Sandara

Sandara
Lamaran kedua



Waktu sudah menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit. Rupanya Qeyla sudah mulai berkemas untuk pulang, membuat Alexa merasa sangat iri pada Qeyla saat melihat Qeyla bersiap untuk pulang.


Sementara Alexa harus menemui Jevan di ruangannya, menemui CEO dari Van`s Corporate yang selalu menjadi incaran seluruh karyawan wanita.


Selama ini Jevan hanya beberapa kali saja datang ke kantor, karena Jevan lebih fokus tinggal di Jepang, dan lebih banyak mengurus bisnis disana.


Bagi Jevan Jakarta hanya akan mengingatkan memori pahit yang sulit Jevan tepiskan seumur hidupnya.


"Alexa gue pulang duluan ya."


Ujar Qeyla yang sudah menenteng tas tangan warna coklat muda.


"Iya Qey, hati hati ya."


Sahut Alexa.


Terlihat wajah murung dari Alexa saat menyaksikan Qeyla yang hendak pulang, dan bebas dari pekerjaannya.


"Semangat Lexa! Ruangan Mr. Je di lantai lima belas ya, lumayan serem loh ruangannya."


Qeyla menutup mulutnya dengan jemari yang berhias kutek warna nude.


Wanita super modis ini tak hentinya menakuti Alexa yang akan menemui sosok Jevan Lee. Setahu Qeyla belum pernah seorang Jevan memanggil karyawan baru untuk menemuinya.


Rasanya sangat tidak penting bagi Jevan untuk bertemu dengan karyawan baru, apa lagi hanya level staff seperti Alexa, karena semua urusan data karyawan sudah menjadi tanggung jawab divisi HRD sepenuhnya.


"Udah sana pulang, gue juga mau siap siap ke lantai lima belas."


Alexa tidak mau mempedulikan celotehan Qeyla, dia akan menghadapi kenyataan yang ada.


"Oke, bye Lexa."


Qeyla pun melenggangkan langkahnya meninggalkan Alexa sendirian di ruang kerja, kebetulan meja kerja mereka berada dalam satu skat kubikel, dan hanya terisi oleh dua meja saja.


Alexa mulai mengemasi meja kerjanya yang masih berantakan dengan beberapa alat tulis dan dokumen.


Untung saja Qeyla adalah tipikal orang yang cukup sabar saat memberikan semua training untuk Alexa, dan membuat otak Alexa terkuras oleh materi jurnal dan rekonsiliasi keuangan perusahaan.


Sesaat Alexa memijat pelipisnya setelah selesai mengemasi barang barang. Bukan pening soal adaptasi dengan pekerjaan baru, Alexa hanya tak kuasa membayangkan wajah menyeramkan Jevan yang akan dia temui di lantai lima belas.


Kemudian Alexa menghela nafasnya dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawanya ke lantai lima belas, lantai yang hanya dihuni oleh ruangan CEO.


Setelah beberapa menit lift pun berdenting mengantar Alexa ke lantai lima belas. Perasaan gugup, dan takut semakin dirasakan oleh Alexa.


Wanita cantik itu menerka nerka akan maksud dan tujuan bos besarnya memanggil dirinya untuk bertemu di ruangan.


Ini pengalaman pertama Alexa merasakan ketakutan yang luar biasa selama ia bekerja dimanapun. Padahal sebelumnya Alexa sudah terbiasa bertemu dengan orang baru, tapi belum pernah Alexa merasakan segugup ini.


Jemari lentik Alexa mencoba mengetuk pintu ruangan Jevan, terpampang tulisan yang menempel di depan pintu,


"Van`s Room"


debar jantung Alexa seakan mau copot, rasanya sudah seperti memasuki kandang singa saja.


Alexa menarik nafasnya sedalam mungkin, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Jevan.


"Ayo Alexa dia hanya manusia biasa."


Gumam Alexa pelan saat hendak membuka pintu.


Sahut seseorang dari dalam ruangan, kemudian Alexa pun mendorong kenop pintu yang bercat warna hitam.


Mata coklat Alexa menyapu jangkauan pandangan ke sekeliling, namun tidak ada sosok Jevan disana. Kemudian kakinya melangkah maju memasuki ruangan, lalu dilihatnya seorang pria dengan tubuh tinggi berbalut setelan jas hitam.


Jevan berdiri di depan jendela besar yang menembus pemandangan gedung gedung Jakarta. Pria itu dengan santainya menghisap sebatang rokok dengan pandangan lurus tanpa arah.


Menyaksikan pesona Jevan yang gagah berdiri disana, membuat Alexa harus meneguk salivanya. Harus diakui bahwa sosok pria itu terlihat sangat cool dan mempesona, pantas saja semua karyawan wanita yang bekerja di Van`s Corporate banyak yang tergila gila akan sosok Jevan, tapi tidak untuk Alexa.


Beruntung Alexa masih memiliki tingkat kewarasan seutuhnya, dia menganggap bahwa sikap terpesonanya pada Jevan hanyalah bentuk memuji ciptaaan Tuhan, sama sekali tidak ada niatan lain.


"Selamat sore pak."


Dengan nada bicara takut takut Alexa mencoba membuka obrolan dengan orang nomor satu di Van`s Corporate.


Akhirnya Jevan membalikkan posisi tubuhnya, lalu menatap ke arah Alexa dengan melepaskan sebatang rokok dari bibirnya.


"Datang juga kamu."


Ternyata Jevan sudah menunggu kedatangan Alexa.


Jevan pun melenggang menuju kursi kebesarannya, kemudian duduk disana dan mematikan rokok ke dalam asbak. Tangan Jevan menunjuk kursi kosong di depan meja miliknya, mengisyaratkan Alexa untuk duduk disana.


Alexa pun menuruti perintah Jevan untuk duduk berhadapan, dan sesaat mereka terperangkap dalam suasana hening.


Tidak ada yang berusaha membuka obrolan diantara mereka, namun mata elang milik Jevan masih menyelidik ke arah Alexa.


Perlakuan Jevan membuat Alexa semakin kebingungan.


Sebenarnya ada apa Alexa dipanggil ke ruangan?


Hanya berdua pula.


"Sebenarnya bapak ada perlu apa memanggil saya kesini?"


Akhirnya Alexa memberanikan diri untuk bertanya.


Alexa sudah tak kuasa menahan tatapan tajam sang big boss, namun Jevan masih tetap diam.


Tiba tiba tangan kanan Jevan meraih kotak berwarna navy yang dia simpan di laci meja sebelah kanan, lalu dibukanya kotak tersebut oleh Jevan.


Terbias pancaran berlian hitam pekat dengan lingkaran cincin berwarna silver.


Wanita mana yang akan tahan menatap berlian semewah itu?


tapi tidak untuk Alexa, dia justru merasakan ketakutan yang tak terkira akan sikap Jevan.


"Menikahlah denganku Alexa."


Tiba tiba kalimat itu lepas dari bibir Jevan.


Sulit dipercaya bagi Alexa kalau hari ini bos besarnya melamar dirinya, meminta Alexa untuk menikah dengannya.


Sepertinya Jevan tidak mempedulikan cincin yang sudah dikenakan oleh Alexa, karena cincin pemberian Satria sudah mengundang perhatian Jevan.


••••


Klik like ya ♡♡