
“Ayo, Flo! Kita ke kantin, kan kita udah lama banget nggak ke kantin.” Ucap Bila membujuk Flora.
“Ajak Sena tuh, biasanya dia nggak bakal nolak kan?” Jawab Flora yang masih berfokus di handponenya.
Bila menghela nafasnya dan melirik ke teman-temannya. Bila menatap teman-temannya penuh harap.
“Flo, gue laper banget nih. Ayolah! Gue lupa bawa duit, nanti kalau gue bawa, gue ganti 2x lipat duit lu gimana?” Ucap Dinda menegosiasi Flora.
Flora bukan gadis bodoh yang tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang mereka rencanakan, jika ini hari biasa maka seharusnya Sena lah yang merengek seperti itu kepadanya, bukannya malah dia berpura-pura main game bersama Reza dan yang lainnya.
Flora menghela nafasnya dan memutuskan untuk menuruti kawan-kawan kelasnya. “Ayolah Flo! Udah seminggu lu nggak keluar kelas, keluar kelas cuma ke Wc doang, itu pun Wc yang di sebelah kelas. Pantat lu nggak panas mengeram di kelas aja?” Ucap Bila dengan rengekan.
“Oke.” Gumam Flora lalu berdiri dan membawa buku kecil tentang kimia.
Bila mengedipkan sebelah matanya ke Sena. Sena yang menangkap hal itu pun segera menelfon seseorang.
“Agen 1 kepada patrick, agen 1 kepada patrick, ganti.”
“Lu apaan si? Bocah beut dah, buruan!” Ucap seseorang.
“Flora ke kantin sama Bila dan Dinda. Mulai prosesnya.”
Sambungan telfon pun dimatikan, Sena membuntuti Bila, Dinda, dan Flora diam-diam dari belakang hingga sampai di kantin. Seperti yang mereka rencanakan, hari ini adalah hari pertama Penny masuk sekolah setelah masa skorsing, dan bingo! Keberuntungan memihak kepada mereka, Penny dan kedua temannya itu sedang tertawa terbahak-bahak.
“Cih! Bukannya mikir salah lu apa kek, malah ketawa ngakak gitu.” Gumam Sena yang sembunyi dibawah meja ibu kantin.
“Mau beli apa neng?” Tanya ibu kantin.
“Sttt saya nggak beli dulu deh bu, tapi besok saya bakal borong, asalkan ibu kasih diskon. Btw, Ibu punya popcorn?” Tanya
Sena.
“Pop apaan neng?” Tanya Ibu kantin yang membuat Sena menghela nafas.
Kembali ke Bila, Dinda, dan Flora. Mereka sedang mencari-cari bangku yang tepat dan strategis untuk Flora duduk. Kebetulan disana ada tempat duduk kosong yang berada di depan Penny dan kawan-kawannya, Flora dan Dinda pun segera menggandeng tangan Flora dan dudu di tempat tersebut.
“Haaiii!! Eh Flora juga disini?” Tanya Dessy yang tiba-tiba datang membawa napan berisikan makanan.
“Kebetulan banget gue bawa roti isi keju kesukaan lu.” Ucap Dessy yang langsung memberikan roti tersebut untuk Flora.
“Hahahaha!” Tawa seseorang yang sangat Flora hindari. Flora memalingkan wajahnya dan menahan air yang mendesak untuk keluar.
“Eh! Ada Neng Penny.” Ucap Sian dengan nada yang menggoda.
“Cantik, abang boleh gabung nggak nih?” Ujar Juna dengan jurus andalannya.
“Masih ada yang kosong, kami boleh gabung dong?” Tanya Bima dengan senyum manisnya.
“Kak Bima?! Boleh dong kak, sini-sini duduk di samping Penny.” Ucap Penny yang mendatangi Bima, memeluk lengannya dan menggandengnya duduk.
Dessy, Bila, dan Dinda yang melihat itupun hanya melakukan gestur muntah. Berbeda dengan Flora yang masih memalingkan wajahnya, mencoba untuk tida peduli apa yang terjadi selama minggu ini dia mengurung diri di kelasnya.
“Kak, Penny nggak nyangka Kakak mau duduk sama Penny.” Ucap Penny dengan senyum malu yang palsu. Bima hanya tersenyum dan membalas dengan senyuman. Kawan-kawan Flora yang melihat itu pun segera melaksanakan aksinya.
“Flo, lu tau nggak sih? Ada angkatan kita yang tidur sama cowok! Om-om gitu!! Ih kalo gue sih ogah banget ya.” Ucap Bila yang suaranya dibesar-besarkan.
“Lebih parahnya lagi Bil, dia ngedit muka cowok om-om itu jadi mukanya kakak kelas kita!!” Histeris Dessy yang memperkeruh keadaan.
“T-tunggu, maksud kalian—”
Brak!!
“Maksud kalian apa?!” Amuk Penny yang berada di belakang Flora dan menggebrak meja dengan kuat.
“Ups! Kayaknya yang kita omongin tadi nggak ada urusannya ya sama pentol korek ini.” Ucap Dinda yang mulai berdiri dan maju ke hadapan Flora.
“Kita ngomongin sekolah sebelah, iya nggak Bil?” Ujar Dessy menyindir Penny dengan keras.
“Iya, tentu Des, tapi kalau lu merasa.... i don’t know.” Ucap Bila dengan memainkan rambutnya dengan jari telunjuknya.
“Aduuhh.. Lu tu bandel banget yaa, Ikut gue!!” Teriak Sena yang kesusahan menyeret seorang laki-laki.
“JUNAA!! Bantuin kek!” Teriak Sena yang meminta pertolongan.
Juna yang merasa malu namanya diteriaki menutup wajahnya dan mendatangi Sena, dia merangkul bahu Rafael secara paksa dan menyeretnya ke hadapan Flora.
“Ada apa Sen?” Tanya Flora singkat.
“Heh! Jawab! Tuh ditanya sama Flora!” Ucap Sena yang memukul bahu Rafael cukup kuat.
“M-maaf g-gue yang ngedit, f-foto itu.” Ucap Rafael tergagap dihadapan Flora.
“Heh! Lu jangan sok kenal sama gue! Kita nggak saling kenal ya!!” Ucap Penny yang hendak pergi, kabur meninggalkan kantin.
“Mau kemana nak?” Ucap Pak Manto yang datang dan diikuti oleh Jeno dan Aji yang sedang high five di belakang Pak Manto.
“Rafael, Penny, dan kalian berdua, ikut saya ke kantor BK.” Titah Pak Marto Final.
Flora terduduk, otaknya dengan cepat merespon apa yang terjadi disini. Flora menatap teman-temannya yang sedang tersenyum menang, lalu memijat pelipisnya. Hal ini membuat dirinya pusing, Flora menatap Sena menuntut penjelasan.
“Eits! Jangan pelototin gue! Semua ini berkat Kak Bima sendiri.” Ucap Sena yang tersenyum senang.
Flashback On
“Gue balik duluan ya Sen, makasih udah mau nampung gue.” Ucap Flora berpamitan.
“Okay! Hati-hati ya! Begitu sampai chat gue, tuh papah lu udah nungguin lu.” Jawab Sena.
Flora pun pulang sekolah setelah menghabiskan kegalauan yang dia risaukan semalaman penuh di rumah Sena tentang Bima. Untuk ada kawan-kawan dari Satya yang menghibur Flora dengan lelucon-lelucon lucu mereka.
“Oy!” Ucap seseorang dari belakang Sena. Sena tahu persis ini adalah suara Juna.
“Ayo ikut gue.” Ucap Juna serius dan menarik tangan Sena ke rooftop sekolah, tempat Juna dan yang lainnya berkumpul.
“Sena, kami butuh bantuan lu.” Ucap Bima.
“Maksud kalian?” Tanya Sena.
“Berhari-hari gue cari tahu tentang Penny, keseharian Penny selama di skors dan akhirnya gue menemukan sesuatu.” Ucap Sian menjelaskan.
“Lu ngikutin Penny?” Tanya Sena lagi.
Terdengar helaan nafas dari Sian. “Tepatnya Gue dan Bima. Kami hanya terpikir cara itu.” Jawabnya.
“Penny ngelakuin transaksi dengan cowok yang bernama Rafael, dia kelas X IPA 4, dan keahlian editnya jangan ditanya lagi. Setelah negosiasi panjang dengan sedikit keras akhirnnya kita bisa dapetin Rafael.” Ucap Bima.
“Gila! Jadi dia yang edit foto pentol korek sama Kak Bima?” Tanya Sena lagi dan lagi.
“Yups!” Jawab Juna.
“Kebetulan temen-temen gue bersedia untuk kerja sama dengan kalian untuk bales si pentol korek.” Ucap Sena lalu mengeluarkan handphonenya untuk menginfokan hal ini di group kelas yang sudah dibuat khusus untuk membalas dendam. Tentu saja tidak ada Flora di dalamnya.
Flashback Off.
Flora terdiam, tidak tahu harus melakukan apa, terlalu malu untuk memnta maaf kepada Bima tapi dia setidaknya harus berterima kasih dengan kawan-kawannya. Mereka sudah membantunya untuk menyelesaikan kesalah pahaman ini.
“Makasih guys.” Ucap Flora yang perlahan bediri.
Bila, Dessy, Dinda, memeluk Flora seperti teletubies. Flora terkejut dan tersenyum tipis, setidaknya biarkan dia merasakan bahagia bersama teman-temannya.
“Eh! Gue ikutan!” Ucap Sena yang memeluk mereka dari sisi luar seperti koala.
“Eh gue boleh ikutan nggak?” Tanya Juna.
“NGGAK!” Ucap para gadis kompak.
Semua orang bahagia, Penny akhirnya lelah dengan semua kekalahan yang dia alami, mereka kembali ke kelas masing-masing dan melanjutkan sisa-sisa pelajaran hari ini. Flora yang biasanya memang jarang tersenyum, setidaknya tidak terlalu murung wajahnya hari ini.
“Gue rasa lu bakal balik bareng seseorang hari ini, dia ada di depan tuh.” Ucap Dessy yang tersenyum.
Flora segera membereskan barang-barangnya dan berlari keluar kelas. “Dari tadi?” Tanya Flora dengan senyum tipis.
“Nggak kok. Mau beli es krim?” Tawar Bima. Flora mengangguk dan dengan tiba-tiba Bima menggenggam tangan Flora lalu berjalan melalui banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.
Bima memasangkan helm ke kepala Flora dan mereka menaiki motor Bima yang berwarna hitam itu. Bima tersenyum saat menyadari ada sepasang tangan yang memeluk pinggangnya erat dan kepala yang bersandar di bahunya. Flora menutup matanya perlahan. Bima paham, Flora sedang meminta maaf dengan caranya sendiri. Bima pun melajukan motornya ke kedai es krim terdekat.
“Ayo turun.” Ucap Bima.
Flora pun turun dan mereka memasuki kedai Es krim yang bernuansa coklat tersebut. Mereka duduk di samping jendela kaca yang langsung menghadap ke taman kecil dengan bunga-bunga yang sangat cantik.
“Strawberry Sunday dan Choco Cheese.” Ucap Bima memesan Es Krim.
“Tau darimana lu gue suka stroberi Sunday?” Tanya Flora merapihkan rambutnya yang sedikit acak-acakan karena angin.
“Masa kesukaan pacar sendiri gue nggak tau?” Ucap Bima dengan wink andalannya.
“Memang gue terima?” Tanya Flora dengan wajah yang seolah tidak peduli dan menerima es krim yang datang lalu memkannya.
“Jadi gue ditolak?” Tanya Bima dengan mata yang melotot tidak percaya.
“Hmmm no.” Ucap Flora pelan yang hampir tidak di dengar oleh Bima.
“Hah? Apa? Gue nggak deng-” Ucapan Bima terpotong karena Flora menyuapi es krimnya kepada Bima dan tersenyum manis.
“Cuz I think I like you too.”
To Be Continue..