Teenteens

Teenteens
03. Rewrite The Star



Pelaksanaan kemah berjalan lancar, dari apel siang sampai apel sore semuanya berjalan baik tetapi itu tidak membuat Sena merasa senang, ya tidak mungkin senang juga sih kan soalnya tadi acaranya cuma game yang penuh dengan amukan para senior dan perkenalan peraturan sekolah bahkan sampai nanti di adakan pentas malam itu belum menarik minat Sena.


“Eeh nanti malam katanya ada jurit malam tau.” Ujar seseorang di depannya.


“Ah! Yang bener, bukannya di rundown nggak ada acara itu?” Sahut temannya lagi.


“Eh, gue dapet bocoran dari kakak kelas, katanya memang setiap tahun acara ini wajib diadakan, biar seru katanya.” Jawab temannya lagi.


Sena yang mendengar itu merasa tertarik, dia langsung menyenggol siku Flora untuk sekedar mengangkat kedua alisnya beberapa kali. Flora tetap diam, sungguh dia mendengarnya dan sama sekali tidak tertarik, itu artinya waktu tidurnya akan terganggu dan sejujurnya Flora sangat takut dengan gelap.


“Lu takut, Bung?” Tanya Sena.


“Hah? N-nggak!” Balas Flora tergagap.


“Hmm, awas ya kalo gue tau lu teriak ketakutan.” Sahut Sena yang hanya dibalas deheman oleh Flora.


Hari sudah semakin malam, semua persiapan untuk pementasan sudah dipersiapkan, api unggun besar menambah kehangatan pada malam itu. Flora dan Sena yang selalu berdua sudah siap dan cantik karena syukurnya mereka mendapat gilliran mandi dengan toilet yang memiliki air yang melimpah ruah, dan Sena adalah orang yang paling histeris karena itu.


Para peserta sudah mulai berkumpul di salah satu sisi api unggun dengan jarak tertentu, mereka berkumpul menurut kelompok masing-masing. Semua kelompok melakukan latihan-latihan kecil, tidak untuk kelompok Jengkol, mereka hanya terus terusan tertawa karena ulah Davin, Ardanan, Selvy, dan Sena.


“Okay-okay.. ehem, check check?” Ujar salah satu panitia yang mulai memegang microphone untuk menguji kelancaran sound system mereka.


“Bagiamana? Apakah semua kelompok sudah siap mementaskan bakat terpendamnya?” Ucap Juna yang didaulat menjadi pembawa acara api unggun malam ini.


“Sudah kak!” Teriak para peserta.


Kelompok Jengkol kembali merapat karena Sena meminta untuk lebih berkumpul, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan.


“Guys, kalau kelompok kita perform, gue mau kita yang gak pentas teriak paling keras okay?” Titah Sena kepada kawan kawannya.


Waktu banyak berlalu, beberapa kelompok sudah mementaskan karya dadakan mereka ada beberapa kelompok yang tersisa namun, panitia meminta Kelompok Jengkol untuk maju dan mementaskan karyanya. Jeno, Flora, Samuel, dan Dodi segera maju kedepan. Sorakan dan tepukan semangat mengiringi langkah mereka.


“Waah.. waahh ada 3 cowok ganteng dan 1 cewek cantik nih… biar gue tebak, kalian mau main kuda lumping kan?” Tanya Juna. Flora yang melihat itu hanya tersenyum menatap Juna yang entah kenapa terasa seram di perasaan ketiga laki-laki yang ada disana.


“B-bercanda neng, serius amat. Hehe.. oke mau nyanyi lagu apa?” Tanya Juna sambil mengulurkan mic kepada Jeno.


“Humm.. Rewrite The Star dari James Arthur dan Anne Merrie.” Jawab Jeno dengan senyum tampannya yang membuat para kaum hawa berteriak histeris, dan ini membuat kaum adam jengkel dengan Jeno.


“Wooww.. gue penasaran nih.. hahaha langsung aja kita sambut. KELOMPOK JENGKOL DENGAN REWRITE THE STAR!” Seru Juna.


Samuel dengan gitar akustiknya, Dodi dengan Cajonnya, serta Jeno dan Flora yang duduk diantara mereka sudah siap dengan posisi dan alat masing-masing. Flora menghembuskan nafas untuk sekedar melunturkan rasa detak jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat dari biasanya.


“You know I want you”


(Kau tahu aku menginginkanmu)


Suara Jeno mulai teralun merdu. Flora reflek menoleh karena merasa ada sedikit perbedaan dengan suara Jeno jika dibandingkan pada saat latihan. Dan tentu saja ini membuat para kaum adam menutup telinga mereka bukan karena suara Jeno jelek tetapi karena teriakan para kaum hawa yang terlalu keras.


“Woy pegangin gue, meleleh nih dedek denger suara ayang Jeno.” Teriak Selvy, yang membuat Sena mendelik.


“It's not a secret I try to hide”


(Itu bukan rahasia yang ingin kusembunyikan)


“I know you want me”


(Aku tahu kau menginginkanku)


“So don't keep saying our hands are tied”


(Jadi jangan terus mengatakan tak ada yang bisa kita lakukan)


“You claim it's not in the cards”


(Kau bilang itu tak akan terjadi)


“But fate is pulling you miles away”


(Tapi takdir menarikmu bermil-mil jauhnya)


“And out of reach from me”


(Dan sulit kuraih)


“But you're here in my heart”


(Namun kau ada di hatiku)


“So who can stop me if I decide that you're my


destiny?”


(Jadi siapa yang bisa menghentikanku jika aku memutuskan bahwa kaulah takdirku?)


“What if we rewrite the stars?”


(Bagaimana jika kita mengubah takdir kita?)


“Say you were made to be mine”


(Mengatakan kau diciptakan untuk menjadi milikku)


“Nothing could keep us apart”


(Tak ada yang bisa memisahkan kita)


“You'd be the one I was meant to find”


(Kau akan menjadi orang yang ditakdirkan untuk ku temukan)


“It's up to you”


(Itu terserah padamu)


“And it's up to me”


(Dan terserah padaku)


“No one can say what we get to be”


(Tak ada yang bisa mengatakan akan jadi apa kita)


“So why don't we rewrite the stars?”


(Jadi mengapa kita tak mengubah takdir kita?)


“Maybe the world could be ours tonight”


(Mungkin malam ini dunia bisa menjadi milik kita)


“You think it's easy”


(Kau pikir itu mudah)


Kini suara Flora yang indah membuat orang tercengang siapa sangka orang yang galak dan terlihat judes mempunyai suara yang tidak sangka-sangka. Kali ini tidak ada suara, senyap sunyi karena mereka semua terkejut. Jangan tanyakan nasib kaum adam yang tadinya tutup telinga mulai melotot kelaparan.


“You think I don't want to run to you”


(Kau pikir aku tak ingin mengejarmu)


Dikala kesenyapan itu hilang sekejap karena teriakkan seorang gadis yang merusak suasana “TEMEN GUE ITU WOY! BAGUS KAN? GUE YANG NGAJARAIN ITU! YA ALLAH TEMEN GUEE BUNGAAA!!” Teriak Sena histeris tak tahu malu.


“But there are mountains”


(Tapi ada bukit-bukit)


Flora yang mendengar suara itu tetap bernyanyi walaupun sedikit terganggu dan menggerutu dalam hati, sedetik dia melirik Sena tajam mengisyaratkan gadis itu untuk diam.


“And there are doors that we can't walk through”


(Dan ada pintu-pintu yang tak bisa kita lewati)


“I know you're wondering why”


“Because we're able to be just you and me within these walls”


(Karena kita bisa berdua saja dibalik dinding-dinding ini)


“But when we go outside”


(Tapi ketika kita keluar)


“You're going to wake up and see that it was hopeless after all”


(Kau akan tersadar bahwa kita tak punya harapan)


“No one can rewrite the stars”


(Tak ada yang bisa mengubah takdir)


“How can you say you'll be mine?”


(Bagaimana kau bisa katakan bahwa kau akan menjadi milikku?)


“Everything keeps us apart”


(Semuanya memisahkan kita)


“And I'm not the one you were meant to find”


(Dan aku bukan orang yang ditakdirkan untuk kau temukan)


“It's not up to you”


(Itu tidak semaumu)


“It's not up to me”


(Itu tidak semauku)


“When everyone tells us what we can be”


(Ketika semua orang mengatakan akan jadi apa kita)


“How can we rewrite the stars?”


(Bagaimana bisa kita mengubah takdir?)


“Say that the world can be ours tonight”


(Mengatakan bahwa malam ini dunia akan menjadi milik kita)


“All I want is to fly with you”


(Aku hanya ingin terbang bersamamu)


Penonton kembali terkejut ketika mendengar perpaduan dari suara mereka. Suara Jeno yang sedikit berat dengan suara Flora yang sedikit melengking membuat penonton merinding.


“All I want is to fall with you”


(Aku hanya ingin jatuh bersamamu)


“So just give me all of you”


(Jadi berikan saja seluruh dirimu padaku)


“It feels impossible”


(Itu terasa mustahil)


"It's not impossible"


(Itu tak mustahil)


"Is it impossible?"


(Apakah itu mustahil?)


"Say that it's possible"


(Katakan bahwa itu bisa terjadi)


Suara Flora yang disahut oleh Jeno membuat Sena merinding sampai berpikir mereka adalah sepasang kekasih sebenarnya. “Fiks, abis ini gue jodohin mereka.” Gumam Sena.


"How do we rewrite the stars?"


(Bagaimana cara mengubah takdir kita?)


"Say you were made to be mine"


(Mengatakan kau diciptakan untuk menjadi milikku)


"Nothing can keep us apart"


(Tak ada yang bisa memisahkan kita)


"Cause you are the one I was meant to find"


(Karena kau adalah orang yang ditakdirkan untuk ku temukan)


"It's up to you"


(Itu terserah padamu)


"And it's up to me"


(Dan terserah padaku)


"No one can say what we get to be"


(Tak ada yang bisa mengatakan akan jadi apa kita)


"And why don't we rewrite the stars?"


(Dan mengapa kita tak mengubah takdir kita?)


"Changing the world to be ours"


(Mengubah dunia menjadi milik kita)


"You know I want you"


(Kau tahu aku menginginkanmu)


"It's not a secret I try to hide"


(Itu bukan rahasia yang ingin kusembunyikan)


"But I can't have you"


(Tapi aku tak bisa memilikimu)


"We're bound to break and my hands are tied"


(Kita terikat untuk hancur dan tak ada yang bisa ku lakukan)


Penutup yang dinyanyikan oleh Flora membuat semua orang terdiam seribu bahasa, tanpa reaksi apapun.


“Jelek ya?” Tanya Flora dengan *m*ic.


“WWOOOAAA!!!!” Teriak dan tepuk tangan yang meriah tentu saja langsung menyahuti pertanyaan Flora, dan tentu saja yang paling histeris adalah Kelompok Jengkol. Seluruh pementasan berjalan dengan lancar sampai mereka tidak sadar akan ada bencana yang menimpa mereka.


To be Continue…