Sandara

Sandara
Dua Syarat



Setelah Alexa menarik gas motor sport miliknya, Satria baru menyadari ada barang yang terjatuh dari saku jaket Alexa.


Satria langsung turun dari kemudinya untuk melihat benda yang terjatuh di  sisi jalan, lalu dipungutnya benda persegi panjang dengan tali yang biasa dikalungkan oleh seorang karyawan.


Benda tersebut rupanya id card milik Alexa, tertulis nama Alexa beserta pas foto yang menampilkan wajah manis Alexa disana.


Alexa Sandara.


Satria membaca identitas id card tersebut, kemudian senyum pun merekah dari bibir tipis Satria.


"Nama yang bagus."


Gumam Satria.


Otak Satria mulai membayangkan pesona Alexa kembali, lalu digenggamnya id card milik Alexa erat dengan senyum kemenangan.


Satria berpikir kalau dia masih mempunyai alasan untuk menemui Alexa kembali melalui id card yang sudah dia temukan.


Tentunya Satria yakin kalau Alexa tidak akan memperlakukan Satria sedingin tadi, justru Alexa lah yang akan mencari Satria, tepatnya mencari id card miliknya.


Satria sangat paham betul kalau aturan restoran milik ayahnya sangat ketat akan sikap disiplin. Jika id card karyawan sampai hilang, maka berlaku denda yang akan memotong langsung gaji karyawan.


Pastinya Alexa tidak mau itu terjadi.


Kini Satria kembali memasuki mobil dengan langkah sedikit berlari, hatinya terlonjak penuh kemenangan.


Kemudian Satria kembali menyalakan mesin mobil, lalu mobil milik Satria melesat jauh meninggalkan area restoran yang sudah sepi.


Jauh di dalam lubuk hati Satria merasa tidak tega membiarkan wanita yang sudah mengusik hatinya pulang sendirian menembus dinginnya angin malam.


Satria masih memikirkan keselamatan Alexa yang pulang tengah malam seorang diri. Niatnya ingin memantau Alexa pulang sampai rumah, untuk memastikan Alexa pulang selamat.


Sayangnya kecepatan motor yang Alexa kendarai terlalu menyulitkan Satria, sehingga Satria kesulitan untuk mengejar laju Alexa.


•••


Keesokan harinya Alexa terlihat begitu riang setelah bimbingan skripsinya berjalan lancar.


Dosen pembimbing sudah acc untuk bab tiga, itu artinya tidak lama lagi Alexa akan menyelesaikan dua bab berikutnya. Alexa berharap sidang skripsi segera dia lewati.


"Sepertinya ada aura aura bahagia nih."


Celoteh Shella saat melihat senyum merekah dari wajah cantik Alexa.


"Banget Shell. Gue lolos ke bab empat!"


Seru Alexa dengan memeluk bahu Shella sambil bergelayut manja.


"Ciyeee, kayanya gue bakal ditinggalin nih wisudanya."


Shella kembali menggoda Alexa dengan perasaan sedikit iri, karena progres skripsi Shella memang tak semulus Alexa, dia masih berkutat di bab dua saja.


"Makanya lo buruan kejar semua revisinya, biar lo bisa nyusul skripsi gue."


Alexa mencoba memberikan semangat untuk sahabatnya, karena Alexa ingin mereka bisa wisuda bersama.


"Males tahu Lex."


Jawaban Shella barusan membuat tangan Alexa reflek untuk menoyor kepala Shella dengan kasar.


"Aduh sakit! Lo tega banget sih sama temen sendiri."


Alexa tidak menggubris rintihan Shella, dia justru menikmati momen itu, dan membuat Alexa terkekeh memegang perut ratanya.


Tiba tiba kekehan tawa itu seketika hilang ketika sosok tampan Satria datang mendekat ke arah Alexa.


"Alexa Sandara."


Satria menyebutkan nama lengkap Alexa, dan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Alexa.


Kedua telapak tangan Satria dimasukkan ke dalam saku celana kain slimfit berwarna abu tua.


Kemeja hitam polos yang sudah digulung sesiku, membuat penampilan Satria terlihat semakin tampan, ditambah lagi arloji mewah yang Satria kenakan semakin membuat kalangan mahasiswi menjerit histeris.


Mereka kagum akan ketampanan yang Satria miliki.


Alexa sangat terkejut melihat kedatangan Satria. Dari mana Satria mengetahui nama lengkapnya?


"Kamu pasti terkejut. Dari mana aku mengetahui nama lengkapmu nona?"


Satria semakin berani menekan kata katanya di hadapan Alexa.


"Apa maumu Satria?"


Alexa berusaha sabar untuk menutupi emosi yang sudah memuncak di hadapan Satria.


Entah kenapa setiap Alexa melihat Satria emosinya tidak akan stabil, Alexa langsung teringat akan peristiwa bodoh yang sudah membuatnya kehilangan uang sepuluh juta.


Satria tidak menjawab pertanyaan Alexa, kemudian tangan kanannya merogoh saku celana untuk mengambil id card yang dia temukan di tepi jalan, tepat di depan restoran tempat Alexa bekerja.


"Aku rasa kamu akan membutuhkan ini nona."


Satria memperlihatkan id card milik Alexa.


Seketika Alexa berusaha menarik id card tersebut.


Namun usahanya sia sia, karena Satria sudah lebih dulu menggenggam kembali id card tersebut, dan memasukkannya lagi ke dalam saku celana.


Alexa menghela nafasnya dalam. Sungguh lelaki tampan yang sangat menyebalkan di mata Alexa.


"Lalu?"


Jawab Alexa singkat.


"Dua syarat."


Satu syarat saja Alexa sudah tidak sanggup, apa lagi Satria kini mengajukan dua syarat kepada Alexa.


"Pertama kamu harus menerima kembali uang yang kamu anggap sebagai ganti rugi."


"Kedua?"


Alexa yang sudah tidak sabar dengan syarat yang diajukan oleh Satria, langsung memotong kalimat Satria.


"Kedua, temani aku makan malam."


Fix Satria tidak lebih dari laki-laki gila yang banyak digilai kalangan wanita. Dia seenak jidat meminta Alexa untuk menemaninya makan malam.


"Apa tidak ada syarat lain?"


Alexa menawar kedua syarat yang diajukan oleh Satria.


"Apa kamu keberatan nona?"


Tanya Satria dengan nada enteng.


Alexa masih tetap diam terpaku, dia masih bingung harus memilih keputusan apa?


Kalau Alexa tidak menuruti syarat yang diajukan oleh Satria, tentunya gaji bulan ini akan dipotong, bahkan bisa bisa dia terancam kehilangan pekerjaan.


"Baiklah kalau masih diam saja, aku permisi."


Sikap Satria semakin menekan Alexa.


"Tunggu!"


Alexa mencoba menghentikan langkah kaki Satria yang mulai beranjak dari hadapannya.


"Saya akan menuruti semua syaratnya, cepat berikan id cardnya."


Akhirnya Alexa menyetujui kedua syarat yang diajukan oleh Satria.


Tangan Alexa sudah siap menerima id card yang akan dikembalikan oleh Satria. Alexa tidak sanggup menerima konsekuensi jika dia kehilangan id card tersebut.


"Bisakah kamu bersikap sedikit manis padaku nona?"


Satria kini semakin senang menggoda Alexa.


"Ini uangnya dan ini id cardnya."


Ujar Satria sambil menyodorkan amplop coklat dan juga ida card.


"Aku yakin kamu pasti masih ingat dengan prinsipmu."


"Kamu bilang kalau kamu bukan tipe orang yang mudah menarik ucapan sendiri, begitupun dengan kesepakatan hari ini."


"Aku yakin kamu akan komitmen."


Celotehan panjang Satria semakin membungkam mulut Alexa.


"Aku akan menunggumu malam ini nona."


Ucap Satria lagi, berusaha menekan keadaan.


Satria pun berlalu dari hadapan Alexa, meninggalkan Alexa yang masih termangu melihat amplop yang berisi uang sepuluh juta, beserta id card.


Untuk kedua kalinya Alexa melakukan hal ceroboh lagi. Andai saja id card miliknya tidak terjatuh, pastinya Alexa tidak akan terjerat oleh kedua syarat yang diajukan Satria.


"Alexa, kayanya Satria suka sama lo."


Ucapan Shella barusan menyadarkan lamunan Alexa.


"Ngarang!"


Alexa mendengus kesal pada Shella.


"Buktinya dia deketin lo terus Lex."


Dugaan Shella memang tepat, Shella dapat merasakan tingkah aneh yang Satria berikan pada Alexa.


"Gak usah ngurusin pria sok tajir itu, mending kita pergi makan. Gue udah laper, terus mau siap siap berangkat kerja."


Alexa langsung meraih lengan Shella, lalu membawa Shella ke kantin.


Langkah Alexa sangat cepat, karena Alexa tidak ingin membuang waktunya sedikitpun.


Bagi Alexa waktu adalah segalanya, lebih dari uang, bahkan lebih dari nyawa.


••••


Klik like ya 😉