
Sekitar pukul lima sore Alexa sudah bergegas mandi, mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja seperti biasanya.
Tubuh Alexa masih nampak segar dengan balutan handuk warna putih. Sejenak Alexa teringat akan gaun yang dikirimkan Satria untuknya, lalu diraihnya jinjingan yang diberikan oleh Iren tadi pagi.
Kemudian Alexa membuka gaun tersebut penuh takjub. Gaun dengan panjang di bawah lutut, pas sebetis Alexa, dengan model pundak yang lahak, sehingga mengekspos bagian bahu Alexa dengan model tangan sesiku. Iren sengaja merekomendasikan gaun tersebut pada Satria.
Awalnya rekomendasi Iren adalah gaun yang cukup terbuka di bagian dada, namun Satria menolak keras. Bukan karena Satria ingin melindungi Alexa dari pandangan laki laki lain, hanya saja Satria akan merasa tidak tahan saat melihat Alexa mengenakan gaun dengan dada terbuka.
"Wow gaun yang cantik Lexa."
Puji Shella saat melihat Alexa membeberkan gaun hitam dari Satria
"Apa ini gak terlalu ketat Shell?"
Alexa merasa aneh di bagian pinggul gaun yang fit body.
"Ah, kaya lo gak biasa pake kaos ketat ajah."
Favorit kaos Alexa memang fit body yang begitu pas dengan ukuran tubuh rampingnya.
"Tapi ini gaun Shell, bukan kaos oblong yang biasa gue pake. Bisa bisa pantat gue manggil manggil abang ojek pangkalan."
Alexa masih membantah kalimat Shella. Alexa memang tidak terbiasa mengenakan gaun ataupun dress.
"Buruan cobain! Gue pengen lihat lo pake itu gaun."
Shella sangat antusias menyuruh Alexa mencoba gaun tersebut. Menurutnya Alexa belum pernah memakai pakaian yang sangat feminin.
Akhirnya Alexa menuruti perintah sahabatnya, kemudian dipakainya gaun tersebut. Shella pun ikut membantu menutup resleting yang berada di bagian punggung Alexa, karena dia kesulitan untuk memasangnya sendiri.
"Pas banget di tubuh lo Lex."
Ujar Shella yang terkagum melihat gaun yang sudah menempel di tubuh Alexa.
"Tapi ini sempit banget Shell. Gue gak bisa nafas."
"Itu udah modelnya Lexa. Bagus kok, cocok banget sama badan lo."
Shella masih mempertahankan pendapatnya sambil mengitari tubuh Alexa yang berbalut gaun mahal elegan.
"Fix, Satria suka sama lo."
Ujar Shella lagi yang akhir akhir ini tak habis pikir akan kelakuan Satria yang sudah mencoba memberikan perhatian lebih pada sahabatnya.
"Hah? Suka sama gue."
Alexa memastikan lagi ucapan Shella. Wanita cantik bermata sedikit sipit itu hanya menjawab dengan anggukkan kepala.
"Iya suka, suka mainin hati wanita. Cowok tipe Satria itu bisa seenaknya sama semua cewek."
Timpal Alexa lagi.
Wanita itu selalu menaruh curiga pada Satria. Satu hal yang wajar jika Alexa menyimpan curiga berlebihan, karena terlalu banyak wanita yang menginginkan Satria, bahkan sampai kalangan model pun tak segan merayu pria tampan dengan karir bagus.
Setelah berhasil mencoba gaun tersebut, Alexa segera melepaskan kembali, menggantinya dengan kaos casual warna hitam, dengan balutan jeans navy.
Seragam kerja sengaja Alexa simpan di loker karyawan. Dia tidak ingin langsung memakainya, karena menurut Alexa terlalu minim bahannya.
"Gue berangkat Shell, lo hati hati ya di kosan sendirian."
Ujar Alexa sambil meraih kunci motor kesayangannya.
"Ogah gue di kosan sendirian, gue mau jalan sama pacar gue."
Jawaban Shella sedikit merendahkan Alexa yang belum pernah memiliki pacar satu pun.
"Sialan lo! Jaga diri baik baik, jangan sampai bablas."
Alexa tidak hentinya mengingatkan Shella untuk berhati hati dalam menjalin hubungan.
"Iya bawel, udah sana berangkat. Nanti lo telat lagi, dipecat lagi."
Alexa tidak menjawab ucapan Shella, langkahnya langsung menuju halaman kosan, dan menghampiri motor sport miliknya.
Seketika itu juga Alexa sudah tak terlihat lagi, motornya sudah melesat jauh meninggalkan kosan.
•••
Suasana club malam terlihat ramai seperti biasanya. Alexa pun masih tetap semangat menjalani pekerjaan, mengantarkan pesanan dari satu meja ke meja lainnya.
Sering sekali Alexa merasa risih dengan pemandangan yang tak pantas untuk dilakukan, tapi sudah menjadi hal yang wajar di club ini. Melihat sepasang pria dan wanita saling berciuman di club, bahkan si wanita pun membiarkan prianya menyentuh area area sensitif wanita.
Alexa terkejut saat dirinya mengantarkan pesanan di meja nomor 24. Seorang laki laki paruh baya tengah asyik mencium bibir salah satu wanita murah yang disediakan oleh club malam, tangannya bergerilya di area dada wanita tersebut, bahkan kehadiran Alexa pun tak digubris oleh mereka. Akibat terlalu asyik menikmati nafsunya.
"Permisi tuan, ini pesanannya."
Alexa menyodorkan pesanan di meja, dan mereka tersadar setelah melihat Alexa meletakkan nampan yang berisi dua gelas wine.
Laki laki paruh baya itu tidak lain adalah Bayu Firmansyah, ayah dari Satria. Hobi ayah Satria adalah mencari wanita muda yang usianya tidak jauh dari Alexa.
"Apa anda ingin berbagi kesenangan denganku nona?"
Bayu tidak tahu malu menyeringai liar di hadapan Alexa.
"Maaf tuan, saya disini murni hanya sebagai waitress, tidak lebih. Kalau tuan masih menginginkan wanita lain, tuan bisa memilih mereka yang sudah siap berbagi kesenangan dengan tuan."
Alexa menjawab pertanyaan Bayu dengan tenang, namun tatapan smirk Alexa seakan tidak takut apapun. Kemudian Alexa langsung berbalik arah meninggalkan laki laki tua tidak tahu malu, laki laki yang sudah merendahkan nilainya sebagai wanita.
••••
Happy reading, semoga kalian suka ceritaku.
Klik like ya 😉