
"Ayah sudah memesan tiket mu,sebentar lagi akan ada ajudan ayah yang akan mengantar mu". Naufal membuka suaranya saat ia sudah selesai makan. Naufal berbicara sambil fokus mengelap mulutnya dengan sapu tangannya.
Raina memperhatikan ayahnya sekilas dengan wajah datar, dan kembali fokus dengan buah kesukaannya yaitu buah strawberry. yang baru saja ia ambil dari ranjang buah dihadapannya.
"Raina" tegur Risa, Risa menegur putrinya atas sifat tak sopannya yang memandang ayahnya dengan pandangan tidak suka. Memang hubungan Risa dan suaminya tidak cukup baik tapi Risa tak ingin anak-anak nya membenci ayahnya karna kesalahan yang tak sepenuhnya kesalahan Naufal.
"Dulu ayah selalu memberi bunda bunga daisy saat bunda marah dan sekarang ada bunga daisy diatas meja ini" ucap Raina tersenyum sinis memandang vas bunga diatas meja makan yang berisi bunga daisy putih segar, sambil memakan buah strawberry kesukaannya.
Naufal mereling Risa sesaat dan begitu pula sebaliknya,mereka seakan bingung maksud dari perkataan Raina. Sedangkan Raisa tidak peduli ralat lebih tepatnya dia tidak mengerti dengan pembicaraan mereka ia hanya fokus dengan makanan dalam piringnya.
"Daisy bunga yang idah aku suka bunga ini" lanjut raina, sambil memegang satu tangkai bunga segar daisy putih yang baru saja dia ambil dari dalam vas bunga dihadapannya.
"Tapi sejak terungkapnya kebohongan ayah, dan penghianatan ayah, aku membenci bunga ini. Dan tak sepantasnya bunga ini ada dirumah ini. Daisy menggambarkan kesucian, kemurnian, KESETIAN, kebahagiaan" ucap Raina dengan satai dan pada kalimat 'KESETIAN' ia memberi penekanan, masih memainkan tangkai bunga Daisy, ditangannya ia melanjutkan kalimatnya.
"RAINA" teriak Naudal marah sambil memukul meja, Risa dan Raisa langsung terkejut tapi tidak dengan Raina, ia malah tersenyum sinis.
Risa memberi kode kepada Raisa untuk meninggalkan meja makan, dan gadis kecil itupun langsung berlari meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
"Raina jaga bicara kamu" tegas Risa. Ia tak habis pikir kenapa putrinya bebicara sekasar itu padahal raina tak pernah berbicara kasar kepada Naufal, walau selama ini Risa tau Raina membenci Naufal ayahnya.
"Raina selalu menjaga bicara bun, tapi apa ayah menjaga kesetiannya. TIDAK bunda TIDAK." Teriak raina berdiri dari kursinya dan tak kalah tegas dari Risa dan Naufa," ia hanya setia pada pangkatnya tapi tidak dengan cinta nya." Perkataan Raina sungguh berhasil menohok hati Risa dan Naufal, walau terdengar kejam tapi ini lah yang terjadi dalam keluarga mereka.
"Apa bunda tau, setiap Raina melihat wajah bunda, Raina merasa bersalah bun, semua rasa sakit yang ayah berikan kepada bunda juga menjadi rasa sakit Raina bun. Raina tau bunda ingin lepas dari ayah tapi bunda memikirkan Raina, Raina tau bun.. Raina tau ..., hanya dengan uang ayah Raina bisa bertahan hidup. Tapi buat apa Raina terus hidup jika bunda harus menderita...., Raina sakit bun, tapi setiap rasa sakit yang disebabkan penyakit ini tak sebanding dengan Rasa sakit hati Raina saat melihat bunda menangis." Naufal hanya bisa menundukan kepalanya, memejamkan matanya sesaat menahan rasa Emosi, penyesalan, dan rasa sesak didadanya mendengar perkataan putrinya, sedangkan Risa terduduk dengan linang air mata. Begitu juga dengan Raina ia berbicara sambil menangis mencurahkan semua kekesalannya yang sudah terpendam lama.