
Bagaimana rasanya jika kamu terpaksa menikah dengan orang yang tidak pernah kamu cintai? Bahkan belum pernah kamu kenal sebelumnya.
Malam ini aku harus menerima kenyataan pahit kalau aku resmi menjadi istri dari pengusaha sukses yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Harus kuakui kalau rupa dari suamiku sangatlah tampan. Aku jamin semua wanita akan menjerit histeris oleh pesonanya.
Ibuku yang sudah terjerat hutang dengan tega menjerumuskanku ke dalam pernikahan yang tak berlandaskan cinta. Aku masih tidak habis pikir pada ibuku. Mengapa dia begitu tega mengorbankan masa depan putrinya hanya demi membayar hutang-hutang perusahaan dengan cara pernikahan ini.
Ironisnya lagi pria yang menjadi suamiku justru lebih memilih aku untuk menjadi pendamping hidupnya. Padahal aku yakin di luaran sana ribuan wanita sedang berpikir keras untuk mencari cara merebut hatinya.
Aku juga tidak mau terlalu percaya diri kalau suamiku benar-benar menyukaiku. Karena, aku yakin dari raut wajahnya sama sekali tidak ada cinta disana.
"Mulai hari ini kamu sudah resmi menjadi istriku. Aku harap menurutlah padaku. Aku tidak suka dengan wanita pembangkang."
Kalimat itu terdengar seperti ancaman di telingaku. Sepertinya dia sudah melihat jelas dari derai air mataku saat mengucap janji suci pernikahan. Dia sudah mampu menyimpulkan kalau aku tak pernah menginginkan pernikahan ini.
"Iya." Jawabku pelan tanpa menatap raut wajahnya.
"Satu lagi. Aku tidak suka bentuk penolakan apapun."
Ucapan yang dia katakan semakin terasa menyudutkanku. Memang seperti itulah watak Jevan. Dia suka seenaknya, dan juga egois.
Satu minggu sebelum hari pernikahan aku sudah berusaha mencari informasi tentang Jevan. Jadi, wajar saja kalau dia sering berkata kasar dan suka memaksakan kehendak.
"Iya Pak."
Sekali lagi aku hanya menjawab dengan kata iya. Tanpa menatap wajah Jevan.
"Sandara, tak bisakah kamu menatapku saat berbicara?"
Jevan kembali protes akan sikapku yang sangat kaku di hadapannya. Apalagi saat dia mendengar aku memanggilnya dengan sebutan pak.
Wajar saja kalau aku memanggil Jevan dengan panggilan pak, karena aku tahu betul kesuksesan Jevan di bidang bisnis. Lagipula usia Jevan lebih tua tujuh tahun dariku.
"Aku takut."
Akhirnya aku mampu mengakui perasaan yang sedang aku rasakan. Jujur aku sangat takut berada di samping Jevan. Berbagai kabar tak sedap tentang Jevan sudah sering aku dengar. Sebenarnya Jevan adalah pemilik saham di tempat perusahaanku bekerja, tentunya desas-desus tentang Jevan sering menjadi topik pembicaraan beberapa karyawan yang bekerja di kantor Van`s Corporate.
Nada bicara Jevan mulai sedikit lembut. Tangan kokohnya meraih jemari tanganku, posisi duduknya mulai lebih dekat lagi denganku.
"Aku takut kalau pernikahan ini akan menghancurkan semua mimpi dan cita-citaku Jevan."
Ucapanku mulai terdengar berani. Bahkan aku berani memanggilnya dengan nama saja, dan anehnya lagi Jevan justru menyunggingkan sebuah senyuman.
"Memangnya apa mimpimu Sandara? Katakan."
Tatapan Jevan sangat terlihat antusias mempertanyakan soal harapan hidupku.
"Aku harap pernikahan ini tidak mengekangku untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Karena, aku masih ingin berkarir di perusahaan Van`s."
Semoga saja Jevan mampu mengabulkan permintaanku ini. Hanya itu yang aku inginkan, selebihnya aku tidak pernah mengharap apapun dari pernikahanku bersama Jevan.
"Baiklah. Tapi, menurutlah padaku. Menurutlah pada semua perjanjian kontrak pernikahan kita."
Pria itu masih memiliki sedikit belas kasihan. Akupun senang mendengarnya, ternyata Jevan tak semenyeramkan yang kubayangkan.
"Terimakasih. Aku pasti menjaga perjanjian kontrak pernikahan kita." Ucapku mantap, menyetujui keinginan Jevan.
"Sudah tak perlu dipikirkan lagi. Aku yakin tubuhmu pasti lelah, lebih baik kita siap-siap tidur."
Sepertinya apa yang aku bayangkan di malam ini tidak akan terjadi. Jevan tidak memaksaku untuk melakukan malam pertama, seperti pengantin pada umumnya. Setidaknya aku bisa bernafas lega. Tuhan masih menyayangiku.
"Ayo tidur. Aku tidak akan memaksamu dalam kondisi lelah."
Ucap Jevan sambil menepuk kasur di bagian kosong untuk mengajakku tidur dalam satu ranjang yang cukup luas. Dalam perjanjianpun tertulis kalau kita tidak boleh tidur terpisah.
Akhirnya aku menuruti perintah Jevan untuk tidur di sampingnya. Tidak ada pilihan lain lagi untukku selain menuruti perintah Jevan.
•••
Ayo klik likenya ya ♡♡♡