
Sekitar pukul dua belas malam Alexa sampai di kosan. Tubuhnya sudah lemah dan lelah, namun otaknya masih memikirkan bahan skripsi yang harus Alexa printout untuk jadwal bimbingan besok.
Baru saja Alexa menyalakan laptop, tiba tiba laptop milik Alexa langsung ditarik oleh sahabat satu kosannya. Siapa lagi kalau bukan Shella.
"Lo itu bukan robot Lex."
Mata Shella langsung membulat saat melihat Alexa yang akan mengerjakan skripsi. Shella sudah sama persis dengan seorang ibu yang tidak mengizinkan anaknya untuk bermain gadget.
"Rese banget sih Shell, balikin sini laptopnya."
Pinta Alexa dengan posisi tangan menengadah, berharap Shella mengembalikan benda kotak kesayangannya.
"Gue bilang lo bukan robot! Gak ngerti ngerti sih."
Umpat Shella lagi.
Shella hanya takut akan kondisi tubuh Alexa yang terlalu lelah untuk akhir akhir ini.
Kalau dulu Alexa bekerja di restoran sekitar pukul sepuluh malam sudah sampai di kosan, namun sejak Alexa bekerja di club malam, jadwal pulang Alexa paling cepat adalah pukul dua belas malam, kadang bisa sampai subuh kalau teman shift berikutnya tidak masuk.
"Gue besok mau bimbingan pagi pagi Shell, gue butuh printout data bab empat, sekalian mau ngecek lagi."
Shella justru meletakkan laptop di dalam lemari miliknya, lalu menguncinya rapat.
"Masih ada besok. Jadwal bimbingan lo jam sembilan, abis subuh lo print juga bisa. Sekarang lo mandi terus tidur."
Mendengar ucapan bawel dari Shella membuat Alexa terkekeh, perhatian yang diberikan oleh Shella mengingatkan Alexa pada mendiang ibunya yang bawel tingkat akut.
"Kok lo ketawa sih Lex?"
"Ya lucu ajah sikap lo Shell, udah sama persis emak gue tahu gak."
Shella justru menoyor kepala Alexa, tak terima disamakan dengan emak emak oleh sahabatnya sendiri.
"Lo gak capek apa? Sejak kerja di club malam balik sampe tengah malam gini."
Shella merasa kasihan akan hidup Alexa yang harus berjuang sendiri, berbeda dengan dirinya yang dipenuhi segalanya oleh kedua orangtuanya.
"Demi kehidupan yang lebih baik jangan pernah ngerasa capek."
Jawab Alexa sekenanya. Lalu Alexa pun beranjak menuju kamar mandi yang terletak di sudut kosan untuk membasuh tubuhnya, dan menghilangkan rasa lelah yang mendera.
Sebenarnya Alexa sudah merasa lelah tenaga, lelah emosi setelah Satria datang ke club milik Marcel. Ditambah lagi pandangan Satria yang hanya tertuju padanya, menyelidik semua gerak gerik Alexa, rasanya sangat menyebalkan.
"Dasar cowok brengsek!"
Umpat Alexa sambil memejamkan matanya di bawah shower.
Pelan pelan air pun membasahi seluruh tubuh Alexa, terbayang sudah wajah Satria yang sudah tak sabar mengajaknya makan malam.
Ingin rasanya Alexa melarikan diri untuk tidak memenuhi syarat keduanya pada Satria, namun batinnya masih berkata bahwa Alexa Sandara bukanlah orang yang tidak komit dengan janjinya.
Walau dengan berat hati semua syarat yang diajukan oleh Satria akan Alexa penuhi.
•••
Udara pagi cukup membuat Alexa bersemangat untuk melanjutkan bimbingan skripsi. Walau hanya mengendarai motor sport ninja hitam mengkilat, sudah cukup membuat semua mata mahasiswa tertuju pada sang empunya.
Pakaian Alexa hanya berbalut celana jeans navy dipadukan dengan switer abu muda, rambut coklat lurus tergerai di punggung, memperlihatkan lekuk tubuh Alexa yang sexy dan casual. Helm hitam ranger yang Alexa gunakan semakin menambah kesan misterius.
Tak lama kemudian motor kesayangan peninggalan sang ayah itu Alexa parkirkan di area parkir fakultas ekonomi. Langkahnya setengah berlari berusaha mengejar jadwal bimbingan yang harus antri dengan beberapa mahasiwa.
Setelah sampai di depan ruang bimbingan, Alexa duduk di bangku antrian, namun kali ini dia dikejutkan oleh salah satu mahasiswi yang kemungkinan besar adik tingkatnya. Terlihat dari wajah mahasiswi tersebut yang masih malu malu dan polos.
"Kak Alexa ya?"
Mahasiswi itu tiba tiba datang menghampiri Alexa yang masih duduk di kursi antrian.
"Iya, ada apa ya?"
Alexa bingung dari mana mahasiswi itu tahu namanya.
"Kenalin kak, aku Iren adik tingkat kakak. Aku juga anak fakultas ekonomi, tapi baru semester empat."
Iren menyodorkan tangan kanannya, mencoba mengajak berkenalan dengan Alexa.
"Alexa."
Setelah menyebutkan namanya, Alexa bangkit dari duduknya, lalu meraih jabat tangan yang disodorkan Iren.
"Sini duduk."
Ajak Alexa, lalu menggeser posisi duduknya, mencoba memberikan celah untuk Iren agar dapat duduk berdampingan dengan dirinya.
"Aku keponakannya paman Satria kak."
Pengakuan Iren barusan seketika membuat Alexa terkejut. Rasanya dunia ini terlalu sempit untuk hidup Alexa yang tidak bisa lepas dari kejaran Satria.
"Satria anak pemilik kampus ini maksudnya?"
Alexa memastikan kembali, hatinya berharap bukanlah Satria yang dimaksud.
Benar saja pernyataan iya dari Iren membuat Alexa menghela nafasnya dalam. Entah apa lagi yang akan direncanakan oleh Satria, si pria angkuh menyebalkan.
"Lalu?"
Alexa sudah tidak sabar ingin mengetahui maksud Iren menemuinya.
"Aku dititipin ini kak."
Kemudian Iren menyodorkan satu buah jinjingan yang khas dari salah satu butik ternama.
"Apa ini?"
Alexa masih tidak mengerti, kedua bola matanya mencoba menerka nerka isi dari jinjingan tersebut.
"Aku sendiri gak ngerti kak. Paman Satria hanya berpesan pada kakak untuk memakai ini saat kakak memenuhi syarat kedua."
Sial!
Rupanya Satria benar benar menguji kesabaran Alexa dengan mengirim sebuah gaun hitam dari salah satu brand ternama, tentuya dengan harga selangit.
"Iren sepertinya aku tidak bisa menerima ini, kembalikan pada paman gilamu itu."
Iren langsung terkekeh saat mendengar Alexa menyebut paman gila.
"Jangan gitu kak, nanti malah suka loh."
Amit amit suka sama Satria.
Rasa kesal Alexa pada Satria sudah di ubun ubun.
"Ini barang mahal, aku gak bisa nerima dengan cuma cuma. Apa lagi dengan orang yang belum aku kenal."
Alexa menyodorkan kembali jinjingan tersebut kepada Iren, namun tangan Iren segera menepiskan jinjingan tersebut.
"Tolong kak terima saja. Kalau tidak, bisa bisa aku kena marah paman, dan pastinya paman gak akan ngasih uang jajan lagi sama aku."
Ternyata Iren hanya memanfaatkan ini semua demi kepentingan dia juga.
"Jadi kamu manfaatin aku Ren?"
Alexa menatap Iren penuh selidik.
"Bukan kak, bukan, sama sekali tidak seperti itu. Itu hanya bonus dari paman untukku."
"Maksudnya?"
Alexa memotong pernyataan Iren yang membuatnya semakin penasaran.
"Aku rasa pamanku ini sangat tertarik sama kak Lexa, dan aku juga setuju, agar paman Satria bisa terlepas dari anak rektor tengil itu. Aku gak ikhlas beneran, kalau paman kesayanganku harus bersanding sama dia kak. Aku rasa kalian cocok."
Ide gila apa lagi ini?
Seenaknya Iren meminta Satria meninggalkan Gresia, dan menyuruh Alexa sebagai pengganti Gresia.
Tidak diragukan lagi, Satria pasti sudah menyogok Iren dengan jumlah besar.
"Aku serius kak."
Kembali Iren meyakinkan Alexa, sehingga membuat Alexa mau tidak mau harus menerima pemberian Satria.
"Baiklah aku nyerah."
Senyum pun tersungging dari bibir Iren, setelah mendengar pernyataan pasrah Alexa.
"Nah gitu dong, ini sengaja aku yang pilihin tahu kak. Semoga pas sama karakter kak Lexa."
Sangat tidak mungkin Satria menceritakan sedikit tentang Alexa pada Iren. Kalau Satria tidak menceritakan tentang Alexa, mana mungkin Iren bisa tahu selera fashion Alexa.
Iren sengaja memilihkan gaun yang akan dikenakan oleh Alexa dengan warna hitam. Entah dari mana Iren tahu kalau Alexa sangat menyukai warna hitam.
"Paman gila!"
Umpat Alexa lagi di hadapan Iren. Namun keponakan Satria justru terkekeh saat melihat reaksi Alexa yang sangat aneh.
Banyak wanita di luar sana yang mendambakan perlakuan Satria, seperti yang didapatkan Alexa saat ini.
"Ya sudah Iren pamit ya kak. Semoga lancar kencannya."
Goda Iren yang masih terkekeh di hadapan Alexa.
Mulut Iren semakin terasa menyebalkan, kemudian Iren pun menghambur pergi, tidak mau melihat raut wajah Alexa.
Akhirnya Iren memutuskan untuk segera pergi dari hadapan Alexa. Iren takut kalau Alexa akan murka, Iren pun sangat tahu sikap Alexa yang terkenal jutek di kampus.
••••
Happy reading 😘
Klik like ya