
Suasana kantor Axton Group terasa sesak dengan kesibukan masing masing karyawan di berbagai divisi, tak terkecuali dengan Satria yang sibuk mengurus materi meeting perihal pemegang saham yang masih kontroversi.
Axton Group belum dipegang sepenuhnya oleh Satria, karena masih ada beberapa hak waris untuk keluarga Satria yang lain.
Axton Group merupakan perusahaan milik kakek Satria, dan Bayu Firmansyah sebagai ayah kandung Satria selalu mengintimidasi putranya untuk segera menjadi direktur utama Axton Group.
Sering sekali Satria menolak keinginan Bayu yang terlalu menggebu akan ambisinya menguasai Axton Group. Sayangnya Bayu bukanlah laki laki yang mudah ditentang.
Apa yang menjadi ambisinya haruslah tercapai, terlebih lagi ancaman cucu yang lain dari kakek Axton.
Kakek Axton tidak hanya memiliki satu cucu pria saja, masih ada cucu lain yang harus dipertimbangkan dalam pembagian aset kekayaannya.
Selain Satria, masih ada Jevan yang memiliki hak waris atas Axton Group. Jevan merupakan kakak sepupu Satria yang telah lama menghilang.
Kakak sepupu Satria sangat berbeda dengan Satria, dia lebih memilih pergi jauh meninggalkan Axton Group, dan berkarir sendirian.
Entah dimana kini dia berada?
Seperti apa kehidupan karirnya?
Satria dan Axton tidak pernah tahu.
Kepergian Jevan bukan berarti membuat Axton tidak memikirkan haknya sebagai cucu. Axton masih tetap berpikir kalau suatu saat perebutan kekuasaan pasti akan terjadi, karena Axton tidak hanya memiliki Bayu saja sebagai putranya.
Ditengah tengah hiruk pikuk materi yang dipelajari Satria untuk meeting, tiba tiba notifikasi pesan di ponsel Satria berdering, lalu diraihnya ponsel tersebut, ternyata Iren yang mengirim pesan whatsapp untuk Satria.
Paman Satria, aku sudah memberikan gaunnya pada cinderella bermotor ninja.
Jangan lupa uang jajan ku ya. 😘
Seketika senyuman tersungging dari bibir coklat Satria, hatinya merasa terhibur saat mengingat tentang Alexa.
Entah kenapa saat teringat pada Alexa membuat Satria menjadi semakin bersemangat.
Kegigihan yang Alexa miliki memberikan energi positif untuk Satria, ditambah lagi dengan keputusannya yang memilih mengakhiri hubungan dengan Gresia. Rasanya semakin memberikan ruang gerak untuk Satria dalam bekerja.
Biasanya Gresia sangat intens mengganggu waktu kantor Satria, dengan mengirim beberapa pesan yang sangat tidak penting menurut pria tampan bermata hitam pekat itu.
Satria tidak membalas pesan Iren akibat kesibukan yang luar biasa di meja kerjanya, namun Iren kembali mengirim pesan lagi.
Sepertinya akan ada yang ingkar janji.
Iren semakin gencar mengingatkan Satria untuk mentransfer imbalan yang Satria janjikan, lalu pesan Iren cukup Satria balas dengan capture bukti transfer uang ke rekening Iren dengan jumlah yang cukup besar.
Beberapa hari ini Iren sering merengek pada Satria, dia ingin membeli sepatu keluaran terbaru dari salah satu desainer ternama.
Senyuman yang tersungging dari sudut bibir Satria seketika hilang saat wanita yang sangat tidak asing bagi Satria, tiba tiba datang memasuki ruangan.
"Satria aku mau bicara serius denganmu."
Ujar wanita cantik yang berdiri di hadapan meja Satria, lalu dengan santai dia menghempaskan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan Satria.
"Kita sudah selesai."
Tiba tiba Gresia datang dengan membawa segudang emosi, karena Satria sudah memblokir semua akses komunikasi.
"Kamu gak bisa putusin aku sepihak begini beb."
Gresia masih tidak tahu malu memanggil Satria dengan panggilan 'beb'. Pria itu masih tetap cuek, tidak mau menggubris kalimat Gresia.
Matanya masih tertuju pada laptop, seakan tak tertarik lagi melihat Gresia yang semakin hari semakin membosankan.
Apa mungkin Satria tipe laki laki yang mudah merasa bosan pada wanita?
Atau memang Gresia yang membosankan?
Apapun itu, saat ini Satria sangat enggan berbicara dengan mantan kekasihnya.
Walau Gresia masih tidak terima kenyataan, tidak mau menerima keputusan Satria yang lebih memilih mengakhiri hubungan.
"Apa salahku Satria? Katakan!"
Gresia masih mencari cari alasan utama Satria memutuskan dirinya. Kemudian Satria menghela nafasnya dalam.
"Aku sudah bosan Gres."
Satria mendekatkan wajahnya di hadapan wajah Gresia, dan menekankan kalimatnya.
"Apa ada wanita lain? Jawab jujur Sat."
Hati Gresia terasa sesak saat mendengar pernyataan Satria barusan. Gresia beranggapan kalau Satria ingin mengakhiri hubungannya bukan karena alasan bosan, pasti ada wanita lain yang lebih menarik di hati Satria.
"Kalau iya kenapa Gres?"
Dengan santainya Satria menjawab pertanyaan Gresia.
Plaaakkkkkkkkk!
Gresia menampar pipi Satria sangat keras, wanita itu mencoba meluapkan emosinya.
Satria benar benar sudah berubah, semua perhatian Satria sudah tak seperti dulu lagi, padahal dulu Satria sangat memanjakan Gresia, sampai sampai membuat Gresia lupa diri dan seenaknya mengatur Satria.
Perilaku Gresia sendiri yang mengubah rasa cinta Satria menjadi rasa bosan.
"Tega kamu Sat, bilang seperti itu padaku."
Satria hanya mengusap pipinya yang memerah akibat tamparan Gresia, dia sama sekali tidak merespon kalimat apapun dari bibir Gresia.
Melihat Satria yang masih diam saja membuat Gresia beranjak dari hadapan Satria. Dengan hati hancur, dan derai air mata Gresia pergi meninggalkan ruangan Satria.
Gresia benar benar merasa dirinya sudah tak ada arti lagi di mata Satria. Terbukti saat Gresia melangkah pergi dari ruangan, Satria sama sekali tidak ada upaya untuk mengejar Gresia, jangankan untuk mengejar, menahannya pergi pun tidak.
••••
Klik like ya 😉