
Hari hari berganti terasa begitu cepat di tengah hiruk pikuk kesibukan Alexa yang harus mengimbangi waktu kuliah dan bekerja.
Rasa lelah tidak Alexa pedulikan, karena mimpinya jauh lebih besar dari pada lelahnya.
Sekitar pukul empat sore Alexa keluar dari ruang dosen pembimbing, dengan senyum merekah yang sulit untuk Alexa percaya, skripsinya berjalan dengan lancar sampai di bab lima.
Dosen sudah acc semua bab, dapat dipastikan minggu depan Alexa sudah bisa maju ke sidang skripsi kuarter pertama, meninggalkan Shella yang masih sedikit kesulitan karena masih berkutat di bab tiga.
"Manis banget kalo lagi seneng."
Ujar Reyhan, teman satu fakultas Alexa. Kebetulan Reyhan dengan Alexa memiliki dosen pembimbing yang sama.
"Iya Rey, sumpah gak nyangka banget gue bisa selesai hari ini."
Reyhan ikut tersenyum merasakan kebahagiaan Alexa.
Harus Reyhan akui bahwa dirinya telah lama menyimpan rasa kagum untuk Alexa, namun sekalipun Reyhan tak berani mengungkapkan perasaannya.
"Gue ikut seneng dengernya Lexa."
Tandas Reyhan lagi dengan menatap wajah cantik Alexa.
Alexa memang selalu tampak cantik dengan sentuhan poni lempar yang menjadi gaya rambut favoritnya.
"Makasih Rey."
"Sama sama Lexa, sekali lagi selamat ya."
Reyhan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alexa, sebagai pengiring ucapan selamat. Kini giliran Reyhan yang masuk ke dalam ruang dosen untuk bimbingan.
Mata Alexa tiba tiba terkejut saat melihat mobil sport mewah sudah terparkir di depan fakultas, lengkap dengan pemiliknya yang berdiri di hadapan mobil dengan posisi menyenderkan tubuhnya disana.
Tatapan pria itu tajam terarah pada Alexa. Rupanya sejak tadi Satria berdiri disana, mengamati Alexa yang baru saja mengobrol dengan Reyhan.
Aksi jabat tangan antara Alexa dan Reyhan membuat Satria jengah melihatnya di ujung sana.
"Ya Tuhan... Sabtu ini tiba juga akhirnya."
Alexa bergumam sendirian.
Otak Alexa tiba tiba bekerja keras. Alexa langsung teringat janji yang harus dia tepati untuk dinner bersama Satria, tapi tunggu dulu.
Bukankah dinner itu malam hari?
Kenapa Satria sore ini sudah datang ke kampus?
Ah, mungkin saja Satria akan menjemput Gresia. Bukan datang untuk menagih syarat kedua.
Batin Alexa semakin tidak menentu.
Wanita cantik yang sedikit tomboy itu masih tetap mengacuhkan tatapan Satria di ujung sana.
Langkah Alexa kini menuju area parkir motor yang terletak di bagian samping fakultas, dengan begitu bodohnya Alexa tak menghiraukan kehadiran Satria yang jelas jelas sirat mata hitam pekat itu hanya tertuju padanya.
Sesampainya di parkiran Alexa langsung meraih helm ranger hitam yang tergantung di kaca spion motor, tangan gesitnya langsung memakai helm tersebut dengan posisi tubuh yang sudah menaiki motor sport ninja kesayangannya.
"Ehmmmm."
Seseorang berdehem di belakang tubuh Alexa, membuat ekor mata Alexa melirik ke arah samping.
Alexa berharap itu bukan Satria.
Tiba tiba tangan kekar menyentuh bahu Alexa dengan kuat, dan mengharuskan Alexa menoleh ke belakang.
Benar saja sosok tampan Satria berdiri disana dengan tatapan mengancam, seperti takut kehilangan.
"Apa kamu lupa?"
"Atau pura pura lupa?"
Cecar Satria.
"Ini masih sore Satria."
Alexa tidak mau kalah di hadapan Satria. Lalu dilihatnya arloji coklat tua di pergelangan tangan kanan Alexa yang menunjukkan pukul 16.30.
"Aku memang memintamu untuk dinner, tapi butuh persiapan dari sore ini juga nona Sandara."
Kembali Satria menegaskan maksudnya. Rasanya sungguh sulit untuk Alexa mengerti.
Apa dinner itu serepot ini?
Batin Alexa semakin bertanya tanya dengan sikap aneh Satria. Alexa masih tak habis pikir, bisa bisanya ada pria seribet ini.
"Kamu ini laki laki bukan sih? Buat dinner saja seribet ini."
Alexa sedikit membentak Satria, tidak ingin pergi dengannya lebih awal.
"Turun."
Satria meminta Alexa turun dari motornya dengan tatapan memaksa.
Melihat tatapan Satria yang cukup mengerikan, membuat Alexa menuruti kemauan Satria.
Alexa pun turun dari motor, lalu helm yang sudah dia pakai diletakkan kembali di kaca spion.
Satria langsung menarik lengan Alexa, membawanya masuk ke dalam mobil sport mewahnya dengan paksa. Bahkan pergelangan tangan Alexa terasa sakit akibat tangan Satria yang terlalu erat membawa Alexa.
"Kita mau kemana?"
Dengan nada ketakutan Alexa memberanikan diri untuk bertanya setelah keduanya berada dalam mobil.
Bukannya Satria menjawab, Satria justru langsung menghidupkan mesin mobil dan membawa Alexa pergi meninggalkan kampus.
"Aku tidak suka melihatmu disentuh pria lain."
Setelah sekitar lima belas menit dalam keheningan Satria akhirnya buka suara.
Ternyata sikapnya yang tidak sehangat biasanya dipicu oleh kehadiran Reyhan yang dilihatnya beberapa saat tadi, saat Reyhan berjabat tangan dengan Alexa.
Harus Satria akui bahwa sosok Reyhan secara fisik cukup tampan dengan postur tubuh tinggi yang sama dengan dirinya.
Heyyy Satria, lo siapanya gue?
Berani bener ngatur ngatur hidup gue!
Batin Alexa menjawab demikian. Sayangnya tak mampu Alexa ucapkan langsung, bibirnya kelu akibat rasa takut yang menderanya.
Satria bisa saja berbuat nekad, karena Satria yang punya kendali mengemudi.
Apalah daya Alexa, kini dia hanya diam tanpa kata, tidak mau merespon ucapan Satria selama di dalam mobil.
"Kenapa diem?"
Satria masih menekan kalimatnya, berharap ada aksi pembelaan dari mulut Alexa.
"Saya tidak mengerti apa yang kamu bahas Satria?"
Seketika Satria menghentikan laju mobilnya ke tepi jalan. Wajahnya menoleh ke arah Alexa, lalu didekatkannya wajah tampan tersebut dengan wajah Alexa.
"Aku tidak suka melihat temanmu menjabat tangan di depan ruang dosen tadi."
Rupanya Satria cemburu pada Reyhan. Sungguh cemburu yang membabi buta, bukannya saat ini Alexa bukanlah milik Satria?
Tepatnya belum menjadi milik Satria, tapi Satria begitu posesif akan Alexa.
"Kamu sama sekali tidak ada hak untuk melarang saya Satria."
Alexa mulai naik pitam akan pernyataan Satria barusan.
"Baiklah mulai saat ini kamu adalah wanita milik Satria Rhaditya Firmansyah."
Sikap gila apa lagi yang ditunjukkan Satria?
Sungguh membuat Alexa semakin geram menghadapi pria angkuh yang sewenang wenang.
"Gila!"
Umpat Alexa sambil menggelengkan kepalanya, dia masih tidak habis pikir akan Satria.
Akhirnya Satria kembali menghidupkan mesin mobil untuk melanjutkan perjalanannya kembali.
Entah dibawa kemana Alexa oleh Satria? Yang jelas Alexa harus tetap waspada pada pria angkuh di sampingnya.
••••
Semoga kalian suka ceritanya 😉
Klik like ya 😉