
Malam ini terasa seperti mimpi bagi seorang Alexa Sandara, diperlakukan seperti putri cinderella oleh Satria dan juga kakaknya Angela.
Bedanya kalau cinderella mencintai pangeran, sedangkan Alexa masih tidak tahan dengan kehadiran Satria.
Apalah daya Alexa, kesepakatan yang mereka buat membawanya dalam situasi seperti ini.
Alexa dibawa oleh Satria ke sebuah restoran dengan ruang VIP. Restoran tersebut masih berada di kawasan hotel milik Axton, hotel tersebut lengkap dengan segala fasilitas kebutuhan tamu.
Satria sudah mempersiapkan semuanya agar makan malam bersama Alexa tidak mampu terlupakan begitu saja oleh Alexa, dan juga dirinya.
Lilin lilin pijar menyala begitu indah dalam suasana hening, ditambah dengan bunga mawar merah yang terhias di sudut sudut ruangan, semakin menambah kesan romantis.
Alexa yang belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya merasa tergelitik hatinya, merasakan degub jantung yang cukup aneh.
Untuk persoalan cinta Alexa masih belum memiliki pengalaman meski usianya sudah menginjak 23 tahun.
Jangankan pengalaman, pacaran pun Alexa belum pernah. Bukan karena tidak ada laki laki yang menginginkan Alexa, hanya saja hati Alexa yang sudah membatu setelah sekian lama.
Alexa terlalu sibuk mencari uang, hingga mengabaikan masa masa indah di usia muda. Baginya cinta hanya milik seseorang dengan status sosial tinggi, berbeda dengan diri Alexa, untuk bertahan hidup pun dia harus berjuang mati matian. Jadi wajar saja jika saat ini Alexa begitu kaku menghadapai Satria dalam suasana romantis seperti saat ini.
Satria duduk berhadapan dengan Alexa, netranya seakan tak ingin lepas dari wajah ayu Alexa yang tampak luar biasa malam ini.
Sapuan make up yang lebih mengeksplore di bagian mata, sangat mempercantik bola mata Alexa yang berwarna coklat muda. Pilihan warna lipstik coklat bersemu merah darah sangat cocok untuk bibir Alexa, semakin menambah gairah Satria meningkat.
Satria mencoba memberanikan diri untuk meraih jemari Alexa, lalu digenggamnya jemari lentik Alexa yang terasa sedikit kasar di bagian telapak tangan, bahkan Satria belum pernah merasakan telapak tangan seorang wanita sekasar ini.
Walau kuku kuku Alexa bersih dan lentik, dari telapak tangan yang dirasakan Satria tergambar jelas bahwa hidup Alexa tidak lah mudah. Telapak tangan kasar itu membuktikan betapa kerasnya semangat Alexa, betapa gigihnya mimpi Alexa.
Entah harus bangga atau tertawa saat Satria merasakan tangan kasar milik Alexa, karena ini satu hal yang unik bagi Satria. Kemudian Alexa mencoba menarik tangannya, dia tak ingin memiliki kontak fisik berlebih dengan Satria.
"Jangan lepaskan."
Satria langsung menahan tindakan Alexa dengan tatapan tajam.
"Tapi poin ini tidak ada dalam perjanjian kita."
Alexa masih mencoba melepaskan genggaman tangan Satria, namun Satria justru mengeratkan genggamannya, bahkan semakin erat.
"Aku sudah memintamu untuk menuruti keinginanku nona Sandara. Kalau kamu tidak mau aku bisa berbuat lebih nekad."
Alexa menghela nafasnya dalam, saat mendengar ancaman Satria.
"Bolehkah saya bertanya sesuatu padamu Satria?"
Akhirnya Alexa berani menatap Satria dengan pandangan yang sama tajam, lalu Satria pun menganggukkan kepala, menyetujui permintaan Alexa.
"Atas dasar apa kamu meminta saya sampai sejauh ini?"
Maksud Alexa meminta menemani Satria makan malam dengan suasana yang didesain seromantis mungkin.
Sejenak Satria masih diam memandang wajah Alexa, lalu wajahnya mendekati wajah Alexa.
"Aku menyukaimu Alexa... Be my girl."
Sesaat Alexa terdiam tak percaya akan ucapan Satria.
Sejenak Alexa berpikir kalau Satria hanyalah sosok laki-laki yang mudah mengumbar cinta, mudah membuang Gresia begitu saja, dan secepat itu memilih Alexa untuk menggantikan posisi Gresia. Sepertinya wanita sudah dianggap seperti baju yang mudah dipakai dan mudah berganti.
"Kenapa diam?"
"Saya tidak mengerti denganmu Satria. Begitu mudahnya membuang satu wanita, lalu secepat itu mencari wanita pengganti."
Ternyata Alexa tahu bahwa Satria sudah memutuskan Gresia saat di restoran, dan ini cukup menyulitkan bagi Satria untuk meyakinkan Alexa akan perasaannya.
"Alexa bisakah kamu sedikit saja buang jauh jauh penilaian burukmu terhadapku."
Entah kenapa Satria begitu mengerti isi kepala Alexa tentangnya, dan itu berhasil membuat Alexa tertunduk di hadapan Satria.
"Aku akui aku sudah memutuskan Gresia, tapi keputusanku untuk melakukan itu bukan atas dasar kehadiran kamu. Jujur sebelum aku bertemu denganmu perubahan perasaan itu sudah aku rasakan dengan Gresia, aku penat menjalin hubungan dengannya."
" Tiap menit, bahkan tiap detik, Gresia selalu mengganggu waktuku hanya untuk hal hal sepele. Sikapnya yang terlalu posesif membuatku semakin tak tahan, dan entah kenapa aku menemukan dirimu sebagai sosok wanita yang berbeda. Kamu simple, penuh semangat, dan berprinsip."
"Aku butuh wanita seperti kamu yang sama sama membangun mimpi, menentukan tujuan hidup yang akan dicapai. Bukan seperti kebanyakan wanita yang mendekatiku, mereka hanya menginginkan semua aset yang aku miliki."
Satria menuturkan penjelasannya dengan tatapan mata yang begitu serius pada Alexa, membuat Alexa bingung setengah mati harus menjawab apa?
"Aku mohon Alexa, terimalah aku untuk menjadi bagian dari hidupmu."
Netra Satria masih penuh kekhawatiran akan penolakan Alexa.
"Status sosial kita berbeda Satria."
Alexa memalingkan wajahnya setelah mengucap kalimat tentang perbedaan status sosial.
"Tatap aku Alexa."
Alexa masih tetap memalingkan wajahnya, lalu Satria meraih dagu Alexa, memaksa untuk menatap kedua bola matanya. Pandangan mereka saling bertemu.
"Cinta tidak pernah membawa urusan tentang status sosial, karena cinta berdasarkan hati yang tergetar. Saat degub jantung kita berpacu begitu keras terhadap seseorang, itulah cinta. Aku yakin sekarang kamu tengah merasakannya Alexa, hanya saja kamu tidak sanggup untuk mengakuinya."
"Jangan mengingkari hatimu sendiri, karena aku akan selalu siap untuk menerima semua kelebihan dan kekuranganmu. Cukuplah berada di sisiku, itu sudah lebih dari cukup, karena hatiku tidak tergetar oleh cara pandang dan pola pikir sosial, hatiku hanya tergetar olehmu Alexa. Percayalah aku akan selalu menjagamu."
Netra Alexa melemah, tak kuasa akan penuturan Satria. Jantungnya pun berdegub kencang saat menatap pria tampan di hadapannya.
"Tapi..."
Baru saja mengucap kata itu Satria langsung menaruh telunjuknya tepat di bibir Alexa.
"Berjanjilah padaku untuk tetap bersamaku Alexa."
Alexa tertunduk malu kehilangan rasa percaya diri. Hatinya merasakan debaran cinta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, namun perasaan rendah diri masih muncul dalam pikiran Alexa.
"Fix kamu diam, itu artinya kamu menerimaku Alexa."
Satria tidak mau menyiakan kesempatan ini. Lelaki gila memang, membuat keputusan seenaknya sendiri.
"Dasar brengsek."
Alexa langsung mengatai Satria, tapi kali ini diiringi dengan senyuman yang merekah dari bibir Alexa.
Alexa merasa sedikit gugup di hadapan Satria, dan itu sukses membuat Satria tersenyum bahagia penuh kemenangan, artinya cinta Satria sudah terbalas oleh Alexa.
••••
Klik like ya 😉