Teenteens

Teenteens
24. Rumah Bima



"Flora.. makasih." Ucap Bima tiba-tiba.


"Untuk apa?" Tanya Flora


"Untuk Penny, untuk lu yang ngobatin luka gue, mau kesini untuk nonton gue, mau lari-lari cuma untuk beliin gue minum." Ucap Bima.


"Gue ngelakuin itu semua cuma karena lu temen gue, lu yang bilang kalau kita temen." Jawab Flora yang sedikit membuat Bima murung.


Situasi stadion saat ini sudah mulai sepi, hanya tinggal mereka berdua dan beberapa staff kebersihan.


"Gue.. cuma temen?" Tanya Bima yang tidak dijawan oleh Flora.


Bima menggandeng tangan Flora menuju ke motornya, tidak ada penolakan dari Flora, Flora hanya mengikuti Bima saja.


"Kerumah gue yuk?" Ajak Bima.


Flora menyilangkan tangannya di depan dadanya dan menatap Bima penuh selidik.


"Lu mikir apaan hey? Di rumah ada Bunda gue." Ucap Bima sambil menyentil dahi Flora.


Mereka memasangkan helm dan langsung naik ke kuda bermesin milik Bima, tanpa aba-aba dari Bima seperti biasanya, Flora langsung memeluk pinggang Bima.


Bima membuka matanya lebar tanda terkejut dengan tindakan Flora dan langsung menyunggingkan senyumannya. Bima menoleh ke belakang sekedar untuk memastikan bahwa yang ada di belakangnya adalah Flora, bukan Penny.


"Tunggu apa?" Tanya Flora.


"Eh, Nggak." Ucap Bima.


Bima melajukan motornya langsung menuju ke rumahnya. Bima menjalankan motornya dengan pelan dan hati-hati, tidak rela jika momen berharga ini cepat berlalu.


"Mau makan siang dulu?" Tanya Bima.


"Bakso aja deh, Bim." Ucap Flora. Bima menganggukkan kepalanya.


Kruuukkk!!


"Pft.. hahahahaha!" Tawa Flora.


"Eh ketawa, gue juga laper tau." Ucap Bima.


"Yaudah-yaudah, itu ada tukang bakso berhenti aja." Jawab Flora.


Mereka berhenti di kedai bakso sederhana bertuliskan 'Bakso Mas Aan.' Bima mencari tempat duduk sementara Flora memesan makanan.


"Mas, Bakso dua ya." Ucap Flora yang seperti biasa, belum dibalas oleh mas bakso sudah ditinggal oleh Flora dan duduk di samping Bima.


"Flo, kenapa lu cuek banget sih?" Tanya Bima.


"Yang mikir gue cuek kan kalian, gue nggak pernah merasa gue cuek, gue cuma ngomong apa yang perlu gue omongin." Jelas Flora.


"Basa-basi kek."


"Ya gue nggak bisa." Jawab Flora.


"Baksonya mba." Ucap si mas tukang bakso.


"Makasih mas." Ucap Bima sementara Flora hanya diam.


"Flo, basa-basi kek makasih mas gitu." Bisik Bima pada Flora.


"Lah kan udah sama lu?" Ucap Flora yang dibenarkan oleh Bima, daripada masalah diperpanjang.


Flora menuangkan banyak saos dan sambal diimbangi dengan kecap dan tambahan beberapa garam, hal itu membuat Bima terpukau. Namanya saja sudah suka apa saja yang Flora lakukan itu hebat dimata Bima.


"Lu pakar bakso ya??" Tanya Bima.


"Mau gue racikin??" Tawar Flora.


"Nggak, gue suka begini aja." Jawab Bima.


Mereka makan bakso dengan khidmat, tidak disangka warung itu mempunyai bakso kualitas yang sangat bagus. Ini adalah Bakso terenak yang mereka makan. Mereka bahkan berdiskusi untuk menjadi langganan di tempat ini.


"Enak ya??" Tanya Bima.


"Uhm.. Enak." Ucap Flora.


Bima memesan es jeruk untuk minum. Menit-menit makan bakso mereka diiringi tawa dan cerita-cerita dari Bima lalu dibalas dengan kekehan kecil Flora.


"Lu sebenarnya cantik Flo." Ucap Bima.


"Memang." Jawab Flora.


Bima terkekeh melihat gaya bicara Flora dan memcari alasan kenapa dia sangat menyukai adik kelasnya ini? Padahal banyak perempuan cantik yang ada di angkatannya. Tanpa sadar Bima mengusap kepala Flora dan menyelipkan rambut tipis yang menutupi rambutnya. Jika biasanya Flora merasa cringe, tidak kali ini. Walaupun dia tidak tersenyum, setidaknya Flora menerima perlakuan itu.


"Udah? Yuk." Ucap Flora yang langsung berdiri dan membayar semuanya.


"Hitung-hitung balasan dari gue karena lu udah bayarin gue dan Sena." Balas Flora.


Setelah membayar, mereka kembali melanjutkam perjalanan mereka dengan senyum karena perut kenyang.


"Timezone yuk?" Ajak Bima.


"Nggak usah aneh aneh deh, bibir lu bonyok gitu." Ucap Flora membungkam Bima.


"Kita beli chicken aja." Lanjut Flora.


Bima memberhentikan motornya dan masuk dengan menggandeng tangan Flora lagi, tidak ada penolakan dari Flora, namun Flora mulai sedikit risih dengan afeksi yang diberikan Bima kepada Flora.


"Mau beli apa?" Tanya Bima.


"Hmmm big box chicken." Jawab Flora.


"Lu bukan Sena kan?" Tanya Bima dengan memegang kedua bahu Flora.


"Ya ampun, kalau gue Sena, gue pesennya big box chicken dua, big box chicken spicy chicken wings 3." Jawab Flora lagi.


Setelah mereka mendapatkan yang mereka inginkan mereka kembali ke motor mereka.


"Sumpah Bim, kenapa lu harus punya motor gede sih? Nggak bisa gue cantelin nih." Ucap Flora.


Bima mengambil chicken yang ada di tangan Flora dan meletakkan di tangki motornya. "Nggak usah khawatir.. nggak akan jatuh." Ucap Bima.


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan mereka ke destinasi terakhir yaitu rumah Bima.


Flora memgamati rumah Bima, halamannya rapi, banyak bunga-bunga yang berwarna-warni, dan rumput yang hijau tidak ada noda kotoran ayam sedikit pun.


"Halamannya bagus." Gumam Flora.


"Bunda gue kalo gabut emang berfaedah." Kekeh Bima.


"Bundaa!!" Teriak Bima yang membuat Flora kaget.


"Ya ampun!" Ucap Flora terkejut.


Flora melihat wanita anggun keluar dari pintu dihadapannya, sosok yang terlihat seperti benar-benar seorang ibu yang baik.


"Eh.. adek bawa siapa?" Tanya Bunda Bima.


Flora tersedak air liurnya sendiri mendengar kalimat Bunda Bima tersebut.


"Uhukk uhukk!!" Batuk Flora.


Bima terkekeh dan menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal secara canggung.


"Ini Flora, adik kelas adek." Ujar Bima mengenalkan Flora.


"Flora tante." Ucap Flora dengan senyum sambil menyalimi tangan Bunda Bima.


"Ya ampun.. cantik ya, ayo ayo masuk." Ajak Bunda Bima.


"Kebetulan, bunda masak enak, bunda masak orek tempe kesukaan Bima." Ujar Bunda Bima dengan senyuman manis.


"Waah saayaangg Bunda." Ucap Bima dengan mengecup pipi Bundanya.


Flora hanya tersenyum melihat interaksi ibu dan anak tersebut. "Ayo Flora juga makan." Ajak Bunda Bima kepada Flora.


"F-flora sudah makan, Bun." Ucap Flora dengan tidak enak menolak ajakan Bunda.


"Eeh nggak papaa biar kamu gendut, badan kamu kurus gitu." Ajak Bunda menggandeng tangan Flora.


Akhirnya mereka berdua kembali makan siang, Flora yang paling sedikit porsinya karena dia sudah kenyang dengan semangkuk bakso.


"Flora kelas berapa?" Tanya Bunda Bima


"Kelas sepuluh tante." Jawab Flora.


"Ooh jadi baru kenal ya sama Bima." Ujar Bunda Bima.


"Ooh, jadi adek suka sama Flora." Ucap Bunda Bima tepat sasaran.


"Gue ada di keluarga peramal kayaknya." Batin Flora.


"Bunda, Bima aja belum bilang kok!!" Keluh Bima kepada bundanya.


Kedua wanita tersebut hanya terkekeh karena tingkah lucu Bima, ternyata Bima termasuk orang yang manja kepada ibunya.


Setelah selesai makan, Flora yang sangat kenyang diajak oleh Bima untuk bermain konsol game di kamarnya sambil memakan chicken sedikit demi sedikit. Mereka- tidak-tidak, Bima menikmati Flora yang merasa senang dengan konsol game yang ada di kamarnya.


To Be Continue..