Sad Ending

Sad Ending
SAD ENDING# *BAB 15*



Saat sedang berbincang-bincang, bergibah ria dengan sahabat-sahabat nya raina merasa ada yang anaeh pada tubuhnya. Keringat dingin mulai membasahi kedua belah telapak tanganya. Warna telapak tangannya pun memucat. Ia menyadari bahwa penyakitnya akan kambuh, pandangan nya sedikit memburam, ia sedikit merasa nyeri dibagian kepala dan telang punggungnya.


"We aku ke toilet dulu ya" sela raina disaat teman-teman nya sedang bergibah ria. Ia pun melangkah segera pergi meninggalkan meja dan berjalan sedikit oleng menuju Wc dicafe ini.


Sesampai diwc raina berdiri didepan wastafel dan menghadap cermin besar dihadapannya. Ia menatap wajahnya yang pucat, keringat dingin mengalir didahinya dan Tampak aliran merah mengalir dihidungnya. Ia segera mengambil tissue didekat wastafel, menggulungnya dan menyumbatkan dihidungungnya. Dengan tangan dan sekujur tubuh yang bergetar ia buru-buru mebuka tasnya merogoh tasnya mencari sesuatu, dan ternyata sekotak obat pil. Ia menuangkan botol obat itu dan memasukkan kedalam mulutnya, menelan obat itu kasar kedalam kerongkongnya. Ia berdiam diri, menumpukan kedua tanganya dimeja wastafel menahan tubuhnya, ia menundukan kepalanya memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya.


Dari sembelum sampai wc dan kini diwc ia selalu memanjatkan harapan kepada tuhan didalam hatinya.


Tidak ada manusia yang ingin mati diumur yang masih muda, dimana ia belum menikmati dunia, merasakan kenikmatan dunia, dan melihat betapa indahnya dunia. Orang-orang yang memiliki penyakit parah seperti Raina juga tidak ingin meninggalkan dunia, banyak hal didunia ini yang belum mereka lihat dan rasakan, tapi keadaan memaksa mereka memohon untuk meninggalkan dunia. Orang-orang yang berpenyakit, yang tau bahwa waktu mereka didunia hanya singkat, mereka setiap saat merasa bersyukur bahwa ditik yang lalu mereka masih bertahan dan mereka akan ketakutan didetik kemudian bahwa detik itu mereka akan tiada. Sungguh malang nasib mereka merasa bersyukur dan ketakutan disaat yang bersamaan. Dan sayang nya banyak orang-orang diluar sana ingin mengakhiri hidup mereka hanya karna mereka merasa kehidupan tak berpihak kepada mereka, apakan mereka tidak memikirkan setiap cobaan bakal ada akhir,... dan tak selamanya mereka akan dilanda cobaan.


Buka mata kalian lihat lah dunia, dunia tak selebar daut talas, dunia itu begitu luas jika kau sensara dibagian ini maka carilah kebahagianmu dibagian dunia lain. Lihat lah orang-orang yang berpenyakit parah mereka berjuang untuk hidup dan kalian yang tidak merasakan seperti mereka ingin meninggalkan dunia. Buka lah mata hati kalian, berlajarlah bersyukur dalam hidup, rasakan setiap aliran nafas kalian dan nikmati setiap detik dalam hidup kalian.


Hampir 30 menit raina berdiam diri,dengan masih diposisi yang sama. Disaat rasa sakitnya mulai berkurang, ia mengangkat kepalanya menghadap kaca besar dihadapannya, ia menatam wajahnya, ia tersenyum miris melihat dirinya sendiri, disaat setiap manusia memohon untuk umur yang panjang, tapi ia memohon untuk tuhan mencabut nyawanya, 'menyedihkan' itulah kata yang pantas untuk diri raina. Raina melepaskan tissue dihidungnya, mencuci mukanya dengan air keran wastafel, kemudian ia mengeringkannya dan memoles sedikit wajahnya yang berantakan dan merapikan penampilanya.