Sandara

Sandara
Happy Graduation



Satu bulan telah berlalu setelah Alexa memenuhi syarat kedua yang diajukan oleh Satria. Hubungannya pun dengan Satria berjalan baik, walau di awal cukup menguras kesabaran Alexa akan sikap Gresia yang terus terusan datang memakinya, namun itu semua tidak menyurutkan Satria untuk mundur dari Alexa.


Satria justru semakin menguatkan cintanya pada Alexa. Apalah daya Alexa yang harus mengakui bahwa hatinya pun sudah jatuh ke dalam pesona Satria.


Kehadiran Satria menjadi warna baru dalam hidup Alexa, tidak sekali dua kali Satria selalu membantu Alexa dalam situasi sulit. Satria selalu ada untuknya, cinta mereka berjalan mengalir seperti air, tanpa paksaan, dan saling mendukung satu sama lain.


Hari ini adalah hari bahagia Alexa untuk meresmikan dirinya menyandang gelar sarjana.


Harapan baru akan dimulai, tekadnya untuk mencari pekerjaan yang layak sudah Alexa lakukan lebih awal. Bahkan satu bulan sebelum acara wisuda Alexa sudah mengirimkan beberapa CV lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan ternama.


Wisudawan dan wisudawati sudah berkumpul di aula kampus dengan pakaian terbaiknya, tak terkecuali dengan Alexa yang saat ini mengenakan kebaya burkat warna putih tulang dengan panjang badan yang hanya pas sepinggang, berbalut kain lilit batik motif coklat, dengan rambut Alexa yang digulung ke atas, berhias bunga mawar putih di gelungan rambutnya yang berfungsi sebagai pemanis kepala.


Kaki jenjang Alexa mengenakan sepatu heels coklat mocca, senada dengan rok lilit. Dapat dipastikan semua mata pria maupun wanita akan memuji kecantikan Alexa hari ini.


Biasanya Alexa terlihat sedikit tomboy dan cuek, hanya berbalut kaos dan celana jeans, tapi hari ini harus diakui kalau Alexa nampak berbeda.


"Cantik bener sahabat gue satu ini."


Laki laki berparas bule yang sudah banyak membantu Alexa memuji kecantikan Alexa.


Victor datang menghampiri Alexa, berdiri tepat di samping Alexa. Walaupun Victor berbeda fakultas, namun mereka harus berkumpul di aula yang sama untuk melaksanakan momen wisuda.


"Ah bisa ajah lo."


Alexa sedikit tersipu malu akan pujian Victor yang pandai merayu wanita sejak masa SMA dulu.


"Serius Lexa, dulu lo kan waktu acara perpisahan sekolah malah ngabur, cuma gara gara disuruh pake kebaya."


Victor mengingatkan masa masanya dulu saat SMA, harus Victor akui Alexa mengalami banyak perubahan setelah masa kuliah.


Kalau sekarang Alexa sedikit tomboy, dulu saat sekolah Alexa sangat tomboy. Alexa yang sekarang lebih care penampilan, lebih modis, walau masih ke dalam kategori fashion cuek. Victor sangat menyukai perubahan Alexa yang sekarang.


"Lo masih inget ajah sih."


Ujar Alexa yang enggan membahas masa sekolah mereka dulu.


"Lexa, sepertinya udah waktunya lo tinggalin kerjaan di tempat kakak gue."


Tiba tiba raut wajah Victor berubah serius, mengalihkan ke arah obrolan yang serius, karena Victor pun tidak ingin melihat Alexa berlama lama bekerja di club malam.


"Iya, pengennya gue juga begitu Vic."


Ingin sekali Alexa berhenti bekerja di tempat Marcel, namun Alexa harus sedikit bersabar, karena semua lamaran yang dikirimkan via email masih belum mendapat respon satu pun dari perusahaan.


"Ya mudah mudahan lo bisa dapetin impian lo Lexa."


Victor memang selalu mensupport sahabatnya sejak dulu.


"Terus lo sendiri setelah ini mau kemana?"


Pertanyaan balik dari Alexa membuat Victor tertunduk lemah.


"Gue siap terbang ke Jerman, ikut bokap gue."


Alexa tahu bahwa hubungan orang tua Victor tidak begitu baik. Mamah dan papahnya telah lama bercerai, tapi Victor sudah berjanji pada papahnya setelah menyelesaikan S1, Victor akan lanjut S2 di Jerman.


Kemungkinan besar Victor akan berpindah kewarganegaraan, karena setelah lulus nanti Victor akan mengurus perusahaan papahnya disana.


Alexa mengusap bahu Victor yang tertunduk lemah dengan pandangan kosong.


"Gue gak tega ninggalin mamah, ninggalin semua kebahagiaan gue disini Lexa. Apa lagi ninggalin team basket, dan semua sahabat gue. Termasuk lo."


Kata kata yang Victor ucapkan di akhir cukup membuat senyuman terukir dari bibir Alexa.


"Hidup itu harus tumbuh, gak mungkin semuanya akan stak disitu situ saja Victor."


Kalimat yang Alexa ucapkan untuk Victor bukan semata untuk menyemangati sahabatnya saja, tetapi juga untuk dirinya. Tantangan hidup di depan akan semakin berat dan terjal.


"Ya sudah gue mau ke kursi fakultas gue, lo juga mending gabung sama temen temen fakultas hukum sana."


Victor pun menuruti permintaan Alexa yang menyuruhnya untuk berpisah menuju kursi masing masing.


Langkah Alexa mendekati kursi yang sengaja dia pilih bersebelahan dengan Shella, lalu beberapa sambutan wisuda mereka ikuti sampai acara berakhir.


•••


Seikat bucket bunga mawar putih disodorkan oleh tangan kekar Satria, membuat Alexa terkejut, karena Alexa baru saja keluar dari gedung aula dan menikmati sesi foto bersama teman temannya.


Kehadiran Satria yang tiba tiba bukan hanya membuat Alexa terkejut, tapi juga sekaligus malu, karena Satria tanpa ragu menampakkan diri di hadapan teman teman Alexa. Padahal Satria sudah mengatakan bahwa akhir akhir ini dirinya akan disibukkan oleh berbagai urusan kantor.


Siapa sangka kini Satria tiba tiba datang menemui Alexa, dan betapa beruntungnya Alexa yang memiliki kekasih seperti Satria yang selalu penuh kejutan.


"Happy graduation honey."


Sebuah ciuman pun mendarat di pipi kanan Alexa setelah Satria memberikan bucket bunga untuknya.


Perlakuan manis dari Satria seketika membuat pipi Alexa merah merona menahan malu.


"Ecieeeee. . ."


Seru teman teman Alexa, termasuk Shella disana. Alexa tetap tak menghiraukan mereka akibat rasa malunya.


"Bukannya kamu sibuk urusan kantor?"


Alexa mencoba memecahkan rasa gugup di hadapan Satria.


Walau hubungan mereka sudah berjalan satu bulan, namun tetap saja perasaan canggung itu selalu menyelimuti hati Alexa. Wajar kalau Alexa mengalamai rasa gugup tak terkira, karena Alexa baru saja mengenal masa pacaran.


"Sesibuk apapun, akan aku usahakan datang di hari bahagia kekasih sendiri."


Ucapan Satria sontak membuat wanita di sekeliling Alexa merasa iri padanya. Menurut mereka Alexa sangat beruntung memiliki pria tampan, tajir, dan perhatian pula.


Satria tidak menghiraukan respon teman teman Alexa, dia justru menggenggam tangan Alexa, lalu membawanya pergi meninggalkan area kampus.


Entah kemana Satria akan membawa Alexa?


Alexa sendiri pun tidak tahu, yang jelas keberadaan Satria cukup mengundang emosi wanita di sudut sana. Terlihat dari raut wajahnya dan juga tangannya yang mengepal saat menyaksikan Satria yang menggandeng tangan Alexa dengan begitu posesif.


••••


Yang suka ceritanya like and comment ya 😉