
Saat ini Raina sudah berada diruang Rawatnya, wajah lemah dan pucatnya masih terlelap mengarungi mimpinya, malam semakin larut, Raiga sedetikpun tidak bergerak duduk disamping kasur Raina, ia masih setia menggenggam tangan dingin nan basah Raina, menatap wajah lemah Adiknya.
Parlahan pintu ruangan bernuansa putih dan biru laut itu pun terbuka, tampak dokter muda nan tampan itu pun masuk kedalam ruangan itu.
"Kanapa kau belum tidur,tidur lah ia tidak apa-apa" kata Digho saat masuk keruangan itu dan melihat Raiga termenung menatap Raina.
"Apa ia akan tiada?" Pertanyaan yang tak terduga terucap dari bibir lelaki yang tampan dan minis itu. Digho sedikit terkejut mendengar perkataan Raiga, Digho menatap Raiga yang terlihat kacau, kemudian pandangan nya menatap Raina yang masih setia akan mimpinya.
Hati Digho seakan terbesit saat menatap wajah lemah Raina, bukan perasaan kasian, bukan perasaan prihatin, bukan perasaan dokter dan pasien, tapi perasaan apa ini?. masih belum mampu Digho pikirkan.
Digho menarik nafas dalam, dan menghebuskanya perlahan," Untuk sembuh, itu sangat sulit bagi Raina kini, walaupun kita melakukan perawatan terbaik kemungkinan sembuh itu sangat kecil, kita hanya bisa menghambat penyebaran sel kankernya, dan memperpanjang waktunya" jawab jujur Digho, sebenarnya ia seakan enggan untuk menjawab sejujurnya, namun ia tak ingin menutupi kondisi Raina yang kini menjadi pasiennya.
"Istirahatlah, kau tampak lelah, tenang saja jika Allah sudah berkehendak yang tidak mungkin bakalan menjadi mungkin, tak ada yang bisa mengetahui jalan kehidupan, kita hanya menjalani nya selebihnya Allah lah yang menentukannya. Tidak ada yang tahu rahasia kematian, bisa jadi kita yang tampak sehat ini akan terlebih dulu meninggalkan dunia dari pada mereka yang sudah jelas-jelas sakit." Nasehat Digho kepada Raiga.
Raiga mengangkat kepalanya, menghadap Digho yang berdiri disebranya. Digho tersenyum saat Raiga menatapnya, Sedangkan Raiga menatap dengan wajah putus asa. Dunianya saat ini seakan hancur, adiknya perlahan-lahan berjalan menuju kematian, hati abang/kakak mana yang tidak hacur menyaksikan perjuangan adiknya dalam menjalani kehidupan yang singkat. perlahan Raiga bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah menuju pintu keluar, sebelum memutar hendel pintu, Raiga menoleh kebelakang melihat adiknya yang terbaring diranjnah rumah sakit, dengan selang impus dan pernafasan bertengger ditubuhnya. Raiga menuju musola rumah sakit, ia melakukan sholat tahajud.
Sedangkan Digho masih setia, menatap wajah pucat Raina, wajah yang dari tadi pagi selalu memenuhi pikirannya, wajah yang berhasil mencuri hatinya. apakah ini bisa dibilang cinta pada pandangan pertama?, Digho terus menatap wajah itu setelah ia selesai mengecek kondisi Raina. Entah dapat angin dari mana ia mengecup perlahan kening Raina. "Semangatlah, kita akan berjuang bersama-sama" bisik Digho detelinga Raina.
'mungkin tidak ada yang mampu mengerti perasaan apa yang aku rasakan saat menatap wajah ini, wajah wanita yang baru saja mengisi hati yang tak pernah terisi ini. Bisakah ku katakan bahwa ini cinta pada pandangan pertama, bisakah aku menerima bahwa ia cinta pertama ku, dan dapatkah ini disebut CINTA. dan jika benar ini cinta, apakah aku sanggup mencintainya, apakah aku sanggup hidup tanpanya nanti. ya tuhan (Allah SWT) jika dia benar jodohku dekatkan lah kami baik di dunia atau diakhirat tapi jika tidak jauhkan kami dan hilangkan perasaan ini' batin Digho