
"Selamat menempuh hidup baru bro."
Richard menjabat tangan Jevan, memberikan ucapan selamat pada sahabatnya sekaligus bos besarnya. Sementara Alexa hanya tertunduk diam, tak ingin menanggapi kehadiran Richard.
Tamu undangan pun sudah tidak ada lagi, kini di rumah megah Jevan hanya tinggal beberapa pembantu dan juga Richard.
"Thanks bro."
Ucap Jevan dengan menampilkan senyum menawan di mata Alexa. Harus Alexa akui ketampanan Jevan bisa membuat semua wanita terpana.
"Alexa jaga pria nakal ini baik baik, saya pamit dulu ya."
Richard yang sudah mengetahui kelakuan Jevan sudah tak segan lagi mengatai Jevan sebagai sosok pria nakal.
Sebenarnya Jevan merasa khawatir akan keselamatan Alexa yang kini bersanding dengannya, mengingat kehidupan nakal Jevan yang di luar batas normal sebagai pria.
Terlalu banyak musuh yang mengintai Jevan. Termasuk dari hobi balap liar Jevan yang banyak menyingkirkan lawan main, bahkan merenggut maut. Tentunya musuh Jevan bertebaran dimana mana.
Bagaimanapun juga Jevan tetap manusia biasa, dia masih membutuhkan seorang istri untuk merebut kembali hak kedua orang tuanya di keluarga Axton. Lagi pula hanya tubuh Alexa saja yang mampu membangkitkan gairan Jevan.
Setelah Richard pergi suasana rumah pun menjadi hening, beberapa pembantu sudah selesai membereskan sisa acara. Kini tinggal Jevan dan Alexa yang masih berdiri di teras rumah.
Jevan segera menarik Alexa ke dalam gendongannya. Walau Alexa masih mengenakan kebaya pengantin bekas resepsi pernikahan, Jevan tidak peduli, dia sudah tak sabar ingin menikmati tubuh Alexa lagi.
Alexa yang tampak cantik dalam balutan kebaya putih dengan sanggul minimalis, serta sapuan make up yang segar, membuat gairah Jevan semakin terasa di ubun ubun.
"Jevan kamu apa apaan sih?"
Alexa yang terkejut akan perlakuan Jevan, mencoba melepaskan gendongan Jevan. Sayangnya tenaga Alexa tidak mampu mengimbangi tenaga Jevan.
Semua pembantu yang menyaksikan tingkah Jevan langsung terkekeh sendiri akan sikap majikannya yang terlalu fulgar mengumbar hasratnya, padahal waktu masih menunjukkan jam empat sore. Rupanya Jevan sudah tak sabar ingin melihat tubuh Alexa lagi.
Soal pesta pernikahan, tak seromantis yang kalian bayangkan. Mereka hanya mengucap janji suci pernikahan, kemudian diselingi sesi foto kedua mempelai saja.
Tidak ada keluarga dekat Alexa yang datang, begitupun dengan keluarga dekat Jevan. Hanya beberapa rekanan bisnis Jevan saja yang datang, itu pun yang menurut Jevan dianggap penting, agar dunia tahu kalau Jevan sudah beristri.
Tidak hanya satu dua orang rekanan bisnis Jevan yang menawarkan putrinya untuk menjadi istri Jevan, namun semuanya Jevan tolak. Entah kenapa Jevan hanya tertarik pada Alexa, sejak pertama dia melihat Alexa.
"Tuan muda sangat agresif yah."
Ucap salah satu pembantu yang usianya sudah paruh baya. Semua pembantu Jevan masih terkekeh akan tingkah Jevan yang terlalu agresif terhadap Alexa.
•••
Sesampainya di kamar, tubuh Alexa langsung dihempaskan di kasur king size milik Jevan. Sampai sampai Alexa berteriak karena aksi suaminya yang sedikit kasar.
Jevan mulai mendekat ke arah Alexa. Tak bisa Alexa bayangkan serangan Jevan kali ini.
Kalau kemarin Alexa yang meminta Jevan melakukan itu, akibat pengaruh obat suntik, namun kali ini Alexa tak ingin melakukannya lagi.
"Kenapa tertunduk Alexa?"
"Aku sangat merindukan aksi liarmu kemarin."
Bisik Jevan tepat di telinga kiri Alexa.
Bisikkan yang sangat sensual, hingga mampu membuat bulu kuduk Alexa berdiri, namun tetap saja Alexa tidak ingin melakukan itu lagi.
"I can't do this Mr. Je."
Alexa menatap Jevan dengan tatapan memelas, berharap Jevan tidak akan melakukannya tanpa seizin Alexa.
"Jangan berpura pura Alexa."
Jevan justru semakin agresif, bibirnya kini sudah mencium bibir Alexa, tapi Alexa tidak membalas ciuman Jevan.
"Came on Alexa, just do what you have to do."
Pria tampan bermata coklat itu semakin tak kuasa menahan keinginannya.
"Jevan jangan lakukan itu, aku butuh waktu!"
Pekik Alexa yang masih ingin menghindar dari serangan Jevan.
"Jangan menolakku Alexa! Kamu harus ingat perjanjian kita."
"Kamu harus melayaniku dengan baik. Aku tidak terima dengan bentuk penolakan apapun."
Alexa tidak mampu melawan lagi. Memang benar semua sudah tertulis dalam perjanjian pra nikah, tapi apakah bisa semuanya dilakukan tanpa berlandaskan cinta?
Maafkan aku Satria...
Batin Alexa tak hentinya memanggil nama Satria. Memanggil nama pria yang tak pernah berlaku kasar terhadapnya, pria yang tak pernah memaksanya seperti ini.
Jevan semakin buas menikmati tubuh Alexa. Sejak di Tokyo Jevan sudah tak kuasa menahan gejolak kelelakiannya, bibir Alexa layaknya candu yang tak bisa Jevan lepaskan.
Setelah Jevan memperingatkan perjanjian pernikahan itu, barulah Alexa membalas ciuman Jevan. Mulai dari ritme romantis sampai berubah erotis.
Bibir Alexa bisa mengatakan tak ingin, tapi berbeda dengan tubuhnya yang mulai tersulut oleh aksi panas Jevan, hingga akhirnya mereka melakukan lagi aktivitas suami istri seperti beberapa hari lalu.
Biarlah semuanya terlihat gila, biarlah semuanya semakin runyam, karena cinta bagi Alexa hanya akan menyakitkan.
Kini Alexa hanya memikirkan bagaimana mempertahankan hatinya yang tak ingin jatuh ke dalam pesona Jevan.
••••
Klik like ya 😊