Teenteens

Teenteens
12. Chat Baru



Setelah diantar Bima, tanpa basa-basi Flora langsung masuk ke rumahnya, mencuci tangan dan kakinya lalu langsung memasuki kamarnya.


Hari ini terasa sangat melelahkan untuk Flora karena terhitung sejak liburan baru ini tubuhnya dipacu oleh segala kegiatan yang sangat melelahkan. Flora memutuskan untuk segera mandi dan menyegarkan tubuhnya kembali.


Setelah selesai mandi, Flora segera turun untuk menemui keluarganya yang sedang menonton TV. Ada papanya, dan adiknya.


"Pah, Mamah mana?" Tanya Flora.


"Mamah di dapur tuh masak, coba kamu bantuin Kevin udah laper tuh." Ucap papahnya menggoda Kevin adik Flora.


"Ih...kok Kevin sih pah? Papah yang dari tadi perutnya bunyi Krrruuukkk gituu kak!" Cerita Kevin.


Flora hanya tersenyum dan berlalu dari kedua pria yang menjadi keluarganya itu. Saat melihat dapur, Flora mendapati Mamanya yang sedang memasak. Keluarga Flora bukan keluarga yang mau menyewa pembantu untuk mengurusi rumah mereka, bukan papahnya tidak mau mencarikan pembantu.. namun mamahnya sendiri yang menolak dengan alasan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Dan juga, itu untuk melatih Flora menjadi istri yang baik. Flora yang terhitung gadis pemalas sebenarnya kerap dimarah karena tidak membantu mamahnya membereskan rumah.


"Mamah masak apa?" Tanya Flora.


"Aah mamah masak sayur kesukaan Kevin dan kamu.. Sup dengan bakso." Ucap Mamah Flora.


"Waah seru dong.." Ucap Flora.


"Gimana sekolah hari pertama nya?" Tanya Mamah Flora.


Senyum yang tadinya terukir perlahan luntur. teringat saat-saat SMPnya yang sangat tidak ingin bersekolah di SMA Darma Bhakti yang sekarang dia tempati.


"Mah, Flora baik baik aja kok sekolahnya seru. Semoga aja Flora betah." Jelas Flora.


"Mamah tadi lihat kamu dianterin cowok ganteng.. hmm siapa??" Tanya Mamah Flora.


"Bukan siapa-siapa mah.. dia cuma temen Flora kok.." Ucap Flora menjelaskan.


"Flora.. mungkin rezekinya kamu disini.. Mamah sama Papah cuma belum siap melepas kamu untuk sekolah jauh." Ucap Mamah Flora. Flora terlalu malas untuk membahas keinginannya yang tidak sempat terpenuhi untuk mencoba mandiri ke luar daerah, Papahnya meminta untuk dia tetap dekat bersama keluarganya, dan Flora mencoba belajar untuk mengambil hikmah di setiap hal yang menimpa dirinya.


Kegiatan masak memasak ibu dan anak itu akhirnya selesai dengan sempurna mereka Kevin dan Flora benar-benar menyukai sup dengan bakso dan jagung yang ada didalamnya.


"Wali kelas lu siapa vin?" Tanya Flora ke adiknya.


"Ooh.. itu Pak Anton." Jawab Kevin.


Kevin memiliki selisih 2 tahun setelah kelahiran Flora kedunia, mereka tumbuh dengan banyak kasih sayang dari orang tua dan hidup seperti kebanyakan siblings diluar sana. Tidak pernah akur, selalu berkelahi, sebagai perempuan gengsi tinggi Flora tidak pernah mau mengalah, Kevin yang padahal tubuhnya lebih besar dari Flora justru malah dia yang sangat takut kepada kakakknya itu.


Pernah Kevin mendapat pilihan, 'lebih galak mana antara Flora dengan Mamahnya**?' Dan jelas Kevin memilih Flora.


Setelah Flora selesai makan, Flora beranjak masuk ke kamarnya. Hanya begitulah kegiatan Flora, bangun tidur, sekolah, pulang, makan, masuk kamar lagi, dan selanjutnya adalah kembali ke siklus awal. Jika di rumah, Flora lebih suka diam karena tidak ada hal yang harus dibicarakan di Rumah.


Saat hendak menutup pintu Flora mendengar handphone nya berdenting tanda ada pesan yang masuk ke batang elektronik milik nya itu.


Ting!


Flora terheran, siapa yang rela meluangkan waktu untuk menghubunginya? Flora memang termasuk gadis yang sangat tidak bisa lepas dari handphone, tapi dia hanya menggunakan Handphone nya untuk belajar, Membaca di Noveltoon dan Mangatoon, lalu menonton drama-drama Korea dan China yang dia gemari.


Flora melangkahkan kakinya mengambil handphonenya dan melihat uname yang tertera disana.


Bima:


"Floraa??"


Flora:


"Ya?"


Bima:


"Addback bisa?"


Flora:


"Udah."


Bima:


"Besok gue susul, boleh?"


Flora:


"Gue nanti ngerepotin lu nggak?"


Bima:


"Nggak dong."


Flora:


"Okay"


Bima tidak membalas pesan Flora lagi. Kalian tidak pernah mendengarnya? Oke, Hm, Iya, dan Wkwk adalah akhir dari segalanya. Telak, Bima kehabisan topik untuk dibicarakan.


Bima:


"Flo.."


Chat Bima lagi. Padahal Flora hampir saja menonaktifkan handphonenya.


Flora:


"Apa?"


Bima:


"Sana izin ke orang tua lu.."


Flora:


"Buat apa?"


Bima:


"Ngedate sama gue sepulang sekolah."


Flora mengangkat alisnya saat membaca pesan tersebut.


Flora:


Bima:


"Belum sih, tapi gue maksa."


Flora:


"Lu yang teraktir lagi, gimana?"


Bima:


"Siap tuan putri."


Flora:


"Okay, nanti gue pikirin lagi. Tapi.. mungkin gue nggak bisa besok."


Bima:


"Whenever you ready, just call me.."


Flora:


"Okay."


Flora meletakkan ponselnya dan mulai membuka buku bukunya. Apalagi jika bukan belajar? Flora harus membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dia bisa sukses di sekolah pilihan kedua orang tuanya.


Dering ponsel kembali terdengar di telinga. Flora memutar bola mata dan kembali meraih ponselnya. Melihat bahwa nama Bima yang tertera disana.


"Lu nggak ada kerjaan apa?" Tanya Flora langsung.


"Halo.. Floranya ada?" Ucap Bima di seberang sana dengan kekehan di akhirnya.


"Nggak ada!" Sahutnya ketus.


"Buset, lu galak banget dah.. gue ikat leher lu nanti gue ikat talinya di pohon mangga depan rumah gue." Ujar Bima.


"Sembarangan! Lu kira gue guguk peliharaan apa?" Ucap Flora.


"Hmm.. lu yang bilang ya.. hahaha. Eh btw gue gangguin lu nggak?" Tanya Bima.


"Oh, Tentu.. itu sudah jelas." Jawab Flora dengan kekehan.


"Hehh.. lu ketawa? hahaha sayang banget gue gak bisa lihat sipitnya mata lu pas ketawa." Ujar Bima.


Begitu menyadari, Flora langsung mengurungkan niatnya untuk tertawa, Flora aku-akui Bima lucu, tapi jika boleh diakui juga, Flora sedikit risih dengan Bima dan cara pendekatan nya.


"Besok gue susul ya?" Ucap Bima.


"Lain kali ya, gue biasa berangkat bareng adek gue dan Papah. Gue juga males naik motor." Jawab Flora dengan sedikit nada sindiran.


"Woooww... kok jleb ya:)" Kata Bima.


"Bercanda." Ucap Flora singkat.


"Lu dingin gini kalo nge jokes kayaknya gak cocok deh.." Ujar Bima.


"Nggak ada yang bilang gue dingin.. itu cuma spekulasi lu doang." Ucap Flora.


"Nanti gue telfon lagi ya, gue mau ngerjain something" Pamit Bima.


"Oh akhirnya. Okay, semoga selesai dengan lama ya urusan anda." Ucap Flora.


"Kalau lu begini, gue bakal sering gangguin lu Flo.." Ancam Bima.


Flora langsung mematikan ponselnya dan kembali kepada tumpukan buku diatas mejanya.


"Heran, kurang jelas apa gue nggak suka sama dia.. masa gue kudu nggak sopan sama kakak kelas." Monolog Flora sambil menatap ponselnya.


Ting!


Pesan kembali masuk ke ponsel Flora. Dia mulai jengah dengan pesan yang masuk. Dia yakin orang itu adalah Bima.


Unknown:


"Hello-?"


Flora:


"Siapa?"


Unknown:


"Jauhi Bima!! Bocah genit!"


"Idih, ambil aja sono.. ikhlas gue." Monolognya.


"Waait.. wait... bagaimana jika kita sedikit bermain? Hmm lama gue nggak adu ilmu bicara gue." Lanjut Flora dengan smirknya.


Flora:


"Gak mau tuh?"


Unknown:


"Lu bakal dapat akibatnya!!"


Flora:


"Yeeyyy!!! Asiikk -.-*"


"Just see.. siapa yang gue lawan kali ini?" Gumam Flora.


Flora yang lebih banyak diam dan bicara tepat pada poinnya juga sebenarnya menyukai keributan. Tidak, bukan keributan yang menggunakan tangan dan kekerasan fisik lainnya. Flora lebih suka menyerang melalui mental. Terdengar lebih seram memang, tapi Flora masih cukup berotak untuk menentukan sampai mana korbannya selesai dia balas.


To Be Continue..