
Sosok laki-laki tampan berusia dua puluh tujuh tahun sedang termenung di balkon apartemen, menikmati sejuknya angin malam yang menerpa wajah tampannya.
Satria masih termenung mengingat kejadian sore tadi, saat dirinya menerima uang dari Alexa.
Pikiran Satria menerawang jauh, seolah tak percaya bahwa dirinya telah mendapatkan perlakuan keras dari seorang gadis biasa seperti Alexa.
Ini pertama kalinya Satria mendapat penolakan dari seorang wanita. Alexa nampak tidak seperti wanita biasanya.
Semua kalangan wanita biasanya akan langsung bertekuk lutut di hadapan Satria, hanya dalam hitungan detik saja. Mereka dengan mudahnya jatuh dalam pesona Satria, namun kali ini berbeda dengan Alexa.
Sikap keras hati yang diberikan Alexa terhadap Satria membuat Satria masih tak habis pikir.
Alexa sudah mampu menurunkan rasa percaya diri Satria. Selama ini keangkuhan Satria sudah terbang tinggi, hingga meninggikan kesombongannya.
Masih teringat jelas raut wajah Alexa yang terlihat tegas saat dia berusaha mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan Satria.
Tidak ada gurat rasa takut ataupun gugup dari wajah Alexa saat itu, dia justru terlihat santai namun tegas untuk memenuhi janjinya pada Satria.
"Wanita berkelas."
Gumam Satria sambil menyunggingkan senyumnya.
Pikiran Satria masih terbayang wajah cantik Alexa. Walau kecantikan Alexa harus tertutup oleh sikap kerasnya, namun tidak sedikitpun mengurangi penilaian Satria pada Alexa.
Harus Satria akui, di dalam hati kecil Satria sangat tertarik akan sikap Alexa, dan juga paras Alexa yang tetap cantik walau dengan gaya mahasiswa yang sedikit tomboy.
•••
Setiap sore Alexa selalu sibuk dengan aktivitasnya melayani tamu restoran. Alexa bekerja di salah satu restoran kelas mahal.
Jika jam kuliah sudah selesai, Alexa akan segera pergi untuk bekerja sebagai waitress. Pekerjaan yang telah lama Alexa tekuni demi memenuhi biaya kuliahnya.
Gaji yang diberikan oleh restoran ini cukup besar bagi Alexa. Setidaknya biaya hidup dan biaya kuliahnya dapat terpenuhi dari hasil bekerja paruh waktu.
Butuh pengorbanan bagi Alexa untuk bisa diterima bekerja di restoran kelas mahal ini, mengingat ijaza yang dia gunakan hanyalah ijaza sekolah menengah atas.
Alexa tidak pernah ragu untuk mengambil shift malam, demi mengimbangi jadwal kuliah dan juga beberapa tugasnya.
Terkadang rasa lelah sering dirasakan Alexa, namun semangat Alexa tak pernah surut. Nilai IPK Alexa tak pernah merosot dari angka 3,5.
Kecerdasan yang Alexa miliki sama sekali tidak menjadikan Alexa kutu buku ataupun menjadi orang pintar yang sok pintar. Dia justru tampak seperti mahasiswi dengan kelas biasa saja.
Alexa selalu nampak santai tanpa beban, walau sebenarnya beban hidupnya begitu berat. Apalagi sekarang Alexa harus berjuang extra setelah tabungannya dikuras habis untuk mengganti rugi mobil milik Satria.
"Apa lo lagi gak enak badan Alexa?"
Tanya Rian, salah satu rekan kerja Alexa di restoran.
Rian melihat Alexa tak bersemangat seperti biasanya. Dia khawatir akan kondisi kesehatan Alexa.
"Gue baik baik ajah Yan, cuma lagi gak semangat kaya biasanya."
Semangat Alexa hilang setelah dia menguras habis saldo atm, hanya demi mengganti rugi kecerobohan yang telah dia perbuat tadi pagi.
"Kalau lo capek mending lo istirahat dulu. Kerjaan lo biar gue yang handle."
Rian selalu bersikap baik pada Alexa. Pria itu menawarkan diri untuk merangkap pekerjaan Alexa.
"Tidak apa apa Yan. Sudah balik lagi sana ke dapur, ambilkan menu yang sudah siap. Kasihan tamu tamu restoran sudah pada nunggu pesanan."
"Siap bos."
Rian menempelkan tangannya di pelipis kanan, bersikap hormat di hadapan Alexa layaknya peserta upacara bendera.
Kemudian Rian bergegas menuju dapur untuk mengambil menu makanan yang sudah siap untuk pengunjung restoran.
•••
Pukul dua belas malam Alexa mengemasi tas, lalu keluar dari restoran. Jam kerjanya sudah selesai, kini langkah Alexa langsung menuju parkiran, mencari motor sport ninja 250 cc warna hitam.
Jangan heran dengan motor yang dimiliki Alexa, dulu motor itu sering digunakan Alexa untuk taruhan balap motor.
Uang yang didapat dari hasil balapan cukup menjanjikan nilainya, rasanya sangat menyenangkan bagi Alexa untuk tidak melewatkan aksi taruhan tersebut.
Semua kalangan mahasiswa di kampus akan terpesona jika melihat Alexa membawa motor sport kesayangannya.
Rambut panjang lurus milik Alexa tergerai indah di punggung, balutan kaos fit body semakin membuat kesan cewek tomboy namun sexy, celana jeans hitam favorit Alexa semakin memberikan kesan kaki yang jenjang. Begitupun dengan sepatu sport koboy yang dia kenakan semakin memberi kesan wanita cuek namun mempesona.
Siapapun pria yang melihat style Alexa pasti akan terbuai oleh kecantikannya. Walau bukan wanita feminim, tetap tidak mengurangi selera fashion Alexa.
Alexa berjalan menuju area parkir menembus dinginnya angin malam yang menusuk sampai ke tulang. Wanita itu masih sibuk mencari kunci motor, sampai dia tidak sadar ada sosok pria yang menatapnya di balik kemudi mobil di sisi jalan raya.
Pria itu adalah Satria, dia mulai mencari semua informasi tentang Alexa. Satria sudah mengetahui kalau Alexa bekerja di salah satu restoran ternama, ternyata restoran itu masih milik ayah Satria, bahkan Alexa pun tidak mengetahui hal itu.
Baru saja motor Alexa keluar dari gerbang restoran, tiba tiba Satria membunyikan klakson di balik mobil mewahnya.
Alexa melihat sosok Satria berada dibalik kemudi, jendela mobil milik Satria sengaja dia turunkan, agar Alexa mengetahui kalau Satria sedang mengikutinya.
Keangkuhan Satria masih tergambar jelas dalam ingatan Alexa. Saat Alexa mencoba menatap ke arah mobil Satria, ternyata mobil yang dipakai oleh Satria sudah berganti, bukan lagi mobil yang tadi pagi, mobil yang sudah Alexa buat lecet.
"Boleh kita ngobrol sebentar?"
Goda Satria dari balik jendela mobil, membuat Alexa menghentikan laju motor sportnya di samping kiri jalan.
Alexa hanya membalas ucapan Satria dengan satu helaan nafas yang dalam, seolah tidak ingin menanggapi kehadiran Satria.
"Soal uang ganti rugi."
Satria kembali menegaskan, berusaha mencari celah untuk dapat berbincang dengan Alexa.
Raut wajah Alexa nampak tidak tertarik dengan kehadiran Satria, dan berhasil membuat Satria mencari alasan agar bisa bicara dengan Alexa lebih lama lagi.
"Maaf tuan, saya tidak ada waktu."
Alexa hanya memicingkan pandangannya pada Satria. Kemudian Alexa melajukan kembali motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Satria sendirian di sisi jalan.
Kini pria itu masih menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, seolah tak percaya kalau dirinya ditolak kembali oleh Alexa.
Rupanya Satria harus berjuang ekstra untuk bisa mendekati Alexa. Berbeda dengan wanita wanita sebelumnya.
Tapi tak mengapa, Satria justru semakin tertarik untuk melakukan pendekatan yang lebih gencar lagi pada Alexa.
Pria itu masih tersenyum menatap kepergian Alexa yang sudah tidak nampak lagi dari pandangannya, sementara hatinya masih teringat akan raut wajah manis Alexa.
••••
Like and comment ya 😉