
Satu minggu telah berlalu setelah Satria melamar Alexa. Kehidupan Alexa berjalan seperti biasanya, hanya saja Alexa sudah kehilangan sahabat bawel sekaligus sahabat satu kosan.
Shella sudah pamit untuk pulang kampung ke kota kelahirannya yaitu Lampung, dia lebih memilih untuk bekerja disana, mengingat pesan ayah Shella yang tak ingin membiarkan putri kesayangannya menjadi anak rantau terus menerus.
Kepulangan Shella sangat membuat Alexa merasa kehilangan sosok sahabat yang selalu ada untuknya, kini hari hari Alexa terasa hambar tanpa Shella. Walau Satria selalu setia menemani Alexa, namun ada porsi yang berbeda diantara sahabat dengan kekasih.
Malam ini suasana hati Alexa cukup bahagia, karena malam ini merupakan malam terakhir Alexa datang ke club malam milik Marcel.
Alexa akan mengundurkan diri bekerja dari club, telah lama Alexa memimpikan semua ini. Alexa sudah diterima di salah satu perusahaan ternama, kabarnya pemilik perusahaan itu selalu menyembunyikan identitasnya dibalik nama direktur utama yang diutus oleh pemiliknya.
Alexa pun belum mengetahui siapa nama pemilik perusahaan, yang jelas Alexa sudah diterima sebagai salah satu staff keuangan di perusahaan yang bergerak dalam bidang entertain.
Alexa hanya tahu nama perusahaan yang telah merekrutnya, yaitu Van`s Corporate, salah satu perusahaan besar dan ternama. Tentunya gaji yang akan Alexa dapatkan disana jauh lebih besar dari pekerjaan Alexa sebelumnya, termasuk saat Alexa jadi waitress di restoran milik Satria, dan waitress di club malam milik Marcel.
Andai saja Shella ada, pastinya Alexa akan merayakan samua ini dengan mengajak Shella makan sepuasnya.
Langkah gesit Alexa menuju lantai tiga, suasana yang sangat berbeda jika harus dibandingkan dengan lantai satu dan dua yang penuh hiruk pikuk dunia malam. Kemudian sesampainya disana Alexa langsung mengetuk pintu ruangan Marcel.
"Masuk."
Sahut Marcel dari dalam ruangan, kemudian Alexa pun memasuki ruangan.
"Ada apa Lexa?"
Alexa masih tidak mengerti mengapa Marcel belum mengetahui maksud pengunduran diri yang sudah Alexa ajukan pada Eliza. Harusnya permohonan resign Alexa sudah Eliza informasikan sebelumnya pada Marcel.
"Perihal surat pengunduran diri yang sudah saya serahkan pada mba Eliza, pak."
"Oh ya maaf, saya lupa Lexa."
Batin Alexa cukup merasa lega saat melihat respon Marcel.
"Iya pak Marcel, malam ini saya mau pamit. Saya sudah tidak lagi bekerja di tempat ini, dan mba Eliza sudah menginformasikan pada saya kalau pengajuan resign sudah bapak setujui."
Dengan nada takut Alexa menyampaikan semua maksud kedatangannya. Terlihat jelas kegugupan Alexa yang kini tengah mengepalkan kedua tangannya di atas paha yang berbalut celana jeans hitam.
Betapa bijaknya Marcel yang dapat memahami situasi Alexa yang menginginkan resign dari pekerjaannya.
Terkadang Marcel pun mengagumi sosok Alexa yang tak pernah menyerah menjalani hidup. Andai saja Alexa mau bersanding dengan Victor, mungkin Marcel akan bahagia melihat mereka berdua menjadi sepasang kekasih. Sayangnya Victor bukanlah pria yang pantas untuk Alexa, apa lagi kalau Marcel ingat kelakuan adiknya yang sering berganti wanita.
"Terimakasih pak Marcel sudah memberikan kesempatan untuk saya. Tanpa bantuan dari club ini, tentunya saya tidak akan mampu menyelesaikan S1."
Marcel tersenyum senang mendengar pengakuan Alexa, secara tidak langsung bisnisnya sudah ikut andil dalam proses mengejar mimpi Alexa, mimpi salah satu karyawannya.
"Iya Alexa sama sama. Kapan kapan main ke rumah kalau Victor liburan dari Jerman."
Ujar Marcel yang sudah yakin bahwa Alexa tahu akan kabar Victor yang hendak menetap berpindah kewarganegaraan.
"Iya pak pasti. Ya sudah saya permisi ya pak."
Alexa bersiap berdiri kemudian berjabat tangan dengan Marcel untuk pamit sebagai karyawan.
•••
Alexa melenggangkan langkahnya menuruni anak tangga, baru saja dia sampai di lantai dua hendak melewati lorong, tiba tiba pandangannya tertuju pada sosok pria paruh baya yang sudah melirik tajam penuh seringai nakal yang tertuju pada dirinya.
Tidak ada wanita lain lagi di lorong sana, siapa lagi kalau bukan pada Alexa.
Laki laki tersebut masih memberikan tatapan tajam, layaknya seekor kucing yang akan menerkam mangsanya. Segelas wine yang digengamnya tiba tiba diacungkan ke arah Alexa, seperti menyampaikan pesan untuk mengajak Alexa minum bersama.
Siapakah laki laki tersebut?
Alexa tidak tahu namanya, yang jelas Alexa masih ingat jelas wajah pria tersebut, karena ini bukanlah pertemuan pertama mereka.
•••
Like ya 😉