Ayo ke kantin, Bung!” Ajak Sena menarik tangan Flora dengan semangat.
Flora menuruti itu, mereka berjalan tergesa-gesa sampai tidak terasa Flora menabrak seseorang.
“Maaf maaf. Sen jangan tarik gitu!” Ucap Flora yang menatap Sena sebal.
Tunggu, Sena mendongak dengan mata yang berbinar, tandanya dia tidak salah menabrak orang. Saat Flora mendongak menatap siapa yang dia tabrak. Ternyata Perwira. Flora menepuk dahinya lelah.
“Eh.. Kak Wira.. apa kabar? Kita jadi jarang ketemu ya kak padahal saya masih sanggup tersesat lagi loh kak.” Ucap Sena dengan (sok) malu-malu.
“Ah iya. Saya sedikit sibuk akhir-akhir ini.” Ucap Wira dengan senyum manisnya.
Grap!
Entah darimana, Sian datang dengan menggenggam tangan Sena dan menariknya menjauh dari Flora dan Wira, tanpa ekspresi, tidak dingin dan tidak tersenyum hangat, hanya datar.
“Sian kenapa?” Tanya Wira.
“Saya nggak tau sih kak. Ribet.” Ucap Flora
To Be Continue