Sandara

Sandara
Dipecat



"Pak Reza apa tidak ada kebijakan lagi buat saya?"


Alexa masih berusaha mempertahankan pekerjaannya, setelah memasuki ruangan Reza.


"Alexa kamu mau membiarkan saya dipecat juga?"


Reza yang merasa posisinya terancam seketika memutuskan Alexa untuk tidak bekerja mulai detik ini.


"Tapi pak itu bukan sepenuhnya salah saya."


Alexa masih tetap beradu argumen. Memang benar itu semua kesalahan Gresia sendiri yang sudah membuat gelas jatuh ke lantai, akibat perasaannya yang shok saat mendengar kata putus dari mulut Satria.


"Alexa saya harap kamu mengerti, disini bukan soal siapa yang benar, dan siapa yang salah."


"Posisi nona Gresia punya andil besar dalam perkembangan bisnis pak Bayu."


Reza memberikan pengertian pada Alexa, agar Alexa mampu menerima alasan pemecatannya. Penjelasan Reza cukup membuat Alexa tertunduk lemah.


Kini Alexa sadar bahwa dirinya tidak lebih dari butiran kerikil yang mudah dihempas oleh seseorang yang berkuasa.


Status sosial memang tidak pernah adil dalam kehidupan.


"Baik pak Reza saya mengerti. Saya mohon maaf jika selama saya bekerja disini banyak hal yang mengecewakan pak Reza, saya permisi pak."


Dengan berat hati akhirnya Alexa beranjak dari ruangan Reza.


Kaki Alexa melangkah menuju ruang belakang restoran, dimana lemari loker karyawan berderet disana.


Hatinya seketika hancur, kehilangan pekerjaan yang selama ini sudah membantu biaya hidupnya.


Entahlah setelah ini Alexa harus mencari pekerjaan kemana lagi.


•••


Sesampainya di depan lemari loker, Alexa langsung mengemasi semua barang miliknya. Sepatu heels yang Alexa kenakan kini sudah berganti dengan sepatu boot coklat, begitupun dengan seragam yang sudah Alexa lepaskan.


Penampilan Alexa kini berubah casual dan santai, namun tetap tidak mengurangi paras cantiknya. Walau kecantikan Alexa sekarang sedang terbalut wajah muram penuh kekecewaan.


"Jangan sedih."


Tiba tiba suara dari ujung pintu ruangan membuyarkan lamunan Alexa.


Wanita itu masih duduk termangu di kursi panjang yang disediakan oleh restoran untuk karyawan mengganti sepatu.


Bola mata Alexa menatap ke arah sumber suara sekilas, lalu dipalingkan lagi wajahnya.


Alexa melihat Satria yang tengah berjalan mendekat, lalu tangan kanan Satria menyodorkan secarik kertas untuk Alexa.


"Kamu masih bisa bekerja disini Alexa."


Ujar Satria.


Kemudian Alexa menarik kertas tersebut, dibacanya isi surat yang disodorkan oleh Satria. Ternyata isinya tidak lain adalah pencabutan keputusan pemecatan Alexa.


"Tidak usah Satria."


Hanya itu respon Alexa setelah membaca isi surat dari Satria. Alexa pun bangkit dari duduknya, lalu mengembalikan kertas tersebut pada Satria.


"Aku serius Alexa, kamu masih bisa bekerja disini."


Satria masih berusaha membujuk Alexa.


"Tidak usah repot repot Satria, cukup beritahu kekasihmu. Sebelum dia menjadi seorang bos besar, hargailah bawahannya, sedikit saja."


"Tanpa ada orang kalangan bawah, tidak akan pernah ada kalian dari kelas atas."


"Jangan terlalu merendahkan orang yang kalian anggap lemah."


Kalimat yang disampaikan Alexa cukup menohok batin Satria atas apa yang terjadi akibat ulah Gresia.


"Aku minta maaf Alexa, tapi tolong tetaplah bekerja disini. Restoran ini milik papahku, aku berhak memberikan keputusan."


Alexa tersenyum masam saat mendengar pengakuan Satria yang bangga akan aset papahnya.


Alexa segera meraih tas, kemudian berlalu dari hadapan Satria yang masih termenung menyesali semua perbuatan Gresia terhadap Alexa yang sudah keterlaluan.


•••


Motor sport yang Alexa kendarai melaju dengan kencang. Entah kemana Alexa akan pergi untuk menghibur hatinya.


Setelah sekitar setengah jam Alexa mulai menurunkan kecepatan motornya, langkahnya menuju GOR kampus.


Walau sudah malam, suasana GOR masih terasa ramai, banyak mahasiswa yang bermain basket disana.


Alexa memang hobi bermain basket sejak SMA, namun setelah orang tuanya tidak ada, Alexa lebih fokus bekerja, hanya untuk mengais rupiah.


Kini Alexa hanya duduk di tribun GOR menyaksikan teman basketnya bermain penuh semangat. Apalagi melihat tubuh tinggi atlit basket, rasanya cukup memberikan hiburan tersendiri bagi Alexa.


"Main coba! Malah duduk."


Seru laki laki darah bule berparas tampan.


Dia adalah Victor, teman Alexa sejak SMA. Mereka sering menghabiskan latihan basket bersama.


Alexa hanya tersenyum pada Victor tanpa berkata apapun, namun seketika itu juga bola basket sudah melesat ke arah Alexa, bersiap ditangkap oleh Alexa dalam satu kali lemparan saja.


"Gila lo ya, ini sih namanya maksa."


Alexa menangkap bola tersebut, lalu dibawanya turun ke area lapangan. Wanita yang sedikit tomboy itu mulai mendribel bola dengan gaya khasnya.


Alexa masih terlihat ahli bermain basket. Pemandangan yang nampak keren disana, kebetulan satu satunya wanita yang ada disana hanya Alexa.


Victor mencoba merebut bola dari Alexa, namun usahanya sia sia. Alexa sangat pandai memanfaatkan keuntungan sebagai wanita yang mempunyai tubuh lebih kecil, sehingga mempermudah ruang geraknya untuk semakin gencar melakukan serangan.


Kemudian suara riuh tepuk tangan terdengar dari semua pemain disana, setelah Alexa berhasil melesakkan bola ke dalam ring.


"Lo masih jago juga ya."


Ujar Victor yang sudah lama tidak melihat temannya unjuk aksi di lapangan.


"Dari dulu keles."


Jawaban Alexa terdengar sedikit menyombongkan diri di hadapan Victor.


"Tumben lo kesini. Ada masalah apa?"


Victor sangat paham akan kedatangan Alexa yang selalu berusaha lari dari masalah dengan menyalurkan hobinya.


"Gue dipecat dari restoran Vic."


Victor terkejut mendengar pengakuan Alexa.


"Baguslah, biar lo latihan lagi sama gue."


Seketika Alexa menoyor kepala pria bule di sampingnya, namun Victor justru terkekeh menerima perlakuan Alexa.


"Karena lo dipecat, jadi lo bisa kesini lagi."


Victor semakin mengejek Alexa.


"Iya gue suntuk, dari pada ngelamun gak jelas di rumah ratapin nasib, mending gue kesini."


"Hmm, nanti gue bantu cari cari info kerjaan buat lo, tapi itu juga kalau ada."


Seketika mata Alexa berbinar saat mendengar ucapan Victor.


Walau harapan yang Victor berikan masih belum pasti, setidaknya masih ada kesempatan bagi Alexa untuk mencari pekerjaan lagi.


"Ayo main lagi, jangan sedih!"


Seru Victor dengan menarik pergelangan tangan Alexa, lalu mengajaknya kembali ke arena basket.


••••


Klik like ya 😉