Teenteens

Teenteens
39. Cemburu



“Arsen ayok pulang!” Seru Reza yang membuat Sena bingung.


Sena menatap Reza penasaran, “Lu putus ya?” Tanya Sena.


Reza tidak menjawab tapi Sena tahu jawabannya mau tahu kenapa? Karena selama Reza berapacaran dengan kekasihnya yang ada di sekolah tetangga Reza tidak lagi pulang bersama Sena, dia sibuk menjadi supir pacarnya itu, tetapi untungnya ada Sian yang juga mau menjadi supir dan dompet Sena sehingga dia tidak kehilangan sosok Reza.


“Kalau udah putus aja baru inget punya temen, jahat lu.” Ucap Sena lagi.


“Udah ayok cepet, mau pulang nggak?” Tanya Reza kesal.


“Cih. Tapi Kak Sian gimana? Gue udah janji balik bareng sama dia.” Ucap Sena mengingat Kak Sian.


“Gue disuruh Bang Satya balik bareng sama lu, ayok cepet!” Ucap Reza.


Sena yang mendengar itu sudah tidak kaget lagi, dia tahu dengan reaksi abangnya tadi pagi, abangnya itu sudah terang-terangan tidak meyukai Kak Sian.


“Lu ngasih tahu abang gue ya kalau gue sering di anter pulang sama Kak Sian terus?” Tanya Sena dengan tatapan penuh selidik.


“Iya, abang lu nanya ya gue jawab.” Ucap Reza santai.


‘Sabar, sabar, sabar.’ Ucap Sena dalam hati, dia sungguh ingin mengumpati Reza sekarang juga, tapi karena tampang Reza yang polosnya sedikit menyerempet bodoh, Sena mengurungkan niatnya.


Sena langsung berjalan ke luar kelas, “Ayok pulang!” serunya kepada Reza.


“Mau pulang sama siapa?” Tanya Sian yang tiba-tiba ada di belakang Sena.


Sena melihatnya dengan ekspresi kaget, “Hari ini gue pulang sama Reza kak, gue duluan ya Kak” Ucap Sena sambil menarik tangan Reza menjauhi Kak Sian.


Melihat dia sudah jauh dari Kak Sian membuat Sena  lega, “Eja kita pulang kemana nih, Rumah gue apa lu?” Tanya Sena.


“Rumah gue, lagi pada kumpul disana.” Ucap Reza.


“Bunda lu lagi masak-masak ya?” Tanya Sena, karena yang membuat rumah Reza menjadi basecamp anak labirin adalah Bundanya yang rajin memberikan makanan enak.


“Iya Bunda lagi masak banyak karena Mas Brian ulang tahun.” Jelas Reza yang membuat Sena bingung.


“Bunda lu udah ngangkat Mas Brian jadi anak?” Tanya Sena meledek Reza.


Reza tidak menjawab dan hanya tertawa, “Kita beli hadiah buat Mas Brian dulu ya, ayok naik.” Ucap Reza.


Sena terdiam sebentar dia merasa ada yang kurang, “Ah jaket!” Ucap Sena pelan dan langsung menaiki Tuan muda.


Di perjalanan Sena sempat berdebat dengan Reza karena masalah hadiah yang akan mereka berikan, tapi tenang saja karena mereka sudah menemukan jalan keluar.


“Baru kali ini gue ngasih orang hadiah beginian.” Ucap Sena saat melihat plastik putih di tangannya yang berisi snack dan plastik di tangan Reza yang berisi kaleng biskuit.


“Udah nggak papa asal makanan Mas Brian seneng kok, diakan sebelas dua belas sama lu.” Ucap Reza yang langsung masuk kerumahnya.


“Bundaaaaaaaaa!” Teriak Sena dan berlari ke perempuan paruh baya yang memakai gamis bewarna biru pastel.


“Anak perempuan bunda, tadi bekalnya udah di makan belum?” Tanya Bunda Reza sambil mengelus kepala Sena.


“Udah dong, besok bekalin aku lagi dong Bunda kalau bisa pake rendang ya.” Pinta Sena tak tahu malu.


“Iya besok Bunda masakin rendang.” Ucap Bunda Reza yang membuat Sena senang.


Jangan heran ya memang Bunda Kak Windu dan Reza yang berana Ayu Ningtyas ini adalah Bunda bersama, dan rumah Kak Windu ini adalah basecamp kedua anak labirin makanya merreka sangat dekat dengan orang tuanya Kak Windu termasuk Sena yang sering di ajak main kesini.


“Besok kalau aku ulang tahun masakin aku juga dong Bun, masa Mas Brian doang kan aku juga mau.” Pinta Sena.


“Iya kalu kamu ulang tahun nanti Bunda bikini kue.” Ucap Bunda.


“Jangan kue, buatin aku nasi kuning aja lebih kenyang dari pada kue.” Pinta Sena lagi yang langsung mendapatkan toyoran di kepalanya.


“Jangan minta aneh-aneh, ngerepotin Bunda aja kamu bisanya.” Ucap Bang Satya yang membuat Sena terkejut.


Sena menjauh pergi dari abangnya itu karena kesal sebenarnya bukan kesal karena tadi tetapi karena Kak Sian.


“Nih Mas, hadiah ulang tahun dari aku sama Reza.” Ucap Sena sambil memerikan plastik yang ada di tangannya di ikuti oleh Reza.


Sena yang melihat itu langsung bergidik geli dan bersembunyi di balik punggung milik Kak Windu, ‘Harum banget gila, nih Kak Windu mandi pake kembang tujuh rupa apa ya?’ tanya Sena dalam hati.


“Jangan modus kau bocil.” Kata Mas Dimas sambil menarik tas sekolah Sena agar menjauh dari Kak Windu.


Sena melototi Mas Dimas dengan tajam karena mengganggu rencana modus Sena.


Tiba-tiba handphone Sena berdering, saat dia melihat siapa yang menelponnya dia keget setengah mati, dia buru-buru menolak panggilan tersebut.


“Kok di tolak dek? Siapa hayoooo? Pacar kamu ya?” Tanya Bang Jeffry bertubi-tubi  yang membuat semua orang-orang menatap Sena curiga.


“Sat adek lu udah punya pacar, masa ada yang telpon langsung kaget dimatiin.” Kata Mas Brian memberikan berita palsu.


“Kemarin Juga gue liat Sena makan bareng cowok pasti pacar kamu ya?” Tanya Mas Dimas memanas-manasi Bang Satya.


Bang Satya yang mendengar itu langsung menatap Sena tajam.


“Ini kenapa mulutnya pada nggak bisa di jaga ya, ember banget dah” Ucap Sena kesal.


Sena yang kesal karena di pojokan akhirnya kabur ke kamar Reza sepertinya itu tempat teraman sekarang.


Handphone Sena berdering kembali, “Ngapain sih ni orang.” Ucap Sena kesal.


“Halo, ngapain nelpon kak?” Tanyaa Sena to the point.


“Dimana?” Tanya Kak Sian.


“Di kamar Reza.” Ucap Sena asal.


“Oh mainnya ke kamar ya.” Cibir Kak Sian yang membuat Sena tersenyum.


“Kenapa? Cemburu?” Tanyaa Sena menggoda Sian.


“Nggak.” Jawab singkat dari Kak Sian setelah itu dia mematikan telponnya.


Sena menatap handphonenya dengan tatapan penuh selidik, “Jangan bilang cemburu beneran nih orang.” Ucap Sena.


Tak lama setelah Kak Sian mematikan telponnya ada pesan masuk.


Pensonal Chat – Kak Sian.


Kak Sian :


Dimana rumah Reza?


Sena yang membaca itupun langsung kaget.


Sena :


Kanapa nanya-nanya?


Kak Sian :


Cepet jawab!


Sena :


Nggak mau ah, lagian mau ngapain juga sih Kak?


nggak usah aneh-aneh deh.


Setalah membalas itu Sena langsung mematikan handphonenya, “Aneh banget sih Kak Sian, pantes aja Kak Kinan nggak mau.” Ucap Sena pelan.


‘Ntar dulu dia lagi nggak cemburu sama Reza kan? Gimana kalau Kak Sian beneran udah baper sama gue?’ tanya Sena dalam hati.


Sena mengacak-acak rambutnya frustasi tapi tidak lama setelah itu dia tersenyum, ntah kenapa ada perasaan senang saat  dia tahu Kak Sian cemburu kepada Reza.


To Be Continue..