
BRAKK!
“Mana Arda? Liat Arda nggak?” Tanya Sena setelah menendang pintu kelas.
Reyhan yang selalu berangkat sangat pagi untuk menumpang tidur di kelas mendelik kaget. Reyhan menghela napas untuk menurunkan emosinya, tarik nafas, hembuskan, setelah itu dia membenamkan lagi wajahnya di atas bantal yang sudah beberapa hari ini dia bawa dan tinggal di kelas.
“Arda belum dateng?” Tanya Sena lagi.
“Cih nggak ada yang jawab, bisu semua ya kalian?” Ucap Sena dengan kesal karena tidak ada yang menjawabnya.
“Nggak bisa liat sendiri?” Ucap Flora dan melanjutkan belajarnya.
Mendengar jawaban Flora, Sena memalingkan wajahnya, dia masih marah karena di tinggal sendiri, dan sepertinya Flora juga tidak merasa bersalah.
Sena berjalan dan duduk di samping Reyhan yang sedang tertidur, dia tidak mau duduk di samping Flora, kekanakan sekali memang.
“Eh setan, ngapain disini, pergi sana!” Usir Reyhan.
“Lu aja yang pergi!” Ucap Sena, lalu memainkan handphonenya.
Karena malas meladeni Sena, Reyhan memilih tidur kembali dia tidak mau pagi yang berharga untuk tidur terganggu karena adanya Sena.
“Aduh Sen, mending lu minggir dulu gue mau ngerjain PR nih, cepet minggir keburu gurunya masuk.” Ucap Zaidan yang tempat duduknya di duduki oleh Sena dan menarik tangan Sena.
Mau tidak mau Sena berdiri, karena Zaidan menariknya sangat kencang sungguh tidak pengertiannya sama sekali, hari ini moodnya benar-benar buruk, dia kesal dengan Flora, Arga, Davin, Jeno, Giovan, yang meninggalkannya kemarin di stadion, jangan lupa juga dengan Sian bahkan Sena malas mendengar namanya.
“Arsen, masih marah ya?” Tanya Reza yang baru datang, tetapi Sena mengabaikannya, Sebenarnya yang paling membuatnya kesal adalah Reza, dia benci dengan mulut Reza yang ember dan memberi tahu Bang Satya bahwa Sena akan ikut Olimpiade matematika, gara-gara itu Bang Satya bersemangat untuk mengajarinya matematika.
“Jangan pegang-pegang gue, inget kita lagi kemusuhan.” Ucap Sena dengan ketus dan menghempaskan tangan Reza.
“Beneran mau musuhan? Bekal punya lu gue makan ya.” Ucap Reza sambil memperlihatkan kotak makan berwarna biru, itu pasti titipan bunda Reza untuk Sena.
“Biarin, ntar gue aduin Bunda.” Ucap Sena tetapi mengambil kotak makan itu, mau bagaimana lagi kalau urusan perut itu harus nomor satu.
Sena langsung menghampiri Flora dan duduk di sebelah Flora, walapun begitu dia masih marah oke, setelah itu Sena langsung membuka kotak makan pemberian Reza dan memakannya dengan lahap.
“WOY ADA RAZIA.” Teriak Haikal sambil berlari memasuki kelas.
Karena teriakan Haikal, kelas langsung ricuh tak karuan, ada Dessy, Sila, Dinda, Bila, Siska, yang langsung mencari tempat persembuyian untuk Make Up yang mereka bawa, setelah itu mereka buru-buru mengahapus lipstick yang ada di bibir mereka.
Ada juga Reyhan yang juga sibuk menyembunyikan Bantal kesayangannya bahkan sampai naik kursi dan menaruhnya di atas lemari.
“Oy Han, nitip rokok gue dong.” Giovan dengan santainya dan melempar bungkus rokok ke tangan Reyhan.
Felix, Zaidan, Haikal, dan Setiyo si wakil ketua kelas, langsung sibuk menghapus video plus plus yang ada di handphone mereka.
Sena juga tentu tak kalah sibuk, dia sibuk memakan bekalnya, berbeda dengan Flora yang tidak peduli dengan semua kericuhan dan melanjutkan belajar.
Tidak lupa mereka juga menyembunyikan sepatu yang melanggar aturan sekolah.
Melihat Felix berlari membawa sepatu yang berwarna-warni, “FELIX SEPATU GUE JUGA YA.” Teriak Sena yang di jawab anggukan Felix.
Jeno juga berusaha menyembunyikan kartu remi punya kelas yang di bawa Davin.
Anak kelas yang merasa tidak melakukan sesuatu yang salah langsung duduk di bangkunya masing-masing.
“Selamat pagi adik-adik.” Ucap Kak Regas dengan senyum yang menurut anak kelas X IPA 1 menakutkan, dan di ikuti oleh anak-anak OSIS yang lain.
“Ini yang belum masuk kemana?” Tanya Kak Cika saat melihat ada bangku yang kosong.
“Belum dateng kak.” Jawab Aji si ketua kelas.
“Kalian pasti tahu kita mau ngapain, jadi sekarang taruh tas kalian di atas meja!” Ucap Kak Roselina.
“Kak, saya belum selesai makan.” Ucap Sena dan melanjutkan makannya lagi, para kakak kelas yang melihat Sena hanya menghela nafas.
“Cepet habisin makanannya.” Ucap Sian.
Sena yang mendengar ucapan Sian langsung tersulut emosi, dia masih mengingat kejadian kemarin dengan sangat jelas.
Bahkan kartu Remi yang sudah di sembunyikan Jeno di atas AC pun ikut di temukan.
Sepatu-sepatu yang di sembunyikan Felix di tong sampah bawah pohon manggapun ikut terciduk.
Dan jangan lupa Kak Sian yang memeriksa atas lemari, dia menemukan bantal dan rokok di atas sana.
“Itu punya siapa?” Tanya Kak Regas setelah melihat hasil tangkapan Kak Sian.
“INI PUNYA SIAPA?” Tanya Kak Sian dengan nada membentak yang membuat Sena tersedak sampai muncrat.
“A-air, tolong air.” Ucap dengan muka hampir menangis.
Flora memberikan botol air minum, Sena langsung meminum air itu karena tenggorokanya sangat sakit.
“Jorok banget sih lu.”Ucap Flora sambil membersihkan bekas nasi Sena yang berhamburan mengenai bukunya.
“Kaget gue.” Ucap Sena dan memberikan botol minum milik Flora.
“Masih nggak ada yang ngaku?” Tanya Kak Sian dengan seram.
“Keluar, semua yang ada di kelas ini keluar dan kelapangan sekarang” Ucap Kak Sian lagi, asal kalian tahu ya kawan, Kak Sian ini tipe anak OSIS yang di takuti.
Sebenarnya anak-anak kelas bisa memberitahu kalau itu milik Giovan, tetapi namanya kebersamaan dan rasa tidak enak akhirnya satu kelas memilih bungkam, karena walaupun Giovan begitu dia adalah anak kesayangan kelas, mau tahu kenapa? Tentu saja karena Giovan suka meneraktir anak-anak kelas X IPA 1, Giovan ini bagaikan dompet berjalan yang isinya tidak pernah habis, tapi tenang saja oke, anak-anak kelas mau berteman dengan Giovan bukan karena uangnya tetapi karena dia memang baik.
Saat anak-anak kelas mau keluar, “Itu punya saya, rokok itu punya saya.” Ucap Giovan daan berdiri menghampiri Sian.
“Punya kamu?” Tanya Sian dengan nada merremehkan.
“Kak, bantal itu punya saya.” Ucap Reyhan dan ikut menghampiri Kak Sian.
“Kak lip matte yang tadi punya saya.” Ucap Dinda.
“Bedak tadi punya saya kak.” Ucap Dessy.
“Kak kartu Reminya punya saya.” Ucap Jeno yang ikut berbicara, dan ini membuat para anak OSIS kaget, karena Jeno kesayangan guru-guru.
“Kak sepatu yang warna pink punya saya.” Ucap Sena yang ikut berdiri sambil membersihkan bekas makannya.
Anak-anak kelas yang lainpun ikut berbicara mengenai barangnya yang di sita.
“Bener-bener bermasalah kelas ini” Ucap Kak Regas.
“Semua barang yang ada didepan bakal di sita, kalian bisa ngambil ini di ruang BK” Ucap Kak Cika dan langsung membawa barang-barang hasil razia di bantu anak Osis yang lain.
“Yang merasa barangnya di bawa, kalian kelapangan sekarang!” Ucap Kak Regas dan pergi.
Setelah mendengar perintah kak Regas, satu kelas keluar menuju lapangan, padahal yang disuruh hanya yang barangnya di sita, tetapi yang namanya kebersamaan satu kelas ikut ke lapangan, bahkan Florapun ikut menuju lapangan.
“Nyeker dah gue” Ucap Sena kesal.
“Salah sendiri, ngapain pake sepatu kayak anak TK.” Ucap Flora mengingat sepatu yang di pakai Sena itu berwarna Pink bahkan ada gambarnya.
Selama perjalanan menuju lapangan, banyak yang melihat anak-anak kelas X IPA 1, tetapi bukannya malu malah anak kelas X IPA 1 bercanda dan tertawa-tawa.
Sesampainya di lapangan ternyata sudah ada beberapa guru BK, dan anak-anak OSIS, yang siap untuk melakukan sidang dan memberikan hukuman.
Dan bahkan ada Arda, Davin, yang bercampur dengan kakak kelas, ternyata mereka ketahuan kabur ke gudang belakang sekolah.
“Baru kelas sepuluh sudah cari masalah, sekarang kalian bersihkan seluruh sekolah dan kamar mandi siswa, setelah itu kalian ke BK, untuk anak Osis jangan lupa di awasi anak-anak ini.” Ucap guru BK yang bernama Pak Yudis.
Mendengar ucapan Pak Yudis membuat anak-anak menjerit frustasi, bayangkan saja sekolah ini besar dan mereka harus membersihkannya, jangan lupa lupa juga dengan kamar mandi.
“Ngapain? Mulai bersih-bersih sana.” Ucap anak Osis yang membuat anak kelas X IPA 1 kesal.
“Iya kak.” Jawab anak kelas X IPA 1 dengan malas.
To be continue…