Sandara

Sandara
Jangan anggap lelucon!



Sore ini Alexa sudah menyelesaikan bimbingan skripsi. Dia baru saja keluar dari ruang dosen, hatinya bergumam kesal akibat banyaknya coretan revisi dari dosen pembimbing.


"Hari ini gue lagi apes bener. Sudah buat mobil orang lecet, sekarang ditambah lagi coretan revisi dimana mana. Kapan coba selesainya skripsi gue?"


Keluh Alexa di hadapan Shella.


Shella hanya terkekeh mendengar ocehan Alexa barusan. Ekspresi wajah Alexa yang membuat Shella tidak tahan ingin mentertawainya.


Terkadang Shella juga merasa heran dengan Alexa. Cewek seaneh Alexa bisa bisanya banyak kaum laki-laki yang tergila gila akan paras Alexa yang cantik tapi cuek dan santai.


Sikap cuek Alexa selalu membuat laki-laki penasaran terhadap dirinya. Sayangnya Alexa terlalu defensif pada pria.


Bagi Alexa mencari pacar bukanlah prioritas utama, karena yang Alexa butuhkan hanyalah uang dan uang saja.


Salah satu alasan kuat Alexa ingin segera menyelesaikan skripsi adalah keinginannya yang ingin mendapat pekerjaan layak setelah Alexa menyandang gelar sarjana ekonomi management.


"Seneng banget lo lihat temen susah."


Alexa semakin merasa kesal setelah melihat raut wajah Shella yang diam diam mengejeknya.


"Mana ada sih temen yang seneng lihat sahabatnya kesusahan Alexa?"


"Gue ini bukan seneng karena lihat lo susah, gue cuma gak tahan lihat ekpresi wajah lo kalau lagi kesel."


Shella berusaha jujur dengan apa yang dirasakannya saat ini. Memang benar wajah Alexa terlihat sangat lucu kalau sedang kesal.


"Sudahlah Shell, mending sekarang antar gue narik duit ke atm, buat nebus semua kesalahan gue sama si Satria sombong itu."


Ujar Alexa yang langsung menarik lengan Shella, lalu membawa Shella menuju parkiran kampus.


"Lo serius Lex?"


Tanya Shella yang masih tak percaya kalau Alexa benar benar akan mengganti rugi kerusakan mobil milik Satria.


"Sejak kapan gue gak serius sama ucapan gue sendiri Shell?"


Alexa kembali menekankan keputusannya.


"Tapi Lexa, lo butuh buat biaya sidang skripsi, biaya hidup lo juga. Sepuluh juta itu nominal yang gak sedikit."


Shella masih berusaha membujuk Alexa untuk mengurungkan niatnya untuk mengganti rugi mobil Satria.


"Sudah diam. Kalau masih kasihan sama gue, cukup temenin gue ambil duit sekaligus ngasihin tuh duit sama pria angkuh tadi pagi."


Alexa tidak mau mendengar berbagai alasan dari Shella lagi. Niatnya sudah bulat untuk memberikan uang ganti rugi pada Satria.


"Iya, iya. Gue temenin."


Akhirnya Shella menyerah untuk membujuk Alexa. Kemudian Alexa mulai menyalakan motornya, lalu menuju atm terdekat.


•••


Setelah mengambil uang dari atm, Alexa dan Shella kembali ke kampus. Mata Alexa mencari cari sosok pria angkuh bernama Satria.


Alexa menyusuri semua lorong fakultas, sampai sampai Alexa merasa kelelahan.


Kemana lagi dia harus mencari Satria?


Sedangkan dalam kartu nama tersebut tidak tercantum nomor telepon milik Satria.


"Jangan jangan ini kartu nama palsu lagi Shell."


Umpat Alexa yang sudah emosi, dia tak kunjung menemukan keberadaan Satria.


Alexa mendengus kesal dengan kedua bola mata yang masih mencari sosok Satria ataupun Gresia.


"Sebentar deh, kalau iya itu Satria anak dari pemilik kampus ini, mungkin saja dia ada perlu dengan urusan pengelolaan kampus. Bisa jadi dia sekarang sedang berada di ruang rektoriat."


"Ayo Alexa kita coba kesana!"


"Kalau masih gak ada juga, berarti bukan salah lo. Uang itu masih rejeki lo."


"Jadi orang itu jangan gampang narik ucapan sendiri Shell."


Alexa kembali mengingatkan prinsipnya kepada Shella.


"Ah dari tadi lo bilang begitu terus."


Shella masih tak habis pikir akan sikap Alexa yang keras kepala.


"Sudahlah Shell, uang bisa dicari, tapi harga diri tidak bisa dibeli."


Ujar Alexa, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Shella.


Langkah Alexa kini menuju gedung rektoriat kampus yang letaknya tidak jauh dari tempat Alexa dan Shella berdiri.


"Mau kemana lo?"


Shella yang ditinggalkan sendirian merasa kebingungan.


"Katanya ke rektoriat, gimana sih lo!"


Alexa merasa kesal akan sahabat bawel yang satu ini.


Sesampainya di halaman gedung rektoriat, muncul seorang pria tampan yang berbalut setelan jas warna abu-abu dengan tubuh tinggi atletis. Dijamin semua kalangan wanita akan menjerit histeris setelah melihat ketampanannya.


Rupanya Satria tengah membicarakan perkembangan kampus milik orang tuanya dengan salah satu kepala staff, tak lama kemudian Satria pun pamit meninggalkan laki-laki paruh baya dengan berjabat tangan sesaat.


Langkah Satria melenggang menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari gedung. Sementara Shella merasa ketakutan saat melihat sorot mata tajam milik Satria, membuat Shella masih terpaku berdiri di belakang Alexa.


"Tunggu Satria."


Alexa memberanikan diri memanggil nama Satria. Ya, hanya memanggil nama saja. Walau secara usia dan karir Satria lebih tua, lebih segalanya dari Alexa.


Salah satu faktor yang membuat Alexa hanya menyebutkan nama saja yaitu akibat sikap angkuh Satria tadi pagi terhadap Alexa, membuat Alexa kehilangan rasa hormat pada Satria.


Satria menghentikan langkahya, lalu menatap Alexa sesaat. Kesombongan yang dimiliki Satria semakin terasa dalam benak Alexa.


"Saya rasa ini cukup untuk mengganti kerusakan mobil anda tuan."


Alexa menyodorkan amplop coklat berisi uang sepuluh juta rupiah.


Kemudian Satria membuka isi amplop tersebut, lalu menyodorkan kembali ke tangan Alexa.


"Saya hanya bercanda tadi pagi. Lupakan saja."


Satria hanya mendengus angkuh, dengan mudahnya menganggap kalimat yang dia ucapkan hanya sebuah lelucon.


"Apa kamu sudah gila? Menganggap kejadian tadi pagi hanya sebuah lelucon."


Alexa semakin merasa tidak dihargai oleh Satria, dia semakin merasa direndahkan oleh Satria.


"Sudahlah nona lupakan saja. Lagi pula kamu masih membutuhkan uang ini kan?"


Ingin rasanya Alexa mencabik cabik wajah sombong Satria.


"Saya tidak pernah menganggap ucapan yang pernah keluar dari mulut saya sebagai sebuah lelucon. Sesuai janji saya, saya akan mengganti kerusakan mobil anda tuan Satria."


"Sepuluh juta, cash."


Alexa mengembalikan uang tersebut ke tangan satria, lalu mengajak Shella untuk segera meninggalkan Satria yang masih tak percaya mendengar ucapan Alexa barusan.


Belum pernah Satria mendapatkan perlakuan sekeras ini dari seorang wanita.


Menurut Satria sikap Alexa itu sama angkuhnya dengan dirinya, tepatnya sama sama keras kepala, dan sesaat membuat Satria tersadar kalau dirinya sudah diperlakukan sama seperti dia memperlakukan orang lain.


Satria masih menatap kepergian Alexa dan Shella, bahkan sampai mereka tak terlihat lagi dari pandangan Satria.


••••


Klik like ya 😉