
Sosok pria dengan perawakan tinggi atletis berbalut kemeja hitam dengan lengan yang sudah digulung di kedua siku.
Paduan celana kain abu tua slimfit yang memperlihatkan kaki jenjangnya, sepatu hitam dari salah satu brand ternama di dunia, semakin menambah pesona pria yang tengah berdiri menghadap jendela besar di ruang kantornya.
Dari jendela itu terbias bangunan berhias kerlip lampu dan hiruk pikuk kota Tokyo.
Pria yang dikenal dengan nama Mr. Lee tengah asyik menikmati pemandangan kota Tokyo yang terbias dari jendela.
Pria itu mulai menyalakan pematik rokok, lalu disulutkan pematik tersebut ke dalam satu batang rokok yang siap dihisapnya.
Sepintas bayang bayang Alexa tergambar dalam pikiran Jevan, membayangkan bagaimana reaksi dari raut wajah Alexa saat di acara pernikahan nanti.
Walau acaranya tidak akan menggelar pesta yang besar, tapi tetap saja Jevan membayangkan bagaimana sedihnya Alexa saat bersanding dengan dirinya.
Sudah dipastikan wajah sendu Alexa akan tergambar disana, saat memakai gaun pengantin, dan betapa sesaknya hati Jevan kalau calon istrinya itu masih mencintai kekasihnya.
Tapi bukankah pernikahan ini pernikahan tanpa cinta?
Pernikahan yang hanya didesain untuk melindungi Alexa dari incaran Bayu.
Pernikahan yang hanya sebagai alat balas dendam Jevan terhadap Bayu.
Kalau memang begitu mengapa Jevan mengisyaratkan pernikahan ini layaknya hubungan suami istri pada umumnya?
Alexa harus menjadi budak sex Jevan, begitulah perjanjian pra nikah yang sudah dilayangkan oleh Jevan melalui Richard.
Perjanjian tersebut berisi beberapa aturan main diantara Jevan dengan Alexa. Bahkan yang lebih sadisnya lagi, Jevan tidak akan pernah menceraikan Alexa sebelum dirinya merasa bosan dengan Alexa.
Hanya Jevan lah yang berhak menggugat cerai, sedangkan pihak wanita tidak dibolehkan, dan yang lebih menyakitkan lagi, jangan pernah ada perasaan jatuh cinta diantara mereka. Karena Jevan tahu hampir semua kaum hawa dengan mudahnya jatuh dalam pesona Jevan.
Sebenarnya Jevan sudah lebih dulu jatuh dalam pesona Alexa, hanya saja Jevan takut untuk merasakan pahitnya cinta setelah kepergian Alana.
Jevan takut merasakan kekecewaan dan penghianatan lagi, walau dirinya pun tidak tahu perasaan apa yang ada untuk Alexa.
Apakah perasaan itu hanya ketertarikan sesaat?
Atau hanya pelarian cintanya dari Alana?
Mengingat postur tubuh, dan bentuk wajah Alexa yang sangat mirip dengan Alana.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Jevan, lalu dibacanya nama dalam layar ponsel tersebut yang menampilkan nama Richard disana.
"Ada apa?"
Jevan menjawab panggilan telpon dengan begitu cuek, tapi itu sudah menjadi gaya Jevan yang misterius.
"Buruan balik ke Jakarta, kalau lo tidak mau kehilangan Alexa."
Jevan terkesiap mendengar kalimat yang diucapkan Richard.
Batinnya bertanya tanya apa yang terjadi pada calon istrinya?
"Gak usah mikir apa yang terjadi dengan nona Sandara, yang penting besok lo balik. Gue akan mempercepat hari pernikahan lo."
Mendengar saran Richard barusan, hati Jevan semakin tidak menentu.
Jevan memikirkan keselamatan Alexa, sudah dipastikan ini berkaitan dengan Bayu yang mengusik kembali keberadaan Alexa.
Memang sudah saatnya bagi Jevan untuk muncul di keluarga Axton. Setelah pernikahannya dengan Alexa, Jevan akan membawa Alexa masuk ke dalam keluarga Axton untuk mengambil semua hak yang patut Jevan dapatkan.
"Baiklah, besok gue terbang ke Jakarta."
Setelah mengatakan itu Jevan memutuskan sambungan telpon, kemudian membuka gallery dalam ponsel miliknya untuk melihat foto Alexa saat mencoba kebaya pengantin berwarna putih.
"Wait for me honey."
Ucap Jevan lirih, masih menatap foto Alexa disana.
•••
Richard POV
Sekitar pukul lima sore sekertaris Richard datang membawakan satu kotak bingkisan ke ruang kerjanya, tidak ada nama pengirim disana.
Bingkisan itu terbungkus kertas berwarna coklat muda, dalam satu box rapi yang tidak terlalu besar.
Batin Richard bertanya tanya akan isi bingkisan tersebut. Apa mungkin itu hadiah dari salah satu vendor yang bekerja sama dengan perusahaan Van`s?
Sarah selaku sekertaris Richard pun tidak tahu bagaimana rupa pengirimnya, karena box tersebut yang menerima security di kantor Van`s.
Akibat rasa penasaran, akhirnya Richard segera membuka bingkisan itu. Ternyata di dalamnya hanya berisi sepasang sepatu heels warna hitam, dengan hiasan gold di bagian depan.
Anehnya sepatu itu bukan sepatu yang masih segel, melainkan sepatu bekas dipakai oleh seorang wanita, tapi siapa pemilik sepatu tersebut?
Richard semakin memutar otak mencoba mengingat beberapa karyawan yang pernah memakai sepatu itu.
Ah, terlalu banyak karyawan wanita di perusahaan Van`s. Jangankan untuk mengingat sepatu, bahkan jika Richard harus menyebutkan satu per satu nama karyawan wanita disana, dia tidak akan sanggup mengingatnya.
Berkat bantuan Sarah akhirnya Richard mengetahui siapa pemilik sepatu itu, ternyata itu milik Alexa, milik calon istri bos besarnya.
Sarah sempat kesulitan mencari tahu siapa pemilik sepatu, sehingga semua karyawan wanita disana dipanggil oleh Sarah, sampai akhirnya terhenti pada Alexa.
"Alexa tolong ceritakan bagaimana sepatu ini sampai tertinggal?"
Richard memulai pertanyaannya di dalam ruangan, hanya ada mereka berdua.
Alexa sempat tertunduk diam, mengingat kejadian di malam itu. Malam dimana Bayu berhasil menyuntikkan cairan perangsang di tubuhnya, sampai akhirnya Alexa harus kehilangan kesuciannya.
"Jawab Alexa!"
Richard mulai geram saat melihat ekspresi Alexa yang hanya diam termangu di hadapannya.
"Sepatu itu tertinggal setelah aksi penculikan Bayu."
Sudah Richard duga kalau box ini adalah bentuk teror dari seseorang. Apalagi isi pesan dalam box tersebut yang sudah mengacaukan pikiran Richard.
"Alexa, kita tidak bisa menunda lebih lama lagi pernikahanmu dengan Jevan, karena ini menyangkut nyawamu, dan menyangkut masa depan perusahaan."
Alexa masih tak mengerti akan kalimat yang diucapkan oleh Richard.
"Apa maksudnya pak Richard?"
Tanpa ragu Richard menyodorkan secarik kertas yang berisi kalimat ancaman kepada Alexa.
Serahkan wanita pemilik sepatu ini, jika tidak ingin nasib perusahaanmu hancur.
Setelah membaca isi pesan dalam box tersebut, wajah Alexa berubah pucat pasi. Sudah dapat dipastikan kalau Bayu sedang memulai serangannya kembali.
POV end.
••••
Klik like ya 😉