
"Assalamualaikum, bun-bun-da-da Bunda" Teriak Raina didepan pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam" Terdengar suara wanita menyaut dari balik pintu, raina tersenyum mendengar suara wanita yang sangat ia kenal. Dan saat pintu terbuka.
"Dor" Risa terkaget, ia mengelus dadanya, dan sesaat kemudian memasang wajah marah."Hahah maaf bunda, heheh" ucap Raina meminta maaf karna baru saja mengagetkan bundanya.
"Anak nakal, baru pulang udah bikin kaget,untung jantung bunda tidak copot" Omel Risa kepada raina, Raina hanya memasang wajah terngengesan, menampilkan deretan gigi rapinya.
"Sudah yuk masuk" ajak Risa kepada Raina, karna ia sudah malas banget bila harus melihat wajah raina yang terngengesan.
Risa langsung melangkah menuju dapur, dan Raina menuju kearah kamarnya, sebelum itu ia sudah menutup pintu rumahnya.
Raina masuk kedalam kamarnya, meletakan tasnya diatas meja belajarnya, dan mengambil pakaian santainya membawa masuk kedalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya.
Kamar Raina tidak terlalu besar hanya ada satu lemari pakaian, rak sepatu/sendal/tas, meja belajar dan satu kasur yang hanya untuk satu orang. Namun Walau kamarnya memiliki perabotan sederhana, namun interior kamarnya sangat indah, benar benar indah, ia menata kamarnya seperti kamar yang berada diluar ruangan dimana ia bisa melihat bintang-bintang bertaburan di langit-langit kamarnya, dan kamar raina sangat harum, ia meletakan beberapa lilin pewangi dikamarnya, terdapat juga foto-foto ia, keluarganya, dan para sahabat-sahabatnya di dinding kamarnya yang dihias dengan lampu tambler. Bisa dibilang kamar Raina benar benar kamar impian anak muda.
Tidak hanya kamarnya yang indah, rumah raina pun juga sangat menarik, walaupun rumahnya tak semewah rumah-rumah dikota. rumahnya cukup unik dan klasik, rumah Raina begitu luas dan besar terdiri satu lantai, terdapat 4 kamar, ruang keluarga, ruang tamu, ruang makan yang menyatu dengan dapur. memiliki interior kelasik, dan berbeda-beda disetiap ruanganya.
.......
"Bun, Raisa mana" tanya raina yang sudah berada didapur menghampiri Risa yang sedang mencuci buah.
"Dia ikut ayah mu, pergi kepasar, katanya mau beli beberapa barang." jawab Risa tanpa mengalihkan perhatiannya pada pekarjaan yang sedang ia lakukan.
"Owh" Raina hanya mebulatkan bibirnya membentuk huruf O, ia mengambil satu buah apel hijau dari keranjang yang baru saja diletakkan diatas meja makan. Raina meletakan bokongnya dikursi meja makan, dan duduk memakan apel dengan antengnya, sedangkan risa juga ikut duduk dihadapan Raina.
"Oh iya Rai, tadi kamu dapat peringkat berapa" tanya risa, membuka obrolan dengan putrinya.
"Tiga" jawab Raina singkat, masih memakan buahnya.
"Kamu jadi kan berangkat besok?" tanya lagi Risa.
"Jadi"
"Ingat ya nak, jangan bandel, jangan bertengkar dengan abang mu, makan yang teratur, obatnya jangan lupa diminum, jangan terlalu lelah, jang...."
"iya bunda iya, raina bukan anak kecil lagi bun, jangan terlalu khawatir ya" Raina memotong ucapan bundanya, karna jengah mendengar kata jangan jangan jangan dari bundanya.
"Assalamu'alaikum" ucap salam dari seseorang.
"Waalaikumsalam" saut Risa.
"Kakak" pekik Raisa saat melihat Raina duduk dimeja makan.
"Kak, tadi Isa beli ini loh" Raisa melompat duduk dipangkuan Raina, ia menunjukan mainan masak masak yang baru dibelinya.
"Oh ya, ya sudah kamu turun dulu, kakak mau kekamar" ucap Raina lembut, sambil menurunkan adiknya dari pangkuannya, dan melangkah meninggalkan meja makan, baru beberapa langkah ia meninggalkan meja makan terdengar suara menghentikan langkahnya.
"Mau kemana kamu Rai." terdengar suara pria tegas, menghentikan langkah Raina.
Raina menghentikan langkahnya, memutar badannya dan menampilkan wajah datar, "Kenapa" ucap nya dengan datar.
"Orang tua nanya, bukannya dijawab malah balik bertanya" ucap Naufal tegas kepada Raina.
"Raina, kamu ini kenapa ha, kemana sopan santun kamu orang tua belum selesai berbicara sudah pergi aja" kata tegas, kembali keluar dari mulur Naufal, Raisa sudah berlari menuju Risa, sedangkan Risa hanya bisa menghela nafasnya melihat Suaminya yang memarahi putri keduanya dan membuat takut putri bungsunya.
"kenapa lagi" jawab raina detar, benar benar datar. Tampak kemarahan yang akan meledak dalam diri Naufal melihat putri keduanya seakan menantangnya.
"Jaga sikap kamu rai, lihat risa ini lah hasil didikan mu yang terlalu memanjakannya" Ucap Naufal, melirik Risa istrinya yang hanya diam dan menyalahkan Risa atas didikannya.
"Dan jaga sikap ayah, apa tidak lelah ayah menyalahkan bundaku, seharusnya ayah malu karna menyalahkan bundaku, Disaat bunda ku mati matian mengurus semua kebutuhan kami, ayah senang senangan dengan wanita ****** itu" teriak Raina, menantang naufal yang sudah memerah padam menatapnya.
"jaga ucapan mu Raina" teriak Naufal, Yang bisa membuat orang bergegar ketakutan namun tidak dengan Raina.
Raisa semakin ketakutan, Risa mencoba menenangkan putri bungsunya dan memintanya masuk kekamarnya, dan gadis kecil itu pun menurut dan bwrlari masuk kekamar. Risa menghelakan nafasnya dan menatap putri dan suami, ia melangkah mendekati raina menenangkan putrinya yang sudah kebakar amarah.
"Sudah tenang lah nak" ucap Risa, mengeluskan punggung Raina menenangkan putrinya.
"Ajarkan dia sopan santun Risa, biar dia tau batasannya pada orang tua" ucap naufal kembali menatap risa.
"Hahah" tawa hambar Raina, yang mendapat kembali tatapan amarah dari ayahnya.
"Seharusnya ayah tau batasan menyakiti perasaan istri dan anak-anak mu, apa ayah tak malu akan umurmu, anak anak mu sudah pada dewasa, seharusnya kau tahu malu" Sambung raina datar dan dingin, tak ada rasa takut dari pancaran matanya walau sudah dapat tatapan intimidasi dari ayahnya.
Naufal mendekat kearah Raina dan Risa ia melayangkan tangannya ingin menampar Raina namun Risa menghadang putrinya menjadi tamang putrinya dan mendapatkan tamparan dari naufal
plakk
"Ayahhh" Teriak Raina tidak terima saat bundanya tertampar oleh ayahnya.
"Risa" ucap lirih naufal hampit tak terdengar, tampak rasa bersalah dari pancaran matanya, ia menatap tangan yang ia gunakan menampar istrinya, dan wajah Risa yang memerah bekas tamparannya.
"Sudah puas kau, tidak hanya menyakiti batin bundaku, sekarang kau juga menyakiti raga bunda ku." ucap Raina memanas, matanya memerah karna amarah, naufal menatap Raian, ia menggeleng kan kepalanya seolah mengatakan ia tak berniat menyakiti risa.
"Na sudah lah bunda tidak apa-apa" ucap Risa menenangkan Raina.
"Tapi bunda, pria in..."
"Sudah nak, tidak baik berbicara begitu" potong Risa, menasehati Raina akan perkataan, dan tingkah putrinya menantang ayahnya.
"Sekarang kembalilah kekamarmu" lanjur Risa meminta puteinya kembali kekamar, Raina pun menurut dan meninggalkan Risa dan Naufal, tapi sebelum itu ia menatap naufal dengan tatapan benci.
"Risa aku sungguh tidak sengaja, maafkan aku" ucap Naufal meminta maaf kepada Risa, ia menggenggam kedua tangan risa dengan tangan kirinya dan mengusap bekas tamparannya dipipi risa dengan tangan kanannya.
......
**LIKE‼️
KOMEN‼️
VOTE‼️
JANGAN LUPA YA😉**