Sandara

Sandara
Trust me



Ferari hitam milik Jevan sudah terparkir di area basement apartemen mahal. Tentunya tingkat keamanan apartemen tersebut tidak diragukan lagi.


Sudah dapat dipastikan bukan sembarang orang yang boleh memasuki area apartemen milik Jevan, namun hati Alexa berkata sebaliknya, ia semakin merasa khawatir akan keselamatan dirinya sendiri.


Bisa jadi Alexa lepas dari kandang singa, lalu memasuki kandang buaya, bahkan Alexa beranggapan buaya itu adalah Jevan.


Setelah Alexa menyadari kalau dirinya dibawa oleh Jevan ke apartemen, otak Alexa langsung berpikir jauh. Jevan bisa saja memanfaatkan kelemahan Alexa, lalu meniduri Alexa.


Selama perjalanan keduanya tidak ada yang memulai obrolan, Jevan tetap fokus dengan kemudi, sementara Alexa fokus dengan pikirannya sendiri.


Tubuh Alexa terasa lunglai setelah apa yang dialaminya di ruang bawah tanah bersama Bayu, otaknya terus bekerja memikirkan aksi Bayu yang menyimpan dendam pada diri Alexa.


Ingin sekali Alexa bertanya pada Jevan bagaimana dia bisa tahu kalau Alexa dalam bahaya, namun semua pertanyaan itu ia urungkan setelah ekor matanya menangkap raut wajah Jevan yang nampak mengerikan dibalik kemudi.


Rasa penasaran Alexa pun akhirnya mengalahkan rasa takutnya terhadap Jevan.


"Apa ini apartemen bapak?"


Tanya Alexa dengan nada bicara penuh hati hati.


Alexa masih ingat status Jevan sebagai penguasa saham Van`s Corporate, apapun keadaannya Jevan tetap bos besar di tempat kerjanya.


Jevan hanya diam tak menjawab sepatah katapun pertanyaan Alexa. Tangannya segera meraih pintu di sampingnya, lalu turun dari mobil meninggalkan Alexa yang masih termenung tak mengerti akan sikap Jevan terhadapnya.


Tiba tiba pintu mobil di samping Alexa terbuka, menampilkan wajah Jevan yang sedikit membungkuk.


Pria itu membukakan pintu mobil untuk Alexa dengan penuh perhatian, ada gurat cemas dari sorot mata Jevan terhadap wanita yang sudah dia selamatkan.


Telapak tangan Jevan menengadah menunggu sambutan jemari Alexa untuk mengaitkan di tangan kekarnya, namun netra Alexa msih menyelidik membuat kedua pasang bola mata itu tepat beradu pandang.


Pandangan Alexa mengisyaratkan pertanyaan :


Kemana kau akan membawaku?


"Trust me Lexa."


Hanya itu yang terucap dari bibir manis Jevan.


Perasaan takut kembali menyelimuti hati Alexa, pelan pelan ia meletakkan jemarinya di telapak tangan Jevan.


Kemudian Alexa melangkahkan kakinya untuk turun dari mobil, tanpa ragu Jevan langsung membawa Alexa dalam gendongannya setelah Jevan menyadari kalau kaki kecil Alexa telanjang tanpa alas kaki.


"Maaf pak Jevan, sepertinya aku cukup kuat untuk jalan kaki."


Ujar Alexa setelah berada dalam gendongan Jevan.


Jevan hanya merespon dengan gelengan kepala, akan tetapi Alexa masih berusaha turun dari gendongan Jevan.


"Cukup palingkan wajahmu, atau kau akan menjadi trending topic di kantor jika ada yang tahu kita dalam posisi seperti ini."


Seketika Alexa menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Jevan, sementara kedua lengannya Alexa kaitkan di leher kokoh milik Jevan.


•••


Akhirnya Jevan sudah membawa Alexa ke apartemen, desain interior nuansa hitam terasa sangat mendominasi disana, lampu lampu ruangan menampilkan sinar kuning redup, membuat penghuninya merasa nyaman dan tenang di dalamnya.


Begitupun dengan Jevan yang berharap Alexa akan merasa lebih baik jika dirinya membawa ke tempat ini, karena membiarkan Alexa pergi sendirian sama saja seperti memberikan umpan kepada Bayu.


Bayu bisa saja sewaktu waktu akan datang kembali membawa Alexa dan mengancam Alexa.


Ruangan sepi dan tenang di apartemen terasa sangat berbanding terbalik dengan perasaan Alexa. Tubuh Alexa merasakan panas yang tak terkira, sekalipun suhu udara di dalam apartemen terasa sejuk, namun tiba tiba tenggorokan Alexa terasa haus dan terbakar.


Entah apa yang terjadi dengan Alexa sekarang?


Apa mungkin itu efek dari obat suntik yang diberikan oleh Bayu?


"Aku haus Mr. Je, disini terasa sangat panas."


Mendengar pengakuan Alexa barusan membuat Jevan terperanjat saat Alexa memanggilnya dengan sebutan Mr. Je.


Anehnya lagi di dalam ruangan sesejuk ini, kenapa Alexa justru merasakan panas?


Kalau Jevan tidak percaya pun itu tidak mungkin, karena Alexa mulai mengibas ngibaskan jemarinya di depan dadanya sendiri.


Alexa mulai membuka kancing bajunya sendiri, seolah tidak peduli akan kehadiran Jevan. Bagaimanapun Jevan adalah lelaki normal, saat melihat pemandangan seperti ini membuat Jevan dengan keras menelan salivanya dalam dalam.


Setelah Jevan menyodorkan segelas air putih dingin, Alexa langsung meminumnya sampai tandas. Namun air yang diberikan oleh Jevan tak mampu mengurangi rasa panas di tubuh Alexa.


Akhirnya Alexa memutuskan untuk mencari kamar mandi di apartemen Jevan, Alexa berharap dengan mandi dapat sedikit mengobati kondisi tubuhnya untuk normal kembali.


"Jevan, aku mau mandi."


"Disini panas!"


Otak Alexa sudah meracau, bahkan tak ada panggilan pak lagi untuk Jevan.


Raut wajah Alexa menampilkan gurat keberanian, emosinya pun mulai tidak stabil. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alexa?


Jevan berusaha memutar otaknya untuk menyadari semua yang dirasakan Alexa sekarang.


Baru saja Alexa mencoba meraih pintu kamar mandi, tiba tiba lengan Jevan menarik tubuh Alexa, keduanya saling beradu pandang, namun pikiran Jevan kini mengerti mengapa Alexa berubah seperti ini.


"Beri tahu aku Lexa, apa yang sudah dilakukan Bayu terhadapmu?"


Tanya Jevan dengan tatapan menelisik ke arah Alexa.


Siapa Bayu?


Pikir Alexa yang tidak mengetahui nama pria paruh baya yang sudah menculiknya.


Akhirnya Alexa mengerti kalau Bayu yang dimaksud Jevan adalah pria tua bangka yang tidak tahu diri.


"Tua bangka itu belum melakukan apapun padaku."


Ujar Alexa berusaha mengingat apa yang sudah terjadi.


"Bukan itu maksudku."


"Sebelum aku datang, apa Bayu meracunimu dengan minuman atau makanan?"


Jevan kembali memastikan, raut wajahnya penuh dengan kecemasan.


"Tidak, hanya saja sebelum kau datang si tua bangka itu menyuntikan sesuatu di lengan kanan ku."


Tepat dugaan Jevan bahwa suntikan itu berisi cairan perangsang agar Alexa merasakan keinginan tiada tara untuk melakukan hubungan terlarang itu.


"Shitttt!"


Pekik Jevan sambil mengacak rambutnya kasar.


"Aku tersiksa Jevan, sangat tersiksa dengan kondisi tubuhku saat ini."


Tiba tiba Alexa terlihat begitu agresif merengek ke dalam pelukan Jevan. Kedua bola matanya menatap Jevan lekat.


Harus Alexa akui kalau Jevan terlihat sangat tampan, bahkan lebih tampan dan mempesona dibanding Satria, tapi entahlah Alexa seperti kehilangan kesadaran.


Nama Satria pun sudah tidak mampu Alexa ingat lagi. Saat ini yang ada hanyalah reaksi obat perangsang yang mulai bekerja di tubuh Alexa.


Jevan yang ditatap begitu lekat oleh Alexa, tiba tiba merasa ada desiran tersendiri di hatinya. Jantung Jevan berdegub kencang saat menatap paras ayu yang dimiliki Alexa.


Kini lengan Alexa sudah meraih leher Jevan, tatapan mereka begitu mesra, sampai akhirnya Alexa sendiri yang memberikan ciuman di bibir Jevan.


Tanpa ragu Jevan memanfaatkan situasi ini untuk menikmati bibir mungil Alexa, karena sejak awal Jevan melihat Alexa, hatinya sudah tertarik pada gadis itu.


Rasanya seperti mimpi bagi Jevan mendapat perlakuan manis dari Alexa malam ini. Alexa begitu agresif di hadapan Jevan.


"Tolong aku dari keadaan ini Jevan."


Bisik Alexa mengakhiri ciumannya dengan penuh kelembutan, lalu wanita itu memeluk Jevan erat.


••••


Ayo klik like ya 😉


Ngapain ya mereka?


wkwkwk