
“Mau pulang bareng nggak?” Tanya Reza.
Sena tersenyum melihat Reza dan menggeleng, dia sudah punya supir baru lagian dia tidak bisa terus menerus menjadikan Reza sebagai supirnya karena dia sudah ada yang punya.
“Lu keliahatan bahagia banget.” Ucap Reza yang membuat Sena tersenyum semakin lebar, dia bahagia karena pulang di antar Sian tetapi bahagianya bukan karena Sian sebenarnya tetapi karena akan di traktir Sian.
“Mood gue lagi bagus Eja.” Ucap Sena yang masih membereskan peralatan belajarnya yang ada di meja.
“Di jemput Bang Satya?” Tanya Reza.
Sebelum Sena mau menjawab sudah ada Sian di depan kelas, Sena tersenyum melihatnya.
“Gue pulang dulu ya Eja.” Ucap Sena sambil menepuk bahu Reza dan pergi menghampiri Sian.
Reza melihatnya dengan tatapan aneh, ‘sejak kapan mereka dekat?’ pikir Reza.
“Wah gila Sena, dia lagi deket sama Kak Sian?” Tanya Davin kepada Reza.
“Nggak tahu gue, tapi kayaknya sih iya.” Ucap Reza pelan.
“Hebat juga ya Sena bisa naklukin itu orang.” Celetuk Haikal yang membuat Reza menoleh.
“Gue pikir Kak Sian mau ngapain kesini, masih trauma nih gue.” Ucap Sila.
Teman-temannya makin membicarakan Kak Sian, mereka membicarakan tentang kejadian kemarin tetapi Reza tidak peduli, pikirannya sedang sibuk memikirkan Sena.
Felix yang melihat Reza murung langsung berbicara, “Nggak usah khawatir Sena udah gede, lu mau jemput pacar lu lagi Ja?”
Kemarin Reza tidak bisa pulang bersama Sena karena harus menjemput pacar barunya yang bersekolah di SMA tetangga.
“Nggak, Caca ada latihan padus.” Ucap Reza kepada Felix.
“Maen yuk sama yang lain, Jehan ngajak ngumpul nih, Woy Arda mau ikut ngumpul nggak?” Ucap Felix.
“Ikut gue.” Ucap Arda sambil menghampiri Reza dan Felix.
“Ayok, lu ikutkan?” Tanya Felix yang hanya di balas anggukan oleh Reza.
Mereka berjalan kea rah parkiran sekolah, di situ Reza melihat Sena masuk kedalam mobil Benz yang Reza yakini adalah mobil milik Sian.
………………….
Di tempat parkir Sena hanya memandang horor kendaraan yang ada di depannya, dia benci dengan kendaraan ini.
“Ngapain sih lu bawa ini mobil, gue masih trauma ya naik nih mobil.” Ucap Sena sambil menunjuk Mobil Benz Sian dengan kesal.
“Badan gue biru-biru kayak di cubit setan gara-gara bonceng lu pake motor.” Ucap Sian, seharusnya dia mendengarkan perkataan Juna kalau membawa harus hari-hati kalau tidak badan akan berwarna biru.
“Salah sendiri, ngapain kemarin kebut-kebut.” Ucap Sena.
“Kan kemarin lu yang nyuruh.” Ucap Sian mengingatkan sena bahwa dia kemarin yang meminta agar cepat di antarkan sampai rumah.
“Gue kan Cuma minta cepet di anterin pulang, bukan nyuruh lu kebut.” Ucap Sena tak mau kalah, sebenarnya kemarin dia menyuruh Sian untuk cepat karena Bang Satya sudah pulang, Sena tidak cerita kalau Sian yang
mengantarnya dia hanya bilang naik ojek online karena bisa bahaya Sian kalau Bang Satya tahu.
Karena Sian tidak mau berdebat lagi dia langsung masuk ke mobil, “Ngapain? Ayok masuk.” Ucap sian melihat Sena yang hanya diam.
“Bukanin dong pintunya, nggak romantis amat sih jadi laki.” Ucap Sena.
“Tinggal buka sendirikan bisa, ngerepotin banget sih, gue tinggal nih.” Ucap Sian mengancam Sena.
Mendengar perkataan Sian membuat Sena kesal dan masuk ke mobil Sian, dia menyesal karena pernah mengatakan kalau Sian adalah lelaki yang keren.
Di dalam perjalanan mobil dalam keadaan diam, Sian fokus menyetir dan Sena fokus memainkan handphonenya.
“Mau makan apa?” Tanya Sian yang memecahkan keheningan.
“Hmm apa ya? Kemarinkan udak bakso sekarang makan jajangmyeon yuk.” Ajak Sena dengan semangat.
“Sok-sok an mau makan begitu, kemarin katanya mau makan mie ayam.” Ucap Sian.
Sian yang melihat itu hanya terdiam dan melajutkan mobilnya ke restoran korea yang dia tahu.
Setalah itu mobil dalam kedaan hening lagi, Sena kembali sibuk dengan handphonenya.
Mereka sampai di restoran korea, Sena yang tahu langsung bersamangat dia sudah tidak sabar mengisi perutnya yang kelaparan.
“Cepet dong, nggak kasian apa sama peliharaan gue yang udah meronta-ronta mau makan.” Ucap Sena kepada Sian.
“Sabar.”
“Nggak bisa sabar, perut gue udah bunyi nih.”
“Iya bawel, ayok.” Ucap Sian yang sudah ada di samping Sena.
Sena langsung menarik tangan Sian untuk masuk kedalam, “Jajangmyeon tungggu aku.” Ucap Sena yang membuat Sian tertawa melihat kelakuannya.
Di dalam restoran ternyata sangan ramai, untung Sena melihat satu meja kosong di pojok ruangan, dia laangsung menarik tangan Sian menuju meja itu.
Setelah duduk tanpa babibu Sena langsung melihat buku menu dan memesan banyak makanan, padahal yang Sian ingat dia hanya ingin memakan jajangmyeon tetapi melihat Sena memesan banyak makanan yang namanya sedikit aneh di telingan Sian.
“Lu mau makan apa?” Tanya Sena ke Sian.
“Gue ngikut lu aja.” Ucap Sian yang membuka jalan untuk Sena memesan lebih banyak.
Sian sedikit meringis mengingat dompetnya yang akan terkuras, untung dia kaya jadi tidak masalah untuk memenuhi porsi makan sena yang mirip kuli bangunan.
Mereka menunggu pesanannya datang, Sena sibuk melakukan selfie yang menurut Sian aneh, dia beberapa kali tertawa melihat pose aneh yang dilakukan Sena.
“Sian, senyum dong.” Ucap Sena sambil mengarahkan kamera handphone ke arah Sian.
Sian hanya tersenyum tipis, setelah itu Sena memaksanya untuk melakukan selfie berdua, kata Sena ‘lumayan untuk pamer ke temen gue’.
Tiba-tiba ada sepasang manusia yang bergabung ke meja Sena dan Sian.
“Ngapain kalian berdua?” Tanya Juna yang langsung duduk di samping Sian.
“Mau makanlah, pake nanya.” Jawab Sena.
“Udah yang duduk, ngapain berdiri.” Ucap Juna ke pacarnya, peempuan itu tersenyum kikuk dan duduk di samping Sena.
“Ganggu kencan gue aja lu, cari meja laen sana.” Ucap Sena, sebenarnya Sena mengatakan kencan hanya untuk mengusir Juna dan pacarnya oke, dia sadar akan sikap Sian yang tidak merasa nyaman dan masih memandang pacarnya Juna dengan serius.
“Gue gabung sini boleh kan? Meja yang lainnya penuh, masa nggak kasian lu sama temen sendiri.” Ucap Juna.
Ucapan Juna membuat Sian tersadar dan langsung mengalihkan tatapannya dari pacar Juna, Sena yang melihat itu hanya tersenyum tipis sebenarnya dia masih sangat penasaran tentang hubungan Sian dan pacarnya Juna,
dia merasa ada sesuatu di antara merreka berdua, karena pacarnya Juna seperrtinya sadar akan tatapan Sian.
“Lagian kan asik, jadi kita double date, tapi bukannya pacar lu yang bawa motor scoopy ya?” Ucap Juna.
“Reza? Dia adeknya Kak Windu.” Ucap Sena.
“Oh adeknya Kak Windu, ngomong-ngomong udah lama gue nggak nonton mereka manggung lain kali kalau mereka tampil kasih tahu gue ya.” Ucap Juna.
“Iye, lu nggak mau ngenalin pacar lu sama gue Jun?” Tanya Sena.
“Belum kenalan? Kenalin nih pacar gue yang cantiknya minta ampun namanya Kinan” Ucap Juna.
“Halo aku Kinan, nama kamu Sena kan?” Tanya Kinan yang hanya di angguki oleh Sena.
Setelah itu mereka berdua langsung memesan makan, tidak lama kemudian pesanan Sena dan Sian datang.
“Gila pasti ini makanan Sena semua.” Ucap Juna tidak percaya melihat meja yang tadi kosong sekarang menjadi penuh.
Sena tersenyum lebar dan langsung memakan pesanannya, dia tidak peduli dengan Sian yang masih beberapa kali mencuri pandang ke pacarnya Juna, toh bukan urusanya jugakan?
Makanan Juna dan pacarnya Kinan juga datang setelah Sena menghabiskan piring pertamanya, mereka makan sambil berbincang-bincang, mungkin lebih tepatnya hanya Sena dan Juna.
To be continue…