Sandara

Sandara
Pelukan terakhir



Pria tampan yang mengenakan pakaian santai dengan celana jeans warna navy selutut, serta kaos hitam polos yang membalut tubuh atletisnya, tampak kacau setelah kejadian pagi tadi perihal acara pertunangan yang berujung memalukan.


Pria tampan itu tidak lain Satria yang tengah menghisap sebatang rokok di taman belakang rumahnya.


Matanya terpejam dengan kepala yang dia senderkan di senderan sofa, berharap Alexa akan segera pulang dari rutinitas pekerjaannya, karena waktu pun sudah menunjukkan pukul lima sore.


Sebentar lagi Alexa akan datang.


Batin Satria mengatakan demikian, tapi kenyataannya seseorang yang datang bukanlah Alexa, melainkan pria paruh baya yang memaksa Satria untuk menikah bersama Gresia.


"Tinggalkan wanita itu."


Ucap Bayu setelah duduk di samping Satria yang ikut menyalakan sebatang rokok milik Satria.


"Tidak bisa."


Sergah Satria tanpa memandang ke arah ayahnya sedikitpun.


Satria sudah malas bertemu dengan Bayu. Ayahnya terlalu banyak mencampuri urusan pribadi Satria, tapi untuk permintaan Bayu kali ini Satria tidak mau mengabulkannya.


"Sejak kapan kamu membangkang dengan papih?"


Bayu mulai geram akan sikap perlawanan Satria, bahkan menatap Satria tajam dengan memicingkan pandangannya.


"Sejak kamu kenal wanita murahan itu?"


Bayu kembali mengintimidasi putranya, gurat kemarahan pun terbit dari kedua bola mata Satria.


Rahang tegas Satria mengeras setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh ayahnya yang mengatakan Alexa wanita murahan.


"Sekali lagi papih bilang Alexa murahan, aku pastikan seumur hidup aku tidak akan menikah, dan papih tidak akan pernah mendapatkan sepeser pun atas saham Axton Group."


Nada bicara Satria mulai meninggi hingga membuatnya bangkit dari duduk, lalu beranjak meninggalkan Bayu.


Satria sudah malas berurusan dengan ayahnya yang begitu haus akan harta dan kekuasaan.


Baru saja Satria melangkah, tiba tiba Bayu menyodorkan ponsel miliknya yang sedang memutar video dengan durasi dua menit.


Video tersebut menampilkan sosok wanita yang sedang berdiri di depan kantor, bersiap pulang dengan mengendarai motor sport hitam yang sangat Satria kenal.


"Papih jangan macem macem sama Alexa!"


Dari tatapan Bayu sudah sangat tergambar jelas maksud dari video tersebut. Alexa yang akan menjadi ancaman utama jika Satria tidak menuruti perintah Bayu.


"Kenapa Satria?"


Ucap Bayu sambil tersenyum licik.


"Aku mohon sama papih, jangan sentuh Alexa sedikitpun."


Nada bicara Satria mulai terdengar melemah, dia takut akan tindakan ayahnya yang bisa saja nekad.


"Menurutlah sama papih, atau kamu akan kehilangan dia selamanya."


Tangan Satria sudah mengepal menampakkan buku buku di jemarinya. Emosinya sudah tak terbendung, namun ancaman Bayu memang benar benar menyulitkan Satria.


Ancaman Bayu tidak main main, artinya Satria harus rela menjalani pernikahan dengan Gresia, kalau tidak Alexa yang akan dilenyapkan oleh Bayu.


"Sejak kecil kamu adalah jagoan papih, jangan pernah kecewakan papih."


Bayu kembali menegaskan keinginannya sembari menepuk bahu Satria yang masih berdiri kaku di depan sofa.


Senyum Bayu benar benar penuh makna kelicikan, namun siasat Bayu sulit untuk dikalahkan, membuat Satria tak berkutik.


Titik lemah Satria ada pada Alexa, cintanya untuk Alexa terlalu dalam, hingga dengan mudah dimanfaatkan oleh Bayu.


"Aggghhhhrrrrr!"


Teriakan Satria begitu kencang setelah Bayu berlalu dari rumahnya. Pikirannya kalut membayangkan masa depannya yang akan hidup tanpa cinta.


Tidak akan ada pernikahan yang bahagia tanpa didasari rasa cinta. Memang benar dulu Satria pernah menjalin hubungan dengan Gresia, namun cintanya dengan Gresia hanya sesaat, hanyalah bunga cinta dari rasa penasaran sesaat.


"Aku hanya mencintaimu Alexa."


Satria menitikkan air matanya hingga terduduk lemas di atas sofa dengan ribuan kecemasan yang menghantui keselamatan kekasihnya.


•••


Rok hitam selutut dan stileto sudah dilepaskan sejak pekerjaannya selesai, karena itu akan menyulitkan Alexa mengendarai motor sport kesayangannya.


Langkah kaki Alexa menyusur menuju halaman belakang rumah Satria.


Mobil milik Satria sudah terparkir disana, sudah dapat dipastikan Satria ada di rumah, dan benar saja pria tampan bermata hitam pekat itu sedang terkulai lemas di atas sofa dengan memijat mijat pelipisnya yang terasa pening memikirkan pilihan yang menyulitkan.


"Hey kenapa?"


Tanya Alexa yang segera meraih wajah Satria.


Pria itu nampak tidak karuan, seketika itu juga Satria langsung memeluk tubuh Alexa. Pelukan yang akan Satria rindukan nantinya setelah berpisah.


Aroma tubuh Alexa yang selalu mendamaikan pikiran Satria, apalagi di saat seperti ini.


"Maafkan aku sayang."


Satria meracau tidak karuan di ceruk leher Alexa dengan nada terisak. Tidak biasanya Satria seperti ini.


Alexa sudah berniat untuk mengakhiri hubungannya sekarang, tapi melihat kondisi Satria yang setengah depresi membuat Alexa mengurungkan niatnya, dia justru mendekap satria erat.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi?"


Alexa mengelus punggung Satria begitu lembut, lalu Satria melepaskan pelukan Alexa, dan menatap Alexa lekat dengan tatapan penuh arti.


Takut kehilangan itu pasti, dan yang lebih berat lagi Satria bisa gila jika harus melepaskan wanita di hadapannya.


Semua itu harus dilakukan oleh Satria, mau tidak mau, suka tidak suka Satria harus menuruti permintaan Bayu, demi keselamatan Alexa.


Biarlah tidak bersama, asalkan Satria masih bisa melihat Alexa. Itu sudah lebih dari cukup bagi Satria, dari pada dia harus kehilangan Alexa selama lamanya.


"Ayo bilang apa yang sudah terjadi pada Satria ku?"


Alexa masih mencoba menepiskan keadaan walau sebenarnya hatinya terasa nyeri, cepat atau lambat dia akan meninggalkan Satria.


"Aku harus menikahi dia."


"Maafkan aku."


Jari telunjuk Alexa langsung menempel di bibir Satria, mengisyaratkan Satria untuk tidak berkata lebih lanjut lagi.


Semua keadaan ini sudah mampu Alexa duga, walau batinnya terasa nyeri saat mendengar pengakuan Satria yang ingin mengakhiri semuanya.


"Aku ngerti Sat. Aku mengerti sekali, tanpa kamu jelaskan lagi."


Ucap Alexa yang sudah pasrah dengan keadaan.


Wanita itu tertunduk lemah, kemudian menyeka air matanya, agar buliran bening itu tidak jatuh bebas di pipi mulusnya.


Apakah cinta serumit ini?


Batin Alexa berkata kata.


Kalau boleh Alexa minta, biarlah hidupnya seperti dulu, seperti sebelum Satria hadir di kehidupannya.


"Aku cukup tahu diri Satria."


"Kita memang tak pernah sebanding, tak pernah layak untuk bersama."


Tutur Alexa mulai dengan derai air matanya.


Satria tak kuasa melihat wanita pujaan hatinya meneteskan air mata. Cinta Alexa memang begitu tulus untuknya, rasanya dada Satria seperti tertusuk oleh drama perpisahan ini.


"Bukan itu Alexa, sama sekali bukan itu alasan kita berpisah. Yakinlah cinta ini hanya untukmu sampai kapanpun."


Satria meraih wajah Alexa dengan kedua tangannya, memaksa netra Alexa untuk saling menatap, agar kejujuran dari sirat mata Satria mampu tersampaikan pada Alexa.


Tidak ada kebohongan dari mata Satria, kemudian mereka mengeratkan pelukan terakhir.


Pelukan yang tidak akan pernah mereka rasakan kembali setelahnya, pelukan yang akan sangat mereka rindukan nantinya.


••••


Yang suka klik like yah 😘