
“Ngapain Bang?” Tanya Sena kepada Bang Satya yang sedang menatapnya tajam sambil bersandar di pintu kamar Sena.
“Kamu punya pacar?” Tanya Bang Satya serius.
“Aku? Kalau Kak Windu udah nerima aku, ya berati aku punya pacar.” Ucap Sena sambil merapikan bukunya dan memasukannya ke tas sekolah.
“Abang serius.” Ucap Bang Satya.
Sena menatap ke arah Abangnya itu, “Ya aku juga serius, emang kenapa sih?” Tanya Sena penasaran.
“Ada cowok yang jemput kamu tuh.” Ucap Bang Satya dengan muka penuh interogasi.
“Siapa? Reza apa Juna?” Tanya Sena.
“Bukan dua-duanya, kamu tuh masih kecil baru lulus SMP, nggak usah pacar-pacaran dulu kenapa.” Kata Bang Satya menceramahi Sena.
“Ish apaan sih, orang adek masih jomblo kok.” Ucap Sena dan keluar kamar sambil menggendong tasnya.
“Masak apa Bang?” Tanya Sena.
“Sarapan roti aja nih.” Ucap Bang Satya sambil menyodorkan roti.
Sena melihatnya penuh kecewa, mana mungkin roti itu bisa mengeyangkan perutnya.
“Masa roti doang sih.” Ucap Sena kesal tetapi mengambil roti itu.
“Tadi Kak Windu nelpon, Bunda nitipin bekal buat kamu ke Reza.” Ucap Bang Satya yang membuat Sena tersenyum cerah, memang perhatian sekali ibu mertuanya itu.
“Berangkat ya bang.” Kata Sena dan berjalan keluar rumah di ikuti Bang Satya.
Sesampainya di depan rumah Sena di kejutkan oleh kehadiran Sian, dia pikir yang menjemputnya Arda atau Davin.
“Siapa?” Tanya Bang Satya yang masih penasaran, dia meneliti penampilan Sian dari atas bawah ke atas, dia melihat muka Sian yang bonyok, ‘Sepertinya bukan anak baik-baik.’ pendapat Bang Satya dalam hati.
“Kakak kelas aku di sekolah, temennya Juna juga, aku berangkat ya.” Ucap Sena lalu salim ke Bang Satya dan menghampiri Sian.
“Berangkat dulu Bang.” Ucap Sian yang di jawaban anggukan Bang Satya, setelah itu abangnya langsung masuk.
Sian yang melihat itu hanya terdiam bingung, sepertinya abangnya Sena tidak menyukainya.
“Ayok berangkat nunggu apalagi.” Ucap Sena yang sudah naik ke atas motor, Sian yang mendengar itu langsung memberikan jaketnya ke Sena, ini sudah menjadi ritual kalau Sena naik motor bersamanya.
Setelah itu Sian dan Sena langsung pergi menuju sekolah, selama perjalanan tidak ada obrolan karena Sian fokus menyetir dan Sena fokus memakan rotinya.
Sesampainya di sekolah Sena langsung turun dari motor Sian dan memberikan jaketnya, “Lain kali nggak usah jemput gue ya kak, kalau mau, anter gue pulang aja.” Ucap Sena.
“Kenapa, Lu nggak suka?” Tanya Sian.
“Gue sih suka-suka aja, tapi abang gue yang enggak suka.” Ucap Sena.
“Hmmm, btw abang lu itu gitaris labirin ya?” Tanya Sian.
“Iya, lu tahu Band Labirin?” Tanya Sena balik.
“Gue sering nonton abang lu manggung sama Juna, tapi Band Labirin memang lagi terkenal sih, makanya gue tahu.” Ucap Sian menjelaskan.
Sena mengangguk mengerti memang popularitas Band abangnya sedang melonjak tinggi, Band labirin sedang terkenal karena lagu-lagunya yang galau dan anggota-anggotanya yang rupawan.
Sena juga sering mendengar lagu-lagu Band labirin di putar atau di nyanyikan di sekolah ini, bahkan ada beberapa orang yang membicarakan abangnya.
“Kak, muka lu kenapa? Daritadi gue mau nanya tapi lupa.” Ucap Sena sambil memandang wajah tampan Sian yang kini di penuhi memar.
“Bukan urusan lu.” Ucap Sian lalu pergi meninggalkan Sena.
Sena yang melihat itu langsung berlari menyusul Sian kemudian bertanya lagi, rasanya penasarannya sudah tidak bisa di bendung lagi.
Sena mengerucutkan bibirnya kesal karena di acuhkan Sian lalu memilih diam, dia melihat Flora yang sedang menggandeng tangan Bima, bisa-bisanya mereka pamer kemesraan pagi-pagi begini kan buat para jomblo merasa iri.
“Heey! Kalian! Tumben bareng berangkatnya.” Ucap Sena yang di ikuti Sian.
“Bukannya seharusnya yang ngomong gue?” Tanya Flora yang membuat Sena tersenyum, tetapi belum sempat dia menjawab Flora.
“Ayo buruan lelet amat sih!” Keluh sian yang langsung menarik tangan Sena menjauhi Flora dan Bima.
“Eh eh! Sakit kak!” Ujar Sena.
Tetapi Sian tidak peduli dan tetap menarik tangan Sena menuju kelas X IPA 1.
Karena bentakan dari Sena, Sian berhenti tetapi masih masih memegang tanga Sena.
“Maaf.” Ucap Sian dan kemudian berjalan lagi ke kelas Sena, dia masih memegang tangan Sena tapi kini dia lebih lembut.
Sesampainya di depan kelas X IPA 1, Sena langsung menatap wajah Sian, “Berantem sama Bima kan?” Tanya Sena yakin.
Sian tidak menjawab dan hanya menatap Sena, tetapi Sena sangat tahu kalau jawabannya adalah ya.
“Kenapa berantem? Nggak mungkin kan karena cewe, terus kenapa?” Tanya Sena lagi.
“Bukan masalah apa-apa, sana masuk kelas.” Ucap Sian mengusir Sena tanpa memberi jawaban.
Sena memandang Sian dengan wajah kesal dia sudah terlalu penasaran tetapi sepertinya Sian tidak akan menghilangkan rasa penasarannya, kalau begini dia hanya bisa bertanya kepadaa Flora atau Juna.
“Ya udah, pergi sana.” Usir Sena kepada Sian dan langsung masuk kedalam kelas.
Sena masuk kedalam kelas dengan berjaln menghentak-hentakan kakinya dan cemberut.
“Mana sarapan gue!” Kata Sena sambil memukul meja Reza.
Reza memandang Sena kaget bercampur kesal, dia menghelas nafas kemudian memberikan Sena kotak makan bewarna biru yang langsung di ambil Sena dengan kasar.
“Kenapa lagi sih tu anak?” Tanya Reza bingung sambil memandang Sena yang sudah membuka kontak makan tadi dan memakannya.
“Dia lagi jatuh cinta mungkin.” Ucap Felix yang duduk di samping Reza.
“Cinta? Nggak mungkin lah.” Ucap Reza yakin dia tahu sifat Sena.
“Mungkin aja, bisa jadi dia suka Kak Sian kan? Dari kemarin nempel mulu.” Ucap Felix.
Sedangkan Sena yang di bicarakan tidak tahu apa perasaanya sendiri, jujur Sena tidak menyukai Sian, dia hanya suka berteman dan berada di dekat Sian, ya hanya itu saja.
Sena yang sudah menghabiskan bekalnya dan mengembalikan kotak makan siangnya ke Reza untuk di isi kembali besok.
Sena kini hanya memandang pintu kelas menunggu kedantangan seseorang, “Akhirnya dateng juga.” Ucap Sena melihat Flora masuk kelas.
Sena menunggu Flora menaruh tasnya dan duduk kemudian, “Gue mau nanya, Kak Sian berantem Sama Bima?” Tanya Sena.
“Iya tapi bukan Cuma berdua, tapi bertiga sama Juna.” Ucapan Flora membuat Sena kaget.
“Juna juga? Mereka sebenarnya berantem kenapa sih?” Tanya Sena.
“Nggak tahu Bima nggak cerita alesannya kenapa.” Jelas Flora.
Sena menghela nafas, nanti sepulang sekolah dia akan bertanya kepada Juna.
“Sen.” Panggil Flora dengan ragu.
“Kenapa?” Tanya Sena.
“Lu nggak suka Kak Sian kan?” Tanya Flora serius.
“Enggak sih, gue enggak suka sama Kak Sian kenapa memang?” Jelas Sena yang membuat Flora merasa lega.
“Gebetan Kak Sian jadian sama Juna” Kata Flora.
Sena yang mendengar itu hanya mengangguk-angguk tanda mengerti, “Gue udah tahu kalau kak Sian itu suka sama pacarnya Juna.” Ucap Sena santai.
“Juna memang brengsek banget sih masa gebetan temen sendiri di embat, tapi gue nggak kaget sih kalau Juna gitu.” Ucap Sena lagi.
“Jangan deket-deket sama Kak Sian lagi Sen bisa jadi dia cuma jadiin lu pelampiasan.” Ucap Flora memperingati Sena.
“Kalau itu kayaknya nggak bisa deh, gua masih mau di trakir makan sama Kak Sian, tapi kalau gue udah dapet penggantinya baru nggak deket-deket lagi sama Kak Sian.” Jelas Sena yang membuat Flora takjub.
“Ternyata lu brengsek juga ya Sen, awas aja kalau lu sampe baper ke Kak Sian terus suka beneran sama dia. ” Ucap Flora memandang Sena.
Sena yang mendengar itu hanya terkekeh pelan dan hanya mengangguk setuju dengan ucapan Flora, karena sebenarnya dia juga bukan orang baik.
"Gua bukan orang yang suka bawa perasaan kok jadi tenang aja, eh liat tugas Biologi dong." Ucap Sena santai
"Lain kali usaha ngerjain sendiri jangan nyontek terus." Ucap Flora memeberikan buku bersampul coklat.
Sena tidak menanggapi Flora dan langsung menyalin jawaban Flora dengan semangat.
To be continue...