
“Memangnya Kak Sian suka sama Sena?” Tanya Flora yang sedang menonton Bima bermain basket di rumah pohon.
“Gue juga nggak tau, dia nggak jelas juga, setiap gue tanyain ada aja ngelesnya.” Jawab Bima yang berhasil melakukan dunk shoot.
“Gue nggak bakal diem aja kalau dia berani brengsek ke Sena.” Gumam Flora yang di dengar oleh Bima dan hal itu mampu menghentikan Bima yang sedang asyik.
Bima berjalan menghampiri Flora, dia duduk di samping Flora lalu tersenyum hingga deretan giginya nampak. Flora dengan telaten membantu mengusap keringat Bima dengan handuk. Jika seperti ini Flora terlihat seperti kekasih Bima. Maksudku, yaah kalian paham bukan?
“Lagian itu urusan mereka.” Ucap Bima setelah meminum air mineral yang sengaja mereka siapkan.
“Kita bukan teman lagi sekarang. Besok kalau berantem jangan kayak kemarin.” Ucap Flora dengan bergumam pelan.
“Iyaa iya..” Ucap Bima
Flora masih tidak bisa berhenti memikirkan Sena yang diam-diam selalu mendapat kiriman makanan dari Sian. Flora menatap Bima yang dia rasa, Bima mengetahui sesuatu.
“Lu tau sesuatu tentang Kak Sian?” Tanya Flora.
“Gue cuma tau Sian cerita, gebetannya jadian sama Juna.” Jawab Bima yang kembali berdiri untuk bermain basket lagi.
“What?” Ucap Flora terkejut.
“Lu juga tau kalau Juna memang cicak. Nempel sana, nempel sini.” Jawab Bima asal.
Flora melihat arloji di tangannya, jam sudah menandakan langit menggelap. Flora memutuskan untuk meminta Bima mengantarkan dirinya pulang.
.................
“Lama banget lu, Bim.” Ucap Sian yang sudah cukup lama duduk di sofa, dan disini adalah markas tempat Sian, Bima dan Juna berkumpul, yaitu atap rumah Sian.
“Biasa lah, kan nganterin tuan putri dulu, Ice Queen biasa.” Ejek Juna kepada Bima.
“Bercerminlah sebelum bercermin itu di larang.” Ucap Bima membalas ejekan Juna.
“Iye tau tau, gue sendiri yang kagak punya tuan putri.” Keluh Sian.
“Lah, tuh si Arsen biang kerok?” Tanya Juna.
Mendengar pertanyaan Juna, mata Sian memincing tajam merasa sedikit ganjil jika Juna yang bertanya. “Setidaknya gue nggak ngerebut gebetan orang lain.” Ucap Sian memainkan ponselnya.
“Maksud lu apa?” Tanya Juna dengan menaikkan nada bicaranya.
“Guys udah.” Lerai Bima yang menahan Juna karena laki-laki itu sudah berdiri mengepalkan tangannya.
“Apa? Emang bener kan?” Balas Sian yang mulai berdiri juga.
Bima merasa kewalahan ketika kedua sahabatnya bertengkar hanya karena perempuan. “Lu! Cuma mau jadiin Arsen pelampiasan karena Kinan lebih milih gue kan?” Ucap Juna mengangkat satu alisnya.
Buagh!
“Sian!” Panggil Bima karena Bima melihat kondisi malam ini sudah tidak seperti pada biasanya.
“Apa bucin?! Lu mau cerita keseharian lu sama batu berjalan itu?” Ucap Sian tajam.
Buagh!
“Ini nggak ada urusannya sama Flora! Jadi jaga mulut lu!” Ucap Bima etelah melayangkan tinjuannya ke Sian.
“Kalian semua itu bodoh! Lu Juna! Lu brengsek! Lu tau sahabat lu suka sama Kinan, tapi karena kebrengsekan lu! Gebetan Sian lu embat juga! Lu segitu kurang belaian ya sama satu cewek hah?” Teriak Bima didepan wajah Juna dengan mencengkram kerah baju Juna.
“Cih, Kinan yang dengan senang hati menyerahkan dirinya ke gue. Gue cuma nerima doang.” Jawab Juna dengan seringai menyebalkan di wajahnya.
“JUNA!”
Buagh!
Lagi, Sian melayangkan tinjunya yang kuat sampai Juna tersungkur di lantai. Bahkan cengkraman di kerah baju Juna oleh Bima pun terlepas. “Sian! Stop it!” Ucap Bima menahan tangan Sian yang masih saja ingin menghantam wajah Juna.
“Pergi lu!” Usir Bima kepada Juna.
“SEKARANG!” Teriak Bima yang mulai kesal karena Juna malam ini sudah sangat kelewatan. Juna segera bangun dan keluar dari tempat itu.
Sian melepaskan tangan Bima yang masih saja menahan dirinya untuk berbuat tindakan kekerasan. “Lepasin sialan!” Ucap Sian dengan menyebalkan.
“Lu nggak usah sok baik deh, gue tau lu kasian sama gue karena Kinan jadian sama Juna. Apa isi otak lu sekarang ha?! Flora Flora dan Flora! Kapan lu berfikir kita juga temen?! Seharusnya lu bersyukur gue sama si brengsek Juna masih mau bantuin lu buat nyingkirin Penny atau Flora-” Teriak Sian yang terpotong.
Buagh!
“Setidaknya gue ada usaha buat mempertahankan orang yang gue sayang. Gue bukan pengecut kayak lu yang suka sama cewek lain, dan begitu dia jadian sama sahabat kita? Kita malah deketin cewek lain. Kalau sampai lu sakitin Sena, orang-orang terdekatnya nggak akan tinggal diam.” Oceh Bima yang langsung meninggalkan tempat itu membuat Sian terduduk dan banyak berfikir.
..........
“Hei.” Ucap Bima yang menelfon seseorang.
“Apaan?” Ucap Flora di sebrang sana.
“Kangen aja.” Ucap Bima dengan kekehan di akhirya.
“Idih geli. Lu dimana?” Tanya Flora.
“Rumah, barusan pulang dari kumpul.” Jawab Bima jujur ‘kumpul beneran setidaknya.’ Lanjutnya dalam hati.
“Besok berangkat bareng ya, gue susul.” Ucap Bima.
“Pake mobil?”Tanya Flora lagi.
“Iya iya. Bawel banget.” Keluh Bima bercanda.
Sekarang Bima mengetahui kenapa Flora lebih suka menggunakan mobil, seharusnya anak rajin seperti Flora memilih menggunakan motor, namun Flora sangat tidak suka angin pagi dan malam yang menusuk kulit wajahnya jika dia melaju menggunakan, karena Flora tidak terlalu suka menggunakan masker, pengap katanya. Karena itu dia memilih untuk menggunakan mobil dan untuk mengantisipasi macet, pukul 06.30 dia sudah harus sampai di sekolah.
Flora menatap ponselnya lalu tersenyum, dia tidak pernah menyangka bisa jatuh cinta kepada laki-laki yang sangat tidak dia duga. Flora meletakkan ponselnya lalu kembali duduk di meja belajar untuk mempelajari kimia yang sangat dia sukai.
Keesokan harinya, Bima benar-benar datang ke Rumah kediaman keluarga Flora sangat pagi. Untungnya keluarga Flora adalah keluarga yang rajin, rumah itu akan kembali ramai saat jam 5 pagi. Bima yang terlalu pagi datang pun akhirnya harus sarapan bersama dengan keluarga Flora.
“Muka lu kenapa?” Tanya Flora yang melihat lebam di wajah Bima.
“Ah.. nggak papa, tadi pagi gue jatuh dari kasur.” Ucap Bima yang membuat orang-orang di rumah Flora tertawa.
“Kak Bima kalau tidur pecicilan ya? Kayak Kak Flora.” Celetuk Kevin yang langsung berpamitan dengan Mamah Flora sebelum dia menyadari bahwa Flora sedang menyumpah serapahi adiknya itu.
“Mah, Flora juga udah selesai, duluan ya Mah, Pah.” Pamit Flora kepada kedua orang tuanya.
“Saya juga pamit ya Mah.” Ucap Bima dengan cengirannya yang khas.
“Mamah?” Tanya Flora.
“Lu panggil bunda gue bunda ya, gantian dong!” Ujar Bima membuat Mamah Flora terkikik.
“Yaudah yaudah iya Mamah.” Ucap Mamah Flora. “Udah sana berangkat, nanti terlambat malah bahaya!” Lanjutnya.
Bima dan Flora segera beranjak dari tempat makan dan memasuki mobil Bima. Di dalam mobil hanya ada suara musik dari radio, tidak ada obrolan. Bima yang biasanya memulai obrolan pun hanya terdiam.
“Dipukul siapa?” Tanya Flora to the point.
“Semalam ada perkelahian kecil doang, antara gue, Sian dan Juna.” Jelas Bima.
“Sudah kuduga.” Jawab Flora.
Setelah sampai di sekolah, Flora berniat membawa Bima untuk pergi ke UKS. Flora hafal Bima benci mengobat lukanya sendiri. “Heey! Kalian! Tumben bareng berangkatnya.” Ucap Sena yang tiba-tiba datang bersama Sian.
“Bukannya seharusnya yang ngomong gue?” Tanya Flora.
“Ayo buruan lelet amat sih!” Keluh Sian yang langsung menarik tangan Sena menjauhi Flora dan Bima.
“Eh eh! Sakit kak!” Ujar Sena.
To Be Continue...