
Pria yang kini berdiri tegak mengenakan setelan jas hitam berbalut kaos hitam itu terlihat sangat rupawan. Rahang tegasnya semakin mengerat saat melihat pemandangan yang tidak pantas.
Lelaki paruh baya tengah mengungkung Alexa di bawah tubuhnya, terlihat jelas raut wajah Alexa yang ketakutan dengan derai air mata yang mengalir di sudut pelipisnya.
Pria yang mendobrak pintu ruangan Bayu adalah Jevan Lee, sang penguasa Van`s Corporate sekaligus penguasa bisnis otomotif di Jepang.
Bisnisnya sangat berkembang pesat di bidang produksi mobil sport balap yang banyak digandrungi kalangan anak muda di Jepang.
Netra Jevan tak lepas dari Alexa, sejak peristiwa aksi penculikan di trotoar sekitar kantornya. Mobil yang berada sekitar lima meter di belakang mobil anak buah Bayu, tidak lain adalah mobil milik Jevan.
Awalnya Jevan hendak menuju perjalanan bandara, dia akan segera pulang ke Jepang mengejar penerbangan sore menuju Tokyo.
Namun saat kedua bola mata Jevan menemukan sosok Alexa yang dibawa paksa oleh kedua pria asing berbadan besar, niatnya ke bandara langsung dia urungkan.
Kemudian Jevan mengikuti laju mobil tersebut, sampai akhirnya membawa Jevan ke ruang bawah tanah milik Bayu.
Jevan masih ingat benar siapa dalang dalam penculikan ini, bahkan Jevan dapat melihat jelas sosok Bayu yang merupakan sosok pembunuh ayahnya.
Selama Jevan melakukan kunjungan ke Indonesia, Jevan tidak pernah melewatkan untuk mencari informasi dan perkembangan tentang keluarga Axton.
Jevan masih mampu mengenali wajah pamannya, sementara Bayu sang paman dia sudah lupa akan Jevan, lupa akan kabar dan rupa Jevan yang sudah tumbuh dewasa.
Jevan sangat pandai merahasiakan identitasnya dari keluarga Axton, namun bukan berarti Jevan tidak pernah tahu kabar keluarga Axton.
"Kau mengganggu kesenangan ku anak muda ingusan."
Bayu sudah sangat geram melihat kehadiran Jevan, lalu dia bangkit dari kasur king size melepaskan kungkungannya dari tubuh Alexa.
Seketika itu juga Alexa berusaha bangkit dari kasur, dan merapikan bajunya yang sudah kusut akibat perlakuan Bayu.
Jevan masih diam tak bersuara, namun langkahnya semakin memangkas jarak antara dirinya dengan Bayu.
Dengan penuh emosi Jevan menarik kerah baju Bayu, sekuat tenaga Jevan menghempaskan Bayu ke lantai, sampai tersungkur. Bahkan darah segar pun mengalir dari lubang hidung Bayu.
Jangan lupakan soal Jevan yang sudah tumbuh menjadi pria misterius, akibat kehidupan keras yang telah Jevan lalui sepeninggal sang ayah.
Setelah melihat aksi Jevan yang begitu bengis, membuat Alexa merasa ketakutan. Ternyata pria yang pernah meminta dirinya untuk menjadi seorang istri lebih menyeramkan dari yang Alexa bayangkan.
Alexa lebih memilih diam menyaksikan aksi pergulatan Jevan dengan Bayu di sudut ruangan.
"Dia wanitaku."
Tegas Jevan dengan mengeratkan rahangnya di hadapan Bayu.
Kini Jevan meraih satu botol wine lalu mengalirkan cairan tersebut ke dalam tenggorokannya, dengan santainya dia mengakui kalau Alexa itu miliknya.
"Ternyata kita tertarik dengan wanita yang sama."
"Bagaimana kalau kita berbagi?"
Ujar Bayu yang sudah bangkit dari lantai, lalu mengusap hidungnya yang masih meneteskan setitik darah segar.
Jevan yang mendengar ucapan Bayu barusan membuatnya berbalik arah dan kembali menatap Bayu dengan tajam.
Ucap Jevan tepat di hadapan wajah Bayu, dan membuat netra mereka saling beradu seperti mengisyaratkan emosi yang sudah membuncah diantara keduanya.
Jevan dengan sengaja melakukan tatapan yang mengintimidasi terhadap Bayu, dia ingin mengetes daya ingat Bayu.
Apakah Bayu masih ingat akan keponakannya yang telah lama hilang?
Sekitar lima belas tahun lamanya Jevan menghilang, tapi sepertinya tidak ada tanda tanda Bayu mengingat akan Jevan. Kemudian senyuman licik itu merekah dari sudut bibir Jevan.
"Jika anda masih mengganggu wanita ini, akan saya pastikan kehidupan anda bersama keturunan anda tidak akan pernah hidup layak lagi."
Jevan berkata demikian setelah dia merogoh senjata api yang dia bawa di dalam saku celananya, lalu mengacungkannya tepat ke arah wajah Bayu.
Sontak Bayu pun nampak gemetar saat melihat aksi Jevan yang sedikit gila.
Langkah kaki Jevan kini menuju Alexa yang masih ketakutan akan situasi ini. Tubuh Alexa gemetar, nafasnya pun terengah, entah harus merasa senang atau takut, karena Alexa pun sulit mengartikan cara berpikir Jevan.
Di satu sisi Alexa merasa senang karena Jevan sudah menolongnya, namun di sisi lain Alexa juga beranggapan kalau Jevan bisa saja dengan tega mengarahkan pistolnya ke arah Alexa.
Oh Tuhan.... dimana Satria?
Batin Alexa bergumam, berharap sosok Jevan itu adalah Satria.
Saat Jevan sudah tepat berada di hadapan Alexa, dia melepaskan jasnya, kemudian memakaikan jas tersebut di bahu Alexa, karena Jevan tahu baju yang dikenakan Alexa sedikit robek akibat perlakuan kasar Bayu yang memaksa Alexa.
Jevan menuntun bahu Alexa untuk berjalan, namun lutut Alexa terasa gemetar dan lemas akibat rasa takut yang luar biasa.
Saat dituntun oleh Jevan tiba tiba kaki Alexa ambruk, tak sanggup untuk melangkah, padahal heels yang Alexa kenakan sudah terlepas.
Kaki jenjang Alexa tak mampu menopang tubuhnya sendiri, sekalipun tubuhnya sangat ramping.
Melihat kondisi Alexa yang seperti itu akhirnya Jevan meraih tubuh Alexa, lalu membawanya ke dalam gendongan ala bridal style.
Jevan pun melenggangkan langkahnya, namun netranya tetap tertuju pada Bayu dengan tatapan siaga. Sementara pistol itu masih terkait di jemari kiri Jevan yang masih diarahkan pada Bayu.
Alexa hanya bisa pasrah menerima perlakuan Jevan, kedua lengannya bergelayut di leher Jevan, sementara wajahnya ia sembunyikan di dada Jevan.
Entah pria seperti apa Jevan ini?
Tentunya Jevan bukan pria biasa. Kalau Jevan adalah sosok pria biasa, tidak mungkin dia akan mempunyai tingkat keberanian seperti ini.
Batin Alexa semakin berkecamuk memikirkan apa yang telah terjadi hari ini.
Kemana Alexa akan pergi bersama Jevan?
Entahlah yang terpenting saat ini Alexa bisa selamat dari aksi brutal Bayu.
••••
Klik like ya 😊