Teenteens

Teenteens
28. Sunset And Star



“Eh Eh! Tuh-tuh liat! Si Penny sama antek-anteknya lagi di seret sama Pak Manto!” Geger Dessy si ratu gosip di pagi hari.


"Yaaah!! Kita kalah cepet!!" Keluh Dinda.


"Udah-udah, sudah bagus malah kalian nggak dosa."Ucap Aji yang sedang bijak.


"Penny juga pasti bakal dihukum, kita seharusnya seneng. Biar Pak Manto yang bertindak." Ucap Jeno melanjutkan.


Sena dan Flora saling menatap, bagaimana mungkin bisa tertangkap? Di bagian gudang tidak ada CCTV dan orang yang mengetahui hanya Flora, Sena, Penny, kawan-kawan Penny dan...


“Bima.” Ucap Sena dan Flora bersamaan.


“Untuk siswi yang bernama Flora Orlin kelas X IPA 1 diharapkan segera ke BK sekarang!” Ucap Pak Manto dari speaker sekolah.


“Ayo Sen!” Ajak Flora.


“Ah mager gue, kan yang dipanggil lu, Bung.” Ucap Sena. Flora langsung menarik tangan Sena kuat sampai Sena akhirnya ikut bersama Flora ke ruang BK.


“Aduh duh, Bunga sakit!” Keluh Sena.


Mereka berlarian di sepanjang jalan sekolah menuju ruang BK yang sungguh sangat jauh dan harus menyebrangi lapangan dengan tatapan banyak kakak kelas di lantai dua yang melirik kearah Sena dan Flora sambil membisik-bisikkan banyak rumor yang beredar dengan cepat dalam semalam entah bagaimana bisa.


Mereka pun sampai di depan pintu ruangan BK dan disana sudah ada Pak Manto, Penny, kedua teman Penny, dan siapa lagi kalau bukan malaikat penjaga Flora, Bima. Sena dan Flora dengan nafas tersenggal-senggal akibat berlari pun melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Saya mau dengar kesaksian dari Bima dulu, silahkan Bima.” Ucap Pak Manto mempersilahan Bima menjelaskan.


“Jadi begini pak, saya memang dekat dengan Flora karena kami adalah teman, namun karena beberapa hal yang saya tidak tahu, Penny tidak menyukai hal itu dan beberapa kali bertindak tidak sopan terhadap Flora, bukan hanya sekali hal ini terjadi pak, saya selalu diam karena saya pikir ini masih bisa kami tangani, namun tingkahnya kemarin sudah terlewat batas.” Jelas Bima.


“Kak Bima! Kok kakak malah belain dia sih?” Keluh Penny yang langsung diberikan tatapan oleh sejumlah orang di dalam sana.


“Penny, bapak belum mengizinkan kamu untuk berbicara.” Tegur Pak Manto dengan tegas.


“Ada lagi Bima?” Tanya Pak Manto.


“Tidak, Pak.” Ucap Bima.


“Penny, kamu ingin menyampaikan sesuatu?” Ucap Pak Manto.


“Pak, saya nggak mungkin seperti itu.” Rengek Penny dengan gayanya yang dibuat-buat.


“Drama banget lu!” Sungut Sena marah.


“Pak, saya itu bukan pelaku satu-satunya disini, Flora juga pernah memalukan saya di pertandingan basket minggu lalu, kenapa dia juga nggak dihukum pak?” Ujar Penny.


“Apakah benar itu Flora?” Tanya Pak Manto.


“Itu benar pak. Jika bapak mendengar hal itu hanya sepotong memang benar dan yang salah itu juga saya, tapi jika bapak mengetahui bagaimana kisah awalnya, mungkin bapak bisa mengambil keputusan. Saya memang dekat dengan Kak Bima tapi hanya teman, saya tidak pernah mengenal Penny, saya tidak pernah tau siapa mereka bertiga ini, yang jelas dia pernah meneror saya di chatting, lalu tidak lama setelah itu dia melakukan hal yang tidak sopan kepada saya di kantin, tidak lama dari itu dia masih saja mengganggu saya dan Bima, karena itu saya hanya memberikan peringatan kepadanya pak.” Jelas Flora panjang lebar, hal ini membuat Bima dan Sena membuka mulutnya merasa kalau Flora tengah dirasuki, karena ini momen perdana Flora berbicara sangat panjang.


“Setelah kejadian itu, barulah Penny melakukan kejahatannya, Pak.” Lanjut Bima.


“Penny, menurut peraturan sekolah, kamu harus dihukum, kamu akan mendapatkan poin yang sangat besar, dan skorsing selama satu minggu penuh, dan jika kamu melakukan hal kenakalan lagi, maka kami pihak sekolah tidak segan-segan akan mengeluarkan kamu dari sekolah ini!” Ucap Pak Manto.


Terdengar helaan nafas lega dari Flora, Sena, dan Bima. Akhirnya pengganggu ini sudah lenyap dan semoga tidak ada kejahatan lagi yang dia ciptakan.


“Kalian boleh keluar.” Ucap Pak Manto.


Flora, Sena, dan Bima keluar dari ruangan Bk, sementaa ketiga penjahat kecil itu masih harus mengurus beberapa hal serius dengan Pak Manto.


“Sena, makasih ya, kalau nggak ada lu mungkin Bima nggak akan nolongin gue.” Ucap Flora kepada Sena.


“Eheem... secara, lu kan temen baik gue, gue harus bantuin lu, tapi bung lu tau kan ini nggak gratis?” Ucap Sena.


“Mie ayam?” Ujar Flora berniat mentraktir Sena.


“Wah waah, apa ini? Lu seharusnya makasih sama gue juga udah laporin itu cabe ke Pak Manto.” Keluh Bima kepada Flora.


“Makasih.” Ucap Flora singkat.


“Yeee tadi aja, ngomong panjang lebar sampai gue dan Sena kaget lu kesurupan apaan.” Ujar Bima dengan melipat tangannya di depan dadanya.


Aneh memang, Sena mendapatkan sesuatu karena tindakkannya, justru Bima malah senang direpotkan oleh Flora. Memang, kalau remaja sudah menyukai itu sulit ditebak.


Mereka pun melanjutkan sisa-sisa jam pelajaran untuk segera pulang dan mengistirahatkan tubuh mereka. Flora pun mengalami hal yang sama, dia ingin segera mengeramasi kepalanya karena jujur, kepalanya terasa sangat pusing.


“Flora, ada yang cari tuh, kayaknya nungguin kamu pulang.” Ucap Jeno. Flora segera mengemasi barang-barangnya lalu pergi beranjak keluar kelas.


“Nunggu lama?” Tanya Flora.


“Nggak kok, ayo pulang.” Ajakan Bima pun diangguki oleh Flora, mereka berjalan menuju parkiran dan mulai memasuki mobil.


“Ikut gue yuk?” Tawar Bima.


“Kemana? Gue mau mandi tau udah pusing gue.” Ujar Flora memijat pelipisnya.


“Udah ikut aja.” Bima pun membawa Flora entah kemana.


Mereka sampai di sebuah tempat yang sejuk, Bukit kecil, lapangan basket mini, dan rumah pohon yang cukup unik.


“Punya lu?” Tanya Flora.


“Punya keluarga gue. Waktu gue kecil gue sering kesini Cuma buat liat sunset.” Jawab Bima.


Flora pun melirik arah matahari terbenam, terlihat jingga yang sangat indah berada di sebelah barat, Flora tersenyum melihatnya. “Bagus.” Gumam Flora.


“Flo, gue suka sama lu.” Ucap Bima secara tiba-tiba dan hal itu membuat Flora menoleh menatap wajah Bima.


“Gue tau, lu tau tentang ini. Gue juga tau kalau lu paham apa maksud gue.”


“Bim.” Panggil Flora.


“Gue paham, tapi gue butuh waktu untuk yakin, karena gue males buat sakit.” Jawab Flora dengan menatap senja.


Bima mengusap kepala Flora perlahan, dan turut menatap senja yang perlahan menghilang.


“Gue nggak pernah maksa lu Flo. Kapanpun.” Ucap Bima.


“Senjanya bagus ya.” Ucap Flora mengalihkan pembicaraan.


“Mau foto?” Tawar Bima yang mengeluarkan ponselnya.


Flora mengambil ponsel Bima dan mengambil beberapa selfie berdua dan selfie dirinya sendiri.


“Main basket yuk?” Ajak Bima yang diangguki oleh Flora.


Mereka bermain dengan kesenangan di sore itu, Flora yang jauh lebih pendek pun kesusahan untuk mencetak poin dan mengalahkan Bima.


“Hahahaha! Makanya tumbuh itu ke atas.” Ejek Bima.


“Kurang ajar lu!” Keluh Flora dan langsung mengejar Bima.


Mereka terus bermain sampai Flora merasa lelah, hari sudah mulai gelap, malam itu di temani banyak bintang-bintang kecil yang gemerlap. Bima menyalakan lampu-lampu kecil yang ada di sekeliling lapangan basket. Bima melihat Flora yang kelelahan dan menidurkan diri untuk menatap banyak bintang.


“Bim.” Panggil Flora.


“Hm?”


“Bintangnya bagus juga, malam ini cerah yah?”


“Karena ada lu disamping gue, makanya cerah.”


“Hooeekkk! Cringe uh!” Ujar Flora dengan aktingnya yang seperti ingin muntah.


“Haahh yang penting gue udah ngomong kalau gue suka sama lu. Gue udah lega, nggak ada yang ngeganjel lagi di hati gue.”


To Be Continue